
"Ma, nanti Mahesa mau datang ke kos. Sekalian mau ketemu mama"
"Untuk apa ketemu mama?"
"Nggak ada agenda khusus Ma, ya cuma sekedar ketemu"
"Bagaimana kalau mama tidak mau menemuinya?"
"Semua terserah mama, aku nggak akan memaksa mama untuk bertemu dia. Mahesa hanya sekedar ingin ngobrol sama mama"
Kemudian ada keheningan diantara kami berdua. Aku nggak mengerti sikap mama. Menurutku sikap mama sangat keterlaluan. Apa salahnya Mahesa?. Kenapa dia diperlakukan seperti itu?.
"Baiklah, mama akan menemui dia nanti malam".
Hanya kalimat itu saja sudah membuatku bahagia. Aku tidak berharap banyak, dengan pertemuan nanti malam langsung bisa merubah keputusan mama. Aku hanya ingin mama mengenal Mahesa. Itu saja.
Malam itu Mahesa datang dengan memakai kemeja berwarna biru tua dan celana denim biru muda. Aku sangat menyukai warna biru. Jadi malam itu, menurutku Mahesa terlihat sangat tampan.
"Deg-degan ya?", kataku sambil tersenyum menggodanya.
"Sedikit. Kan kemarin udah ketemu mama", dia tersenyum kalem membalas godaanku.
"Selamat malam tante".
Aku tidak mendengar langkah kaki mama, atau karena aku terlalu sibuk dengan pikiranku sambil mengagumi Mahesa.
"Selamat malam Mahesa. Kita ngobrol disini saja ya?"
"Iya tante"
Dan pembicaraan dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan mama tentang Mahesa. Dari mulai kuliahnya sampai keluarganya. Ntah bagaimana pembicaraan yang awalnya kaku semakin lama semakin cair. Aku mulai mendengar suara tawa mama.
Aku tidak menyangka Mahesa bisa membawa diri didepan mama. Karena dia laki-laki yang biasanya tidak banyak bicara. Jadi saat pembicaraan mama dan Mahesa semakin mengalir, terus terang aku cukup terkejut.
Setelah waktu menunjukkan jam 21.00, Mahesa berpamitan.
"Saya pamit tante, semoga besok perjalanannya lancar"
"Iya Sa, tante juga berharap begitu. Besok kamu ikut ya mengantar tante ke bandara. Biar ada yang menemani Anesta"
"Iya tante, besok saya akan ikut ke bandara"
"Ya sudah, pulang lah. Sudah malam, tante juga akan beristirahat".
Mama pergi meninggalkan kami berdua.
"Kamu tau nggak, aku kaget kamu bisa ngobrol akrab sama mama", kataku sambil berbisik. Aku takut mama mendengar suaraku.
Dia hanya tersenyum, "Aku pulang ya. Sampai ketemu besok pagi".
Dibelainya puncak kepalaku dan diciumnya keningku.
__ADS_1
"Mahesa, terima kasih".
****
"Mahesa, sudah pulang?"
"Sudah, Ma"
"Mama suka anak itu, dia sopan dan kelihatannya baik. Pantesan kamu jatuh cinta sama dia", kulihat mama tersenyum.
"Tapi keputusan mama tetap sama Anesta. Ingat itu!"
Tak mengapa kalau saat ini mama belum menyetujui hubungan kami. Setidaknya mama sudah mulai mengenal Mahesa walaupun cuma sedikit.
****
Beberapa hari kemudian
"Selamat siang!.
"Ya, selamat siang"
"Apakah benar saya berbicara dengan saudara Anesta?"
"Iya benar"
"Saya dari PT. Surya Lestari ingin menyampaikan bahwa anda diterima bekerja diperusahaan kami"
"Terima kasih", aku nyaris bersorak.
Aku menganggukkan kepala, aku tidak menyadari bahwa lawan bicaraku tidak bisa melihat aku.
Begitu telpon ditutup. Aku bersorak "Yeayyyy!"
Segera kutelpon Mahesa untuk menyampaikan kabar gembira ini.
"Mahesa!. Aku diterima bekerja!"
Aku meluapkan kebahagiaanku dengan berteriak. Aku tidak perduli kalau kuping Mahesa harus sakit mendengar suaraku.
Aku mendengar suara tawanya, aku tahu dia juga bahagia.
"Kapan mulai bekerja Bee?"
"Hari Senin. Aku seneng banget Sa"
"Iya, aku tahu. Aku juga seneng Bee"
"Selamat ya Bee buat kerja kerasmu"
"Terima kasih buat doamu Sa".
__ADS_1
Lalu aku juga mengabarkan berita gembira ini kepada mama. Ada ucapan syukur saat mama mendengar kabar dariku. Akhirnya anak perempuannya ini diterima bekerja.
***
Terus terang ada perasaan sedikit takut saat pertama kali aku harus masuk kedalam lingkungan baru.
Aku takut tidak bisa beradaptasi dengan baik. Dari mulai beradaptasi dengan lingkungan pertemanan sampai beradaptasi dengan pekerjaan. Karena terkadang teori yang didapatkan saat kuliah, ternyata akan sangat jauh berbeda dengan kenyataan didunia kerja.
Ternyata aku memiliki teman-teman yang baik. Bisa jadi temen cerita, temen dalam pekerjaan dan temen buat nongkrong dimall.
Aku juga suka dengan pekerjaanku, karena aku bisa bertemu berbagai macam orang dan karakternya.
Sebagai staff HRD aku harus bisa merekrut karyawan dan menempatkan mereka pada posisi yang tepat yang dibutuhkan perusahaan.
Setelah itu aku juga melakukan training untuk pekerjaan tertentu.
Seperti perusahaan tempatku bekerja saat ini, bergerak dibidang makanan dengan memiliki beberapa gerai di mall. Aku harus bisa mengajari mereka cara menghadapi pembeli, cara menyajikan makanan yang sesuai dengan standar perusahaan sampai cara menjual suatu produk apalagi kalau itu produk baru.
Aku juga harus membuat perjanjian kerja dengan karyawan baru. Biasanya sudah ada formatnya, aku tinggal mengcopy saja.
Bagian yang tersulit adalah apabila ada ketidakcocokan antara perusahaan dan pekerja, aku bisa berkali-kali datang ke kantor Disnakertrans untuk menyelesaikan suatu masalah perselisihan ketenagakerjaan. Untunglah hal itu sangat jarang terjadi.
Aku sangat menikmati pekerjaanku. Dan yang paling aku suka adalah saat aku melakukan wawancara. Aku suka berbicara dengan mereka, menggali potensi mereka dan biasanya pilihanku tidak pernah salah.
Pernah, aku melakukan wawancara untuk mencari karyawan yang harus ditempatkan digerai yang berada didalam mall. Biasanya syarat utama, harus terlihat menarik itu menurutku. Tidak harus cantik, ganteng, putih atau punya badan yang bagus.
Mungkin dari senyumnya atau pembawaannya atau bisa jadi dari cara dia bicara.
Pernah ada seorang gadis yang baru lulus sekolah datang untuk wawancara.
Pertama kali bertemu dia terlihat gemetar. Aku bersikap ramah agar dia tidak merasa takut padaku. Gadis ini punya wajah yang cantik, namun saat aku berikan beberapa pertanyaan sederhana dia langsung menangis. Ternyata dia nggak punya mental seorang pejuang. Secantik apapun dia, pasti akan langsung kucoret dari daftar.
Masih banyak lagi cerita tentang pekerjaanku. Tapi aku nggak mau menuliskan semua disini. Biar bagaimanapun ini cerita tentang Anesta dan Mahesa, bukan Anesta dan pekerjaannya.
****
"Anesta, ada yang akan saya sampaikan ke kamu".
Kalau atasanku sudah memanggil dari depan pintu ruang kerjanya, berarti aku harus bergegas menemui beliau.
Atasanku sangat tampan dan belum menikah. Dia juga ramah dan baik. Tipikal atasan yang akan disayangi bawahannya. Hubungan kami hanya sebatas hubungan kerja. Tidak lebih.
"Minggu depan kamu ditugaskan untuk mengikuti training di kantor pusat Jakarta selama satu bulan. Ada produk baru dan kita juga akan memperkenalkan gambaran perusahaan yang baru"
"Jadi setelah kamu training di Jakarta, kamu yang akan menyampaikan kepada kita semua yang ada dicabang ini. Pahamkan, Nes"
"Iya pak, saya mengerti"
"Baiklah, kamu segera bereskan pekerjaan kamu disini agar minggu depan kamu bisa berangkat ke Jakarta tanpa ada beban pekerjaan disini"
"Ada beberapa pekerjaan yang mungkin bisa kamu delegasikan ke saya"
__ADS_1
"Baik pak, akan segera saya bereskan pekerjaan saya. Termasuk beberapa perjanjian kontrak karyawan yang akan jatuh tempo. Nanti akan saya berikan daftarnya"
Minggu ini pasti cukup sibuk untukku. Berharap semua bisa aku selesaikan sebelum keberangkatanku ke Jakarta.