
Guyuran air dari shower terdengar samar. Aku yang masih bimbang di antara dua alam, mimpi dan nyata, mulai mengerjapkan mata. Tangan kanan menjulur ke kasur samping, sadar jika ruang itu telah kosong entah sejak kapan.
"Ay?" panggilku sambil mencari sosok tersebut. Lampu dapur masih padam, begitu juga kedua lampu di samping nakas kanan dan kiri kasur. Tapi saat melihat benda pipih milik Angga yang masih tergeletak di meja, bawah TV layar datar, di depan kasur, pasti dia berada di toilet sekarang. Di bawah pintu toilet terlihat bayangan yang mondar mandir dengan suara riuh kran air yang menyala dan terkadang mati.
Aku mencari ponsel pintar yang biasa aku letakan di meja nakas samping, melihat angka di ujung layar yang menunjukkan waktu pukul 04.30. Akhirnya aku kembali menarik selimut dan masuk lagi ke alam mimpi yang sempat terjeda. Belum saatnya aku bangun sekarang. Setengah jam lagi. Atau mungkin satu jam lagi, rasanya cukup. Angga memang terbiasa bangun awal, dia selalu bangun lebih dulu timbang aku. Yah, dunia terbalik, dia yang terlalu rajin, atau aku yang pemalas.
Baru beberapa menit memejamkan mata dan belum benar- benar terlelap. Makhluk bernama Angga ini menggangguku dengan cara memeluk, tidak hanya sampai di situ saja. Dia juga mengendus endus diriku yang masih terlalu nyaman di atas pembaringan.
"Ih! Ay, ganggu, lagi tidur juga," rengekku tanpa membuka mata.
"Biarin. Pagi - pagi itu enaknya olahraga, ay."
"Olahraga apaan subuh - subuh gini?! Masih gelap di luar itu loh. Nanti ah." Aku makin sebal, dan kesal jika waktu tidurku terganggu.
"Morning sex, hm," gumamnya dengan suara manja. Angga sudah mulai menampakan nafsunya, manusia satu ini atau sudah bisa dibilang pacarku ini, kalau soal nafsu sangatlah besar. Tapi dia tau tempat dan cara memancingku tidak pernah dengan paksaan.
"Olahraga sendiri aja, ay, biar kekar itu tangannya," keluhku. Dia yang memang sering melakukannya sudah pasti paham maksudku.
"Yah, ya udah, tapi boleh ya, sambil raba dan peluk gini?"
"Terserah," ucapku pasrah. Angga mulai meraba, meremas dan mencium. Namun mendengar nafas nya yang memburu, aku pun menjadi ikut terangsang oleh perlakuannya. Dia memang pandai memancing.
"Sial! Aku terjebak, seharusnya tidak ku boleh kan tadi," ucapku dalam hati. Rasa kantuk mulai hilang, bagaimana mungkin aku akan tidur jika dia terus menggerayangiku.
"Ih, nakal ya memang! Bisa banget mancing kamu, ay!" gumamku lalu mengikuti permainannya.
Namun sialnya, si makhluk ini malah mempermainkan.
"Udah ah, nanti aja. Ngopi dulu ah," ucap Angga lalu beranjak dari kasur.
"Ih! sini ngga! Jangan buat kentang!" omelku sebal.
__ADS_1
"Lah tadi katanya mau tidur lagi, sekarang silakan, nggak akan diganggu."
"Argh! ayo! iyaa aku yang minta!"
"Ampun ... aku dipaksa," rengeknya berpura - pura teraniaya.
"Diam!" Langsung aku ***** saja bibirnya, agar tidak banyak bicara. Dan mulai lah kami berolahraga pagi.
_____
"Lemes," cetusnya yang masih tiduran di sampingnya dengan selimut yang masih menutupi tubuh kami berdua.
"Tapi enak, kan?" Dia memainkan ujung rambutku, sambil terkadang menyentuh lekuk wajahku dengan telunjuknya.
"Cepet mandi sana! Udah jam segini!" kataku tidak mau membahasnya lagi. Jika sudah seperti ini rasanya ada rasa sungkan di hadapannya.
"Hayuk, bareng."
Dia lantas tertawa. "Makasih ya, sayang. Ya udah gue duluan deh, mau boker." Sebuah ciuman singkat mendarat ke bibirku.
"Jangan sambil nge- rokok! Bau!" jeritku saat dia masuk ke kamar mandi.
"Bodo ah!" cetusnya dan berhasil membuatku kesal.
________
Pelukan erat sudah berada di pinggang hingga perutnya. Merasakan jarak satu tangan dan tangan lainnya agak jauh, aku mulai menyadari kalau perut Angga makin buncit.
"Nih, olahraga makanya! Perutnya mirip Om Om, tau," jeritku sambil mencubit perutnya, saat dalam perjalanan ke kantor. Keadaan jalan raya terlalu bising jika harus berbicara dengan nada normal.
"Kan tadi udah olahraga. Malam juga. Kurang apa lagi sih, Ay."
__ADS_1
"Ih, beda!" Kini pukulan pelan ku la yang kan ke paha kanannya. Dia sangat pintar berdebat dan menghindar dari semua perkataan ku. Ada saja jawaban dari mulutnya jika kami berdebat.
"Sibuk ah, Ay. Kan tau sendiri kalau seharian kita ke kantor. Pulang sore, capek. Belum lagi kalau gue mampir ke tempat Ay. Nah, itu kan termasuk olahraga. Keluarin keringat."
"Dasar! Besok - besok kita lari pagi, kalau Ay nginep lagi pokoknya."
"Boleh aja. Coba siapa yang males bangun nanti."
"Siapa emangnya?" tanyaku menantang.
"Nih, si once. Bangun siang mulu."
"Enggak siang ah, matahari juga belum muncul, kan?"
"Ye, tunaikan kewajiban dulu."
"Apa?"
"Menghadap Yang Maha Kuasa!"
"Oh, jadi Ay tadi sempet salat?"
"Iyalah, mandi dulu tadi. Nggak sadar pas situ nyium gue udah wangi dari ujung rambut sampai kaki?"
"Terus aku bau gitu maksudnya?"
"Eh, sadar? Gue nggak bilang loh ya. Bagus deh kalau sadar."
Mungkin sebagian orang akan menganggap kami pasangan munafik. Dalam perzinahan ini masih kami selipkan ibadah kepada Tuhan, selaku sang pencipta alam. Tapi itu terserah anggapan orang. Kami bukan manusia suci, karena masih melakukan hal dilarang agama. Kata Angga, salat ya salat aja. Urusan diterima Allah atau nggak, itu hak prerogratif Tuhan. Lagi pula, semua manusia punya cara masing - masing dalam memilih dosa. Tolong jangan ditiru perkataan sesat ini, dan kelakuan kami. Tapi jika nekat, resiko ditanggung masing - masing.
Mengenal Angga membuatku bagai ada di dua dunia yang berbeda. Antara surga dan neraka yang berdekatan. Dia adalah orang yang membuatku lebih dekat pada Tuhan, juga lebih dekat dengan neraka. Dia bahkan mengajari ku mengaji. Se-brengsek nya Angga, dia pintar mengaji. Dia juga rajin ke mushola, dan jarang meninggalkan salat. Bahkan dia juga yang sering memberitahukan puasa - puasa sunah yang biasanya dia lakukan.
__ADS_1
Yah, Angga, yang membuatku merasakan surga dan neraka dalam waktu bersamaan. Aku berharap suatu saat nanti bisa menikah dengannya. Menjadi istrinya, melakukan semua kebiasaan kami dengan cara yang lebih halal.