
Aku memblokir nomor Angga. Aku harus berani dan kuat karena aku harus melindungi orang-orang terdekatku. Terlebih lagi Bapak dan Ibu.
Sudah seminggu ini aku masih di rumah. Aku belum mendapatkan pekerjaan. Angga juga masih menghubungiku dengan nomor-nomor yang selalu baru. Aku selalu memblokir nomor yang digunakan Angga untuk mengirim pesan padaku.
Hari ini ibu memintaku untuk menemaninya pergi ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan bulanan. Beberapa barang sudah habis sehingga harus beli.
"Nduk, gak papa to menemani Ibu belanja. Soalnya Bapak tiba-tiba gak bisa" kata Ibu
"Iya Bu. Gak papa, lagian Anne juga lagi gak sibuk" aku menghidupkan motor
Aku dan Ibu lumayan lama berbelanja. Aku merasa lega keluar rumah karena sudah dua hari ini Angga sudah tidak kelihatan lagi. Walaupun Angga masih menerorku dengan pesan-pesannya. Tapi, setidaknya dia sudah tidak mengikutiku lagi ketika keluar rumah.
Aku teringat sehari setelah bertemu Angga di toko buku. Waktu itu, Ibu minta tolong padaku untuk beli bakso di langganan kami. Angga ternyata masih mengikutiku dan di tempat bakso Angga kembali memintaku untuk menikah dengannya. Aku harus jadi miliknya karena Angga tidak mau sampai kedua orangnya malu. Karena rencana pernikahan kami sudah tersebar ke keluarga besarAngga. Bahkan orangtua Angga juga sudah memberi tahu para sahabatnya.
Aku menolaknya. Bagaimanapun aku ingin Angga bertanggung jawab atas perbuatannya pada Bella. Aku meninta Angga untuk menikahi Bella. Bagaimana jika nanti Bella hamil anak Angga? Aku gak mau Bella menanggung semuanya sendiri. Aku kecewa dengan Bella tapi aku tetap saja masih peduli padanya. Aku tahu Bella adalah orang yang baik selama ini.
"Mungkin sekarang dia sudah kembali ke Jakarta" aku mengangkat bahu.
"Nduk, ayo ke kasir. Ibu udah selesai ini"
"Iya Bu"
Setelah sampai di rumah. Aku membantu Ibu menata barang belanjaan. Kemudian aku ke kamar untuk beristirahat.
Aku kembali membuka laptop dan mencari lowongan pekerjaan lewat daring. Aku juga sudah mengirim surat lamaran melalui e-mail ke beberapa perusahaan tapi masih belum ada panggilan ataupun balasan.
"Ah susahnya mencari pekerjaan" gumamku. Aku mengambil hp di atas meja bacaku. Aku membuka hp 5 panggilan tak terjawab dari Lusy. "Ada apa Lusy nelpon aku, apa sudah ada lowongan pekerjaan untukku? Tanyaku pada diri sendiri. Setelah itu aku menghubungi Lusy.
__ADS_1
"Hallo Lus, ada apa ya? Maaf ya tadi aku nemenin Ibu belanja. Hpku ketinggalan. Aku lupa bawa hp"
" Iya An, gak papa. Ini aku mau kasih tau kamu. Di tempat kerjaku lagi buka lowongan pekerjaan. Kalau kamu mau besok kamu datang aja ke perusahaan. Jangan lupa bawa surat lamaran sama CV. Terus jangan lupa bilang ke HRD kalau aku yang merekomendasiin kamu "
" Oke Lus, makasih banyak ya"
"Iya sama-sama. Ya udah ya aku tutup dulu An. Aku mau lanjutin kerjaanku."
Aku merasa senang dapat informasi dari Lusy. Akhirnya aku bisa mulai kerja besok. Aku mau menyiapkan keperluanku besok.
Pagi ini aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan Lusy. Aku pamit pada Bapak dan Ibu.
Sampai di kantor aku aku melihat Lusy di Lobby. Ternyata Lusy menunggu kedatanganku. " Pagi Lus" sapaku
"Pagi juga An. Ayo aku antar kamu ke HRD. hari ini kamu bisa langsung kerja" Lusy menggandeng tanganku
" Beneran, aku kenal sama pemilik perusahaan. Aku udah izin ke dia. Dan dia ngizinin kamu kerja di sini" bisik Lusy
" Makasih banyak ya Lus" ucapkku tulus
Aku mulai mengerjakan tugas-tugasku.
Hari-hari aku di sibukkan dengan pekerjaanku. Terkadang aku masih menerima pesan dari Angga. Tapi aku mengabaikan pesan tersebut. Biasanya aku langsung hapus atau aku blokir nomor tersebut. Ketika jam istirahat aku dan Lusy selalu makan bersama. Aku dan dia selalu saja cerita tentang banyak hal. Masalah pekerjaanlah, masalah teman-teman kantor, masalah keseharian di rumah, dan juga masalah asmara.
Aku sudah menceritakan masalah hubunganku ke Lusy. Di mana pacarku selingkuh dengan temanku. Lusy juga terlihat emosi waktu aku cerita. Ia tidak menyangka hal seperti itu bisa menimpaku. Sehingga beberapa kali Lusy mengajakku untuk bertemu dengan beberapa teman cowok Lusy yang menurutnya cocok dengan tipeku. Lusy ingin segera aku melupakan laki-laki yang sudah tega mengkhianatiku.
Aku sudah bertemu dan jalan dengan beberapa orang yang lusy kenalkan ke aku. Tetapi tidak ada striping yang menurutku cocok. Lebih tepatnya aku memang belum membuka hati untuk orang lain. Aku masih ingin sendiri dulu. Aku ingin menyembuhkan luka ini terlebih dahulu. Setelah itu mungkin aku akan memulai lagi dengan hubungan yang baru.
__ADS_1
Istirahat hari ini, Lusy buru-buru menarikku keluar. Aku melihat dia sepertinya begitu antusias. "Aku yakin mungkin dia kan cerita tentang kekasihnya." kataku dalam hati
Sampai di tempat makan Lusy lalu bicara " An, kamu harus tau kalau besok pemilik perusahaan dateng" kata Lusy
Ternyata aku salah menebak. "Emang kenapa Lus, kalau pemilik perusahaan datang, Bukannya Pak Mario selalu datang ya?" tanyaku
"Eh maksudku bukan pak Mario An, pak Mario itu orang kepercayaannya aja. Jadi yang datang itu bener-bener pemiliknya"
"Emangnya kamu kenal Lus?"
" Kenallah, gunanya hak kenal. Dia itu sepupu aku"
" Oh" jawabku ber oh ria. Aku tidak peduli siapapun pemiliknya karena bagiku bekerja adalah melakukan hak dan kewajiban.
" Kok oh sih An" kesal Lusy
" Ya aku harus gimana Lus, bagiku aku kerja dan dapat gaji. Itu sudah cukup"
" An, Aku ngerasa Elon cocok sama kamu, sepupu aku itu orangnya baik tau."
" Udah ya Lus, aku beneran belum ada keinginan untuk menjalin hubungan lagi saat ini"
Aku pergi terlebih dahulu meninggalkan Lusy sendiri. Aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan sebelum jam dua siang ini.
Akhirnya selesai juga. Aku jadi teringat kata-kata Lusy "An, aku merasa Elon cocok sama kamu". "Apakah dia Elon yang sama? Kalaupun orang yang sama apa mungkin Elon akan menyukaiku? " aku bertanya-tanya dalam hati
"Ah sepertinya tidak mungkin. Kalaupun iya. Aku juga merasa tidak ingin menjalin hubungan apapun dulu saat ini. Aku ingin menikmati masa-masa sendiri dulu" gumamku
__ADS_1
Keesokan harinya semua orang sudah berkumpul di Lobi. Aku hampir saja telat. Semua ini gara-gara semalaman aku teringat kata-kata Lusy. Aku memikirkan Elon kembali. Aku bingung harus bersikap bagaimana nantinya. Apalagi mengingat pertemuan terakhir kami. Elon menjadi lebih pendiam dan Aku juga tak membalas pesannya waktu itu. Semoga Elon bukan orang yang mencampuradukkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi. Kemudian aku bergegas bergabung dengan semua karyawan untuk menyambut pemilik perusahaan.