Anomali Rasa

Anomali Rasa
10. sahabat


__ADS_3

"Emang gila lo, Ben. Kenapa lo nggak bilang mau bunuh orang sih? Tau gitu gue kabur duluan tadi!" oceh Panji saat mereka baru saja keluar dari kantor polisi.


Ini sudah hampir pagi, pemukulan Ian harus diselesaikan lewat jalur hukum. Tapi Ben sama sekali tidak takut akan hal itu. Dia hanya perlu memanggil pengacara keluarga dan semua langsung selesai tanpa hambatan apa pun.


"Ben? Kamu ini ... Ckckck. Om harus bilang apa sama Papa mu?" tanya seorang pria yang merupakan paman Ben sendiri. Dia memang berprofesi sebagai seorang pengacara, dan sering menjadi penasehat hukum untuk seluruh keluarga Ben.


"Om kan nggak perlu bilang apa - apa sama Papa. Jadi Papa nggak tau," sahut Ben santai. Mereka berjalan menuju parkiran mobil. Kejadian malam tadi memang membuat semua orang lelah. Terlebih Ben yang juga habis menghajar Ian habis - habisan.


"Hm. Om heran, kenapa sih, Papamu nggak mengijinkan kamu jadi tentara aja. Kamu lebih cocok jadi pembunuh bayaran ketimbang CEO perusahaan."


"Hm? Om mau mengincar jabatan CEO milikku?" tanya Ben sengaja bergurau agar sang Paman melunak dan tak meneruskan omelannya.


Iskandar menatap nyalang keponakannya, sementara itu Ben justru bergegas masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangan. "Terima kasih, Om! Besok aku traktir makan siang," jeritnya setelah membuka kaca mobil.


Iskandar hanya geleng - geleng kepala sambil menatap keponakannya yang mulai menyalakan mobilnya.


"Om, permisi. Kami pulang duluan," kata Panji yang masuk ke kursi samping Ben. Iskandar hanya mengangguk dan menyuruh mereka segera pulang.


Jalanan tampak lenggang. Ini bukan lagi tengah malam, atau lewat tengah malam, tapi sudah hampir subuh. Beberapa kali Ben menguap karena menahan kantuk. Sambil mengemudi Ben hanya diam sehingga Panji mulai jengah.


"Heh, gue mau tanya," kata Panji dan berhasil membuat perhatian Ben teralih padanya.


"Apa?"


"Sebenernya lo ada masalah apa sih sama cowok tadi? Saudara lo di hamiln sama dia? Atau Susan ya, kenalan lo?"


"Bukan."


"Jadi?"


"Kepo."


"Astaga, Ben, lo ini emang nggak pernah berubah dari dulu. Gue yakin inu bukan masalah sepele. Kalau sampai lo pukul orang sampai hampir mati kayak tadi, berarti ada masalah besar. Kali ini siapa? Siapa yang lagi lo bela?"


Ben menoleh pada Panji, ia sebenarnya hendak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Alasan apa yang membuatnya menyuruh Panji mencari tau keberadaan Ian dan semua hal tentang diri laki laki bajingan itu. Hanya saja dia masih ragu.


"Bukan apa apa kok. Kemarin gue ketemu dia di cafe, dia nyolot banget, jadi gue kesel," jawab Ben bohong.


"Jangan bohongin gue, lo. lo pikir gue anak kemarin sore? Udah buruan cerita, ada apa sebenarnya. Atau gue aduin lo ke bokap lo nih," ancam Panji, dan membuat Ben melotot sambil memukul lengan kawannya itu.


"Ck. Ancaman lo, kayak anak kecil. Ngadu ke bokap gue segala!"


"Lo juga kayak anak kecil. Makanya cerita buruan!"


Ben menarik nafas panjang, dia melirik sinis pada Panji yang terus saja menatapnya. "Iya iya gue cerita. Tapi ... Lo janji nggak bakal kasih tau masalah ini ke orang lain, terutama Daniel."


"Daniel? Lah apa hubungannya sama dia?"


"Janji dulu, Kambing! Kebanyakan nanya lo!"


"Lah lo sendiri kebanyakan teka teki. Belum kelar penjelasan soal Ian sekarang merembet lagi ke Daniel. Perasaan dari kemarin kita nggak ada bahas tentang dia deh. Kenapa tiba tiba dia jadi terlibat?"


"Ada hubungannya. Lo nonton juga kan, video Ian yang di hape lo?"


"Nonton."


"Apa yang dia perdebatkan sama cewek yang namanya Susan?"


"Ian mau tinggalin Susan karena cewek lain."


"Siapa cewek lain itu?"


"Eum ... Bentar bentar." Panji mengernyitkan kening, berpikir dan mengingat ingat perkataan Ian di video tersebut. "Oh, Jes ... Jesi?"


"Jeslin, Kunyuk!"


"Oh Jeslin, ya? Gue dengernya Jesi. Terus? Kenapa?"


"Jeslin itu ... Kakaknya Daniel."


"What? Serius lo? Eh, emangnya Daniel punya kakak cewek? Kok gue baru tau?"


"Iya. Kan dulu pas jaman SMA, kita lebih sering nginap di rumah gue sama rumah Andre. Jangankan tau silsilah keluarga Daniel, kita aja nggak tau siapa pembantu di rumahnya!"


"Iya juga sih. Eh, terus Daniel nggak tau, kalau Kakaknya pacaran sama cowok gila itu?"


"Yang pacaran siapa, Nji?"


"Hah? Eh. Enggak emangnya? Tapi bukannya di video ... Ian udah nidurin Jesi?"


"Jeslin, Goblok!" omel Ben lagi.


"Oh iya, Jeslin. Gitu aja marah," tutur Panji dengan ekspresi polos.


"Lo nggak nyimak sih, isi video itu apa! Coba lo tonton lagi. Gini nih, kalau dulu sekolah cuma sampe gerbang doang. Otaknya nggak nyampe mikir ginian," sindir Ben.


"Iya iya. Yang juara umum di sekolah, pinter deh pokoknya," ungkap Panji rendah diri.


"Heleh! Udah buruan ditonton!" Ben mulai kesal, padahal Panji sudah menunjukkan wajah sedih. Tapi dia tau kalau kawannya itu memang pandai berakting.


"Oke." Panji mengambil telepon genggam yang ia letakan di saku kemejanya. Panji bersenandung sambil mencari video yang dimaksud. Ia lantas segera menonton nya dengan dahi berkerut. Sementara Ben dengan setia menunggu. Ia tengak tengok ke trotoar sambil mengelus perutnya. Tak lama ada suara keruyukan dari dalam perut Ben. "Nasi goreng mana, ya?" tanyanya pada diri sendiri.

__ADS_1


"Di ujung jalan sana baru ada tukang nasi goreng. Yang dulu kita biasa ke sana," tunjuk Panji sambil tetap menyaksikan video tersebut.


"Oh, oke."


Akhirnya Ben menemukan tenda yang menjual nasi goreng. Mobilnya pun berhenti di depan parkiran yang berada di pinggir jalan. Mesin mobil dimatikan.


"Eh, Ben ... Bentar. Ini maksudnya ... Jeslin itu diperkosa sama Ian? Gitu, kah?" tanya Panji sambil menepuk bahu Ben berkali kali.


"Akhirnya ngerti juga lo!" Ben keluar dari mobil diikuti Panji. Mereka berencana makan subuh sebelum sampai rumah. Pertikaian dengan Ian tentu menguras banyak energi Ben. Dia butuh asupan untuk bisa bergerak lagi.


"Enggak, gue enggak ngerti tetep." Panji terus mengekor pada Ben hingga mereka menemukan kursi kosong. Ternyata walau sudah subuh, tempat itu masih ada pembeli. Beberapa pasang muda mudi, dan ada juga kelompok anak muda mampir untuk malam seperti mereka berdua.


"Apanya lagi yang enggak lo ngerti, Nji," sahut Ben, jengah.


"Kenapa lo sekesel itu ke Ian? Padahal, kan kita nggak kenal Jeslin. Bahkan Daniel aja nggak tau apa yang terjadi sama Kakaknya itu."


"Gue kenal Jeslin."


"Masa? Sejak kapan?"


"Beberapa minggu lalu. Gue ketemu dia di kantornya Daniel."


Panji diam. Ben menatap buku menu sebelum akhirnya dia memesan nasi goreng kambing dan jeruk hangat. Sementara Panji memesan nasi goreng seafood dan teh hangat.


"Cuma itu?" tanya Panji dengan tatapan menyelidik. Dia terus menatap raut wajah Ben yang duduk di samping dan seolah sengaja menghindari tatapan Panji yang sedang menginterogasinya.


"Kenapa sih?"


"Enggak! Enggak! Pasti ada sesuatu. Jangan jangan ...."


"Jangan jangan apa?"


"Lo suka sama Jeslin?" Pertanyaan itu membuat Ben langsung menatap Panji sambil membulatkan matanya lebar lebar.


Minuman pesanan mereka sudah tersaji di meja. Hal ini menjadi cara Ben melarikan diri dari serangan pertanyaan Panji tadi. Ben segera meneguk minuman hangat itu, sambil menatap ke arah lain.


"Heh! Kambing! Jangan menghindar lo!" kata Panji memukul lengan Ben.


Ben otomatis menoleh sambil mengelus lengannya yang terasa nyeri sedikit. "Siapa yang menghindar sih? Orang gue masih di sini aja kok," elak Ben.


"Udah, ngaku aja. Lo suka sama Jeslin? Gue janji nggak akan bilang Daniel deh," kata Panji berusaha mencari celah untuk bisa mengetahui apa yang ada di benak Ben saat ini. Panji tau, bagaimana karakter Ben selama ini. Ben adalah tipe orang yang tidak terlalu suka ikut campur masalah hidup seseorang, kecuali orang itu adalah seseorang yang istimewa dan berarti bagi hidupnya.


Ben menarik nafas panjang, diam beberapa saat lalu menoleh ke Panji yang duduk di sampingnya. "Iya."


"Nah! Kan! Apa kata gue! Ada udang di balik bakwan!"


Ben yang sudah ketahuan, hanya diam tanpa ekspresi. Dia tidak tau harus berbuat apa untuk menjelaskan perasaannya. Sebenarnya dia ingin menceritakan pada seseorang tentang perasaannya itu. Yah, dia jatuh cinta. Ben jatuh cinta pada Jeslin, sejak pandangan pertama. Tidak perduli apa yang terjadi padanya di masa lalu, bahkan walau Jeslin terbukti benar benar telah diperkosa oleh Ian seperti yang ia kira sekarang. Ben tetap menyukai Jeslin. Bahkan sekarang perasaannya justru makin kuat. Setelah mengetahui betapa kelamnya hidup Jeslin.


"Daniel pasti nggak tau tentang kakaknya," gumam Ben. Ia menatap jalan raya yang sudah sepi. Hanya ada satu dua kendaraan saja yang lewat sejak tadi.


"Iya."


"Kok lo bisa yakin?"


"Soalnya ... Astaga!" Ben teringat sesuatu. Kejadian itu kini membuatnya mengerti maksud dari sikap Jeslin beberapa waktu yang lalu. "Pantesan!"


"Pantesan apa?"


"Gue sempat ketemu Jeslin di dokter kandungan."


"Hah? Jeslin hamil?"


"Mana gue tau. Gue sempat tanya ke Daniel, kalau kalau Jeslin itu punya pacar, dan sekarang lagi hamil. Tapi kata Daniel, Jeslin itu nggak pernah pacaran. Dia itu selalu dingin sama cowok. Makanya gue bingung, kalau emang nggak punya pacar, kenapa dia ke dokter kandungan waktu itu. Jadi ini."


"Jadi dia mau memastikan kalau dia hamil atau enggak?"


"Nah."


"Terus dia hamil nggak? Kasihan banget sih kalau dia sampai bener bener hamil. Punya anak dari cowok brengsek kayak Ian, itu bagai neraka. Gue yakin Ian nggak mau tanggung jawab."


"Gue nggak tau dia hamil apa enggak."


"Ben ...."


"Hm?"


"Kalau sampai dia hamil ... Gimana?"


"Apanya yang gimana?"


"Ya ... Lo tau sendiri, kan, gimana Ian itu. Nih misal keadaannya gini nih. Jeslin diperkosa Ian, terus dia hamil, eh Ian nggak mau tanggung jawab. Lo bakal gimana?"


Ben diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Panji tersebut. Ia menatap Panji dengan tatapan serius. "Gue ... Bakal nikahin dia."


"Serius lo? Jangan bercanda, Ben. Pernikahan bukan main main. Masa lo rela nikahin cewek yang hamil karena hasil dari pemerkosaan. Bokap nyokap lo nggak bakal setuju, gue jamin!"


"Gue nggak peduli. Gue bakal nikahin Jeslin. Entah dia hamil, atau enggak."


"Lo kena pelet, ya, Ben? Baru kali ini gue lihat Ben segini nya ke cewek," tukas Panji sambil geleng geleng kepala.


"Sembarangan!"

__ADS_1


"Habisnya, lo bisa ngomong seyakin itu. Gue jadi penasaran, kayak apa sih, Si Jeslin ini?" tanya Panji.


"Dia cantik, lembut, setiap gue lihat matanya, jantung gue seakan mau copot. Gue belum pernah ngerasain ini sebelumnya, Nji."


"Halah, mungkin cuma grogi aja ketemu cewek cantik!" timpal Panji.


"Enggak! Bukan! Gue ketemu cewek cantik bukan cuma Jeslin doang, Nji. Sebelumnya banyak. Tapi cuma Jeslin yang gue rasa berbeda. Gue nggak bisa berpaling dari dia. Setiap ada dia, gue selalu pengen tatap matanya. Matanya itu ... Sendu. Sayu. Tapi ...meneduhkan. Gue ngerasa tenang setiap kali tatap mata dia. Gue nggak tau apa ini beneran cinta. Tapi cuma satu hal yang gue tau. Kalau gue selalu pengen ketemu dia lagi dan lagi. Sehari aja gue nggak ketemu dia, rasanya badan gue lemes, Nji."


"Anjir! Segitunya."


"Serius!"


"Iya iya. Gue percaya. Lo bener bener lagi jatuh cinta ini mah. Ya udah, gue ca kasih nasehat aja. Lo udah tau, kan, apa yang udah Ian perbuat ke Jeslin. Kalau pun Lo mau meneruskan untuk pendekatan ke dia, lo harus terima semua konsekuensinya."


"...." Ben terdiam. Nasi goreng tersaji di meja.


"Pertama, keluarga lo, pasti nggak akan setuju, kecuali masalah ini nggak pernah lo ungkit. Cuma ... Kita nggak tau apa yang akan terjadi di kemudian hari, kalau sampai berita tentang Ian tersebar setelah kalian nikah, gue yakin, lo berdua bakal di laknat sama orang tua lo. Semoga aja sih nggak disuruh cerai. Mungkin paling enteng, lo nggak kebagian jatah warisan lagi."


"Sialan! Gue nggak mikir warisan, dan nggak berharap harta Papa! Gue nggak perduli apa kata orang orang. Justru, setelah gue tau apa yang sudah terjadi sama Jeslin, keinginan gue untuk terus ada di dekat dia, justru makin kuat, Nji. Gue pengen selalu ada buat dia. Gue nggak mau ada orang lain yang nyakitin dia, kayak apa yang dilakuin Ian. Gue pengen bisa bikin dia tersenyum terus setiap hari."


"Bujug! Ben sekarang bucin banget!" Panji langsung menyantap nasi goreng miliknya tanpa memedulikan lagi ocehan Ben yang tak kunjung usai.


.


.


.


Jeslin sudah berada di bandara. Dengan memakai kaca mata hitam, dia menatap satu persatu penumpang yang sudah mulai turun. Dia terus mencari sosok yang sejak tadi ia tunggu.


Sampa akhirnya, Jeslin melihat sosok perempuan yang sedang berjalan seorang diri sambil menarik koper di tangan kanannya. Rambutnya yang panjang terurai membuat Jeslin yakin kalau dia adalah Astrid, sahabat lamanya.


Kedua wanita itu segera berpelukan erat. Menanyakan kabar masing masing juga perihal perjalanan Astrid di pesawat tadi. Kini Astrid dan Jeslin mulai meninggalkan bandara dengan mobil Jeslin. Ia memutuskan untuk ijin dari kantor hanya untuk menjemput Astrid.


Astrid sudah tidak memiliki sanak saudara di Ibukota. Kedua orang tuanya telah bercerai dan memilih untuk hidup jauh dari ibukota. Selama ini Astrid juga hidup sendiri. Ia lebih suka kebebasan ketimbang harus memilih tinggal bersama ayah atau ibunya. Karena itulah Jeslin bersikeras menjemput Astrid dan hendak membawanya ke apartemen. Untuk sementara Astrid akan tinggal dengannya, dna Jeslin tidak terlalu terganggu akan hal itu.


"Kamu kok kurusan, Lin?" tanya Astrid begitu mereka sampai di apartemen. Jeslin yang sedang mengambilkan Astrid minuman dari lemari pendingin lantas memperhatikan tubuhnya.


"Masa sih? Emangnya kelihatan banget?" tanya Jeslin yang tidak bisa melihat perubahan tubuhnya sendiri.


"Iya, Lin. Kamu jarang makan? Kenapa coba?"


"Sibuk, Trid. Banyak kerjaan. Kadang kalau udah di sini, aku suka mager buat cari makan."


"Kan bisa pesan makanan antar!"


"Enggak ada yang aku suka. Harganya beda jauh sama kalau kita datang ke tempatnya langsung."


"Itu sih cuma alasan kamu aja. Masa seorang Jeslin perhitungan soal keluar duit makan. Nggak mungkin. Pasti ada hal lain. Iya, kan?"


Jeslin diam sejenak. Dia yang sudah memegang minuman dingin miliknya, hanya menatap botol ygang sudah berembun itu.


"Cerita, Lin. Ada masalah apa? Wajah kamu beda. Kamu murung walau sejak tadi kita terus tertawa. Ada apa, Lin?" tanya Astrid yang mulai menerornya dengan banyak pertanyaan. Rupanya apa yang terjadi pada Jeslin, hal yang ingin dia tutupi dan berhasil ia lakukan pada semua orang, tidak bisa berhasil pada Astrid. Karena hanya Astrid saja yang paham ada hal yang sedang disembunyikan oleh Jeslin.


Isak tangis mulai terdengar dan membuat Astrid makin bingung.


"Trus ... Aku ... Aku."


"Kamu kenapa?"


"Aku ... Diperkosa."


"Hah? Apa? Kamu jangan bercanda, Lin. Kamu serius? Sama siapa? Kapan? Daniel tau? Kamu udah laporkan ke polisi?"


"Trus, dengerin dulu. Aku belum cerita apa pun ke orang lain. Baru kamu aja yang aku ceritain masalah ini."


"Astaga, Lin! Oke. Ceritain gimana awalnya, siapa laki laki bejat itu dan ... Semuanya! Kasih tau aku semuanya!"


"Dia ... Ian."


"Ian siapa? Aku kok baru dengar nama itu? Jadi kamu kenal dia?"


"Kenal, tapi nggak akrab. Ian itu ... Pacarnya Susan."


"Susan? Susan ... Saudara kamu itu? Loh dia udah cerai sama suaminya?"


"Belum."


"Loh kok belum, tapi ... Punya pacar? Oh, astaga, ngerti. Dia selingkuh? Oke terus?"


"Iya. Ya Susan ini kan sering nginep di sini, Trid. Dia kabur dari rumah, dari rumah suaminya. Aku mau bantu dia cari kerja. Jadi aku biarin dia di sini. Tapi aku lama lama tau, kalau Susan justru senang kabur dari rumah. Dia punya pacar baru. Dia Ian. Dan ... Semuanya terjadi sangat cepat. Aku ... Aku nggak mau ingat ingat itu lagi, Trid!" Jeslin menangis tersedu sedu.


Kini Astrid menarik tubuh Jeslin masuk ke dalam pelukannya. Ia mengelus lembut punggh Jeslin, sambil terus menenangkan sahabatnya yang makin menangis hebat. Astrid tau, kalau Jeslin sudah lelah menyimpan semua masalah ini sendirian. Jadi wajar kalau kini dia terus saja menangis. Apalagi hal yang terjadi adalah sesuatu yang sangat fatal. Pemerkosaan. Bahkan seharusnya hal itu tidak terjadi pada wanita sebaik Jeslin.


"Aku nggak mau kasih tau Daniel, karena ... Kasihan dia. Perusahaan Daniel lagi berkembang, kalau masalah ini muncul ke publik, aku yakin dia kena imbasnya. Tapi ... Ian ..."


"Kenapa lagi dia?"


"Dia mulai cari cari aku lagi, Trid."


"Hah? Maksudnya?"

__ADS_1


"Aku nggak tau mau dia apa. Tapi dia terus aja mencari aku, bahkan sampai ke kantor. Aku takut, Trid!" Jeslin menangis histeris.


"Astaga, Lin Lin. Oke oke. Nanti kita cari cara untuk menyelesaikan masalah ini, ya."


__ADS_2