
Setelah aku menutup telpon, aku mengucapkan harapanku didalam hati. "Semoga ada keajaiban untukku"
****
"Anesta, hari ini kamu pesan tiket untuk kepulanganmu dan mama besok. Setelah itu, sama-sama kita bereskan barang-barang yang mau kamu bawa pulang"
Pagi ini aku kehilangan gairah. Aku hanya diam menanggapi perintah mama. Aku belum siap untuk berpisah dengan Mahesa.
Kudengar telponku berbunyi, kulihat dilayar dari nomer yang tidak kukenal.
"Halo, Selamat Pagi!", kudengar suara seorang perempuan menyapaku.
"Ya, Selamat Pagi!"
"Apakah benar saya bicara dengan saudara Anesta?"
"Ya, benar", aku masih belum mengenali pemilik suara ini. Aku merasa tidak memiliki teman-teman yang suaranya semerdu ini.
"Saya dari PT. Surya Lestari mengundang ada untuk menghadiri wawancara pada hari Senin".
Lalu dia menyebutkan alamat serta waktu wawancara. Akupun bersorak dalam hati. Aku tahu akan ada keajaiban untukku.
"Dari siapa Nes?"
"Dari PT. Surya Lestari, Ma"
"Ma, aku nggak bisa ikut mama pulang. Hari Senin aku ada undangan wawancara disitu"
"Nggak perlu, kamu cari kerja disana aja nanti!"
"Kesempatan tidak akan pernah datang dua kali, Ma. Kalau ternyata disana aku susah mendapatkan pekerjaan bagaimana?"
"Sedangkan disini ada kesempatan didepan mata harus aku abaikan. Aku tidak mau pulang! "
"Kamu sangat keras kepala Anesta! "
"Aku hanya ingin berjuang untuk hidupku, Ma!"
"Kamu yakin akan diterima bekerja disitu?"
"Yang penting aku berusaha. Aku tidak mau membuang kesempatan yang sudah ada, Ma"
"Dari dulu kamu selalu punya kemauan yang keras. Termasuk kenekatanmu kuliah disini", mama mulai mengulang cerita lama.
Sebenarnya mama tidak pernah mengizinkan aku untuk kuliah dikota ini. Mama khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padaku, sehingga mama tidak mau anak perempuannya ini pergi jauh darinya.
Saat itu aku merasa perjuanganku belajar keras untuk bisa lulus ujian akan sia-sia saja. Aku butuh waktu berhari-hari untuk meyakinkan mama bahwa aku akan baik-baik saja.
Aku yakin, aku bisa menghadapi semua tantangan. Akhirnya mama luluh, saat aku pergi mama melepasku dengan tangisan.
"Tapi akhirnya aku bisa kan hidup jauh dari mama dan menyelesaikan kuliahku dengan baik. Percayalah Ma", aku masih ngotot dengan pendirianku.
"Tapi kamu sudah merusak kepercayaan mama. Kamu berhubungan dengan laki-laki yang berbeda suku dengan kita. Padahal dari awal mama sudah mengingatkan kamu!"
"Dia laki-laki yang baik ma, kami hanya berbeda suku. Itu saja"
__ADS_1
"Kalian tetap berbeda!. Itu yang harus kamu mengerti!". Mama diam, mengambil jeda.
"Baiklah, kamu tidak usah ikut mama pulang. Hadiri wawancara itu. Mama berharap kamu bisa diterima bekerja"
Kupeluk erat tubuh mama "Terima kasih, Ma"
"Berjanjilah pada Mama, kamu akan meninggalkan Mahesa"
Aku hanya diam, aku tidak bisa berjanji untuk yang satu itu. Mungkin mama menyadari, bahwa aku tidak akan pernah berjanji untuk meninggalkan Mahesa.
Dilepaskannya pelukanku, ditatapnya mataku. Dan akhirnya aku menundukkan pandangan mataku.
Mama menarik nafas panjang. Mungkin mama mengerti tidak ada gunanya memaksa aku saat ini.
"Baiklah, besok mama akan pulang. Mama berharap kamu baik-baik saja disini. Kalau ada apa-apa kamu cerita sama mama"
Aku mengangguk mengiyakan. Ada kelegaan yang luar biasa dalam hatiku. Perasaan bahagia yang membuncah, aku tidak mengerti bagaimana mendeskripsikannya.
Siang itu aku dan mama cukup sibuk berkemas lalu pergi membeli sedikit oleh-oleh. Aku belum mengabarkan berita baik ini kepada Mahesa.
****
MAHESA
Sebenarnya aku bahagia, Anesta bisa segera menyelesaikan kuliahnya. Dia selalu berharap agar cepat lulus dan bisa meringankan beban mama.
Saat Anesta mengabarkan, kelulusannya siang itu. Ada perasaan campur aduk dalam diriku. Aku bahagia dia lulus tapi aku juga bersedih karena takut kehilangan dia.
Tapi perasaan sedih itu tidak pernah kutunjukkan dengan sikapku. Menurutku tidak adil saat kebahagiannya harus dirusak dengan kesedihan dan ketakutanku.
Aku akan selalu mendukungnya, dan selalu ada untuk dia.
Anesta bercerita bahwa mama sudah harus kehilangan kekasih hatinya saat Anesta dan adik-adiknya masih kecil.
Aku memaklumi sikap tegas mama, terutama saat mama mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan hubungan kami secara langsung padaku.
Aku juga mengerti dengan sikap Anesta yang lebih memilih diam. Dia hanya ingin menunjukkan sikap hormatnya kepada mama didepanku, dengan tidak membantah perkataan mama.
Aku tahu saat itu Anesta ingin memberikan sentuhannya kepadaku walaupun itu hanya sekedar genggaman tangan. Seolah ingin memberikan kekuatan dan meyakinkan aku bahwa kami berdua bisa menghadapi ini semua.
***
"Mama, mengajakku pulang dua hari lagi". Anesta seolah berbisik menyampaikan hal itu. Mungkin agar mama tidak mendengar pembicaraan kami.
Aku merasa seolah-olah aku seperti terlempar ke dalam jurang yang sangat dalam dan tidak bisa bangkit kembali.
Aku merasa remuk, hatiku sakit dan saat itu aku menangis setelah Anesta mengakhiri pembicaraan kami.
Aku ingat dia berkata, "Hanya bila ada keajaiban yang bisa merubah kepulanganku. Saat ini aku hanya berharap pada keajaiban".
Kami berdua sedang berharap pada keajaiban, tapi aku tidak pernah tau keajaiban seperti apa yang akan datang.
Aku tidak yakin mama akan mengubah keputusannya dengan cepat. Mungkin memang semuanya harus segera berakhir.
Aku bertekad besok malam aku akan menemui Anesta. Mungkin ini pertemuan kami yang terakhir. Tiba-tiba aku dilanda kerinduan yang amat sangat padanya, hingga dadaku terasa sesak.
__ADS_1
"Anesta, kenapa secepat ini?"
****
"Mahesa!", kudengar suaranya ditelpon memanggil namaku seperti setengah berteriak.
"Hai, kamu kenapa?. Nggak biasanya suaramu begitu?"
"Mahesa, dengarkan aku. Kemarin aku bilang aku butuh keajaiban. Kamu masih ingatkan?"
"Ya, masih. Kenapa?"
"Pagi ini aku mendapat keajaiban, untuk membatalkan kepulanganku".
Ada perasaan bahagia saat ini, walaupun aku tidak mengerti yang Anesta maksud dengan keajaiban.
"Hari Senin, aku ada wawancara kerja di PT. Surya Lestari"
"Kamu masih ingatkan saat aku memasukkan lamaran untuk posisi staff HRD disana? "
"Ya, ingat"
Aku masih tidak mempercayai bahwa keajaiban yang dimaksud Anesta memang terjadi.
"Mama akhirnya setuju aku tidak ikut pulang. Jadi aku bisa ikut wawancara hari Senin"
"Semoga aku bisa diterima bekerja disana ya?", lalu kudengar tawanya.
"Hallo, Mahesa!"
"..."
"Mahesa?"
"..."
"Kok nggak ada suaranya sih?. Mahesa, kamu tidur ya?"
Kemudian aku tergelak. Andaikan Anesta ada disini, mungkin sudah kupeluk erat tubuhnya dan kuciumi wajahnya.
"Kok malah ketawa sih Sa, seneng ya?"
"Ya iyalah seneng, aku malah seneng banget"
"Hmmm Sa, hari Senin bisa antar aku wawancara nggak?. Aku belum tau tempatnya, takut kesasar dan telat", kudengar nada memohon dalam suaranya.
"Iya, bisa. Apa sih yang nggak buat Tuan Putri?"
"Hahaha, iya iya. Makasih ya"
"Eh, udah dulu. Ini Kanjeng Ratu sudah memanggil".
"Nanti malam datang ya?. Mungkin kalau kalian berbicara lebih lama Kanjeng Ratu berubah pikiran"
"Siap Tuan Putri!"!.
__ADS_1
Lalu kami berdua tertawa bersama sebelum akhirnya Anesta menutup telpon.
"Ya Sayang, ternyata kita berdua membutuhkan keajaiban".