
Setelah sore hari aku baru sampai di Mess. Ramai sekali terdengar suara didalam. Mungkin penghuni Mess yang dari luar kota mulai berdatangan. Kebanyakan tinggal di Bandung dan seputran Jawa Barat, jadi kalau hari minggu sore mereka kembali ke Mess.
"Terima kasih Ben, sudah mengantarkan ke kantor. Terima kasih juga buat acara jalan-jalannya. Aku suka" kataku tulus.
"Ya, aku juga senang bisa ajak kamu jalan-jalan. Besok aku boleh datang kan?"
"Sebaiknya kalau kamu mau datang kabari dulu ya? Mungkin aku sedang lembur atau ada acara lain. Aku nggak mau kamu kecewa"
"Oke Nes, nanti aku kabari kamu"
"Bye Ben"
Ku pandangi punggungnya saat dia berjalan menuju mobil. Dia laki-laki yang baik, laki-laki yang sama seperti yang kukenal beberapa tahun lalu. Tidak ada yang berubah darinya. Hatinya masih untukku.
Aku tunggu sampai dia menghilang dari pandangan. Aku tak mungkin terlalu sering menemuimu Ben.
***
"Hallo Nes, sudah ketemu Ben?" kudengar suara mama sangat bersemangat menanyakan soal Ben.
"Sudah Ma, kemarin dia telpon katanya dapat nomerku dari mama, trus kami ketemu. Tadi dia datang lagi ke Mess ngajak aku jalan-jalan. Katanya biar aku nggak bosen"
"Nah, bagus itu kan. Dia masih suka sama kamu Nes. Mama tau lah itu"
"Terus, kalau iya kenapa?"
"Sama dia ajalah. Ngapain sama Mahesa?"
"Tapi aku kan cintanya sama Mahesa"
"Ben itu satu suku dengan kita. Nggak susah lagi harus memberi marga. Kalau sama Mahesa masih harus dikasih marga kalau kamu menikah sama dia. Kita masih harus bikin acara adat pemberian marga"
"Mahesa itu nggak tahu adat kita. Bagaimana dia mengajarimu soal adat?"
Aku hanya diam mendengarkan mama bicara.
"Kepala rumah tangga itu penting Nes tau soal adat. Mama takut dia tidak bisa membimbingmu. Sudahlah sama Ben saja"
"Sudah satu suku, sudah bekerja. Apalagi?"
Ingin rasanya kuakhiri pembicaraanku soal ini dengan mama. Aku merasa sangat lelah.
"Ma, sudah dulu ya. Aku mau tidur, besok masih kerja"
"Ya sudah, istirahatlah. Tapi ingat kata-kata mama ya Nes. Kembalilah sama Ben"
***
Diluar gerimis, kubuka jendela kamarku. Dari jendela kamar, aku bisa memandangi taman kecil didekat teras. Kuciumi semerbak bau tanah basah. Kupandangi rinai hujan yang turun menyentuh bunga-bunga dihalaman.
Hatiku gundah dengan permintaan mama.
Aku nggak ingin kembali pada Ben. Bukan soal penghianatan itu. Sama sekali bukan. Aku hanya tidak suka caranya membandingkan aku dengan perempuan itu.
Mungkin seiring waktu berjalan aku bisa memaafkannya. Ah, apa sih aku ini? Seolah-olah berhasrat untuk kembali padanya.
__ADS_1
Aku nggak bisa menghapus bayang-bayang Mahesa dari mataku. Laki-laki kalem itu. Laki-laki yang tidak banyak bicara, yang selalu membuat aku merasa damai disisinya.
Aku hanya inginkan dia menemaniku sampai kapanpun. Apakah tidak bisa menerabas norma-norma adat?
Apakah tidak bisa membuat segala sesuatunya berjalan sederhana.
Apakah jika aku tetap pada pendirianku, banyak hati yang kulukai?
Kalau aku bersama Ben. Aku sudah melukai diriku sendiri. Haruskah aku mengorbankan diriku?
Aku merasa lelah dengan semua pergumulan itu. Ntah lah, biarkan waktu yang akan menjawabnya. Mungkin butuh waktu yang lama, tapi akan kutunggu.
Aku lelah dan akhirnya terlelap. Kudengar sayup-sayup suara hujan semakin deras. Mahesa, aku rindu.
***
"Nanti bareng kita aja ke kantor Nes" kudengar sapa Yose. Kami berada di divisi yang berbeda, tapi saling kenal lewat telepon karena beberapa kali aku harus menghubungi dia soal pekerjaan.
"Iya, aku selesaikan sarapan dulu ya"
"Sigit, kenalin nih Anesta. Divisi HRD. Ntar dia bareng kita ke kantor"
"Sigit, saya divisi IT"
"Anesta. Sebelumnya pernah kenal nggak ya? Kayak pernah denger namanya?"
"Ya pasti pernah dengar, kalau laptop atau mesin kasir rusak kan seringnya nelpon saya tuh si Boim"
Bang Boim, itu nama staff IT di kantor cabang kami. Orangnya lucu dan baik. Aku suka kalau ngobrol sama dia, rame.
"Ya udah Nes, berangkat. Nanti telat, jalanan di Jakarta ini nggak ramah. Sering macet"
Kulihat mobil Ben berhenti didepan. Dia menjemputku.
"Yose, duluan aja. Aku bareng teman"
"Ya udah Nes, kita duluan ya!"
Ben datang menghampiri "Yuk, Nes bareng. Kita searah kok makanya aku jemput"
"Kok nggak bilang-bilang sih mau jemput"
"Kejutan Nes. Nggak suka ya"
"Bukannya aku nggak suka Ben, tadi itu Yose menawariku barengan ke kantor. Kalau pas kamu datang aku udah berangkat sama dia kan kasihan kamu"
"Makanya Ben, lain kali telepon. Kan aku udah bilang ke kamu"
"Iya, maaf Nes"
Ntah kenapa aku merasa sangat marah, aku tahu dia bermaksud baik. Tapi aku nggak suka. Semakin dia berbuat baik begini, aku semakin sulit untuk membencinya dan melupakan dia.
Mengapa dia harus datang lagi dalam kehidupanku?
Sedangkan aku tidak pernah mengharapkan dia untuk kembali. Ah Ben, kamu sudah merusak pagi ku.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, aku memilih diam. Aku nggak peduli apa yang dia pikirkan tentang aku.
"Nes, sudah sarapan?"
"Sudah, tadi makan nasi goreng"
"Beli atau masak sendiri?"
"Kayaknya yang masak ibu yang jaga Mess. Kenapa? Kamu belum sarapan?"
"Belum, mau menemani aku sarapan?"
Kulihat arlojiku, sepertinya nggak sempat. Aku nggak mungkin terlambat datang ke kantor.
"Kayaknya nggak sempat deh Ben. Bisa terlambat aku ke kantor"
"Ya udah nggak apa-apa, nanti aku sarapan sendiri aja"
"Beneran nih nggak apa-apa?"
"Iya, santai aja Nes. Mendadak khawatir gitu?"
Dia mulai menggodaku."Nggak khawatir juga sih, cuma aku nggak enak aja, udah dianterin tapi tetep nggak bisa nemenin sarapan"
"Iya, udah nggak apa-apa. Nanti pulang kerja aku jemput ya?"
"Jam berapa?"
"Jam 7?"
"Nanti aku kabari deh"
***
Aku langsung menuju lantai dua tempat divisi HRD berada. Dari luar aku lihat ruangan HRD mulai ramai. Masih ada waktu 15 menit. Segera kumasuki ruangan dan menyapa beberapa orang yang kukenal karena mereka pernah berkunjung ke kantor cabang.
"Hai mbak Vi! Apa kabar?"
"Baik Nes, mau training ya?"
"Iya, nanti aku training sama mbak?"
"Nggak, nanti sama Pak Zein"
"Tenang aja Nes, orangnya baik kok" mbak Nita menyela. Sepertinya dia membaca kekhawatiranku.
"Mana ada sih yang galak didivisi kita"
"Nes, apa kabar? Kapan sampai?"
"Baru aja, mau training produk baru juga"
"Nggak, aku nggak ikut training. Eh, sebelum kesini udah beres belum absensi, insentif, dan lain-lain. Kita mau hitung payroll nih dua hari lagi?"
"Udah sih, tapi nggak tau juga ya kalau ada yang mendadak ijin atau sakit. Ntar deh aku tanya lagi disana"
__ADS_1
Payroll itu sistem administrasi di divisi HRD untuk penghitungan gaji karyawan. Terdiri dari gaji pokok, ada juga uang transport, uang makan dan lain-lain. Disetiap perusahaan biasanya memiliki standar yang berbeda.
Biasanya aku akan mengirimkan data kehadiran karyawan, lembur, ijin cuti dan sakit, data insentif untuk kemudian diolah di kantor pusat. Apabila kami tidak teliti akan mempengaruhi gaji yang diperoleh karyawan.