
"Aku nggak nganter sampai atas, ya," cetusnya sambil menatap gedung di belakangku.
"Iya. Nggak apa-apa, sayang. Kamu pulang aja, capek 'kan?"
"Iya nih, capek banget. Ngantuk. Tadi bangun pagi banget." wajahnya terlihat lesu dan kurang bersemangat. Setelah melepas kepergiannya, aku segera naik ke lantai tiga.
Sejak pulang kerja tadi, Nova tidak terlihat. Aku yakin dia sedang bersama kekasihnya. Baguslah, karena aku bisa istirahat dengan tenang nanti.
Namun begitu pintu di buka, aku melihat dua pasang sepatu yang tergeletak asal di depan pintu. Rupanya Yudi ada di sini. Sepatu aku letakkan di rak yang berada di dekat pintu, berjalan gontai menuju dapur untuk mengambil minuman di dalam kulkas. Samar-samar suara sepasang kekasih itu terdengar. Mereka terasa berisik di balik kamar Nova. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu masuk ke kamar. Tak lupa mengunci pintu agar tidak ada sembarang orang masuk.
[Ay, itu si Yudi di sini. Mereka pacaran tuh kan!] Pesan aku kirimkan ke Angga lalu kutinggalkan ponsel di atas ranjang, sementara aku mandi. Rasanya tubuhku sudah lengket sekali.
Guyuran shower membasahi seluruh tubuh, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku selalu mencuci rambutku tiap pulang bepergian. Sudah menjadi kebiasaan, dan akan terus seperti ini. Rasanya mandi tanpa keramas, seperti bangun tidur hanya mencuci muka tanpa sikat gigi. Aku masih bergelut dengan busa-busa di jemari, membalurnya di paha jenjang milikku. Kadang tiupan yang ku berikan membentuk gelembung-gelembung sabun dan terbang, walau pecah hanya dalam hitungan detik.
Selesai dengan acara ritual mandi yang sengaja ku buat lama, kini aku menggulung rambut dengan handuk kecil. Handuk lain ku balut ke tubuh, sebatas atas lutut. Aroma matcha dari sabun mandi yang baru saja kupakai, tercium sepanjang kamar.
"Yang ... Kamu ngapain?" tanya seseorang dari balik pintu.
__ADS_1
Dahi ku mengerut karena mengenali suara di luar. Panggilan kedua dan ketiga membuatku yakin kalau yang kudengar benar-benar Angga. Kunci di handle pintu, ku putar. Aku hanya mengeluarkan kepala dengan pintu terbuka setengah. Mendapati sosok pria di luar, membuatku menarik kedua sudut bibirku ke samping. Dengan sigap aku menarik tangannya masuk ke dalam kamar. Pintu segera aku tutup dan kunci seperti semula.
"Ih kok nggak bilang mau ke sini? Eh, apa Ay sudah balas chat aku tadi?" tanyaku sambil mencari di mana gawai kuletakkan. Dia langsung meraih kedua pinggangku. Alhasil tubuh kami sangat dekat.
"Udah dibalas. Kan ke sini biar ngimbangin mereka, takutnya, Ay *****, nggak ada lawan hehe," balas Angga dengan muka mesumnya.
"Ih mesum! Ada maunya juga! Enggak! Enggak sekarang ah, lagi ada tamu bulanan, portal ditutup," tukas ku dengan menyilangkan kedua tangan, pertanda penolakan.
"Yah, tapi bisa 'kan pakai cara lain ya, ya sayangku." Dia terus merayuku dengan senyum mesum.
"Okelah kalau begitu, negosiasi ku gagal. Gue tidak memaksa karena kalau dipaksa jatuhnya pemerkosaan. yah self service lagi deh," keluhnya, lalu memalingkan wajah.
"Ay," panggilku dengan menurunkan sedikit handuk, menggigit bibir dan berniat menggoda Angga.
"Mending cepet pakai baju deh. Jangan menambah godaan kalau nggak kasih."
"Hahaha. Ada yang KENTANG tuh," gurauku justru mendekat padanya.
__ADS_1
"Huh percuma dateng lagi ke sini, nggak dapet apa-apa," gerutunya kesal.
"Oh, jadi sayangnya cuma kalau dapat enaknya aja? Dasar lelaki!"
"Yee realistis tau. Ya udah numpang tidur di sini ya, ay." Dia langsung mendaratkan tubuh di atas ranjang. "Oh iya satu lagi, jangan digodain ya, pas tidur nanti diterkam balik!"
Aku tertawa tertahan, lantas pergi ke lemari dan memakai baju di baliknya. Angga benar-benar memejamkan mata, sepertinya dia benar-benar kelelahan.
Piyama doraemon biru sudah aku kenakan, aku lantas ikut tidur di sampingnya. Mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Temaram. Sehingga aku bisa melihat Angga yang tengah tertidur di samping ku. Dia cukup iseng, tapi dia tidak pernah sekali pun memaksa kehendaknya sendiri.
Bahkan setiap kali ada wanita yang menghubungi nya, dia selalu memberitahu ku lebih dulu sebelum memutuskan akan membalas pesan itu atau tidak. Jujur, rasanya baru kali ini aku bertemu karakter laki-laki seperti dia. Bahkan jika dibandingkan dengan orang-orang yang pernah dekat denganku, Angga adalah laki-laki satu-satunya yang berusaha tetap menjaga sikapnya di depan bahkan di belakangku, untuk menjaga perasaanku. Kami pernah bertengkar hanya karena cemburu, dan itu perasaan cemburu yang datang padaku. Aku memang sangat teritorial, jika sudah menjalin hubungan dengan seseorang. Aku paling tidak suka, ada wanita lain masuk dalam hubungan kami. Walau itu hanya teman, atau malah mantan. Walau hanya sedikit orang yang mau menerima sifat ku yang demikian. Obrolan yang dalan bagiku salah satu celah masuknya orang ketiga dalam sebuah hubungan.
Sejak dulu aku selalu mengalami krisis kesetiaan, bahkan tidak pernah sekali pun aku bertemu laki-laki yang benar - benar setia. Tapi apa yang tidak aku dapat dari orang lain, semua justru aku temukan pada Angga. Terlepas dari sikapnya yang terkadang cuek dan tidak peka, bahkan sering mengucap kata-kata menyebalkan, dan terkesan kasar, aku justru menyukainya. Tapi semua itu kembali lagi tergantung dari sudut mana orang menilai.
Hampir semua wanita menginginkan lelaki yang romantis, tapi Angga-ku, akan melakukan hal romantis di waktu tertentu. Walau pada akhirnya, dia akan kembali mengejekku setelahnya. Karena begitulah caranya mencintaiku. Sederhana namun indah.
_______
__ADS_1