
Hari sudah beranjak sore, Angga mengantarku pulang karena memang aku masih belum sehat sepenuhnya. Wajahku bahkan masih terlihat pucat, walau sudah kusapu sedikit lipstik saat akan pergi tadi. Masalah dengan Idham sudah berakhir. Lega rasanya, karena akhirnya dia tidak akan menggangguku lagi. Luka ini juga berangsur pulih, masih membekas, tapi perlahan aku sudah bisa menerimanya. Pria di depanku inilah yang membuatnya menjadi lebih baik. Dia yang sedang kudekap sekarang, menaiki motor matic dengan menembus jalanan kota Bandung yang cukup padat. Langit terlihat mulai gelap, padahal baru beberapa menit lalu kami masih melihat semburat merah di atas sana. Cuaca memang tidak menentu. Hawa dingin mulai merasuki tubuhku. Membuatku sedikit menahan dingin karena angin mulai berembus kencang. Terlebih lagi karena kami sedang ada di atas kuda besi Angga. Aku makin mengeratkan pelukanku. Dan, dia tidak banyak berkomentar.
"Aku mandi dulu, ya," kataku begitu sampai di rumah. Dia mengangguk dan ikut turun, lalu masuk ke dalam. Nova belum pulang, dia memang lebih sering berada di luar, tidak sepertiku. "Kalau mau minum ambil sendiri, ya," jeritku dari dalam kamar mandi. Aku mendengar suara gelas dan sendok yang saling beradu, lalu kompor yang juga dinyalakan. Sepertinya Angga sedang membuat kopi. Dan suara hujan kini mulai terdengar dari dalam. Cukup deras, dengan irama petir dan sinar kilat yang cukup khas dan selalu berkolaborasi dengan kompak dan apik.
Selesai mandi, aku menggulung rambutku yang basah dengan handuk. Menyapu pandang ke sekitar, mencari keberadaan Angga yang kini bagai hilang ditelan bumi. Rupanya Angga tidak ada di dapur lagi. "Ke mana ini orang?" gumamku dengan pertanyaan yang kulontarkan pada diriku sendiri tentunya. Sembari mengeringkan rambutku yang basah, aku mencari keberadaan Angga, dan rupanya aku melihatnya ada di kamarku. Sedang menyalakan laptopku dan mulai terdengar suara musik dari sana.
"Sudah bikin kopi?" tanyaku melirik ke nakas dengan dua buah cangkir yang masih mengepulkan hawa panas. Kopi dan teh. Pasti teh itu untukku. Angga mengangguk lalu merebahkan diri di ranjang. Kedua tangannya bertumpu di bawah kepala, menatap langit-langit kamar. "Tehnya diminum dulu itu. Dingin, kan?" tanyanya, lalu mengambil telepon genggam yang ia simpan di saku celana. Ia mulai berselancar di dunia maya, jemarinya mulai lihai mengetik barisan keyboard itu.
"Lumayan," sahutku, meraih cangkir teh milikku. Menghirup aromanya sambil duduk di tepi ranjang yang dilapisi seprei dengan motif keropi yang belum pernah kuganti sejak pertama kali datang.
"Atuh harusnya tadi gue ngikut pas mandi, ya, Cha," guraunya melirik padaku dengan tatapan genit.
"Dasar! Mesum!" umpatku meliriknya tajam. Teh mulai kusesap perlahan dan mampu membuatku kembali segar. Rasa dingin juga seolah ikut menguar begitu saja. Petir terus menggelegar di luar sana. Seolah menunjukkan tidak akan menghentikan aksinya. Bandung memang sering hujan akhir-akhir ini, membuat suasana makin dingin dan membuat enggan berpaling dari selimut.
"Kan biar nggak dingin. Eh sini deh, tiduran. Kan masih sakit," tukasnya sambil menepuk kasur, di samping. Cangkir kuletakan kembali ke nakas samping. Membetulkan rambutku yang masih setengah basah, lalu tidur di samping Angga dengan tangannya yang juga ada di bawah kepalaku.
"Angga ...," panggilku dengan nada sedikit manja. Netra kami menatap ke langit-langit kamar, dengan pikiran masing-masing. Aroma tubuhnya tercium sampai pangkal hidungku. Baunya khas dan aku menyukainya.
"Apa?" sahutnya datar, ia memiringkan tubuhnya dan membuat kami berhadapan. Tangannya melingkar di pinggangku dan otomatis wajah kami sangat dekat. Sampai-sampai aku mampu merasakan embusan nafasnya menggoyang anak rambutku yang sudah sedikit kering.
"Kamu itu kemarin ngapain sih, sama Tari mulu? Kalian deket banget begitu, tumben?" tanyaku dengan berusaha menetralkan perasaan agar tidak terlihat kesal atau cemburu. Karena pasti dia akan memberondong dengan segala ejekan. Apalagi kini tangan kirinya mulai mengelus pucuk kepalaku, lembut. Hah, sungguh menenangkan. Sial!
__ADS_1
"Kemarin itu ya cuma nolongin dia saja. Beberapa kali memang gue sering nganterin dia. Doni kemarin nggak masuk beberapa hari, kan? Jadinya, ya, deket," jelas Angga.
"Tapi kamu sadar nggak sih? kalau dia itu jadi sengak ke aku karena kalian deket begitu?" tanyaku lag, tidak terima atas penjelasannya.
"Ya namanya orang butuh bantuan ya ditolong. Dan kebetulan saja lagi mau menolong." Angga masih bersikap santai, walau aku sedikit demi sedikit mulai menaikkan nada bicara.
"Hati-hati loh, nanti kamu dimanfaatin. Kamu itu nggak tau, kan, bagaimana Tari sebenernya."
"Ya nggak apa-apa dimanfaatin. Kata ibu juga, bukannya kita manusia itu harus jadi bermanfaat bagi orang lain?" Angga mulai garuk-garuk kepalanya yang pasti tidak gatal. Dia tau kalau aku pasti sedang kesal. Dan kalau diteruskan akan terjadi perkelahian.
"Hih! Jago ngeles, pakai bawa-bawa ibu lagi," cetusku sambil mencubit pinggangnya.
Angga meringis kesakitan, tidak menahan tanganku atau menghindar. Tapi dia malah mengubah kembali posisinya dengan terlentang. Otomatis tubuhku ikut menyesuaikan, dan kini aku tiduran di atas dadanya. Dengan begini aku mampu mendengar degup jantungnya. Tanganku mulai melingkar erat memeluk pinggang Angga.
"Ya makanya tembak dong. Jadi berkomitmen. Biar diprioritasin sama kamu!" paksaku dengan merengek tentunya. Angga memegang kepalaku dengan kedua tangannya, menatapku serius, wajah kami saling berhadapan, sangat dekat. "Cha, emangnya mau ditembak dalam keadaan gini?"
"Ish! Bukan karena momen dan tempatnya, tapi siapa yang menyatakannya! Lagian, lupa? Kita pernah tidur bareng waktu itu?! Dan aku nyaman-nyaman aja, kan?"
"Tapi, Cha ... takut khilaf," elaknya.
"Angga ...." Aku makin merengek layaknya anak kecil.
__ADS_1
Angga menarik nafas panjang, menatap ke arah lain lalu kembali menatapku. "Cha, bingung kata-katanya, tau sendiri kan gue nggak romantis dan serius. Tapi dalam hati mah serius."
Aku tidak menjawab, dan terus menatapnya penuh harap. Berharap ini akan menjadi momen paling berkesan dan membahagiakan. Momen di mana Angga akan menyatakan perasaannya dan menjalin komitmen denganku yang sudah kuimpikan sejak lama. Ritme jantungku makin tak menentu, nafasku juga semakin berat, menunggunya, menunggu momen ini. Satu tarikan nafas darinya membuat darahku berdesir. Kini aku tidak lagi tiduran di atas dadanya, melainkan tengkurap, menunggu jawaban darinya.
"Cha ... pacaran yuk!" Dan akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Damn!
Plak! Aku memukul dadanya dan merengek, "Ih kok kayak ngajakin main sih?!" Angga menggigit bibir, menahan tawa. "Oke ... oke. Serius ini!" katanya lagi.
'Nembak saja ribet. Berasa mau dilamar gue.' gumamku dalam hati.
"Ocha ... Mau, kan, jadi pacarku di saat susah maupun duka?" tanya Angga dengan tatapan serius. Tidak terlihat sedikit pun keraguan dalam sorot matanya yang terhalang kacamata itu. Aku tak menjawab, karena masih tidak percaya pada kenyataan di depanku sekarang. Kami sudah sangat dekat sejak beberapa bulan lalu, bahkan jika orang melihat pasti menganggap kalau kami berpacaran, tapi tidak ada komitmen di antara kami dari dulu. Tapi sekarang ... lain. Wanita pasti membutuhkan kejelasan dalam hubungannya bukan? Apalagi jika tidak ada komitmen, Angga akan lebih mudah dekat dengan perempuan lain, dan aku tentu tidak berhak marah-marah. Dan akhirnya aku yang menyakiti diri sendiri.
"Mau banget," pekikku sambil mengukir senyum di bibir.
"Alhamdulillah. Diterima. Nah karena baru jadian, bagaimana kalau kegiatan pertama kita mantap-mantap?" tanyanya dengan mengerdipkan sebelah matanya.
"Mesum!" jeritku. Angga tertawa lalu makin memelukku erat.
Hari ini, kami sudah meresmikan hubungan. Dan sore ini, dengan diiringi hujan dan petir di luar, aku dan Angga hanya menghabiskan waktu di kamar, mendengarkan musik sambil berbincang. Sesekali, dia kembali membuatku kesal karena tingkahnya, melontarkan kalimat yang memancingku marah, tapi begitu aku emosi, dia pasti kembali membujuk dan membuatku lupa akan emosiku tadi. Semua mengalir begitu saja.
Inilah yang aku suka darinya. Bersama Angga, aku bisa menjadi apa pun yang aku mau. Dia bisa menjadi teman debatku, dia bisa menjadi musuhku dengan saling ejek dan hina, dia bisa menjadi tempat curhat ku, dia juga bisa menjadi orang yang manis, mengeluarkan kalimat romantis yang hanya sesekali saja ia ucapkan, walau pada akhirnya akan kembali ditepis dengan kalimat menyebalkan dan kembali membuatku kesal, dia juga berwawasan luas, dan mampu menjadi tempat sharing yang pas. Aku beruntung bisa mengenal dan dekat dengannya.
__ADS_1
Aku kini terjebak rasa yang hanya untukmu. Rasa yang makin dalam dan menyatu. Duniaku kembali berwarna, dan aku makin sering tertawa karenamu. Tapi aku juga butuh air mata, karena setelah itu kamu selalu menawarkan pelukan istimewa untukku. Bahkan saat semua orang membuatku sedih dan pilu, kamu mampu membuatku kembali baik-baik saja. Kamu penyembuh sekaligus sumber bahagiaku.