
Angga bilang kalau saya nggak boleh baper, gaes. But? Kalian gimana? Baper nggak sejauh ini?
Yuk simak lagi. Kegokilan Angga dan kebawelan Ocha.
_____
"Jadi kalian ini sedang apa?! Bikin malu saja! Berkelahi di tempat umum!" bentak Pak Eko di hadapan kami berempat. Aku, Rahma, Doni, dan Tari.
"Rahma duluan, Om. Masa aku disiram jus jeruk. Aku nggak terima dong. Eh ... malah Ocha dorong saya, terus nih!" tunjuk Tari ke wajah Doni," Doni aja sampai dipukul Ocha, Om!" tutur Tari dengan semangat menggebu.
"Udah untung disiram jus jeruk. Bukan air comberan!" sinisku tanpa melihat Tari.
"Tuh kan, Om!" jerit Tari sambil menghentak-hentakan kaki ke lantai.
"Dih! Bodo amat ...," bisikku menghadap arah lain.
Tari rupanya mendengar kalimatku barusan. Dia mendekat lalu mencengkeram lenganku, kasar.
"Aduuh! Sakit, Bego!" umpatku, berusaha melepaskan diri darinya.
"Heh! Lo tau? Om gue bos kita! Bisa aja gue minta elo dipecat sekarang juga!"
Matanya nyalang. Penuh dengan dendam terhadapku. Aku hanya menanggapi santai. Rahma pamit dengan menutup mulutnya. Pak Eko tidak bisa menahannya. Karena semua tau bagaimana perasaan Rahma sekarang. Dan ini adalah salah satu alasan Pak Eko mengirim kami semua ke sini. Tari memang liar. Suka ingin menang sendiri dan seenaknya. Memanfaatkan jabatan Pak Eko sebagai pamannya dalam segala masalah di kantor. Pak Eko nampak sudah jengah dengan sikap Tari selama ini. Namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Pintu berderit. Muncul 3 orang berpenampilan rapi dengan setelan tuxedo. Satu orang memakai tuxedo berwarna abu-abu mengkilat. Hanya sekilas saja melihat, semua orang tau kalau harga pakaiannya pasti mahal. Dan dia orang penting. Dua orang pengikutnya hanya pengawal pribadi. Penampilan mereka cukup menjelaskan posisi mereka.
"Loh! Selamat pagi, Pak Derry. Silakan duduk."
Pak Eko begitu sopan dan memperlakukan tamu barusan secara istimewa. "Hei! Kalian! Beri salam. Beliau komisaris perusahaan kita!" bisik Pak Eko kepada kami.
Tari segera merapikan penampilannya lalu mengulurkan tangan dengan wajah yang dibuat-buat. Mencari muka. Mungkin dia lupa di mana meletakan mukanya.
"Saya Tari, Pak."
Pak Derry acuh. Malah terus menatapku tajam. Ada hal yang sangat ingin dia ucapkan padaku. Aku yang paham akan kesalahanku hanya menunduk.
"Kamu keterlaluan! Kenapa nggak pernah ke rumah, Om?! Tante nanyain kamu terus!" cetus Pak Derry, yang tidak lain adalah pamanku. Adik dari Papa.
Aku melebarkan senyum, segera memeluknya. Karena dengan begini pasti beliau akan luluh. Amarahnya mereda karena aku adalah satu-satunya keponakan yang ia milili.
"Om kan tau. Aku sibuk. Siapa coba yang nyuruh aku pergi dari kota ke kota gini?" tanyaku, bergelayut manja di lengan pria berumur 50 tahunan itu.
"Ya sudah. Besok kamu jadi karyawan tetap saja, di Jogja."
Tubuhku kaku sekejap. Rasanya berita tadi bukan ide yang bagus. Aku merasa ingin terus ada di sini. "Nggak mau! Aku mau di sini aja!"
"Kenapa?"
Tanpa disadari. Ada 3 orang di ruangan ini yang sedari tadi hanya diam, memperhatikan. Dengan ekspresi kebingungan.
Aku melirik ke arah Tari. Wajahnya terlihat agak pucat. Sama seperti Doni. Juga Pak Eko. Paham dengan kegelisahan mereka, kumanfaatkan situasi ini untuk memskak mat Tari.
"Eh tadi kamu bilang apa? Om kamu bos kita? Dan bisa pecat aku kapan aja?" tanyaku dengan sombong. Hendak membalikkan keadaan yang tadi Tari lakukan padaku.
Sontak ia melotot, menelan ludah, dan terlihat gugup. Terlebih saat Om Derry ikut menatapnya dengan tatapan tajam. Tari gusar.
"Aku ... aku ...."
"Kenalin. Dia om Derry. Om ku!" ucapku bangga.
Tak hanya Tari, Pak Eko pun terlihat cemas. Memang aku tidak pernah memberitaukan hal ini pada siapapun. Setelah kedua orang tuaku meninggal, mereka yang merawatku. Hingga setelah aku selesai mengenyam bangku pendidikan, aku memutuskan kembali ke rumah. Hidup mandiri. Namun Om Derry mengajukan syarat. Aku harus bekerja di perusahaan Om Derry agar ia bisa leluasa mengawasiku. Tidak hanya itu saja, aku pun juga mengajukan syarat, agar lebih adil. Sangat sederhana. Yaitu tidak ada yang boleh tau hal ini. Aku tidak ingin sombong dengan kekuasaan yang dimilik Pamanku. Karena itu bukan milikku. Aku hanya menumpang.
Hanya saja, orang seperti Tari, rasanya perlu diberi sedikit pelajaran.
______
"Mba ...," panggil Angga saat aku berjalan turun. Beberapa teman sudah pulang sejak beberapa menit lalu.
"Kenapa?" tanyaku dengan wajah malas-malasan. Nova sedang pergi ke rumah saudaranya yang ada di luar kota di temani Uci dan Hadi. Ini weekend. Semua orang memiliki rencana untuk mengisi liburan mereka. Awalnya aku ingin ikut mereka. Hanya saja, Om Derry menyuruhku ikut bersamanya ke hotel, tempat dia dan Tante Sekar menginap selama di sini. Tapi rupanya baru saja Tante Sekar sudah bertolak ke padang. Untuk pekerjaannya. Dan tidak mungkin aku di hotel hanya sendirian. Karena aku hafal bagaimana Om Derry adalah orang yang super sibuk.
"Nonton yuk!" ajak Angga.
__ADS_1
Kunaikan sebelah alis, pura-pura berpikir. Padahal segurat senyum hampir kuukir saat melihatnya berdiri di hadapanku.
"Kenapa tuh mukanya gitu? Nggak mau? Weekend, mba? Mau angkrem aja di rumah?" selidik Angga, jengah. "Bentar lagi netas tuh telur."
"Nonton apaan?"
"Ya nanti pilih aja mau nonton apaan. Buruan mau apa nggak?! Kalau nggak, gue ajak orang lain nih!" ancamnya sambil berlagak akan pergi.
"Niat ngajak nggak sih?!"
"Ya habisnya, diajakin kebanyakan pertimbangan. Kayak orang sibuk aja. Padahal mah di rumah bengong doang! Nanti tinggal ribut chat gue mulu."
"Iya iya. Ayok!"
Aku melingkarkan tangan ke lengannya. Pasrah. Dan kami segera pergi ke parkiran diiringi celaan Angga yamg tiada habisnya. Berkali-kali kucubit juga pinggangnya, bahkan kupukul lengannya jika candaannya keluar batas. Tawanya renyah. Khas Angga yang selama ini kukenal. Tawa yng bagai magnet jika aku mendengarnya. Dan dia kembali berhasil membuatku bersemangat.
_____
"Suit! Siapa yang beli jajan, siapa yang beli tiket!" kata Angga mengangkat tangan kanan ke belakang telinganya.
Kami melakukan suit ala ala jepang. Batu, gunting, keras.
"Nah! Gue menang. Elu beli jajan. Gue yang beli tiket, ya, Mba. Beli jajan yang banyak. Minum, jus buah kan seger tuh. Terus piatos, popcorn rasa durian, cokelat juga deh. Biar mulut nggak asem. Nggak bisa ngerokok di dalam, kan? Terus ...."
Saat Angga belum selesai bicara, aku segera pergi ke loket penjualan camilan.
"Gue beliin air putih doang!" teriakku tanpa menoleh padanya.
"Pelit!"
_____
Kami duduk di bangku tengah. Letaknya di pinggir. Kubuka kantung plastik yang tadi kubeli.
"Katanya beli air putih doang?!" sindir Angga, ikut melirik isi kantung plastik di pangkuanku.
"Mau nggak?" tanyaku menyodorkan beberapa camilan yang tadi kubeli.
Ia segera mengambil dari tanganku. Lampu perlahan dipadamkan. Suasana mulai gelap. Film pun mulai diputar.
Selama beberapa menit film diputar, kami beberapa kali dibuat tertawa. Film yang Angga pilih adalah romance comedy. Genre film yang memang jarang kutonton di bioskop. Ternyata cukup menghibur. Bahkan tanpa kusadari, entah sejak kapan aku sudah bersandar di bahu Angga. Tubuh Angga juga mendekat padaku. Seolah mencari posisi yang nyaman bagi kami bedua.
Hingga saat menit terakhir, kami masih diposisi yang sama. Lampu dinyalakan. Pertanda film usai.
Bukannya beranjak seperti penonton lain, kami masih duduk menghabiskan cemilan sambil membalas beberapa pesan di gawai masing-masing.
"Lah ... sepi!" ujar Angga menengok ke sekitar.
"Eh iya ... Yuk keluar."
"Elu sih keenakan nyender di gue!"
"Lah elu diem aja!"
"Mana tega gue. Kali aja emang lagi butuh bahu untuk bersandar. Nih! Ada!" ucapnya menepuk bahunya sendiri.
"Dasar!"
Sampai di luar, suasana bioskop masih cukup ramai. Wajar saja. Ini weekend. Hingga ada seseorang mendekat ke arah kami.
"Angga?!" panggilnya. Angga menoleh dan sedikut terkejut melihat wanita di depannya.
"Ngapain lo? Sama siapa?" tanyanya, menyapu pandang sekitar.
"Tuh ramai-ramai," sahutnya, menunjuk ke segerombol wanita di ruang tunggu. "Kamu? Sama siapa?"
"Nih! Temen," jawab Angga, menunjukku sekilas.
Mereka terlibat percakapan yang hanya mereka berdua saja yang tau. Selain dengan logat sunda, aku juga tidak tau siapa dia. Namun rasanya wajahnya tidak asing.
Rasa kesal menggelitik hati. Kualihkan dengan berpura-pura membaca poster film yang akan tayang. Walau aku sudah tau jalan ceritanya, hanya saja aku butuh pengalihan. Dari rasa diabaikan, bosan, dan cemburu.
__ADS_1
Cemburu? Hah?! Nggak mungkin!
Namun tiba-tiba tanganku digandeng Angga. "Yuk pulang," ajaknya, berjalan lebih dulu dan otomatis aku mengikutinya. Karena tanganku terkait erat dengannya. Sekilas aku menoleh ke wanita tadi. Ia sudah bersama teman-temannya dan menatap kami, sinis.
Rasain, lo!
Aku terkekeh dalam hati. Seolah menang dalam sebuah kompetisi. Siapa yang berhasil menarik perhatian Angga. Dan kupikir sejauh ini aku pemenangnya.
Eh tapi ... mungkin karena aku datang sama Angga. Coba kalau posisinya di balik. Aku yang ditinggalin dia dong. Ah!
Kami sampai di sebuah warung nasi goreng di pinggir jalan.
"Makan di sini nggak apa-apa, kan?" tanya Angga, melepas helm, menatapku penuh harap.
"Iya, nggak apa-apa, yang penting makan."
Angga memesan nasi goreng spesial. Sedangkan aku nasi goreng hati. Dengan dua gelas jeruk hangat, sangat pas dinikmati malam hari begini. Suasana warung nasi goreng tidak begitu ramai. Hanya ada 3 orang lain lagi selain kami. Semua sibuk dengan aktifitasnya, dan begitu apatis pada sekitar.
"Bagus, kan? Filmnya?"
"Iya. Lucu. Seru."
"Makanya jangan suka nonton film setan mulu. Penakut, nontonnya film serem!" sindir Angga, memukul kepalaku dengan sedotan di tangannya.
"Ih! Tetep suka horor. Bagus tau."
"Cemen aja!"
Nasi goreng mengepul di hadapan kami. Angga mengambil kaleng kerupuk dan menawarkan padaku. Sekilas aku teringat wanita di bioskop tadi. Karena ternyata dia adalah wanita yang sama, yang tempo hari mengantarkan Angga bekal makan siang. Kuberanikan diri bertanya.
"Yang tadi siapa?" tanyaku dengan mata menatap nasi berwarna cokelat di depanku. Meniup pelan, lalu memasukan ke dalam mulutku.
"Mantan."
Angga juga masih tetap fokus makan dengan lahap. Gigitan kerupuk di mulutnya, ikut membuat suasana lebih riuh.
"Oh mantan. Yang kemarin kasih makan siang, kan?"
Ia terdiam beberapa detik, sebelum kembali mengisi mulut dengam suapan nasi. Mengangguk yakin.
"Kenapa?" tanya Angga dengan tatapan menyelidik.
"Nggak apa-apa. Memangnya kenapa?"
"Cemburu, ya?"
"Idih! Enggak lah! Geer banget!"
"Halah! Ngaku aja deh. Hayo!"
Kini fokusnya malah terus mencandaiku. Wajahku terasa hangat. Tuduhannya memang benar. Hanya saja aku malu menggakuinya. Terlebih aku masih teringat kalimatnya beberapa waktu lalu.
Inget peraturan pertama! Jangan baper sama gue!
Hanya saja, aku sudah terlanjur merasakan rasa itu. Terlanjur membuka hatiku untuk sosoknya. Terlanjur membiasakan diri dengan Angga setiap saat.
"Tapi perhatian banget, ya."
"Siapa? Dia? Mantan gue?"
Anggukan kepala mewakili jawabanku. Aku takut, nada bicaraku berubah karena rasa penasaran dan cemburu yang sedang bergejolak di hati.
"Ah nggak juga. Eh tuh kan! Cemburu! Aku nggak ada apa-apa sama dia kok, Yang."
"Idih!"
"Wahahaha!"
_______
Tidak dapat kupungkiri. Aku membutuhkan rasa ini. Agar aku bisa hidup dengan merasakan cinta. Agar aku bisa hidup normal sebagaimana mestinya. Bukan sebagai wanita tanpa hati, tanpa cinta. Dan tanpa rasa.
__ADS_1
Walau ... hanya sebuah cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi asal dia selalu ada bersamaku, itu sudah lebih dari cukup adanya.