Anne Dan Elon

Anne Dan Elon
Bab 6


__ADS_3

\*\*\*


Di Jakarta, lebih tepatnya kamar Bella. Bella menghamburkan semua barang yang terletak di atas meja. Bella menangis, kecewa, marah, dan frustrasi dengan sikap Angga. Bella merasa dipermainkan oleh Angga. Bella sudah memberikan apapun yang Angga minta termasuk kehormatannya.


Bella terus menangis ia mengingat moment-moment bersama Angga. Awal mulanya adalah ketika di kantor, Bella dan Angga sering makan bersama ketika istirahat. Angga juga selalu menjadi tempat Bella berbagi kesusahan. Angga juga selalu perhatian memberi minuman dan makanan ketika aku tidak sempat istirahat. Angga juga membantu pekerjaan yang mana kalau Bella bingung. Hingga timbullah perasaan suka Bella pada Angga.


Awalnya Bella mencoba menepis rasa suka itu, karena Bella tahu bahwa Angga adalah kekasih Anne. Bella mulai mengurangi interaksi dengan Angga. Tak bisa Bella pungkiri bahwa menghindar dari Angga bukannya menghilangkan rasa sukanya. Tapi justru Bella semakin suka dan rindu dengan Angga.


Hingga suatu hari Angga sakit. Iya tak masuk kerja, sepulang kerja Bella menjenguknya. Anne juga sudah ada di Apartemen Angga. Bella merasa cemburu dengan interaksi Anne dan Angga. Tapi setelah itu, Anne buru-buru pergi karena ditelpon bosnya.


Disaat Bella dan Angga berdua, Bella membantu menyuapi Angga karena Anne sudah pergi. Bella merasa jantungnya berdetak lebih cepat ketika melihat Angga. Bella dengan segera mengalihkan pandangannya. Namun, Angga malah memegang tangannya. Bella sejujurnya kaget dengan sikap Angga.


"Bel, sebenarnya kamu kenapa? Aku merasa kamu menghindar dariku?"


"Gak ada yang menghindar dari kamu Ngga"


"Bel, aku tahu mungkin ini salah. Tapi aku suka sama kamu"


"Ngga, gila kamu ya. Kamu ini pacar Anne" Bella tak terima. Walaupun Bella sebenarnya senang karena rasa sukanya terbalas. Tetapi Bella tak ingin menyakiti Anne.

__ADS_1


Bella berdiri hendak pergi. Tapi tidak bisa karena Angga memegang tangannya dan menarik Bella. Sehingga Bella jatuh di pelukan Angga.


Angga memeluk Bella dengan erat. " Aku benar-benar suka sama kamu Bella, aku sayang bahkan mungkin aku sudah jatih cinta sama kamu" Angga meyakinkan.


Kemudian Angga melepas pelukannya dan menatap Bella. Angga mendekatkan wajahnya kemudian cup. Angga mendaratkan bibirnya di bibir Bella sekilas. Bella dan Angga saling menatap kembali tak ada suara untuk saling bicara. Lagi, lagi perlahan Angga mencium bibir Bella kembali. Angga merasa senang karena tak ada penolakan dari Bella. Angga menahan tengkuk Bella. Angga ******* dengan lembut bibir Bella kemudian memberi gigitan kecil agar Angga dapat lebih leluasa. Bella mendorong dada Angga karena ia kehabisan nafas.


Bella mengalihkan pandangan, pipinya saat ini merona memngingat apa yang terjadi sebelumnya. Angga memeluk Bella kembali. "Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu Bel" ucap Angga


"Aku juga sayang dan suka sama kamu Ngga. Tapi bagaimana dengan Anne?"


"Aku akan segera memutuskan hubunganku dengan Anne. Beri aku waktu Bel" Janji Angga


Sampai di Apartemen Angga. Bella dan Angga meniup lilin dan memotong kue. Setelah itu Angga dan Bella saling menatap. Angga mencium bibir Bella perlahan dan lama-kelamaan menuntut. Hingga Angga menggendong Bella menuju kamarnya tanpa melepaskan ciuman. sampai di kamar, Angga menatap Bella "Aku akan menikahi kamu" janji Angga. Bella mengangguk tanpa setuju. Terjadilah hal yang diinginkan Angga.


"Kenapa kamu bohong sama aku Ngga" Teriak Bella. Bella berdiri ingin mengambil gunting di meja riasnya. Bella membuka laci kecil tempat gunting itu berada. Bella ingin mengakhiri hidupnya.


Bella sudah meletakkan gunting di atas pergelangan tangannya. Ia menangis kembali mengingat orang tuanya dan juga Anne karena mereka berpesan apapun masalahnya jangan sampai melakukan tindakan bodoh apalagi bunuh diri.


Bella membuang gunting ke sembarang tempat. Bella mengangis hingga tertidur karena kelelahan.

__ADS_1


...***...


Keluarga Angga sudah beri dari rumahku. Bapak mengetuk pintu kamarku. " Anne, kamu di dalam nduk?" kata bapak. Segera aku mengusap air mataku dan berjalan membukakan pintu. "Bapak boleh masuk nduk, ada yang mau bapak sampaikan?" tanya bapak.


" Boleh pak" jawabku. Kemudian aku dan Bapak duduk ditepi tempat tidurku.


" Kamu ada masalah apa nduk sama Angga? Kenapa sekarang kamu malah tidak mau menikah? Ada masalah apa? Cerita sama bapak. "


"Pak" suaraku bergetar. Aku tak bisa menahan bulir air mataku. Padahal aku sudah mencoba untuk menahannya.


Bapak memelukku. " Kamu kenapa An?" Bapak khawatir.


Aku masih menangis dipelukan Bapak. Bapak menepuk pelan punggungku. Bapak membiarkan aku menangis untuk mengurangi beban di hati. Setelah merasakan aku jauh leboh tenang. Bapak kembali bertanya padaku " Ada apa? kamu bisa cerita sama Bapak An?"


"Pak Angga sudah mengkhianati Anne. Anne melihat sendiri Angga tidur diranjang yang sama dengan Bella. Mereka tidak mengenakan satu helai kainpun Pak. Kenapa harus sama Bella si Pak. Bella itu teman Anne dari kecil. Anne bingung harus bagaimana Pak. Anne memang cinta sama Angga Pak tapi Anne gak bisa menerima penghianatan. Anne juga sudah ikhlas melepas Angga untuk Bella Pak. Angga harus bertanggung jawab pada Bella. Maka dari itu Anne gak bisa melanjutkan pernikahan ini. Maaf kalau keputusan ini nanti akhirnya buat Bapak Ibu malu. " ucapku sedih pada Bapak.


Aku melihat wajah Bapak yang kaget karena ceritaku. "Kalau itu sudah menjadi keputusanmu Bapak sama Ibu pasti dukung An. Kamu tidak perlu memikirkan Bapak dan Ibu. Bapak dan Ibu pastinya ingin yang terbaik buat kamu. Ingin melihat kamu bahagia. Jika seperti itu, InsyaAllah nanti pasti kamu diberi jodoh yang lebih baik oleh Allah. Yang terpenting sekarang kamu harus kuat dan sabar An. Nanti biar Bapak saja yang menyampaikan keputusan kamu ke orang tua Angga." Bapak menguatkan keputusanku. Bapak kemudian berdiri meninggalkanku. " Sekarang kamu istirahat saja, jangan terlalu dipikirkan" Bapak menutup pintu.


"Terima kasih Pak sudah mau mendukung Anne" gumam Anne. Aku merasa lebih lega rasanya seakan beban yang ada di pundak sudah lebih ringan dengan bercerita dengan Bapak tadi. Aku merebahkan diri di tempat tidur. Mataku sudah hampir terpejam tapi aku mendengar dering HPku. Angga memanggil. "Untuk apa lagi dia meneleponku?" kataku lirih. Aku mengabaikan telponnya. Tak selang lama ada bunyi notifikasi muncul. Lagi-lagi pesan dari Angga yang isinya " Kamu hanya milikku Anne, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu".

__ADS_1


__ADS_2