Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Ben


__ADS_3

Ada satu masa saat aku sangat mencintai seorang perempuan bernama Anesta.


Aku ingat saat itu aku sedang naik angkutan umum pulang dari sekolah, karena motor yang biasa kukendarai masuk bengkel. Kulihat dia masuk dan duduk berhadapan denganku. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Biasa saja.


Yang membuat dia berbeda, saat dia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Dia nampak asyik dan terhanyut dalam bacaannya. Terus terang saat itu aku penasaran dengan buku yang dia baca.


Aku berusaha untuk melihat sampulnya, mungkin aku bisa membaca judul bukunya. Tapi terhalang tas yang ada dipangkuannya. Terkadang rasa penasaran bisa sangat membunuh.


Aku memberanikan diri untuk menyapa.


"Hai, kayaknya seru banget baca bukunya. Buku apa sih?". Aku memberikan senyum termanisku agar dia tidak merasa takut.


Ternyata aku berhasil menarik perhatiannya, diangkatnya pandangan matanya dari buku yang dia baca. Lama dia menatap wajahku, lalu tersenyum.


"Cuma baca novel. Kamu, suka baca novel?"


"Nggak, novel percintaan ya?"


"Sidney Sheldon nama pengarangnya. Judulnya Master of the Game. Novel yang menurutku sangat bagus. Di dalamnya ada petualangan dan kisah cinta"


Aku suka cara dia bicara menyampaikan isi novelnya. Aku yang memang tidak terlalu suka membaca jadi tertarik dan penasaran.


"Boleh aku lihat sampulnya"


"Boleh, nih!"


"Kalau aku mau beli buku ini dimana?"


"Ditoko buku besar pasti ada. Aku yakin kamu akan suka membacanya"


"Aku sudah baca buku ini berulang-ulang, dan tidak pernah merasa bosan"


"Oh ya, buku setebal itu?"


Dia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Oh ya, namaku Benedictus. Aku dipanggil Ben. Kamu?"


"Namaku Anesta. Kamu bisa memanggilku Nesta"


"Sayangnya aku tidak tau rumahmu. Kalau aku tau aku bisa meminjamkan buku ini ke kamu"


Baru aku hendak membuka mulut untuk memberitahukan alamat rumahku, dia sudah berkata.


"Aku turun duluan ya, rumahku didalam gang itu"


"Nomer berapa? Mungkin aku yang akan datang kerumahmu untuk meminjam buku!" kataku setengah berteriak.


Dia melambaikan tangannya "Nomer 6!" dan diapun berlalu masuk ke dalam gang.


Siang itu juga aku langsung pergi ke toko buku besar untuk membeli novel yang dia baca. Aku jadi sangat penasaran dibuatnya.


Begitu sampai dirumah, aku langsung masuk ke dalam kamar dan mulai membaca lembar demi lembar.


Aku terhanyut pada cerita seorang pemuda miskin yang pergi jauh dari keluarganya demi mencari penghidupan yang lebih baik.


Pemuda yang akhirnya ditipu dan kemudian bertekad membalas dendam. Petualangan yang dialami pemuda itu sangat seru untuk mendapatkan berlian.


Saat pemuda itu dan sahabatnya harus mengarungi lautan dengan rakit, dan bertemu hiu. Saat mereka harus merayap dan menjaga keseimbangan tubuh, agar tubuh mereka tidak meledak dihantam ranjau yang ditanam dibawah pasir. Ada saat mereka ditembaki dan dikejar oleh anjing penjaga yang akan merobek-robek tubuh mereka.

__ADS_1


Aku terhanyut membaca kisahnya.


Tidak terasa, sore itu aku sudah hampir separuh membaca novel karya Sidney Sheldon.


Pantas saja dia membaca novel ini berulang-ulang. Ceritanya sangat bagus. Aku semakin penasaran untuk terus membacanya.


Beberapa kali aku ke sekolah naik angkutan, berharap bertemu dia. Tidak kuhiraukan pertanyaan dari mama dan papa juga teman-temanku.


"Kayaknya motormu sudah diambil dari bengkel. Kok masih naik angkutan?"


"Nggak apa-apa ma, aku lagi suka naik angkutan. Ternyata seru juga"


"Biasanya kamu marah-marah kalau motormu tidak segera diambil dari bengkel?"


"Kali ini bedalah pa. Aku berangkat dulu ya Pa nanti terlambat"


"Ma, aku berangkat sekolah!"


Aku segera berlari untuk mendapatkan angkutan diujung jalan. Berharap aku akan bertemu dia. Ntah berangkat sekolah atau pulang sekolah.


Harapan tinggal harapan, kami tidak pernah bertemu lagi. Akhirnya aku bosan dan kembali menaiki motorku ke sekolah.


***


"Bang Ben, nanti anterin aku ke toko buku ya. Ada buku yang mau aku beli untuk tugas sekolah"


"Jam berapa?"


"Terserah abang aja lah!"


"Nanti sore ya, abang sudah ada janji sama teman kalau siang sepulang sekolah"


"Iya, abang janji mengantarmu nanti sore"


Dia Emily adikku, kami biasa memanggilnya Emi. Adikku satu-satunya, kesayangan kami semua. Makanya dia sangat manja. Umur kami hanya terpaut dua tahun. Wajah kami berdua tidak mirip. Emi lebih mirip mama, sedangkan aku lebih mirip papa.


Banyak teman yang terkecoh saat kami terpergok jalan berdua. Selalu dikira aku sedang jalan dengan pacarku.


Kalau Emi sudah meminta, selagi aku bisa pasti akan kupenuhi. Aku merasa dia lebih aman jalan bersamaku daripada dengan teman-temannya.


***


"Bang, aku kebagian novel ya?. Abang terserah mau kebagian apa. Mungkin aku agak lama bang"


"Iya, yang penting bukunya ketemu"


"Ya sudah, aku kesana dulu ya" jari telunjuknya menunjuk ke satu arah. Aku mengangguk dan dia berlalu pergi meninggalkanku.


Segera aku menuju rak majalah. Mungkin ada yang menarik minatku.


Ternyata mataku lebih berminat melihat seorang perempuan yang dengan asyiknya membolak-balik majalah.


"Hai Nes, apa kabar?"


"Eh, hai! Kabarku baik"


"Sama siapa Nes?. Sendiri?"


"Nggak, aku sama adikku. Dia lagi cari komik disana. Aku cuma menemani"

__ADS_1


"Kamu nggak pernah pulang naik angkutan lagi ya Nes?"


"Masih kok, memangnya aku mau naik apa lagi?"


"Kita nggak pernah ketemu?"


"Kamu itu lucu ya Ben. Angkutan umum kan banyak, tingkat probabilitas kita ketemu kan sedikit sekali. Satu dibanding berapa ya?"


"Mungkin seribu ya, hahaha!"


"Nah itu!"


"Kenapa, mau pinjam novel ya?"


"Aku sudah beli novel yang kamu bawa waktu itu. Aku suka ceritanya"


"Bagus banget ya Ben?"


Kami bicara banyak hal saat itu, semakin lama kami bicara aku semakin merasa menyukainya.


Aku tidak mudah terpikat dengan perempuan. Pacarku selama ini bisa dihitung dengan jari. Aku hanya sekedar suka, lalu kunyatakan perasaanku, kami jadian. Setelah aku bosan, aku pun meninggalkan pacarku. Belum ada yang benar-benar membuat aku jatuh cinta.


"Bang Ben, aku sudah selesai beli bukunya. Kita pulang yuk!"


"Em, kenalkan ini teman abang. Namanya Anesta dan ini adikku namanya Emily"


Aku harus menegaskan hubunganku dengan Emi, karena aku tidak ingin Anesta menganggap Emi pacarku.


Aku pun pamit meninggalkan Anesta dan adiknya.


"Nes, besok sore aku datang kerumah ya?" akhirnya kuberanikan diri mengatakannya.


"Ya, aku tunggu"


***


"Bang, abang suka ya sama Anesta?"


"Nggak ah, biasa aja. Abang juga baru kenal sama dia"


"Nggak usah bohong bang, masakan aku tidak bisa membaca tatapan mata abang"


"Memangnya dimata abang ada tulisannya ya Em?"


"Kamu ini memang menyebalkan bang!. Aku bukan anak kemarin sore yang bisa abang bohongi ya. Jawab jujur aja lah bang!"


"Kalau iya kenapa?"


"Ya nggak apa-apa. Kali ini perasaanku mengatakan yang ini berbeda dari pacar-pacar abang yang dulu"


"Bedanya?"


"Aku yakin kali ini abang jatuh cinta sama dia. Tatapan matamu berbeda bang"


"Hahahaha, suka-sukamu lah Em!"


Kuakui Emi ada benarnya, sepertinya aku memang jatuh cinta. Kalau Emi bisa menilai, karena dia mengenal pacar-pacarku yang dulu dan mengetahui bagaimana aku memperlakukan mereka.


Aku tidak sabar untuk bertemu Anesta besok sore.

__ADS_1


__ADS_2