Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Menanti Sebuah Jawaban


__ADS_3

"Selamat pagi Nes, tadi malam tidur nyenyak atau susah tidur mikirin Mahesa?"


"Susah tidur, akhirnya malah bikin daftar pertanyaan untuk penelitian hari ini. Semoga mataku nggak kaya 'mata panda' ya De?"


"Lho, kayaknya kemarin kamu nggak cerita bakal berangkat penelitian hari ini"


"Hehehe iya lupa, gara-gara Mahesa nih!"


"Hahaha, kasihan banget Mahesa jadi kambing hitamnya"


Kami berdua terbiasa menyampaikan jadwal kami esok hari. Terkadang ada gunanya juga, karena bisa saling mengingatkan.


Dan biasanya kami akan saling mengatur jadwal agar bisa saling menemani kalau harus pergi ke tempat penelitian.


Terus terang kalau ada teman rasanya lebih enak aja. Saat harus menunggu nara sumber, ada teman yang bisa diajak bicara.


Tapi kalau saat Dea nggak bisa menemani, biasanya aku sudah membawa senjata andalanku untuk mengusir kejenuhan, yaitu novel.


Aku nggak terbiasa duduk menunggu dan nggak ngapa-ngapain. Cuma bengong menghitung orang lewat, atau jumlah cicak didinding.


"Jadi, hari ini kamu ke Kantor Pajak sama siapa?"


"Ya sendiri aja kalau kamu nggak bisa menemani, santai aja lah. Lagian kamu pasti bosen dengerin ceritanya Pak Suroto"


"Yang mana sih orangnya?"


"Itu yang suka menerima kita didepan sebelum ketemu sama Kepala Kantornya"


"Oh iya, yang suka ngobrol macem-macem itu ya? Aku ingat sekarang"


"Jadi, aku pasti nggak bakalan bosen. Dengerin aja ceritanya Pak Suroto. Iya iyain aja semua ceritanya biar dia seneng"


"Ya udah, aku ada kuliah sih kalau sekitar jam 10. Biasanya jam segitu kan kamu kesana?"


"Janjiannya memang sekitar jam segitu sih, semoga hari ini bisa ketemu sama Kepala Kantornya ya"


Aku sedang mengerjakan skripsi tentang Hukum Pajak, dan Dea sedang mengerjakan skripsi tentang Hukum Perdata. Sejauh ini semua berjalan lancar. Banyak yang membantu terutama soal pinjaman buku untuk referensi.


Untuk yang ekonominya pas-pasan seperti aku, bantuan sekecil apapun aku syukuri. Apalagi soal pinjaman buku untuk referensiku. Salah satunya Pak Suroto yang sering meminjamkan buku-buku pajaknya ke aku. Jadi aku sangat berterima kasih kepada Pak Suroto.


"Ini mau ke kampus dulu atau langsung ke kantor pajak?"


"Ke kampus dulu, pagi ini aku ada kuliah jam 8. Nanti dari kampus langsung kesana"


"Aduh, waktunya mepet banget sih Nes. Mana kamu nggak punya motor lagi"


"Tenang, kemarin aku udah janjian sama Heru buat nganterin aku. Cuma nganter ntar pulangnya dipikir nantilah"

__ADS_1


"Oh, ya udah kalau ada yang bisa nganterin. Untung kantornya dekat sama kampus nes"


"Aku berangkat kuliah dulu ya De!"


Aku selalu berjalan kaki kalau ke kampus, anggap aja olah raga. Kalau ada teman yang lewat menawarkan tumpangan aku menerima dengan senang hati. Seringnya sih aku jalan kaki dan pernah karena jalan sambil melamun, aku menabrak gerobak tukang rujak. Untungnya nggak apa-apa, tapi jadinya menanggung malu.


"Aduh, mbak kalau jalan jangan sambil melamun. Untungnya gerobak saya nggak apa-apa".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Anesta, jadi aku anterin ke kantor pajak?"


"Jadi dong, anterin sekarang ya, cepet lho!"


"Iya, aku pamit sama Siska dulu ya"


"Kenapa nggak pamit dari tadi sih Her. Ya udah cepetan!"


Siska itu pacarnya Heru, dan setiap nganterin aku Heru harus ijin ke pacarnya. Takut Siska cemburu. Padahal kami sudah lama berteman, bahkan sejak SMA. Jauh sebelum Heru mengenal Siska. Aku merasa aneh aja, kalau Siska harus cemburu. Heru juga jarang sekali pergi denganku, aku cukup tau diri dengan menjaga jarak pertemanan kami.


Sampai disana ternyata aku sudah ditunggu.


"Tumben pak, biasanya saya yang harus lama menunggu"


"Soalnya nanti Kepala Kantor ada rapat, jadi kalau bisa dipercepat"


Setelah bertemu Kepala Kantor, aku diminta menemui Pak Suroto karena ada beberapa informasi tambahan yang akan diberikan Pak Suroto berdasarkan perintah Kepala Kantor.


Aku selalu bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik, yang banyak sekali membantu.


Sekitar tiga jam aku disana. Mengobrol, mendapatkan banyak informasi dan masukan untuk skripsiku. Harusnya malam ini aku sudah bisa menyelesaikan Bab 1, dan besok bisa ketemu dengan dosen pembimbing.


Diluar gerimis, ku lihat dompetku yang semakin menipis. Biarlah aku berjalan kaki saja pulang ke kos. Kukembangkan payung biru mudaku. Menikmati perjalananku ditengah gerimis.


Aku selalu menikmati rinai hujan, terkadang sengaja mengulurkan tangan untuk merasakan hadirnya menyentuh kulitku.


Gerimis sering kali membuat hatiku menjadi sendu. Aku mengingat-ingat banyak hal dan memutar kembali memori dikepalaku.


Kali ini gerimis mengingatkanku pada Mahesa.


"Sedang apa dia saat ini?"


"Adakah dia mengingatku?"


"Rindukah dia padaku?"


Aku tak tau kapan akan menjawabnya, menjawab pernyataan cintanya.

__ADS_1


Mungkin aku harus menjelaskan semuanya dan menanyakan kesungguhan hatinya.


Maukah dia berjuang bersamaku atau malah memilih mundur.


Kupeluk dia dalam ingatanku. Dari awal pertemuan kami hingga kemarin saat dia menyatakan cintanya. "Mahesa, aku rindu! "


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Saat aku tiba di kos, kulihat dia yang kurindu sudah duduk manis di teras.


"Sudah lama menunggu?"


"Lumayan, darimana nes hujan-hujan begini? Dari kampus?"


"Nggak, aku dari kantor pajak. Tadi ketemu Kepala Kantornya. Biasalah untuk mengerjakan skripsiku"


"Kamu dari mana?"


"Dari kampus, trus mampir ke sini. Mau aku ajak jalan malah hujan. Ya nggak jadi kita ngobrol dikos aja ya?"


"Memangnya mau ngajak aku kemana?"


"Nanti aja kalau nggak hujan, aku ajak kesana. Kejutan. Aku nggak mau bilang sekarang"


Kami terdiam cukup lama, hening. Mungkin hanya debar jantungku yang terdengar berdetak sangat cepat. Aku ingin mengatakannya, tapi aku nggak tau harus memulai dari mana.


"Sa, ada yang akan aku sampaikan ke kamu. Soal pernyataanmu kemarin"


"Anesta, kalau kamu belum siap, kamu nggak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu dengan sabar. Kalau hari ini aku kesini itu karena aku ingin ketemu kamu, bukan untuk meminta jawabanmu".


"Jadi, biarlah hari ini kita nikmati sebagaimana adanya kita saat ini. Mantapkan dulu hatimu Anesta, kalau kamu sudah siap. Katakan saja"


"Mahesa, aku akan bicara. Jadi tolong dengarkan aku"


"Mahesa, ada perbedaan diantara kita yang mungkin menurut aku dan kamu itu hal yang biasa saja. Tapi tidak menurut keluargaku"


Kulihat tatapan matanya yang tak mengerti akan maksudku. Dia meminta penjelasanku.


"Mamaku tidak pernah setuju kalau aku punya seseorang yang dekat dan spesial diluar suku kami"


"Mamaku hanya mau, bahwa aku anak perempuannya punya kekasih yang sesuku dengan kami"


"Alasan mama menginginkan seperti itu. Karena aku anak perempuannya yang paling besar, yang akan bersama-sama dengan suamiku kelak, yang akan membimbing adik-adikku terutama dalam hal adat"


"Bukan aku menakutimu dengan pernikahan atau ingin segera menikah denganmu. Bukan itu. Aku cuma mau memberikan gambaran apa yang akan kita hadapi didepan apabila hubungan kita benar-benar serius"


Selama aku bicara dia terus menatapku, aku tidak bisa mengartikan tatapan matanya.

__ADS_1


Dan saat ini aku menanti kesungguhan hatinya.


__ADS_2