
Dering alarm membuat tangan Ben mengulur ke meja nakas. Dia hanya mematikan suara bising tadi, dan kembali menarik selimut sampai sebatas leher. Namun tiba tiba dia teringat Jeslin. Sehingga membuat kedua bola matanya membulat sempurna. Dia segera meraih ponsel dan memeriksa layar ponselnya.
Obrolan dengan Jeslin semalam kembali dibuka. Tapi sayangnya status Jeslin tidak aktif.
"Hm, Perbedaan waktu Riga dan Jakarta, kalau nggak salah 5 jam. Sekarang jam 6 pagi, jadi di sana ... Ah, masih malam. Pasti Jeslin masih tidur."
Ben lantas duduk di atas ranjang. Memeriksa beberapa email yang masuk, serta pesan di grup WhatsApp. Ben teringat kata kata Jeslin semalam. "Besok kamu kerja, kan? Yang rajin kerjanya, ya. Jangan malas malasan lagi." Setelah itu, dia pun segera mandi, agar tidak terlambat masuk kantor.
______
"Sayang, pelan pelan. Aku bantu," kata Lidya sambil memapah Ian yang masih kesulitan berjalan. Mereka baru saja keluar dari rumah sakit dan hendak masuk ke dalam mobil Lidya. Kondisi Ian sudah membaik, walau masih terasa nyeri di beberapa bagian tubuhnya, tapi semua sudah membaik setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Dia beranjak dari kursi roda dibantu Lidya, kekasihnya.
"Kamu mau ke mana dulu, Sayang?" tanya Lidya yang sekarang mengemudikan mobil.
"Pulang aja lah. Aku pengen rebahan di kamar. Bosan di rumah sakit terus," pinta Ian.
"Oke, Sayang."
Hubungan Lidya dan Ian masih seumur jagung. Itupun karena Lidya yang terus mengejar Ian, sehingga mereka menjadi makin dekat. Pesona Ian memang tampak bersinar untuk beberapa wanita. Entah apa yang mereka incar dari pria itu. Padahal Ian adalah seorang bad boys sejati. Dia terkenal playboy, karena suka bergonta ganti wanita. Entah sudah berapa wanita yang berhasil ia tiduri selama ini, dengan status ataupun tanpa status. Yah, layaknya cinta satu malam saja yang memang seperti trend di kalangan remaja di Ibukota.
Ian sangat mudah tidur dengan beberapa wanita, walau tidak semua. Dan bagi beberapa gelintir wanita, tidur bersama Ian merupakan sebuah prestasi yang membanggakan. Sungguh ironis.
Hanya saja Ian memang sangat mahir merayu. Dia pintar mengambil hati wanita yang ia temui selama ini. Berbekal wajah tampan, dan mobil mewah. Padahal dia tidak sesempurna itu. Hanya saja Ian pintar menutupi kekurangannya dengan perkataannya yang manis.
"Mama Papa kamu pulang kapan, Sayang?" tanya Lidya yang kini berhasil membawa Ian masuk ke rumah besar tersebut.
"Nggak tau, soalnya mereka sibuk. Jarang pulang. Udahlah, biarin aja. Toh malah bagus kalau di rumah ini cuma ada kita berdua aja?"
Lidya tersenyum malu sambil menatap kekasihnya. "Kamu ih, belum sembuh gitu kok," katanya malu malu.
Ian langsung meremas pantat Lidya, dan membuat gadis itu terkejut, namun tatapannya justru membuat Ian ingin melakukan lebih.
Mereka pun naik ke lantai dua, tempat di mana kamar Ian berada. Ian yang sebenarnya sudah bisa berjalan dengan tegak, berpura pura masih sakit agar mendapat perhatian dari Lidya. Gadis itu pun menurut dan membawa Ian ke dalam kamar agar kekasihnya bisa beristirahat.
"Sayang ... Peluk dong. Aku nggak bisa tidur kalau kamu jauhan gini," pinta Ian saat Lidya sedang membereskan barang barang Ian saat berada di rumah sakit. Lidya pun menurut dan ikut berbaring di sampingnya. Namun dengan cekatan, Ian justru berada di atas tubuh Lidya, lalu mendaratkan ciuman panas hingga membuat Lidya mengerang.
Hubungan yang memang baru seumur jagung membuat mereka belum banyak melakukan hal hal aneh lainnya. Apalagi Lidya, termasuk gadis yang masih suci. Walau dia sering keluar masuk diskotik setiap malam, dan menenggak minuman keras, Lidya tetap menjaga kehormatannya. Dia cantik, tapi entah mengapa para lelaki yang berada di sekitar, tidak terlalu tertarik padanya.
Hingga saat dia bertemu Ian pertama kali. Lidya langsung jatuh cinta. Setiap perkataan Ian, seakan menjadi pemicu detak jantungnya menjadi tidak beraturan. Tubuh Lidya menjadi panas dingin saat Ian memeluknya, menciumnya dan melakukan hal lain yang anehnya tidak pernah ditolak oleh Lidya. Padahal dulu, dia hanya akan memberikan kesucian pada suaminya kelak, tapi justru Ian yang telah merenggut keperawanan Lidya dengan mudahnya. Lidya pasrah, dan sangat menikmati setiap perlakuan Ian. Tentu saja Ian pandai memanjakan wanita di atas ranjang, karena sudah hampir puluhan wanita yang dia tiduri selama ini.
Suara riuh terdengar dari kamar Ian. Dari *******, jeritan, dan erangan dari dua insan yang sedang di mabuk asmara memenuhi rumah besar itu. Lidya dengan ikhlas menerima semua yang dilakukan Ian padanya. Tidak hanya sekali, mereka melakukannya selama hampir seharian penuh. Hanya terjeda saat keduanya kelelahan dan tertidur.
_______
"Lah udah balik beneran kan, Ian!" pekik Chandra begitu mereka sampai di halaman rumah Ian.
"Tapi ini mobil siapa, ya? Perasaan gue baru pernah lihat mobil ini?" tanya Tessa sambil meraba mobil mewah milik Lidya.
"Baru kali?" sahut Ari dengan pertanyaan yang membuat Arif ikut berkomentar. "Baru apanya? Ceweknya yang baru?" tanya Arif sambil terkekeh pada teman temannya.
"Bener! Ada cewek di dalam nih pasti. Siapa, ya?"
"Kalau dari mobilnya ... Gue belum pernah lihat Ian bawa cewek ini deh."
"Yah, kayak lo pada nggak tau Ian kayak apa! Masuk yuk, siapa tau kita bisa lihat adegan panas gratis nanti."
Mereka berempat masuk ke rumah Ian yang memang tidak dikunci. Beberapa kali nama Ian dipanggil, namun tidak ada sahutan dari sang empunya rumah. Tapi samar samar ada suara lain yang terdengar dan menarik perhatian mereka berempat.
"Tuh, kan! Bener apa kata gue! Filmnya belum selesai!" kata Chandra berbisik dengan menekankan tiap kalimat penuh arti.
Dengan santainya mereka naik ke lantai atas, di mana kamar Ian berada. Bagi mereka semua, rumah Ian sudah seperti rumah kedua mereka. Jadi mereka bebas keluar masuk dan melakukan apa pun di rumah itu. Bahkan tak jarang mereka melakukannya pesta dengan membawa banyak wanita.
Suara Ian dan Lidya makin jelas terdengar. Mereka berdua yang sedang di mabuk nafsu tidak menyadari kedatangan tamu di rumah yang kini sedang mengintip dari celah pintu kamar yang tidak ditutup rapat.
Ian yang menyadari kedatangan teman temannya, tidak memedulikan hal itu. Justru dia tetap melancarkan aksinya dengan terus menggagahi Lidya hingga gadis itu kelelahan. Lidya pun tertidur setelah beberapa ronde terlewati. Ian keluar dari kamar, dengan bertelanjang dada. Ia hendak menemui teman temannya yang kini sudah menunggu di lantai bawah.
__ADS_1
Air mineral dingin diteguk hingga tandas. Botol tersebut diletakkan di meja, di antara botol botol minuman keras lain yang sedang dinikmati Chandra dan yang lainnya.
"Gila lo, Yan! Baru aja keluar dari rumah sakit, udah bawa balik cewek cakep! Mana hot banget pula," tukas Tessa sambil memukul lengan kanan Ian yang duduk di sampingnya.
"Karena kelamaan di rumah sakit, makanya gue udah nggak tahan."
"Omong omong dia siapa? Kayaknya gue baru lihat?"
"Lidya. Gue ketemu di summer."
"Oh yang waktu itu? Lah gue pikir, lo nggak tertarik sama itu cewek, Yan!"
"Emang enggak. Tapi kalau lo disodorin susu gratis, masa lo tolak!" kata Ian dengan kalimat yang tidak pantas. Semua hal yang keluar dari mulutnya terus merendahkan Lidya.
"Dasar playboy, Lo!"
"Halah, kayak lo kagak!"
"Parahan lo tapi, Yan!"
"Udah udah. Malah ribut. Kalau lo mau nyobain, ya sana. Mumpung dia masih tidur. Gue udah kasih obat. Paling masih ada efeknya."
"Serius lo? Pantesan nggak kelar kelar dari tadi!"
"Gue duluan!" Chandra segera berlari ke tangga menuju kamar Ian.
"Sialan!" Tessa kesal karena kurang cepat dari Chandra.
"Lo gimana, Yan? Udah beneran sehat?" tanya Ari yang sedang mengisap ganja dengan wajah yang teler.
"Udah mendingan. Masih ada yang pegel sih, tapi nggak apa apa."
"Jadi cowok itu lagi yang mukulin lo, Yan?"
"Iya. Lo nggak ada sih kemarin. Tuh saksi banyak, gila tuh orang!" Ian merajuk sambil memegangi rahangnya yang masih linu. Dia juga masih teringat jelas adegan yang telah membuatnya babak belur hingga harus masuk ke ICU.
"Iya. Pasti gue balas. Tapi nanti. Gue nggak mau balas dengan cara yang sama. Gue punya cara lain yang lebih elegan."
"Cara apaan?"
"Lihat aja nanti."
______
Selama seharian Jeslin sibuk dengan banyaknya kegiatan. Bahkan mereka tidak memiliki kesempatan untuk menikmati pemandangan di Riga. Waktu yang digunakan hanya untuk meeting, survey lapangan dan kembali meeting.
Balqis paling terlihat kesal saat mereka tidak bisa jalan jalan di sekitar kota Riga. Semua sebenarnya sama kesalnya, hanya saja yang lain sudah terlalu lelah dengan aktifitas yang padat. Tidak ada lagi kesempatan untuk mengeluhkan ini dan itu.
Bahkan saat perjalanan pulang, mereka hanya menatap jalanan di Riga dengan tatapan kosong.
"Ya ampun, capek banget gue! Langsung tidur, ah!" kata Aira segera masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di sana.
"Nggak mandi dulu, Ra?"
"Malaas!"
Semua orang masuk ke kamar masing masing. Mereka bahkan baru sampai penginapan malam hari. Rasa lelah akibat kegiatan seharian telah membuat mereka tidak ingin melakukan banyak kegiatan lagi sekarang. Padahal jam baru menunjukkan pukul 8 malam.
Jeslin sudah masuk ke kamar, meletakkan tas di meja dan segera meraih handuk. Bagaimana pun dia tetap ingin mandi karena keringat seharian ini. Tubuhnya yang lengket tidak bisa didiamkan terlalu lama. Bagi Jeslin dia tidak bisa berkeringat dan rasanya mood akan menjadi buruk.
Jeslin terpaksa duduk di kursi meja makan. Karena kamar mandi sedang dipakai teman yang lain. Itu tidak masalah, karena dia memiliki waktu untuk membuat kopi hitam yang mang disediakan di resort tersebut. Jeslin suka kopi, entah itu hitam, atau campuran. Capucino, latte, kopi susu semua dia suka. Dan sekarang dia ingin kopi hitam agar rasa penatnya bisa berangsur hilang. Itu memang kebiasaan Jeslin setelah bangun tidur atau pulang kerja. Walau akhirnya dia akan kesulitan tidur setelahnya. Itu tidak masalah, karena dia justru bisa menulis dengan tenang saat malam hari.
Jeslin baru sempat memeriksa ponselnya. Beberapa pesan masuk secara beruntun. Ada juga panggilan tak terjawab, dan semua berasal dari 3 orang. Astrid, Daniel, dan Ben. Semua berkutat dengan pertanyaan sedang apa, sudah makan atau belum, bagaimana kondisi di Riga, dan kapan pulang.
Pertanyaan terakhir jatuh pada Ben. Yah, hanya dia yang menanyakan beberapa hal pada Jeslin dengan versi lengkap. Jeslin pun tersenyum saat membaca beberapa pesan dari Ben. Bukan dua atau tiga pesan, melainkan puluhan pesan sejak pagi, siang, sore dan malam. Sementara Astrid dan Daniel hanya bertanya pertanyaan yang standar saja, dan berakhir dengan kalimat agar Jeslin berhati hati selama di Riga.
__ADS_1
Gadis itu menatap jam di ponselnya. Ternyata di Indonesia sudah lewat tengah malam. Jeslin memperhatikan nomor Ben dan ternyata tidak aktif. Dia mengurungkan niat untuk membalas pesan pesan Ben, dan akan dia lakukan esok hari saja. Jeslin takut jika nada dering pesan darinya akan membangunkan tidur Ben.
Kini Jeslin beralih ke foto foto dari teman temannya saat meeting dan survey lapangan. Mereka bisa melakukan sesi foto dengan pemandangan alam di sekitar. Dia pun mengunggah beberapa foto itu ke akun media sosial miliknya.
Dan ternyata dalam beberapa detik sebuah komentar muncul dari akun Ben. Jeslin tentu terkejut saat mengetahui kalau Ben ternyata belum tidur. Akhirnya Jeslin membuka WhatApps dan membalas pesan Ben. Dan benar saja kalau Ben juga belum tidur.
[Aku pikir kamu udah tidur.]
[Belum. Nggak bisa tidur. Kamu baru pulang?]
[Iya. Baru aja pulang. Mau mandi tapi antre banget.]
[Udah malam, Jes? Nggak apa apa emangnya? Nanti masuk angin.]
[Nggak apa apa kok. Aku biasa mandi malam. Lagian kalau nggak mandi nanti nggak bisa tidur.]
[Oh oke.]
[Eh, nanti lagi ya, aku mau mandi dulu. Atau ... Kamu mau tidur sekarang?]
[Enggak kok. Kamu mandi dulu aja. Aku tunggu.]
[Oke. Wait.]
Resort yang Jeslin tinggali memang hanya menyediakan satu kamar mandi untuk bersama. Dan mereka harus rela antre untuk sekedar buang air atau mandi.
Kini Jeslin sudah segar. Dia juga mencuci rambut karena sudah sangat lengket. Jeslin meraih kopi yang sudah dibuat dan membawanya ke teras resort. Suasana di tempat itu masih cukup ramai. Beberapa orang masih sering lewat di depan resort. Bahkan teman teman Jeslin masih ada yang menyempatkan waktu jalan jalan di sekitar resort. Hanya sekedar melepas rasa penasaran dan lelah bekerja seharian. Memang aneh jika mengaku lelah, tapi masih mampu jalan jalan. Karena terkadang rasa lelah bisa hilang dengan cara melakukan hal yang disukai, seperti jalan jalan.
Tapi Jeslin, cukup dengan menikmati secangkir kopi dengan tontonan yang ia suka akan kembali membuatnya segar.
Jeslin membalas pesan Ben, dan memberi tahu nya kalau dia sudah selesai mandi. Tapi bukannya balasan pesan dari Ben yang ia terima melainkan panggilan video dari Ben. Jeslin yang terkejut langsung merapikan penampilannya. Entah mengapa dia tidak ingin terlihat buruk di depan Ben.
Jeslin menggeser layar, dan kemudian muncul wajah Ben di layar tersebut. Ben tersenyum. Manis dan membuat jantung Jeslin berdebar lebih cepat. Bahkan tangan Jeslin berkeringat dan dingin. Dia bingung kenapa itu bisa terjadi.
"Udah? Mandinya?" tanya Ben lembut.
"Udah nih. Rambut masih basah. Untung ada air panas, jadi nggak terlalu dingin."
"Bikin minuman hangat dulu, Jes. Takut masuk angin kamunya."
"Sudah dong. Nih, kopi hitam," kata Jeslin sambil mengangkat cangkir kopi transparan yang menunjukkan cairan hitam di sana.
"Wah, kopi? Seger banget. Sama dong, aku juga udah habis 2 cangkir nih." Ben ikut menunjukkan miliknya yang memang sudah tandas, tinggal ampas kopinya saja.
"Astaga! Banyak banget minum kopinya. Memangnya perutmu nggak kenapa napa, Ben?"
"Eum, paling diare kalau kebanyakan. Hehe."
"Ish, jangan lagi lagi! Nanti perutmu sakit loh. Minum kopi itu cukup 1-2 cangkir aja perhari. Jangan lebih. Nanti kamu ketergantungan, dan nggak terlalu bagus juga buat lambung kalau diminum terlalu banyak."
"Oke, siap, Bu Dokter."
"Yee, dokter apaan."
"Dokter pribadiku aja, ya."
"Maunyaaa..."
"Ya memang maunya begitu sih. Hahaha."
Mereka terus melanjutkan obrolan hingga tak terasa sudah dua jam berlalu. Jeslin yang mulai mengantuk pamit. Ben pun mengerti kalau gadis itu memang harus tidur sekarang begitupun juga dirinya. Apalagi sebentar lagi pagi, jangan sampai dia tertidur saat meeting pagi besok. Karena Papanya akan menghajarnya jika sampai itu terjadi.
Jeslin sudah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia mulai menguap karena rasa kantuk yang sudah mulai datang. Ternyata kopi yang ia nikmati tidak terlalu berefek banyak padanya. Buktinya dia sudah mulai mengantuk dan dengan mudah tertidur setelah beberapa menit lampu kamar dimatikan. Di tempat lain, Ben juga mengalami hal yang sama. Sejak dia pulang kerja, yang dia perhatikan hanya ponsel saja. Berkali kali memeriksa pesan di nomor Jeslin, tapi belum juga ada tanda tanda gadis itu membuka pesannya.
Kini setelah melakukan panggilan video bersama Jeslin, rasa kantuk Ben mulai datang, dan hanya hitungan detik, Ben sudah terlelap memasuki alam mimpi. Tidak ada yang menyangka, kalau Jeslin justru bisa dan mau membuka diri pada Ben setelah melakukan penolakan sebelumnya. Walau status mereka masih berteman, tapi setidaknya bagi Ben hal itu sudah lebih dari cukup. Ben memang menyukai Jeslin. Dia menginginkan Jeslin menjadi miliknya, tapi dia baru sadar kalau yang paling penting justru bisa melihat Jeslin setiap hari, melihat senyumnya, tawanya, dan mendengar suaranya. Sekalipun Jeslin belum menjadi miliknya, tapi Ben bersyukur atas hal itu. Ben akan terus menjaga hubungan baik nya dengan Jeslin. Dia sekarang paham, kalau memaksakan sesuatu pada orang lain tidak akan mendapat hasil yang baik. Jadi Ben bertekat tidak akan lagi mengejar Jeslin dengan agresif, cukup mendampinginya dan selalu ada setiap dia membutuhkan orang lain bagi Ben adalah langkah terbaik.
__ADS_1
Toh, Ben juga bisa melihat segala kemungkinan dan kesempatan untuk mendekati Jeslin dengan cara berbeda. Yang jelas, mendengar suara Jeslin, berkirim pesan dengannya serta melihat wajah gadis itu, menjadi candu bagi Ben. Dia sangat menyukai hal itu dan ingin terus merasakannya lagi dan lagi.