Anomali Rasa

Anomali Rasa
Part 16 Permintaan maaf


__ADS_3

Aku menggeliat, memekik seketika, saat merasakan nyeri di kepala, dan berujung meremas kepalaku sendiri. Menunggu hingga rasa sakit ini berangsur hilang sungguh membuat persendianku lemas. Derap langkah kaki mulai terdengar. Siapa lagi kalau bukan Nova.


"Eh udah bangun? Gimana? Masih pusing? Jangan bangun dulu, Cha! Elu masih sakit!" Omelnya, meletakkan nampan di nakas sampingku. Di sana sudah tersedia segelas susu putih dan beberapa tangkup roti bakar dengan selai kacang di dalamnya, yang sedikit belepotan di kulit luar roti. Dan sepertinya Nova sedikit tergesa-gesa. Biasanya dia sangat rapi dan ia termasuk tipe perfectionis.


"Sarapan dulu, terus minum obatnya," ujar Nova, menatap obat yang masih utuh terbungkus rapat di meja.


"Elu mau kerja? Kok gue nggak dibangunin?" tanyaku dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh telingaku sendiri.


"Ngaca, Bu. Mau kerja?! Liat tu muka. Udah mirip mayat hidup!" sindirnya dengan muka kesal. "Lagian lu cari penyakit aja deh, Cha. Kayak anak kecil, main hujan-hujanan gitu. Malem-malem pula."


"Namanya keujanan, Nov," gumamku, kembali menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku hingga kepala.


"Dasar bucin! Gue mau ngantor dulu. Elu ... diem aja di rumah. Awas kalau elu ngayap lagi!" tunjuk Nova padaku dengan tatapan tajam. Aku yang hanya berani mengintip di balik selimut  diam dan makin menenggelamkan kepalaku agar Nova segera pergi dari kamar. Dia mirip ibu tiri di cerita dongeng.


____


Badanku masih terasa lemah. Beruntung sakit kepalaku sudah berangsur hilang. Baru dua jam berdiam diri di rumah, rasanya sungguh tidak menyenangkan. Berkali-kali aku menengok ponsel, menunggu pesan dari seseorang. Angga tentunya. Hanya saja layar benda pipih itu hanya menampilkan jam analog dengan wallpaper sebuket mawar hitam.


Daripada mawar merah aku lebih suka mawar hitam. Beberapa orang mengartikan mawar hitam sebagai simbol kedukaan, bahkan melambangkan cinta yang tragis. Namun ternyata, arti mawar hitam lainnya adalah melambangkan kesetiaan.


Lama kelamaan mataku mulai berat. Saat hampir setengah menutup, tiba-tiba gawai yang sejak tadi kuletakkan di samping telinga, berdering. Otomatis aku segera membuka lebar mataku. Terlebih saat aku melihat pengirim pesan.


ANGGA!


[Cha, datang ke sini, ya. Buruan!"]


Tak lama notifikasi maps terkirim padaku.


"Dih! Apaan sih ini orang! Bukannya jelasin masalah kemarin. Atau nanya kabar kek. Kan tau, kalau aku nggak masuk kerja! Malah nyuruh ke situ! Nggak tau apa? Aku lagi sakit!" Kulempar asal gawai milikku. Mencoba berpura-pura tak peduli. Namun baru hitungan detik pikiranku sedikit berubah.


Kuraih lagi benda tersebut. " Tapi ada apa, ya? Angga tiba-tiba nyuruh aku ke sana? Apa aku balas aja, ya, chat dia?" Terjadi perang batin antara hati dan logika.


"Ah! Bodo ah! Biarin aja. Biar dia yang nyamperin ke sini! Masa aku sih?!"


Kembali dering ponsel terdengar nyaring. Namun kali ini bukan pesan dari Angga, melainkan panggilan.


"Angga telepon aku?!" pekikku agak gugup, merapikan penampilanku yang kacau. Yah, terkadang kebodohanku sungguh terlihat jelas. Padahal ini panggilan telepon biasa. Bukan videocall. "Nah kalau gini harus aku angkat. Terus aku bakal nyuruh dia aja yang ke sini. Oke!"


"Halo? Angga pokoknya aku ...."


"Cepat ke sini! Nggak pakai lama dan nggak pakai mikir! Penting!Bye."


Tut... tut... tut...


Panggilan diakhiri secara sepihak.


"Ih Angga! Aku kan belum selesai ngomong! Malah dipotong! Argh!" umpatku kesal. Aku beranjak dari kasur, menggenggam ponsel dan mondar-mandir di sisi ranjang. Langkahku terhenti. "Oke! Aku ke sana! Sepenting apa sih. Sampai-sampai Angga segitunya."


_____


Aku sampai di tempat yang dimaksud. Menggunakan jasa taksi daring. Beruntung tempat ini tidak terlalu jauh, maka hanya dalam waktu 30 menit aku sudah sampai.


Sebuah restoran yang terlihat cukup ramai membuatku bingung.


"Ini serius tempatnya?" tanyaku pada diriku sendiri. Menyapu pandang sekitar. Mencari sosok yang sejak tadi kucari.

__ADS_1


Tak jauh dari tempatku berdiri. Seseorang melambaikan tangan ke atas. "Dasar!" gumamku menyipitkan mata menatap jengah ke arahnya.


Namun aku tiba-tiba memperlambat langkah. Melihat di meja itu rupanya Angga tidak sendirian. Di sana ada Om Derri, sepasang suami istri, dan ... Idham?!


Aku sempat berhenti saat jarak kami tinggal beberapa langkah lagi. "Ngapain si Idham di situ?!"


"Cha! Sini!" teriak Angga dan kini membuat semua orang menatap ke arahku.


Langkahku melambat namun tetap berjalan ke arah mereka. Segera saja aku duduk di kursi samping Angga. "Ngapain sih? Nyuruh gue ke sini?" bisikku.


"Cha? Katanya kamu sakit? Sakit apa?" tanya Om Derri.


Belum sempat Angga menjawab pertanyaanku, aku menoleh ke arah Om Derri yang duduk di depanku bersebelahan dengan Idham yang terus tertunduk.


"Oh iya, Om. Cuma masuk angin aja."


"Sekarang gimana?"


"Udah mendingan sih, Om."


"Tapi wajah kamu masih pucat. Beneran nggak apa-apa?"


"Masa sih? Oh lupa pakai lipstik tadi. Buru-buru," sahutku, menyentuh wajah diiringi senyum getir. "Eh ini ada apa, Om?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Jadi gini, Cha. Kenalkan dulu, itu ... orang tuanya Idham," tunjuk Om Derri ke sepasang suami istri yang duduk di sisi meja samping kami.


"Oh." Hanya kata itu yang kuucapkan. Sembari memikirkan situasi yang sedang kuhadapi sekarang.


"Angga sudah menceritakan semua. Tentang apa yang dilakukan Idham ke kamu," kata Om Derri.


"Semuanya, Cha. Semua yang udah Idham lakukan ke elu dulu. Sampai-sampai elu ketakutan kalau ketemu dia sekarang."


Aku menatap Idham. Ia bagai maling yang tertangkap basah. Tidak ada lagi sikap sombong dan angkuhnya. Bahkan ia tidak berani menatapku sejak aku datang.


Seorang pria yang kutaksir adalah Ayah Idham, berdeham. Menegakan tubuhnya, menarik nafas dalam. Lalu beranjak.


"Saya selaku orang tua Idham mau meminta maaf atas semua kesalahan anak saya. Kami akan bertanggung jawab atas apa pun yang dia lakukan," kata pria dengan rambut sebagian besar berwarna putih itu.


"Tanggung jawab? Kalian mau tanggung jawab seperti apa?"tanyaku dengan sedikit menaikan nada bicaraku.


"Apa saja, Mba Ocha. Kalau Idham juga harus menikahi Mba Ocha kami juga siap," sahut sang ibu.


"Apa? Nikahin saya?! Cih! Maaf, Bu. Ibu tidak tau bagaimana perasaan saya, ya? Saya harus nikah sama laki-laki **** ini untuk kesalahan dia? Maaf itu bukan solusi. Justru akan menambah masalah!"


"Lalu kami harus bagaimana?" Ibu Idham terlihat ketakutan."Tolong jangan laporkan anak saya ke polisi. Kami mohon. Kami akan lakukan apa saja."


Aku menarik nafas panjang. Menghembuskannya kasar. Melirik Angga dan Om Derri bergantian.


"Ya sudah. Saya cuma minta 1 hal. Tolong bawa anak anda pergi dari kota ini. Saya tidak mau melihat wajahnya lagi. Bahkan sampai kapan pun. Kalau suatu saat nanti dia melihat saya, suruh dia pergi dan jangan berusaha menyapa saya lagi!"


Ayah Idham menoleh ke anaknya. "Kamu dengar, Dham?"


Orang yang diajak bicara hanya mengangguk pelan. Dia benar-benar tidak bisa berkutik rupanya.


"Minta maaf sama Ocha!" bentak Ayah Idham lagi.

__ADS_1


Idham gugup. Memperbaiki posisi duduknya menghadap ke arahku. Walau di sampingnya ada Om Derri. Ia mengangkat wajahnya, menatapku malu.


"Cha, gue minta maaf. Maaf buat semua dan ...."


"Iya. Udah. Jangan pernah nampakin muka di depan gue lagi!" Sahutku acuh, bahkan tak melihatnya sama sekali.


"Hehe, Bro ... fisik boleh kalah, tapi otak menang di gue," cetus Angga sambil senyum pepsoden. Idham melengos sebal mendengar perkataan Angga.


"Tanpa harus mengotori tangan dan adu fisik bisa selesai, kan, masalahnya, Cha?" tanya Angga yang kini menatapku denyan senyum bangga. Aku hanya melongo tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Kagum terhadap sikap Angga yang tiba-tiba ini. Bahkan aku tidak menyangka dia akan seberani ini membuat orang-orang di depanku berkumpul.


"Janji gue untuk selesaikan masalah ini lunas, ya, Cha."


_____


Mereka bertiga pergi dari resto setelah berkali-kali minta maaf. Bahkan Ayah Idham memberikan kartu namanya, jikalau sewaktu-waktu aku membutuhkan bantuannya.


Kini tinggal kami bertiga. Aku, Angga, dan Om Derri.


"Kenapa kamu nggak pernah cerita?" tanya Om Derri.


Aku menunduk. Memainkan cangkir teh di depanku. "Aku takut. Juga malu, Om."


"Kenapa harus malu? Ini bukan kesalahan kamu."


"Tetep aja ini salahku. Kenapa nggak bisa jaga diri. Salahku, Om." Setitik air bening bermuara diujung ekor mataku. Sebisa mungkin kutahan karena aku terlalu gengsi menangis di depan umum.


Om Derri memelukku erat dan berbisik,"Lain kali kalau kamu kenapa-napa, cerita sama Om, ya. Jangan dipendam sendiri."


Aku mengangguk.


Om Derri meninggalkan resto karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Tinggal aku dan Angga berdua.


"Makan dulu, Cha."


"Males, ah. Nggak nafsu makan."


Angga menoleh ke arah piring di depanku dan padaku."Kamu pernah liat, kan? Banyak orang-orang dibelahan bumi lain, ada yang susah makan dan kelaparan. Sementara di sini banyak makanan enak. Lagian kepitingnya enak di sini, Cha."


Aku diam sejenak. Menatap beberapa menu yang memang sudah disediakan di meja. "Iya deh, iya. Tapi sambil cerita ya, kok bisa jadi semudah ini nyeleseinnya,  padahal Idham itu ...."


"Menyeramkan? Otoriter? So?" potong Angga.


Aku mengangguk, mengiyakan kalimatnya.


"Nggak tau, kepikian aja. Biasanya orang-orang yang begitu itu, nggak takut sama siapapun. Belagu dan seenaknya sendiri ya paati karena orang tuanya."


Angga meneguk es lemon tea agak banyak."Dia menyalahi fasilitas atau kekuasaan yang dipunya orang tuanya tanpa orang tuanya tau akan hal itu. Orang tuanya itu pasti nggak mau anaknya begitu karena mereka yang didik, dan nggak mau tercoreng namanya. Biasanya gengsinya tinggi dan banyak pertimbangan hal lainnya juga. Ya tinggal aduin aja. Terus nih, yang punya akses ke orang-orang kalangan itu, ya Om kamu. Ceritain deh. Pasti om kamu juga akan ngebela dan bantu," kata Angga panjang lebar. Aku hanya diam mendengar penjelasannya.


"Nih cobain telor kepiting biar cepet sehat." Angga menyuapkan makanan itu ke dalam


"Ih bisa sendiri kok," sergahku malu-malu, melanjutkan makan. "Makasih ya, Ngga."


"Sama-sama. Eh makan yang banyak, mumpung ini udah dibayarin sama om mu. Kalau bisa bungkus."


"Ih, si irit kikir, pasti yang milih tempat kamu, ya?"

__ADS_1


Angga hanya senyum-senyum.


__ADS_2