
Jeslin berjalan keluar dari kantor. Ia bersama Aira, Aqila, dan Balqis berencana makan siang di sebuah cafe yang baru saja dibuka. Di sana sedang ada launching pembukaan cafe, sehingga
akan ada beberapa menu yang mendapatkan diskon.
"Gila sih, gue capek banget! Bayangin! Baru aja selesai event kemarin, eh ... Ada lagi!" ungkap Aqila yang tampak bersemangat dengan protesnya pada perusahaan mereka.
"Duh, bakal lembur lagi nih kita," sambung Balqis.
"Tapi kan, setidaknya kita bisa sambil liburan, Sist." Kali ini Aira menengahi perdebatan mereka.
"Eh, Jes ... Kemarin ada yang cariin kamu. Cowok." Mendengar perkataan Aqila, Jeslin yang awalnya tidak begitu larut dalam pembicaraan itu, kini menatap Aqila serius.
"Siapa? Kapan?"
"Pulang kerja. Enggak tau siapa. Bukan Daniel, dan aku belum pernah lihat dia. Cowok itu nungguin kamu di lobi. Dia tanya ke aku. Kamu di mana."
"Terus?"
"Ya aku bilang kamu masih di atas. Memangnya nggak ketemu?"
"Enggak. Cowoknya ... Kayak apa, Qil?"
"Ganteng. Rambutnya agak cepak. Kulitnya putih."
Jeslin langsung mencoba mencari tau siapa laki-laki yang dimaksudkan. Dilihat dari ciri ciri yang Aqila katakan, Jeslin langsung menebak satu nama yang sengaja ingin dia hindari selama ini. Ian. Apalagi Jeslin juga melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Ian berkeliaran di kantin kantor kemarin siang. Tentu akan masuk akal jika dia juga menunggu sampai Jeslin pulang kerja.
"Siapa, Jes? Kamu tau?" tanya Balqis ikut penasaran karena sejak tadi Jeslin hanya diam dengan ekspresi cemas. Gadis itu terus menggigit bibirnya, kedua jemarinya gemetaran. Jeslin tampak berbeda, tidak seperti biasanya.
"Hm? Eng-enggak. Aku nggak tau. Mungkin cuma iseng aja," sahutnya dengan sebuah kemungkinan yang sama sekali tidak masuk akal.
"Iseng? Maksudnya gimana?"
"Mungkin cowok itu naksir Jeslin, tapi Jeslin nggak mau. Gitu, kan, Jes?" tanya Aira mencoba menebak.
Langkah mereka terhenti begitu sampai di sebuah mobil Civic merah. Tapi begitu makin dekat, Balqis memekik. "Haduh! Kok kempes sih ban nya!" jeritnya kesal.
"Tadi belum, Qis?" tanya Jeslin bingung.
"Belum. Tadi berangkat aja masih oke kok. Yah, gimana dong?"
"Hm, gimana, ya?"
"Naik taksi aja. Coba pesen taksi online," pinta Aqila. Aira lantas membuka ponselnya dan mulai mencari taksi online. Sayangnya di jam ini, lalu lintas jelas padat karena merupakan jam makan siang, dan biasanya taksi akan sulit ditemukan. Paling hanya ada ojek online.
"Gimana?"
"Masih nyari."
"Kayaknya bakal lama deh."
"Naik angkutan umum aja, yuk. Biasanya sepi. Lagian cafe itu kan sejalur sama angkutan yang lewat sini, kan? Cafe yang di ujung jalan sana, kan?"
"Iya sih. Ya udah deh. Sambil aku tetep cari taksi online nya, ya."
Mereka kembali berjalan dari tempat parkir menuju ke trotoar jalan. Memang benar, kalau lalu lintas sedang padat. Tapi tidak macet. Banyak orang yang keluar untuk makan siang. Mereka bisa saja makan di kantin kantor, hanya saja menu yang itu itu saja membuat para gadis itu bosan. Tak jarang mereka hanya memesan minuman saja, atau langsung memesan makanan pesan antar. Tapi jika hal itu dilakukan setiap hari, maka akan bosan rasanya. Itu sebabnya mereka memutuskan pergi keluar dan mencari tempat makan baru.
Suara deru mesin kendaraan membuat melodi khas pinggir jalan siang hari ini. Semilir angin menerpa anak rambut mereka, walau begitu, cuaca memang cukup panas. Suhu ibukota memang jarang sejuk, bahkan tidak pernah lagi. Jika ingin suasana dingin, maka tunggulah hujan turun, tapi akan ada efek setelahnya. Banjir.
Setelah menunggu beberapa menit, tiba-tiba di samping kiri Jeslin muncul seorang pria yang sangat ia kenal. Kemunculannya mengagetkan Jeslin dan membuat penasaran yang lain.
"Mau ke mana?" tanya pemuda itu yang tak lain adalah Ben. Ia masih memakai pakaian resmi, namun dengan posisi dasi yang sudah ia lipat dan di masukan ke saku celana. Tiga kancing bagian paling atas, ia biarkan terbuka. Mengekspose bagian dadanya yang tampak bulu halus menyembul di sana.
"Loh, kamu? Ngapain di sini?" tanya Jeslin terkejut. Dia lantas tengak tengok mencari sesuatu. "Daniel mana?"
"Kok Daniel sih? Memangnya harus sama dia, ya? Kan aku bukan baby siter Daniel, Jes," cetus Ben.
"Ya bukan gitu. Kan, biasanya kalian selalu sama-sama."
"Adikmu itu sibuk banget. Mentang-mentang bos perusahaan. Makan siangnya sama bos bos besar. Mana mau sama aku," tutur Ben sambil mengerucutkan bibir dan menatap riuhnya jalan raya di depan mereka.
"Dih, masa sih? Bukannya kalian selalu bareng?"
"Eh, kalian mau ke mana memangnya?" tanya Ben sambil menatap teman teman Jeslin yang lain.
"Mau makan siang."
"Eh, bukannya kamu cowok yang kemarin?" tanya Aqila dengan mata membulat sempurna.
"Iya memang. Kenapa?" tanya Ben dengan santai tanpa beban.
"Ini Jes! Ini cowoknya yang aku bilang tadi!" Kali ini Aqila makin histeris, seolah olah menemukan harta karun berharga. Dia masih terus menatap Ben untuk memastikan ucapannya.
"Bener? Kamu yang kemarin ke kantor terus cariin aku?" Jeslin ikut penasaran, dan ingin segera mendapatkan jawaban.
"Iya. Kenapa sih?"
"Terus kenapa nggak temui aku? Malah nanya doang ke Qila?"
"Oh. Eum, iya. Jadi kemarin aku mau ajak kamu pulang bareng. Tapi kamu nggak turun - turun. Akhirnya aku ditelepon Amira suruh pulang. Ya udah deh."
"Amira siapa?"
"Adikku."
"Oh. Jadi beneran yang kemarin itu kamu?" tanya Jeslin sekali lagi. Ia ingin memastikan kalau orang itu, pria yang disinyalir mencarinya, memang Ben, bukan Ian.
"Iya, kan aku sudah bilang, Jes. Kenapa? Kamu pikir itu orang lain?" tanya Ben menyelidik.
"Eum, enggak. Cuma aneh aja ada orang cari aku. Soalnya sebelumnya nggak ada yang pernah cari aku selama ini, kecuali Daniel."
"Eh, kamu siapa namanya? Bawa mobil nggak?" tanya Balqis memotong pembicaraan dua insan tersebut.
__ADS_1
"Bawa. Kenapa?"
"Mana?" tanya Balqis sambil tengak tengok sekitar, karena banyaknya mobil yang parkir, dia ingin tau mobil mana yang dimiliki pemuda aneh di dekat mereka.
"Tuh, di seberang. Macet, susah nyeberang," tunjuk Daniel pada sebuah mobil SUV berwarna putih di seberang jalan depan mereka.
Bahkan mereka masih heran, datang dari mana Ben ini, karena sejak tadi mereka tidak melihat pemuda ini menyeberang jalan, tapi tiba tiba sudah ada di dekat mereka.
"Nah, kebetulan!"
"Emangnya mau pada ke mana?"
"Makan. Yuk," kata Balqis lalu menarik tangan Ben hendak menyeberang.
"Eh, ngapain sih?!" tanya Ben lalu menahan tangan Balqis yang seenaknya hendak membawanya pergi.
"Ayo, ikut. Makan," sahut Balqis dengan wajah tanpa rasa bersalah. Sementara itu, Jeslin hanya diam sambil terus memperhatikan Ben sejak tadi.
"Aku diajak? Serius?" tanya Ben menatap mereka bergantian.
"Iya, pakai mobilmu. Tapi bayar sendiri sendiri," jelas Balqis.
"Oke, tapi ada syaratnya."
"Yaelah pakai ada syaratnya segala sih!" omel Aira.
"Lah kan pakai mobilku."
"Iya juga sih. Emang apa syaratnya?"
Ben menatap Jeslin tang berdiri tepat di atas trotoar jalan bersama Aqila dan Aira. "Jeslin duduk di depan, samping ku."
Semua mendadak diam, tapi tak berapa lama tiga wanita, teman kerja Jeslin melirik pada gadis yang sejak tadi hanya diam saja. Tatapan mereka jelas jelas sedang menggoda teman kerja mereka itu. Apalagi semua tau kalau Ben adalah pria yang kemarin menunggu Jeslin di lobi, dan siang ini dia justru muncul entah ada angin apa.
"Aku sih, Yes!" kata Balqis.
"Aku oke."
"Nggak masalah kok."
Tapi mereka tidak bertanya pendapat Jelsin. Hanya kembali menarik tangan Ben dan Jeslin, lalu berjalan menyeberang jalan raya yang masih saja ramai itu.
Lalu lintas yang padat, membuat mereka yang hendak menyeberang, maju mundur karena kendaraan yang lewat tak kunjung usai. Balqis berhasil berlari sambil menarik tangan Aira. Sementara Aqila menyusul keduanya tak lama. Tinggal Jeslin dan Ben saja sekarang.
Dengan tiba-tiba, Ben langsung menggenggam tangan Jeslin dan membawanya menyeberangi jalan dengan tenang. Jeslin menatap Ben dengan tatapan tajam. Tapi dia tak melawan dan menolak saat tangannya ditarik oleh pemuda di sampingnya itu. Ben lantas menekan tombol untuk membuka kunci mobil di tangannya begitu tiga gadis itu sudah berada di dekat mobilnya.
.
.
Sesuatu perjanjian sebelumnya, Aqila, Aira, dan Balqis kini sudah duduk di jok belakang mobil mewah Ben. Sementara pemilik kendaraan kini masih menggangeng tangan Jeslin hingga ia pun juga membukakan pintu mobil untuk gadis itu.
Mereka pun meluncur ke tempat tujuan. Di mana cafe yang dimaksud berada. Sepanjang jalan ketiga gadis yang duduk di jok belakang mobil terus mengoceh macam macam. Mereka menanyakan tentang Ben. Mulai dari nama, pekerjaan dan tujuannya datang ke kantor mereka mencari Jeslin.
"Iya."
"Omong-omong, kamu ngapain ke sini?" tanya Jeslin yang akhirnya buka suara. Mendengar gadis itu bertanya, Ben lantas tersenyum. Ia yang memang sejak tadi hanya banyak diam akhirnya mengeluarkan rasa penasarannya pada Ben.
"Oh, sengaja sih. Mau ketemu kamu. Kan mau ajak kamu makan siang," jelas Ben santai.
"Mau ajak makan?"
"Iya. Kamu lupa? Tempo hari aku bilang apa?"
"Bilang apa memangnya?" tanya Jeslin yang memang tidak paham dan tidak ingat apa yang dimaksud Ben.
"Kamu lupa?"
"Lupa."
"Astaga, Jes," ungkap Ben sedikit kesal.
"Kan aku bilang, aku bakal ajak kamu makan siang lagi, dan lagi."
"Kacang goreng!" sindir Aira pada kedua orang di depannya.
Balqis terkekeh sambil menutup mulut Aira yang mulai iseng. "Ya habisnya, kita dianggap nggak ada apa emang nggak kelihatan sih dari tadi?"
"Udah diem aja. Anggap kita lagi nonton drama percintaan," tambah Aqila.
Ben dan Jeslin melirik ke belakang. Tapi justru tidak terlalu menanggapi mereka bertiga.
"Oh iya, aku ingat. Aku kira kamu cuma iseng aja bilang gitu. Lantas, kemarin sore, pulang kerja? Ngapain kamu ke sini?"
"Mau nanya doang sih."
"Nanya apa?"
"Kamu mau makan siang apa hari ini. Tapi malah nggak ketemu, ya udah aku langsung datangi aja hari ini."
"Wah, anda hebat sekali, anak muda. Pendekatan yang halus tapi pasti," tutur Aira.
Kembali, Ben dan Jeslin melirik ke belakang. "Apa sih, Ra!" cetus Jeslin agak kesal sejak tadi selalu menjadi bahan ejekan mereka.
"Eh, Ben, memangnya kamu suka sama Jeslin?" tanya Balqis terang-terangan.
Mendengar hal itu, Ben dan Jeslin saling pandang. Dengan tegas Ben mengangguk, sambil menatap Jeslin serius. "Iya. Aku suka sama Jeslin."
"Ciee!" ejek mereka lagi.
Hanya saja Jeslin justru membuang muka ke jendela sampingnya. Ia tidak mau lagi menanggapi ejekan teman temannya dan tidak perduli apa yang dipikirkan oleh Ben.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya sampai di tempat yang dituju. Di depan cafe sudah ramai pengunjung. Beberapa meja pun sudah terisi. Untungnya Balqis sudah memesan meja untuk mereka, sehingga mereka tidak kehabisan tempat.
Meja dengan nomor 35 kini sudah mereka duduki. Namun kursi harus bertambah satu karena ada Ben di antara mereka. Dengan inisiatifnya sendiri, Ben mengambil kursi lain dan menariknya duduk di dekat kursi Jeslin. Hal itu membuat Jeslin meliriknya sebal. Tapi Ben justru tidak memedulikan hal itu dan tetap memasang tampang riang.
"Kalian pesan apa?" tanya Aira yang sedang memegang buku menu. Hanya ada dua buku menu. Di mana Aira memegang salah satunya, dan buku menu lain dipegang oleh Ben.
Balqis dan Aqila mendekat ke Aira sambil memilih makanan yang hendak mereka santap. Lalu Ben juga mendekat ke Jeslin untuk menawarkan makanan pada gadis itu walau dijawab terserah.
"Jangan terserah dong, Jes."
"Apa aja aku makan kok," jawab Jeslin sambil membuang muka melihat arah lain. Dia tampak tidak nyaman dengan situasi ini. Ben menyadari itu, tapi dia tidak pantang menyerah pada Jeslin.
"Ya sudah. Aku telepon Daniel dulu." Begitu kalimat itu keluar dari mulut Ben, Jeslin langsung menoleh padanya dengan dahi berkerut.
"Mau apa?"
"Mau tanya Daniel, kakaknya yang cantik ini, sukanya makanan apa." Dengan santai nya Ben mencari nomor Daniel. Tapi Jeslin malah merebut ponsel Ben dan menekan tombol power. "Kenapa?" tanya Ben.
"Nggak usah tanya dia! Coba lihat buku menunya," pinta Jeslin lalu mengambil langsung benda itu dari tangan Ben. Ben membiarkan Jeslin berlaku seenaknya seperti itu. Dia hanya ingin tau, apa yang hendak dilakukan gadis itu.
Jeslin menyipitkan mata, mencari deretan menu yang ada di cafe itu hingga akhirnya dia menemukan sebuah makanan yang terlihat menarik baginya.
"Ini aja," tunjuk Jeslin ke sebuah masakan dengan bahan utama udang segar.
"Oke, minumnya?"
"Avocado ice blend."
"Oke. Mba," panggil Ben pada seorang waitress yang sedang berdiri di samping kasir. Wanita itu segera mendekat dengan berbekal buku kecil serta pena di tangan.
"Bagaimana, Kak, sudah dipilih makanannya?"
"Ini, mba. Caramalized butter prawns nya 1, terus nasi sapi grill, minumnya Avocado ice blend 2. Kalian apa?" tanya Ben pada Balqis dan yang lain.
Suasana cafe memang ramai, tapi untungnya mereka mendapatkan tempat yang berada di dalam, sehingga cukup sepi. Walau ada pengunjung di tiap meja, tetapi suara mereka tidak sampai saling mengganggu satu sama lain, berbeda dengan pengunjung yang berada di halaman depan cafe, yang mayoritas memang anak ABG.
"Eh jadi kapan berangkat kita?"
"Memangnya udah ditentukan siapa aja yang ke sana?"
"Ah, paling kita lagi. Tahun kemarin kan kita."
"Memangnya novel siapa yang terpilih?"
"Lah kan novel Jeslin! Gimana sih, Qil! Nggak nyambung deh!"
"Eh, kalian bahas apa? Novel Jeslin terpilih apa?" tanya Ben menatap mereka lalu berakhir pada Jeslin yang duduk di sampingnya.
"Masa calon pacar nggak tau?"
"Enggak tau. Justru aku tuh, lagi cari tau semua hal tentang Jeslin." Ben menatap Jeslin lekat-lekat.
"Jadi novel Jeslin dipinang sama rumah produksi, mau dijadikan layar lebar."
"Oh ya? Terus?" Ben cukup terkejut dengan berita bahagia itu. Dia turut bahagia dengan prestasi yang sudah Jeslin torehkan.
"Jadi nantinya, penulis akan ikut terjun langsung untuk proses syuting."
"Kamu jadi pemeran utama? Novel yang mana? Yang kemarin?" tanya Ben penasaran.
"Bukan. Novel yang dulu, novel pertamaku. Tapi aku bukan jadi pemeran utama. Cuma ikut dalam proses pembuatan naskahnya."
"Oh gitu. Wah, hebat kamu. Lantas kamu mau ke mana?"
"Tempat syutingnya di Latvia. Jadi selama satu bulan harus stay di sana," jelas Jeslin.
"Satu bulan? Latvia ? Duh, jauh, ya. Terus ... Aku gimana?" tanya Ben dengan ekspresi memelas.
"Memangnya kamu kenapa?" tanya Jeslin pura pura tidak paham.
"Nanti kalau aku kangen gimana?"
"Pinter pinter nya elu aja, Bang! Masa nggak tau harus gimana sih! Perjuangin dong!" kata Balqis dengan semangat menggebu.
Ben diam sambil berpikir sesuatu.
"Nanti setelah makan siang, Pak Richard mau ajak kita meeting buat menentukan tim yang mau pergi ke sana."
"Wah, aku pengen ikut deh. Lumayan, Eropa Utara ! Aku pengen ke sana!" pekik Aira semangat.
"Nanti cowok kamu gimana?"
"Bodo amat. Aku lagi sebel sama dia. Biarian aja."
"Dih, pasangan yang satu ini, sebentar sebentar berantem terus, heran!" sindir Aqila.
"Makanya ... Cari pacar sana. Jadi tau gimana rasanya berantem sama pacar!" sendiri Aira balik.
"Dih, ogah!"
Negara yang masuk ke dalam daftar negara terindah adalah Latvia. Latvia adalah negara yang berada di kawasan Eropa Utara. Ibu kota negara ini adalah Riga. Meskipun negara ini tidak terlalu luas, tetapi negara ini sangat indah.
Latvia adalah negara yang memiliki banyak sungai dan danau. Tercatat negara ini memiliki 12.000 sungai, dan sekitar 3.000 danau-danau kecil. Di Latvia, terdapat air terjun yang memiliki luas terlebar di Eropa, bernama Venta Rapid yang terletak di Kuldiga. Air terjun tersebut memiliki lebar 270 meter.
Latvia juga merupakan negara yang hijau, bahkan Latvia merupakan negara paling hijau di kawasan Eropa. 10% dari wilayah negaranya adalah wilayah berlumpur. Sekitar 54% dari wilayah negaranya adalah wilayah hijau atau hutan-hutan. Ini menjadikan Latvia negara yang sejuk dan indah.
Walau Jeslin belum pernah datang ke sana, tapi dia cukup mengagumi tempat itu berbekal dengan google yang selama ini ia lihat.
Negara tersebut dijuluki sebagai negara introvert baik oleh masyarakatnya sendiri maupun turis mancanegara.
Orang-orang Latvia sendiri sering mencela diri mereka sendiri karena kecenderungan budaya mereka yang introversi, tipe kepribadian yang lebih menyukai kesendirian, ketenangan dan refleksi.
__ADS_1
Sebuah negara yang bagi dirinya sangat cocok untuk nya. Introvert.
Keriuhan yang mereka ciptakan membuat senyum Jeslin melebar. Apalagi Ben termasuk orang supel yang mudah membuat Jeslin tersenyum. Tapi mendadak senyumnya luntur, begitu melihat seorang pria yang sedang berjalan menuju meja mereka. "Ian!"