
"Cha ... ayok! Males banget sih!" jerit Nova dengan terus menarik tanganku. Ia sudah berpenampilan rapi. Memakai baju olahraga lengkap dengan sepatu kets putih yang senada dengan setelannya. Sementara aku? Masih bergelung dengan selimut, men-scrool gawai, mencari deretan film-film korea yang belum kutonton yang memang sudah kumasukan ke daftar favorit.
"Males ah, Nov. Elu aja sono. Masih ngantuk ini."
"Ya ampun! Gimana mau cepet dapet jodoh coba. Jadi orang males banget. Nanti jadi perawan tua lu, Cha!" omel Nova sambil keluar dari kamarku.
"Hei! Lo pikir elo kagak jomblo, ya?!" balasku tak kalah keras, berharap dia menyadari status kami sama.
Matahari sudah naik. Namun suasana masih cukup dingin untuk bangun. Lagipula ini adalah weekend. Hari bermalas-malasan buatku.
Pintu terdengar ditutup kencang. Suara motor pergi dari halaman rumah. Menandakan Nova sudah pergi bersama Bang Ojol. Sudah sejak semalam ia merengek agar aku ikut joging bersamanya pagi ini. Dan sejak semalam juga, aku sudah menolaknya.
Priest.
Ah, ini aja! Horor nih. Pasti keren.
Baru setengah jam film diputar, samar aku mendengar suara mobil parkir di halaman depan. Hanya saja, aku masih bergeming dari posisiku. Rasanya melewatkan film ini, hanya untuk menengok siapa yang datang adalah hal yang bodoh.
Hingaa tiba-tiba pintu terdengar berderit. Sontak aku diam. Menekan pilihan jeda dilayar gawai sambil mengernyitkan kening.
Siapa, ya? Masa Nova? Nggak mungkin sih. Dia pantang pulang sebelum siang. Jadi? Apa pencuri, ya?
Kulempar gawai begitu saja. Berjinjit menuju arah pintu. Rasanya suasana rumah jauh lebih mencekam ketimbang film barusan. Netra perlahan menuju hole key. Mengintip. Langkah kaki pelan terdengar samar namun kupastikan berasal dari dalam rumah. Bayangan seseorang mulai nampak di lantai. Seorang pria. Siapa, ya?
Hingga saat dia sudah ada di ambang pintu kamar Nova, aku langsung menegakan tubuh. Napasku mulai memburu.
"Idham!"
Kutekan kepalaku karena cemas. Mondar mandir di belakang pintu mencari cara agar bisa menghindari laki-laki brengsek itu.
Fokus, Ocha! Pikir! Gimana caranya kabur dari sini.
Aku langsung mengunci pelan pintu kamar. Bahkan berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikit pun. Selesai mengunci pintu, aku meraih totebag, menuju jendela kamar. Beruntung jendela kamarku langsung menuju halaman depan dan cukup luas untuk kumasuki.
Dia pasti nyari aku. Nggak mungkin mau ngerampok, jadi walau aku tinggalin rumah gitu aja, nggak masalah. Paling aku chat Nova aja. Biar dia tau.
Kuraih gawai dalam tas, dan mengirimkan pesan ke Nova.
"Gue kabur dari rumah. Ada Idham. Elu jangan kelamaan, ya. Pintu rumah nggak dikonci."
__ADS_1
"Lah?! Terus elu ke mana, Cha?!"
"Tenang aja. Nggak usah khawatir."
Sampai di taman dekat rumah, kuhempaskan tubuhku di salah satu kursi kayu. Untung pagi ini, suasana taman cukup ramai. Walau Idham menyusulku sekali pun, aku tidak perlu risau.
Angga!
"Ngga! Pergi, yuk. Temenin."
Hanya butuh 1 menit dia langsung membalas pesanku.
"Ke mana sih, Cha?! Mager atuh. Masih pagi juga!"
"Ke sini, Angga. Buruan. Aku nggak tau jalan ini."
"Emang lagi di mana sih?"
"Nih."
Kukirimkan lokasi tempatku sekarang.
"Yaelah, Cha! Jauh banget itu dari rumah gue. Nih lihat, ya. Biar elu tau seberapa jauh rumah gue ke situ. Lagian nih, gue belum mandi, belum makan, belum boker, ah ... lama ah persiapannya."
Nggak mungkin juga aku bikin drama penculikan dulu, kan? Biar dia dateng ke sini.
Sudut bibir kunaikan. Banyak cara untuk membuatnya bergerak dari kasur. Dan merusak hari liburnya. Bukan Ocha namanya kalau tidak bisa membuat Angga bergerak dari rasa malasnya.
____
"Assalamualaikum ...," sapaku begitu sampai di rumah bercat hijau muda, sesuai dengan petunjuk maps tadi.
" Wa'alaikum salam," sahut suara perempuan dari dalam rumah.
Aku berdeham. Menetralkan suara yang terkadang terhalang rasa gugup ku sendiri. Menarik napas perlahan dan bersiap memasang wajah sebaik mungkin.
Pintu dibuka. Muncul seorang ibu paruh baya yang sangat ramah.
"Cari siapa, ya?"
__ADS_1
"Maaf, Bu. Angga, ada?" tanyaku dengan mata menelusuri ruang tamu rumah ini. Berharap menemukan satu saja foto Angga, dengan begitu aku yakin kalau tidak salah memasuki rumah.
"Oh, ada. Sebentar, ya," sang Ibu menoleh ke belakang sambil berteriak memanggil anaknya.
Tak lama Angga muncul dengan tampang kusut. Benar-benar baru bangun dari tidur. Ia sedikit terkekut melihat kedatanganku. Terlihat dari cara dia melihatku.
"Lah? Kamu? Ngapain?"
"Kok ngapain? Jemput kamu lah. Gimana, sih?"
"Kan tadi gue bilang nggak mau, Cha?"
"Kenapa nggak mau? Karena jauh? Lah sekarang jauh apa deket?"
Ibunya Angga hanya menatap kami bergantian sambil tersenyum. "Masuk dulu saja, yuk," ajak beliau.
"Eh nggak usah, Bu. Ini tamu cuma sebentar kok," sahut Angga tanpa rasa bersalah.
"Ade!" seru Ibunya Angga dengan mata melotot, kesal terhadap sikap kekurang ajaran anaknya. Kutahan tawa sebisa mungkin. Lalu Ibunya Angga menggandengku masuk.
Sampai di dalam, aku diinterogasi dengan pertanyaan-pertanyaan standar. Seperti nama, alamat, dan pekerjaan. Sementara itu, Angga ke belakang mengambilkan aku minum. Hanya butuh 2 menit, dia sudah kembali dengan segelas air putih.
"Eh, Cha. Tau nggak, air putih di sini itu paling lezat di dunia. Cobain deh," katanya, menyodorkan gelas padaku. Aku menyipitkan mata, tentunya dengan menerima gelas itu.
"Sorry, kalau makanan belum ada. Soalnya padinya belum dipanen," kata Angga lagi, duduk di samping ibunya.
"Ck! Dasar kikir!" umpat sang ibunda diiringi jeweran ditelinga Angga, dan berhasil membuat tawaku meledak.
Sambil menikmati air putih paling enak ini, aku hanya diam memperhatikan ibu dan anak yang sedang berdiskusi menggunakan logat sunda. Netraku menyapu pandang ke sekitar melihat keadaan rumah ini lebih detail. Hangat. Satu kata yang mampu aku jabarkan dalam waktu singkat.
Rasa yang sudah lama tidak kurasakan sejak kedua orang tuaku meninggal dunia. Tidak ada lagi rasa hangat layaknya rumah. Bahkan rumah bagiku hanya sebagai tempatku tidur. Jarang sekali aku berada di rumah saat liburan seperti ini. Biasanya aku selalu pergi entah ke mana. Mencari kesibukan setiap hari. Jadi saat sampai rumah, yang kuperlukan hanya tidur. Jika aku merasa sepi, kunyalakan TV dengan volume keras agar suasana terdengar ramai.
Kutarik napas dalam-dalam. Menahan rasa sedih yang tiba-tiba muncul.
Jangan nangis! Malu, Ocha!
"Cha? Jadi? Tapi gue mandi dulu, ya?" tanya Angga tiba-tiba.
Aku yang awalnya masih berkutat dengan rasa rindu akan suasana rumah dan keluarga, mendadak kaget dan hanya melongo menanggapi pertanyaan Angga. Tak lama mengangguk saat kesadaranku kembali seutuhnya.
__ADS_1
"Mandinya jangan lama kaya biasanya, ya," teriak sang ibu pada anaknya yang baru saja masuk ke kamarnya, "Maaf ya klo lama. Kebiasaan tuh, nggak tau ngapain tuh anak. Udah buluk juga, nggak ngaruh mandi lama-lama."
Kembali aku tertawa. Meneguk habis air putih hingga benar-benar tandas. "Nggak apa-apa, Bu."