Anomali Rasa

Anomali Rasa
Part 7 Nyaman


__ADS_3

"Ngga! Tunggu!"


Aku menahan tangan Angga yang hendak pergi dari halaman rumah. Beruntung ia berhenti agak jauh dari halaman rumah. Sehingga Mataku terus menatap ke teras rumah. Sosok orang di sana benar-benar membuatku ketakutan. Bahkan dia lebih menyeramkan daripada setan.


"Kenapa sih? Gue mau balik. Udah malam, udah sa ...."


Kututup mulut Angga sebelum dia meneruskan kalimatnya.


"Sstt! Jangan keras-keras ih! Tuh lihat!"


Angga yang sempat akan protes, mendadak diam dan menunduk, menyembunyikan tubuhnya sedikit. Ia turut serta menarikku mundur.


"Haduh gimana dong, Ngga? Itu orang ngapain di situ sih! Duh! Gimana ini!" kataku panik.


Angga diam. Lalu menarikku agar kembali naik ke jok motor belakang. "Yuk."


Dengan sedikit ragu, aku menurut saja padanya. Hingga motor melesat pergi menjauh dari halaman rumah. Bahkan aku sama sekali enggan menoleh lagi. Rasanya hanya mendengar namanya saja, membuat tubuhku bergetar karena takut. Luka yang ia toreh begitu dalam dan masih membekas hingga sekarang. Bukan lagi tentang pengkhianatan ataupun drama pertikaian remaja. Karena dia ... yang telah membuatku takut dekat dengan lelaki. Dia adalah salah satu alasanku masih sendiri hingga sekarang. Rasa bersalah dan takut membuatku menarik diri dari hubungan spesial dengan pria mana pun. Bahkan selama beberapa waktu kemarin, hanya Angga satu-satunya laki-laki yang sering berkirim pesan denganku secara intens.


Entah ke mana Angga akan membawaku pergi. Aku pun tidak begitu peduli. Asal berada jauh dari Idham, itu sudah cukup. Dan lagi, aku yakin, Angga laki-laki yang baik.


"Cha! Enak, ya, nasgor tadi."


"..."


"Cha, tau nggak, nasgor tadi bumbunya pake celana dalam abangnya?"


"Iya. Tau."


"Hmm."


Terdengar napas Angga sedikit berat. Aku tidak terlalu fokus padanya. Semua terasa abu-abu. Membuatku tidak bisa kembali merasakan warna di sekitarku. Gelap. Dingin. Dan mengerikan. Hanya tiga kalimat itulah yang sering aku rasakan dulu.


Sampai di sebuah perempatan lampu merah, kami berhenti di deretan paling depan. Spontan Angga menyanyi dengan suara lantang.


"Hati senang walaupun tak punya uang ... Oooo ...."


Suaranya benar-benar lantang. Hingga membuat orang-orang di sekitar kami menoleh dan menatap kami tajam. Seketika aku mencubit pinggangnya. "Angga ih!" Ia hanya tertawa lalu kembali melajukan kuda besinya menembus dinginnya malam kota Bandung.


Angga menepikan motornya. Ia turun, setelah menurunkan standar motor. Jongkok. Menekan-nekan ban motornya.


"Bensin ada. Ban juga aman," gumamnya berbicara sendiri.


"Hah! Kenapa motornya, Ngga? Macet? Rusak?" tanyaku sedikit cemas. Berada di sebuah jalan yang cukup sepi dengan motor rusak? Ah, itu bukan ide bagus.


"Nah ngomong juga akhirnya. Kirain gue dari tadi bawa karung beras!"


Kembali ia naik, duduk di depanku.


"Cha! Pegangan erat sama fokus ke jalan dan kasih tau gue buat rem, ya, " ucapnya sambil memegang tangan dan menarik hingga posisiku memeluk Angga.


"Loh?! Kok gue yang suruh rem?" tanyaku masih tidak paham dengan maksudnya.


"Karena dibalik seorang pria berkendara ada wanita yang kuat dan tau akan arahnya kapan dia harus berhenti dan menambah kecepatan," jelas Angga santai lalu menyalakan kembali motornya.


"Hah?!"


Gila kali, ya, ini orang.


Anehnya, tanpa sadar aku juga menarik kedua sudut bibirku. Terawa tertahan, dengan menutup mulut. Rupanya, ia kembali memberi warna hidupku dengan tingkah konyolnya. Dan ternyata dia lebih gila dari yang aku kenal sebelumnya.

__ADS_1


Saritem.


Angga memelankan laju motor. Mengamati kanan dan kiri jalan. Seolah mencari sesuatu.


"Angga ...?" panggilku sambil ikut menyapu pandang ke sekitar. Ada beberapa pemandangan yang membuatku terkejut.


"Hm?"


"Kok kita ke sini, sih?" tanyaku menaikkan nada bicara. Beberapa pasangan terlihat keluar dan masuk losmen sekitar kami. Penampilannya sedikit terbuka. Dan saat itu juga aku sudah bisa menebak. Kalau di sini adalah kawasan prostitusi. Di daerahku tempat seperti ini dinamakan gang sadar.


"Ya mau gimana lagi, Cha. Duitku tipis. Tanggal tua ini."


"Pakai duit aku dulu aja. Kita cari tempat lain deh."


"Udah ah. Nggak usah. Di sini aja. Lagian kalau di sini, bagus untuk kita. Merubah image atau mencoba tidak hanya nafsu yang diumbar. Ya kalau pun digerebek, paling kita dinikahin," sahut Angga santai. Mematikan mesin motornya. Dan mengajakku turun ke salah satu penginapan.


_____


Sebuah kamar berukuran 4x5 meter kini sudah kami booking untuk malam ini. Angga yang membayar semua. Walau aku menawarkan memakai uangku, ia tetap tidak mau.


"Udah?" tanyanya saat melihatku keluar dari kamar mandi sambil mengelap wajah dengan handuk.


"Sana. Katanya mules."


Ia masuk ke kamar mandi. Sementara aku duduk di atas kasur berukuran king. Semua kamar hanya menyediakan satu kasur besar. Yah, maklumlah. Aku bahkan sempat memeriksa kasur. Mengamati tiap detil seprai yang kududuki.


Bersih.


"Ngapain lu, Cha?" tanya Angga begitu keluar dari kamar mandi.


"Hah? Eh ... ini. Itunya. Eh, nggak kenapa-napa kok!" jawabku gugup.


Ia terkekeh lalu ikut duduk di depanku.


"Ih!" Kupukul lengannya, sambil mengigit bibir. Celetukannya sering kali membuatku terkejut dan tertawa.


"Ya bener, kan? Wahaha ...."


Hening. Angga sibuk mengelap wajah. Sementara aku membalas pesan Nova.


"Oh iya, Cha. Ngomong-ngomong. Itu cowok siapa sih? Kenapa elu segitu takutnya ketemu dia?" tanya Angga serius.


Aku menarik napas. Menatap manik matanya, dalam-dalam.


"Dia yang namanya Idham. Beberapa tahun lalu, gue pernah deket sama dia. Tapi sekedar bertemen aja sih. Cuma kami emang sering pergi bareng. Ramai-ramai sama temen lain. Terus ... pas kami lagi liburan di pantai, kami sewa penginapan dekat pantai. Di situ Idham mulai kurang ajar. Saat yang lain sibuk main di pantai, dia tiba-tiba masuk kamarku. Saat itu aku sendirian. Lagi ngerapihin barang. Terus ...." kataku dengan memelankan suara.


"Terus?"


"Aku diperkosa."


Angga mengerutkan kening. Seolah berpikir sesuatu yang hanya dia saja yang tau.


"Yang lain nggak ada di penginapan pas kejadian? Satu pun?"


Aku menggeleng pelan. Menahan gempuran air yang hampir tumpah di balik kelopak mata.


"Sejak saat itu. Gue pergi. Menghindari semua orang. Terutama Idham dan temen-temen yang lain. Gue pindah keluar kota. Bener-bener nggak mau lagi balik ke sana. Ah, kenapa malah ketemu dia di sini sih!" Entah rasa apa yang paling mendominasi sekarang. Sedih. Takut. Malu. Trauma. Ah, entahlah. Yang pasti, aku mulai tidak bisa tenang sejak melihat Idham ada di depan rumah tadi. Dia bagai sebuah teror baru yang sepertinya akan terus menghantuiku.


""Wah horor, ya, ceritanya. Sampai cerita Suzana aja kalah. Tapi ... tau kan, gue nggak suka cerita horor?"

__ADS_1


"Angga ih! Sebel!" Lagi, aku mencubit pria berkaca mata tebal di depanku. Entah sudah berapa kali hal ini kulakukan, terutama saat mendengar celetukannya. Reaksi yang sebenarnya jauh dari bayanganku. Namun, tiba-tiba ia langsung menahan tanganku. Menatapku dalam.


"Kalau kamu cari cowok yang bermasalah, aku mundur. Dan ... balikan aja sama dia. Tapi kalau kamu cari cowok yang mau nyelesain masalah dan bisa buat berdamai sama masalah, aku maju."


Kalimatnya tenang dan mantap. Bahkan terasa sampai ke dalam hati. Aku tidak menyangka Angga bisa berkata hal demikian indahnya. Sontak aku berhambur memeluknya. Saking tidak siap, Angga roboh ke belakang dengan aku di atas tubuhnya. Kami diam selama beberapa detik. Ia menggeser tubuhnya hingga kini aku berada di sampingnya. Pelukanku tidak kulepas. Kepalaku yang tepat berada di dadanya, membuatku bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang tak beraturan.


"Ah ... uh ... ah... uh..."


Suara desahan terdengar nyaring dari kamar sebelah.


"Cha ... itu orang kepedesan sampai segitunya, ya."


Aku menoleh ke atas. Menatapnya jengah.


"Cha ... elu jangan macem-macemin gue, ya. Nggak bawa pengaman ini," kata Angga kembali ngawur.


Aku makin mengeratkan pelukan. Dan makin membenamkan wajahku di dadanya.


"Diem jelek! Udah ... gini aja," ucapku masih memeluknya. Nyaman. Itu yang kurasakan. Perlahan emosiku, sedih, sakit sirna.


Aku memejamkan mata. Mencoba tidur karena hari sudah makin larut.


"Jenongnya silau euy."


Kembali ia menyeletuk santai. Aku berusaha tak bergeming. Hanya menarik salah satu sudut bibir yang kuyakin ia pasti melihatnya.


"Huft. Silau banget. Ini kalau goreng telur mateng kali, ya."


"Ah ... Angga ih!" rajukku lalu menutupi dahiku sendiri dengan tangan.


Hening.


"Yang ... napas, yang."


"Hmm ...."


"Man robbuka!" Kelakarnya membuatku sedikit tertawa dengan mata masih menutup.


"Allah," jawabku santai yang mendapat reaksi kekehan dari Angga.


"Ah ... ah ... uh ... ah...." celetukan kali ini yang membuat mataku kembali terbuka.


"Ngapain sih! Angga ih!"


"Wah ... bangun lagi. Wahaha."


Ia tertawa lepas dengan sangat puas melihat tidurku terganggu.


Kutarik hidungnya dan ia pun mengerang kesakitan. Kembali pelukan ke pinggang Angga kukaitkan. Dengan begini, aku yakin akan bisa cepat terlelap. Karena aku merasa aman. Dan nyaman.


Selama beberapa menit, ia sudah tidak bersuara. Hanya saja, napasnya yang tidak beraturan dan mengenai wajahku, membuatku tau kalau ia masih terjaga. Angga perlahan membelai kepalaku, lembut.


"Nah gini kan cantik kalau tidur. Nggak banyak omong."


Dahiku dikecup. Terakhir, ia ikut memelukku erat. Membuatku makin terbenam dalam dadanya yang bidang.


"Love you."


Samar aku mendengar kalimat itu. Hanya saja ini bagai mimpi. Seolah jalan yang membawaku terbuai dalam alam bawah sadarku sendiri. Mimpi indah yang sudah lama aku inginkan.

__ADS_1


Berada dipelukannya benar-benar membuat tidurku nyenyak. Kemarin, sekarang ... semoga ... esok. Dan juga selamanya.


_____


__ADS_2