
Suasana di dalam sudah cukup ramai. Ben dan Daniel masuk sambil menyapu pandang ke sekitar. Tentu mereka mencari satu sosok yang memang ingin ditemui sejak masuk ke dalam. Jeslin.
Mata Ben langsung dapat menemukan di mana keberadaan Jeslin. Gadis itu sedang menata meja, di mana ada beberapa tumpukan novel baru yang masih terbungkus plastik. Ada novel miliknya juga beberapa novel milik penulis lain yang memang sedang menjadi bintang pada acara ini.
Ben menepuk bahu Daniel yang berdiri di sampingnya, karena masih sibuk mencari keberadaan sang kakak.
"Apa?" tanya Daniel terlihat malas menanggapi Ben.
"Itu!" sentak Ben dengan menarik kerah kemeja Daniel. Akhirnya dia menemukan di mana keberadaan sang kakak. Daniel lantas tersenyum, lalu gantian menepuk dada Ben, dan mengajaknya mendekati Jeslin. Ben hanya mengeggelengkan kepala, sebal.
"Bunga krisan merahnya taruh di pojok sana ya, Lex!" tunjuk Jeslin ke sudut di mana ia menginginkan barang tersebut diletakkan.
"Siap, Non."
Daniel menepuk bahu kakaknya pelan, seketika Jeslin menoleh dan sempat terkejut melihat dua pemuda itu di depannya. "Loh, kamu? Lagi ngapain di sini?" tanya Jeslin heran.
Daniel lantas menarik tubuh sang kakak dan memeluknya singkat. Terkadang mereka berdua memang sering melakukan hal ini jika bertemu. Tidak ada rasa kikuk dan aneh. Karena sejak kecil mereka selalu akrab satu sama lain.
"Selamat, Kakakku yang cantik. Akhirnya launching buku lagi," kata Daniel dengan senyum sumringah, tanpa menjawab pertanyaan Jeslin tadi.
"Cuma ucapan aja? Mana kadonya? Buket bunga misalnya? Tuh, lihat! Dia aja dapat setangkai bunga mawar merah," sindir sang kakak menagih hadiah dari sang adik, sambil menunjuk salah satu penulis lain yang mendapat hadiah dari kenalannya.
Daniel menggaruk kepala sambil bertingkah lucu. "Eum, nanti ya. Nanti aku beli. Nggak cuma satu tangkai atau buket bunga aja. Aku bakal beli sama toko-tokonya sekalian," tandas Daniel dengan sombong.
"Dasar! Mentang - mentang pemilik perusahaan," tukas Jeslin lalu tersenyum sinis, dan mengalihkan pandangan ke Ben yang sejak tadi diam memperhatikan. "Hai," sapa Jeslin padanya. Terlihat sedikit lebih ramah dari sebelumnya.
Ben yang tidak menyangka akan mendapat ucapan itu agak gelagapan, dan berusaha menarik kedua sudut bibirnya lebar-lebar. "Hai, Jes," sahut Ben gugup.
"Kamu juga, nggak bawa apa-apa ke sini?" tanya Jeslin menyelidik.
Ben tengak tengok bingung dan berakhir dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, aku nggak tau kalau Daniel mau ajak aku ke sini. Kalau aku tau, pasti aku bawakan sesuatu. Tapi ngomong-omong, selamat ya. Kalau aku beli novel ini, apa aku bisa dapat tanda tangan dari penulisnya juga?" tanya Ben sambil mengambil sebuah novel milik Jeslin yang masih tersegel di meja dekatnya. Jeslin hanya tersenyum, dan itu membuat jantung Ben berdenyut makin cepat.
Acara dimulai, Ben dan Daniel masih berada di sana untuk memberikan dukungan pada Jeslin. Bahkan dua pemuda itu adalah suporter paling heboh di antara yang lain saat Jeslin memberikan sepatah dua patah kata sambutan. Sedikit terlihat memalukan tapi untungnya dua pemuda tadi terbilang tampang, apalagi dengan tuxedo layaknya bos bos besar perusahaan. Yah, walau sebenarnya mereka memang bos perusahaan, tapi tidak ada yang akan menyangka saat melihat tingkah Ben dan Daniel yang tampak lucu pada acara ini. Mereka masih saja beradu pendapat. Hal hal sepele bahkan bisa menjadi perdebatan panjang keduanya. Seperti letak bunga yang kurang simetris atau penataan panggung yang kurang elegan. Biasalah, terkadang penonton memang lebih pintar jika berkomentar.
Hingga acara usai, mereka masih berada di tempat itu. Tepuk tangan meriah menutup acara.
"Kalian nggak ke kantor?" tanya Jeslin menatap intens kedua pria yang kini ikut dalam antrean. Untuk acara penutup akan ada sesi pembelian buku ditambah tanda tangan penulis. Ben yang benar benar membeli novel milik Jeslin kini menggenggam erat buku tebal tersebut dan berdiri di depan meja, di mana sang penulis duduk dengan sebuah pena.
Daniel hanya berdiri di sisi lain, di luar barisan. Karena dia tidak berniat membeli novel kakaknya. Bukan karena tidak ingin mendukung Jeslin dalam karirnya, tapi Daniel punya cara lain untuk mendukung kakak satu satunya yang ia punya itu. Kali ini, Daniel hanya mengamati tingkah Ben, yang tampak lain dari Ben yang biasanya ia kenal sejak sekolah dulu. Daniel yakin kalau Ben memang tertarik pada kakaknya dilihat dari sikap sahabatnya yang selalu lembut jika berhadapan dengan Jeslin.
"Oh, aku ... Kebetulan memang lagi senggang. Paling sore nanti baru ada meeting," jelas Ben sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
"Daniel?"
"Eh, kalau aku ...," cetus Daniel yang belum berhasil menemukan jawaban dari pertanyaan Jeslin. Dia melirik Ben yang sejak tadi hanya menatap Jeslin yang berada tepat di depannya. "Ah, kakak lupa? Kan aku pemilik perusahaan?" tanya Daniel dengan nada sombong.
"Kamu yakin? Nggak ada meeting? Biasanya kan kamu sibuk banget," sindir Jeslin sambil melirik adiknya sinis.
"Ah, kata siapa. Eh tapi ini jam berapa, ya?" tanya Daniel sambil melirik jam tangan produksi Lange & Söhne, yang dibanderol dengan harga yang tak jauh beda dengan aeger-LeCoultre Hybris Mechanica Grande Sonnerie, yaitu miliaran rupiah. Istimewanya, jam ini butuh waktu selama satu tahun untuk diproduksi dan terbuat dari emas. Selain itu, jam tangan ini juga memiliki kalender abadi dengan moonphase, dan melodi sennorie grande dengan pengulang menit.
"Astaga! Aku terlambat!" pekik Daniel lalu melotot pada Ben dan Jeslin. "Aku lupa ada meeting siang ini, Kak! Untung kakak ingat kan!" kata Daniel lalu bergegas hendak segera angkat kaki dari sana. "Ben, ayo!" ajak Daniel sambil menarik tangan pemuda itu.
"Eh, tunggu! Jes ... Tolong di tanda tangani dulu," pinta Ben masih menunjukkan wajah imut. Tapi Jeslin justru menatap Ben dengan sebal. Ia segera menorehkan tinta dengan coretan khas dirinya, lalu diberikannya novel itu pada Ben. "Terima kasih, Jeslin. Setelah ini aku akan baca novelnya."
"Ayo! Cepat!" paksa Daniel yang berhasil membuat tubuh Ben bergeser sedikit.
"Iya! Sabar!" omel Ben dan langsung mengganti ekspresi wajahnya menjadi kesal pada sahabatnya itu.
****
"Jes, untuk naskah yang kemarin sudah kamu kerjakan?" tanya Verrel, bagian administrasi di perusahaan. Dia memang tidak bertugas untuk mengurusi naskah, tapi apa yang dia inginkan adalah hal penting yang akan menambah penghasilan perusahaan.
"Udah kok, Rel. Udah selesai tahap revisi. Cover gimana? Udah Reyhan buat, kan?" tanya Jeslin balik.
"Nggak tau gue, Jes. Nanti gue tanya ke Reyhan deh. Buruan ya, kirim file nya ke Rossa. Deadline nih," pinta Verrel memaksa.
"Oke. Aku kirim nih filenya."
Pekerjaan hari ini begitu padat. Bahkan teh chamomile milik Jeslin baru seteguk ia nikmati sejak pagi. Beberapa kali ia menekan pelipisnya, dengan kedua bola mata menatap layar komputer di depan.
"Jes, makan siang dulu yuk," ajak Ellie, yang terus-menerus menatap jam di pergelangan tangan.
"Hm? Udah siang? Duh, kerjaan ku belum selesai. Sebentar lagi deh. Kamu duluan aja," tolak Jeslin yang terlihat semrawut dengan tumpukan deadline yang harus selesai akhir bulan ini. Parahnya akhir bulan hanya tinggal hitungan hari saja.
"Serius nih, nggak mau makan dulu? Tinggalin dulu lah, nanti lanjut lagi."
"Iya, Ell. Kamu duluan aja. Tanggung banget nih, kelarin satu naskah lagi."
__ADS_1
"Hm, ya udah deh. Jangan kelamaan, ya."
"Oke." Tanpa menoleh ke arah Ellie, Jeslin melanjutkan pekerjaannya yang memang tinggal sedikit lagi, untuk naskah yang sedang ada di hadapannya.
15 menit berlalu, akhirnya naskah tersebut selesai juga. Jeslin meregangkan otot-ototnya yang tegang. Menjulurkan tangan ke atas dan samping tubuhnya. Ia menoleh ke sekitar yang ternyata sudah sepi. Ruangan editor tersebut memang hanya berisi 5 orang saja, dan mereka semua sedang makan siang di kantin. Hanya ada Bu Wati, seorang office girl kantor yang akan membersihkan ruangan di jam istirahat, pagi hari, dan saat pulang kerja.
"Nggak makan, non?" tanya Bu Wati sambil menyapu sekitar.
"Ini mau ke bawah, Bu. Tadi masih nanggung," kata Jeslin. "Ibu udah makan?"
"Sudah tadi, Non."
"Ya udah, aku makan dulu, ya. Ibu jangan capek-capek."
"Iya, Non." Bu Wati menatap Jeslin yang mulai pergi meninggalkan ruangan.
Suasana kantor terlihat lenggang. Ini memang jam makan siang dan sebagian besar orang tentu sedang pergi ke kantin atau tempat makan yang ada di sekitar. Jam istirahat ini banyak digunakan untuk makan, dan bahkan beberapa bisa menyempatkan diri memejamkan mata sejenak. Waktu dua jam setidaknya cukup untuk digunakan sebaik mungkin.
Jeslin hanya membawa dompet serta ponsel saja. Tas sengaja ia tinggalkan di meja kerjanya. Ia pikir, makan siang kali ini ingin ia habiskan di kantin bawah saja. Jeslin turun menaiki lift. Sampai di lobi bawah, ia segera berbelok ke kiri, di mana kantin kantor berada.
Tapi belum sampai dia ke pintu masuk, langkah nya terhenti. Di dalam ada seseorang yang sangat familiar baginya. Seorang pria yang telah merenggut kesuciannya. Ian.
Ian tampak tengak tengok mencari seseorang. Bahkan dia menanyakan sesuatu pada rekan kerja Jeslin. Melihat hal itu, Jeslin segera menyembunyikan dirinya. Dia berbalik dan berusaha menghindar agar Ian tidak melihatnya.
Tanpa sengaja dia menabrak seseorang di depan hingga membuat dirinya terjatuh. Jeslin mengerang kesakitan memegangi sikunya yang terantuk lantai.
Sebuah tangan terulur ke Jeslin, diikuti ucapan permintaan maaf. Jeslin menatap sosok di depannya, dan ternyata dia adalah seseorang yang ia kenal.
"Loh, kamu?" tanya gadis itu sambil menyambut uluran tangan tersebut.
"Iya, aku. Kamu ... Kerja di sini?" tanya Ben yang sesekali memperhatikan sekitar. Dia memang benar-benar tidak tahu kalau Jeslin bekerja di tempat ini.
"Iya. Kamu mau ngapain di sini?"
"Eum, ada urusan sama Pak Richard tadi. Baru selesai."
" Oh gitu." Jeslin kembali menoleh ke belakang. Rupanya kejadian itu memicu perhatian Ian yang berada di dalam. Ian akhirnya mengetahui keberadaan Jeslin sekarang. "Eum, kamu bawa mobil, kan?"
"Iya, kenapa?"
Gadis itu sesekali menoleh ke belakang, Ian yang hendak mengejarnya terlihat mengurungkan niat tersebut karena mengetahui kalau Jeslij tidak sendiran. Dia kesal karena tidak berhasil bertemu Jeslin dan berakhir dengan tatapan tajam nya yang khas. "Awas saja kamu, Jes!" gumamnya sambil menatap kepergian Jeslin dan Ben.
"Jes? Pelan-pelan," kata Ben tapi masih tetap mengikuti langkahnya.
Begitu sampai di lahan parkir basemen, Jeslin berhenti. Nafasnya tersengal-sengal sambil memperhatikan sekitar. Ia harus memastikan kalau Ian tidak mengejarnya sampai tempat itu. Ben memperhatikan Jeslin yang tampak aneh. Dia tau kalau gadis itu sedang bertingkah tidak wajar.
"Ada apa?"
"Apanya yang ada apa?"
"Kamu kenapa?"
"Aku? Nggak apa-apa kok. Ya udah, eum kalau kamu mau balik, silakan. Aku tadi cuma bercanda kok. Aku ke kantor lagi, ya." Namun saat Jeslin membalikkan tubuh, Ben menahan tangannya. Kedua nya saling tatap, dan diam beberapa saat.
"Katanya mau makan siang? Ayo. Kamu belum makan, kan?" tanya Ben.
"Belum, tapi ...."
"Itu mobilku," tunjuk Ben ke sebuah minicooper berwarna merah di ujung parkiran. Kali ini justru Ben yang menarik tangan Jeslin menuju mobilnya. Walau Ben terlihat tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi, tapi sebenarnya Ben sedikit curiga, kalau Jeslin sengaja menghindari seseorang yang tadi berada di kantin. Sikapnya mencurigakan, dan Ben ingin membawa Jeslin pergi dari situasi tidak menyenangkan tersebut.
Mereka sampai di sebuah cafe. Letaknya tidak terlalu jauh dari kantor Jeslin. Tapi gadis itu justru belum pernah datang ke cafe tersebut seumur hidup, walau ia kerap melewati jalan itu setiap hari.
"Kita makan di sini aja. Kamu suka seafood, kan? Ini salah satu tempat makan favorit ku," jelas Ben sambil melepaskan sabuk pengaman.
Jeslin perlahan mengikuti gerakan Ben sambil memperhatikan sekitar.
"Tenang aja. Orang tadi nggak akan menyusul kita ke sini. Aku juga parkir di tempat yang tertutup dari jalan raya."
Jeslin langsung menatap Ben. Dia tidak menyangka kalau kalimat itu akan keluar dari mulut pemuda di sampingnya. Akhirnya Jeslin menurut dan mengikuti Ben keluar dari mobil. Mereka mendapatkan sebuah meja kosong dengan posisi sengaja berada di dalam cafe. Cafe ini memang sebagian besar terbuat dari kaca. Sehingga satu sama lain bisa melihat, dan juga dapat melihat suasana di luar cafe yang memang tampak asri. Beberapa bunga mawar dan krisan menghiasi hampir seluruh halaman tempat tersebut.
"Kamu makan apa?" tanya Ben sambil menatap Jeslin yang masih membuka-buka buku menu di hadapannya.
"Eum, cumi lada hitam sama nasi putih."
"Minumnya, kak?" tanya waiters yang memegang pena juga buku di tangan guna mencatat pesanan pelanggan.
"Lemon tea aja, Mas."
__ADS_1
"Itu aja?" tanya Ben masih memperhatikan Jeslin yang duduk di depannya.
"Iya. Eh, eum ... Tambah lagi boleh?" tanya gadis itu dengan tampang polos.
Ben tertawa tertahan lalu mengangguk.
"Sama udang krispi, ya, Mas. Terima kasih. Eh, salad buah juga deh, di tambah es krim vanila, ya."
Ben terus melebarkan senyum, melihat Jeslin yang ternyata memiliki porsi makan besar. Hal ini tentu sama persis dengan perkataan Daniel tempo hari.
"Kakak ku itu suka banget makan. Sekali makan dia bisa pesan banyak menu. Kecuali kalau dia sakit dan moodnya jelek, baru deh, dia mogok makan."
Sambil menunggu makanan datang, kedua insan tersebut hanya diam sambil memperhatikan suasana sekitar.
"Yang tadi itu ...." Jeslin ragu melanjutkan kalimatnya. Dia yang awalnya sengaja menyembunyikan hal tersebut, ternyata diketahui oleh Ben.
"Kalau memang belum mau cerita, nggak apa-apa kok. Jadi kamu menghindari cowok tadi?" tanya Ben menebak asal-asalan. Padahal Ben sama sekali tidak tau siapa yang sedang dihindari oleh Jeslin.
"Eum ... Iya."
"Ya sudah. Kalau kamu butuh pertolongan, aku siap bantu kok. Apa saja."
"Makasih."
"Sama-sama."
Makanan datang, mereka pun menyantap makanan tersebut bersama-sama. Ben akhirnya menyetujui dengan semua perkataan Daniel padanya tentang sang kakak. Jeslin memang tertutup, tidak terlihat sedikit pun kalau gadis itu tertarik pada Ben. Tapi itu bukan masalah. Apalagi dari perkataan Daniel, kalau Jeslin memang selalu dingin pada semua pria. Membuatnya justru menarik bagi Ben.
Pemuda itu masih penasaran pada apa yang telah dialami Jeslin saat pertama kali mereka bertemu. Lalu alasan dia ada di dokter kandungan. Sekarang seorang pria yang sedang dihindari olehnya. Ben menarik semua garis waktu dan beranggapan kalau Jeslin sedang bertengkar dengan kekasihnya dan khawatir telah berbadan dua. Tapi ... Daniel bilang kalau Jeslin belum pernah berpacaran sama sekali. Mungkin kali ini, Daniel salah, dan dia tidak mengetahui kalau sang kakak sudah mulai mengenal cinta.
"Kamu ada urusan apa sama Pak Richard? Bisnis?" tanya jeslin tiba-tiba.
"Eum, enggak kok. Aku disuruh nganter bingkisan dari Papa buat Pak Richard. Jadi Pak Richard itu rekan bisnis Papaku."
"Oh gitu. Kamu mengurusi perusahaan sama orang tua juga?"
"Iya, Jes. Sebenarnya dipaksa lebih tepatnya."
"Dipaksa?"
"Iya. Biasalah. Karena anak satu-satunya, jadi seakan-akan aku yang harus bertanggung jawab sama perusahaan. Mana Papa bilang, kalau dia meninggal siapa yang mau urus perusahaan lagi. Kan bikin aku makin nggak enak."
"Wah, kamu ini tipe anak Mama, ya. Manja. Masih suka main-main gitu."
"Bukan gitu. Tapi aku kurang begitu suka bisnis. Aku lebih suka mengurus sanggar taekwondo. Buatku bisnis bukan passion ku."
"Jadi sanggar itu juga punya kamu, atau ayah kamu?"
"Punya keluarga sih lebih tepatnya."
"Wah, hebat."
"Apanya yang hebat?"
"Ya kalian."
"Bukan aku nih?"
"Kamu? Yah ...mungkin."
"Kok mungkin?"
"Ya karena aku nggak tau, kehebatan kamu apa. Taekwondo? Eum, kurasa beberapa orang bisa. Jadi itu bukan sebuah kehebatan yang spesifik."
"Iya sih. Setidaknya cuma aku, laki-laki yang berhasil ajak kamu makan siang." Ben tidak habis akal, dan berhasil menemukan kalimat yang membuat Jeslin mengakui nya.
Jeslin diam sejenak, dahinya berkerut pertanda sedang berpikir.
"Daniel nggak termasuk, ya. Iya, kan?"
"Eum ... Iya sih." Jeslin rupanya baru menyadarinya. Kalau selama ini dia memang tidak pernah makan siang berdua dengan laki-laki mana pun, bahkan teman kantornya sendiri. Biasanya dia makan siang dengan pria, ya hanya Daniel saja.
"Dan aku pastikan, kalau cuma aku, laki-laki yang selalu ajak kamu makan siang. Eum, atau makan malam ... Bisa diaturlah."
"Kalau aku nggak mau?"
"Percaya aja, aku pasti bisa."
__ADS_1