
"Ibu Ocha, ya? Ini helmnya," kata Angga menyodorkan helm hijau putih mirip pengendara gojek,"mau pakai maskernya, Bu?"
Aku hanya menaikan sebelah alis menatapnya jengah. Naik ke jok belakang motornya.
"Tujuannya mau sesuai aplikasi atau sesuai sopirnya, Bu?" tanya lagi dengan nada bicara sedikit formal dibuat-buat.
"Sesuai sopir tapi bayarnya pakai gope, ya. Bukan gopay," sahutku ketus," Ih! Buruan Angga! Jalaaan!"
Suasana jalanan Bandung cukup padat. Mungkin karena ini weekend sehingga banyak orang menghabiskan waktu di luar rumah. Beberapa kali Angga harus menghentikan laju kendaraan karena macet.
"Cha? Ke mana kita?"
"Terserah."
Hening. Hanya terdengar suara laju kendaraan yang cukup bising di sekitar. Kepulan asap kendaraan membuatku sedikit menutup wajah di balik punggung Angga.
"Cha? Kamu kenapa sih? Ada masalah apa?"
"Nggak apa-apa kok."
"Pantes hidungnya panjang. Dasar pinokio!"
Cubitan langsung mendarat dipinggang Angga. Diiringi erangan dari pria di depanku ini.
"Ih! Bukannya dihibur! Ajak aku jalan-jalan keliling kota kek."
"Yaelah gue aja orangnya mageran. Mana macet! Duh ... nyusahin," gerutunya.
"Oh ya ... satu lagi, Cha. Jangan harap kita boncengan kaya Dilan, ya. Gue nggak bisa ngomong kata-kata indah. Tapi gue bisa mainin rem berharap dapat sentuhan dan pelukanmu."
Selesai berbicara, suara kentut Angga terdengar. Aku otomatis memukul helm Angga, sebal.
"Hii ... udah mesum, jorok, suka kentut lagi!" omelku sepanjang jalan. Angga hanya tertawa lepas tak peduli dengan omelanku.
____
Sampailah kami dipusat kota, yang menjadi landmark kota Bandung. Suasana tak kalah ramai. Bahkan di sini jauh lebih ramai.
"Yuk, Cha."
Angga menggandeng tanganku tanpa penolakan tentunya. Menerobos kerumunan orang-orang, dengan tangan yang terus menggenggamku erat.
Bus wisata bandros
"Yuk, naik itu aja!" ajak Angga dengan terus menggandengku masuk bus tersebut.
"Kenapa naik ini, Ngga? Nggak kita berdua aja jalan-jalan gitu? Kan lebih romantis," protesku saat kami sudah duduk di bangku kosong di tengah.
"Pertama, Bandung lagi macet, dan gue nggak usah capek nyetir. Kedua, minta jalan-jalan di kota ini? dan ini udah difasilitasi loh sama pemerintah. Ketiga, ada guide yang menjelaskan tempat-tempat penting dan jangan harap gue hafal gedung-gedung bersejarah di sini beserta sejarahnya. Keempat, tidak ada request romantis, jadi maaf tidak dikabulkan. Oke? selamat menikmati. hehe."
"ih gitu banget, ya. Kamu orangnya banyak perhitungan. Bener kata ibumu. Dasar kikir!"
Sekali pun hanya jalan-jalan naik bandros, aku tetap terhibur. Terlebih dengan celetukan Angga yang tak kunjung habis.
__ADS_1
Ia membuka gawai dengan ekspresi mengernyitkan kening. Hal itu membuat rasa penasaranku muncul.
"Kenapa?" tanyaku
"Ini ih, si nongnong. Udah chat dua kolom, eh di hapus. Terus bilang lagi katanya nggak jadi. Bisa nggak sih, orang-orang yang gini, lubang hidungnya dimasukin bubuk mesiu?"
"Julid dasar! Yee ... siapa tau ada apa gitu, akhirnya nggak jadi nge-chat."
"Iya sih, Cha. Tapi ada faktor lain sih. Soalnya ...."
Belum sempat Angga meneruskan kalimatnya aku langsung menimpali. "Udah ah, jangan ghibahin orang. Dasar ih, udah julid, suka bergunjing juga."
"Yee ... rame tau ngomongin orang. Ibu gue juga suka nyebut nama gue pas lagi ngobrol sama tuhan."
"Itu lagi doa, Angga!" Kujewer telinganya sebagai hadiah karena hobi Angga yang iseng dan jahil.
Selesai berkeliling, kami turun di alun-alun kota. Perut terasa keroncongan. Karena sejak pagi aku belum makan apa-apa.
"Yuk ... cari makan. Ini anak orang takut mati, belum dikasih makan. Mau makan apa?" tanya Angga saat kami sampai di kawasan food court pinggir jalan.
"Terserah. aku ngikut aja," jawabku sekenanya sambil menyapu pandang sekitar. Mengamati satu persatu penjual makanan di sini. Ramai dan beraneka ragam. Bahkan hampir semua makanan yang ada di Indonesia tersaji di sini.
"Kebiasaan ... cewek jawab terserah ... Hih! Ngikut? Gue makan *** kucing diikutin juga, ya?"
"Kalau itu sih abisin aja sendiri!"
"Cha? Kenapa hari ini? Ada masalah apa?"
"Tadi di rumah pas aku sendirian, Idham tiba-tiba masuk. Aku takut banget. Akhirnya aku keluar lewat jendela."
" ...."
"Oh ... ya udah. Kalau kamu belum siap, nanti aja. Tapi menurutku, ya lebih baik sekarang ditemenin sama gue, daripada nanti kita nggak tau hasilnya gimana, kan? dan takutnya disaat nggak ada gue," kata Angga menasehati, menarik napas, melanjutkan kalimat bijaknya,"Pilihan di kamu sih. Kan kalau ada gue, nanti bisa kabur bareng-bareng."
Aku meliriknya tajam.
"Ye dikirain mau belain atau lindungin!"
Angga hanya nyengir kuda.
Beberapa pasangan muda mudi terlihat asyik bergandengan tangan dengan garis bibir yang selalu melengkung. Kebahagiaan terpancar jelas di mata mereka. Mungkin sama sepertiku sekarang. Bahagia. Aku bahkan lupa takut dan gelisah yang tadi pagi aku rasakan. Setiap bertemu Angga, semua luruh begitu saja.
"Cha ... ibu gue gimana orangnya? Ngobrol apa aja tadi?"
"Baik, menyenangkan, hangat, lucu lagi. Hehe. Bikin aku jadi kangen sama orang tuaku."
"Pulanglah kalau kangen."
"Orang tuaku udah meninggal, Ga."
"Upss ... maaf, ya udah anggap aja ibuku sebagai orang tuamu juga. Siapa tau suatu saat nanti jadi mertua. wahaha."
"Hah? Boleh?"
__ADS_1
"Yee ngarep banget nih. Cuma nyenengin anak yatim, Cha. Dapet pahalanya gede loh."
"Nyebelin! Dasar perhitungan. Dan inget juga loh, nyakitin anak yatim dosanya juga gede," sahutku penuh kemenangan. Angga melirikku tajam.
"Sial! Rugi di gue."
Tak lama makanan yang kami pesan datang juga. Cukup lama menunggu makanan ini matang, karena pengunjung yang cukup banyak. Jadi wajar jika harus mengantre. Padahal hanya paket ayam goreng dengan nasi panas, dan es teh saja yang kami pesan. Setelah mencuci tangan di wastafel yang disediakan, aku mulai memyantap makanan yang sepertinya sangat lezat ini. Cacing-cacing diperutku benar-benar sudah berdemo minta diisi.
"Cha ... tau nggak? itu kulit ayam di tempat ini katanya habis kena panu terus digoreng," kata Angga mulai iseng,"kayaknya nggak enak deh, Cha. Hati-hati."
Aku memelankan makan sambil melihat lekat-lekat ayam goreng yang sedang kukunyah.
"Yang bener?" tanyaku sambil meliriknya sinis."Bodo amat! Ah, kamu mah tipu-tipu. Cuma mau rebut kulit ayamku, kan?"
Angga tertawa. Namun, tiba-tiba ia menggeser posisi duduknya, menghadap arah lain.
"Sial! Karma is real. Langsung di lihatin celengan **** bapak-bapak. Berbulu lagi. Hiih!" gerutunya.
"Hah?!"tanyaku sedikit bingung dan kaget. Memperhatikan sekitar kami dan langsung mengerti maksud perkataan Angga tadi. "Wahaha ... Rasain! mamam tuh pemandangan!"
_____
Setelah makanan habis dan es teh tandas, Angga beranjak bermaksud untuk membayar makanan tadi.
"Mang ... nggak ada diskon? Ini gue makan sama anak yatim," katanya dan langsung ku pukul lengannya karena sebal.
"Hiih! Pakai bawa-bawa gue!"
Pria setengah baya itu hanya tersenyum melihat kami sambil tetap menyiapkan makanan untuk pelanggan lain.
"Atuh A, mamang ge geus yatim ti baheula. Moal sedekah kitu?"
*Mamang juga udah yatim dari dulu. Nggak akan di sedekahin gitu?
"Wahaha ... salah atuh nya urang Mang hampura heurey," ujar Angga salah tingkah sambil mengelus lengannya yang sakit akibat pukulanku.
*Wahaha salah atuh, ya gue, Mang. Maaf becanda.
Angga menoleh padaku.
"Cha ... maaf, ya. Becandaanya bawa-bawa yatim. Supaya kamu cepet berdamai, jadi enak kalau obrolin itu. Jadi nggak pakai suasana sedih lagi."
Sejenak teringat perkataan Angga saat di hotel tempo hari.
Berdamai dengan masalah?
"Gue sambil nge-rokok, ya."
Kami melanjutkan jalan-jalan sambil menemani Angga menghabiskan rokoknya. Hanya obrolan ringan yang tercipta, tentunya dengan celetukan menyebalkan khas Angga. Menikmati pemandangan di sekitar, yang sebenarnya biasa-biasa saja. Namun menjadi tidak biasa karena manusia menyebalkan di sampingku ini.
"Yuk! Pulang," ajaknya begitu sampai di pelataran parkir.
Aku pun mengiyakan ajakannya. Hari makin sore. Nova pasti sudah pulang. Aku takut dia khawatir. Lagi pula, Idham juga pasti sudah tidak ada di rumah. Sekali pun masih ada, ada Angga, bukan? Yang akan menemaniku kabur nanti. Huft. Dasar Angga.
__ADS_1
Jalan-jalan hari ini terlihat sederhana sekali. Tapi yang menjadi istimewanya itu 'dia'.
Dia yang bisa membuat suasana menjadi istimewa. Tidak dengan kata-kata bijak, tapi dengan celetukannya yang menyebalkan.