
Tak terasa air mataku tumpah. Aku segera keluar dari ruangan Lusy. Aku pergi ke taman rumah sakit, duduk dan menangis kembali. Dada ini terasa sesak. Aku rindu dengan sahabat kecilku. Terlebih lagi aku merasakan juga penderitaannya. " Bella terimakasih karena kamu telah melindungiku dari laki-laki seperti Angga. Tapi, jujur aku juga sakit mendengar kamu menderita seperti ini. Aku berharap kamu bisa lepas dari Angga dan menemukan kebahagiaan kamu." dalam hatiku
Aku menangis kembali, lalu aku mengambil ponsel. Aku mencoba menghubungi Bella namun tak kunjung ada jawaban. Nomornya sudah tidak aktif. Semoga kamu baik-baik saja Bel.
" Ada apa An, dari tadi kamu menangis sejak keluar dari ruangan Lusy?" tanya Elon, kemudian ia duduk di sampingku
Aku terkejut mendengar suara Elon " tidak ada yang menangis ini saku hanya kelilipan saja" aku mengelak.
" Aku sudah bilang An, aku tahu sejak kamu keluar dari kamar Lusy, dan aku juga memerhatikan kamu sedari tadi" tegas Elon
" Bukan begitu Elon, hanya masalah pribadiku saja" jawabku
" Apakah kamu tidak mau cerita ke aku?" kecewa Elon
"Aku pasti akan membantu kamu An, tapi kenapa kamu tidak mau berbagi dukamu padaku. Aku merasa sangat sedih jika melihatmu menangis seperti tadi" kata Elon dalam hati
" Bukan maksud aku Elon, tapi..." kataku terhenti, Elon tiba-tiba menggenggam tanganku
" Percaya sama aku, apapun itu aku pasti usahakan untuk kamu" yakin Elon
Aku akhirnya menceritakan semua yang terjadi. Alasan kenapa aku pindah ke Jogja. Aku juga bercerita mengenai Angga yang terkadang masih menerorku melalui pesan-pesannya. Aku meluapkan semua ketakutan dan kegelisahanku pada Elon. Aku juga meminta Elon untuk mencari tahu bagaimana kondisi Bella di Jakarta. Aku sangat khawatir padanya.
" Baik, Aku akan meminta Exel untuk mencari informasi terbaru mengenai Bella dan Angga. Kamu tidak perlu khawatir lagi An" Elon menenangkan
__ADS_1
" Terimakasih banyak Elon karena kamu sudah selalu membantu aku" ucapku tulus
" Tidak perlu berterima kasih An. Terlebih kamu adalah orang yang sangat spesial di hati aku" kata Elon.
Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana. Pipiku sudah merona mendengar kata-kata dari Elon. Elon menatapku begitu dalam.
" Jadi Anne, ada apapun itu tolong kamu sampaikan saja padaku. Aku tidak ingin kamu merasa sendiri. Ada aku An" imbuh Elon
Aku hanya mengangguk. Lalu Aku mengajak Elon untuk kembali ke ruang rawat Lusy. Aku berdiri hendak berjalan Elon menarikku ke dalam pelukannya. Aku merasa nyaman sekali dalam dekapan Elon. Walaupun begitu aku berusaha mendorong tubuh Elon. " Biarkan aku memelukmu sebentar saja An" kata Elon. Akhirnya aku membiarkannya. Tak selang lama Elon melepas pelukannya kemudian menggandeng tanganku menuju ruang perawatan Lusy.
Elon membuka pintu dan aku berada di belakangnya. Saat masuk aku melihat Lusy sudah duduk di ranjang. Aku melihat dia memerhatikan Elon dan aku. Aku masih saja tidak sadar dengan pandangan Lusy. Kemudian ia berceletuk " Wah..wah.. Ada pasangan baru ini sepertinya?" goda Lusy
Elon hanya mengangkat bahu tidak peduli. Sementara aku tidak mengerti maksud Luay " Kamu bicara apa sih Lus, aku tidak tahu maksud kamu apa? " jawab bingungku
" Bukan begitu Lus, intinya tidak seperti yang kamu pikirkan" jawabku malas.
Aku tidak mau meladeni Lusy karena nantinya hanya ribut saja. Lusy bukan orang yang mau mengalah. Aku akhirnya mengajak Lusy dan Elon untuk makan bersama saja. Lusy juga harus minum obat dan banyak beristirahat. Kami makan dengan lahap dan terkadang di seling cerita.
Aku mengambil minum dan obat yang akan diminum oleh Lusy. Setelah minum obat, tak lama kemudian Lusy sudah tidur dengan nyenyak.
Aku merasa canggung hanya berdua dengan Elon. Aku memutuskan untuk ikut memejamkan mata. Tapi, aku merasa tidak nyaman seolah-olah ada orang yang terus mengawasiku. Karena merasa tidak nyaman aku memilih untuk membuka mata. Seperti yang sudah ku duga, Elon menatapku. Lagi-lagi aku merasa ada yang bergetar di hati ketika bertatapan dengan Elon.
Aku segera membuang muka. Setelah itu, aku berucqp " Elon tolonglah jangan menatap aku terus, malu tahu" pipiku merana.
__ADS_1
Elon tidak peduli. " Anne kamu itu seperti magnet yang menarik aku untuk selalu melihat kamu" kata Elon
"Haiishhh, kamu ini pintar ya gombalnya." Alasanku, aku masih ragu untuk menjalin hubungan lagi. Aku masih takut dengan sakit yang pernah aku rasa.
Aku kembali duduk di dekat ranjang Lusy. Kemudian aku tidur dengan posisi duduk dengan kepala bersandar di ranjang Lusy. Saat hampir terlelap aku merasa ada seseorang yang menyelimuti padanku. Dalam hati aku tersenyum.
"Tak ku pungkiri Elon, aku senang dengan sikap kamu, perhatian kamu, dan kamu yang selalu ada untuk aku. Beri aku waktu ya Elon untuk menyembuhkan luka yang belum sembuh ini. " kataku dalam hati
\*\*\*
Bella meresa lega telah mengirim pesan permintaan maafnya pada Anne. Bella menyesali perbuatannya pada Anne. Ia merindukan kebersamaannya dengan Anne. Terlebih lagi, saat ini Ia merasa benar-benar membutuhkan seseorang untuk menguatkannya. Bella menangis mengingat masa-masa dengan Anne. Di mana ketika ia mendapat masalah, ia akan selalu cerita ke Anne. Dulu, saat Bella bingung harus mencari pekerjaan di mana Anne pulalah yang membantu ia mencari pekerjaan. Sehingga ia bisa bekerja di perusahaan yang dinaungi grup Bernand. Bella juga ingat saat dia sakit Anne selalu menjaga dan merawat dia. Bella rindu sosok Anne yang sudah menganggap ia sebagai saudara.
Pintu kamar Bella terbuka segera ia menghapus aor matanya. Angga pulang dalam keadaan mabuk. Ia lalu menghampiri Bella kemudian menarik rambut Bella. " Siapa yang meminta kamu duduk di ranjangku?" rancau Angga. Bella meringis kesakitan.
"Maaf Angga, ini tidak akan aku ulangi lagi" kata Bella.
Bella takut Angga akan menyiksanya kembali. Tadi pagi sebelum berangkat kerja Angga sudah menampar pipinya dengan kuat. Ia sampai harus memakai foundation yang tebal untuk menutupi bekas tamparan Angga. Bella tidak ingin karyawan yang lain tahu permasalahan rumah tangganya.
Angga tidak mau tahu, Ia melepaskan ikat pinggangnya kemudian ia mencambuk tubuh Bella. "Sakit Ngga ampun. Tolong Ngga, cukup." Teriak kesakitan Bella
" Sakit kamu bilang, ini belum seberapa. Aku akan membuat hidup kamu lebih menderita!" kata Angga.
Angga kembali mencambuk Bella. Setelah puas Angga berbaring di ranjang dan tertidur.
__ADS_1
Bella menangis kesakitan. Ia merasa perih di beberapa bagian tubuhnya akibat cambukkan Angga. Bella sudah mulai kebal dengan siksaan dari Angga. Ia berdiri mengambil kotak P3K. Bella mulai mengobati luka-luka yang mudah dijangkau, seperti tangan, dan kaki. Sisanya area punggung ia biarkan tak diobati.