
Sudah sekitar satu minggu Jeslin berada di Riga. Pekerjaannya mulai berkurang dan mereka memiliki kesempatan untuk berjalan jalan menikmati pemandangan dan wisata di kota tersebut. Tentu kesempatan itu tidak akan dilewatkan begitu saja. Mengingat dua hari lagi mereka akan pulang ke tanah air. Selama ini pun Jeslin dan Ben masih kerap berkirim pesan dan melakukan panggilan video setiap malam. Jeslin pun sudah mulai terbiasa dengan Ben, dan sikapnya perlahan mulai hangat.
[Jangan lupa sarapan dulu sebelum pergi, Jes. Terus ... Oleh olehnya buat aku, ya.]
Pagi ini mereka hendak jalan jalan sesuai dengan rencana semula. Bahkan sudah ada pemandu wisata yang siap untuk mengantarkan serta menjadi sumber informan untuk mengetahui berbagai hal tentang Riga.
Negara yang dikenal sebagai negara introver tersebut memiliki beberapa destinasi wisata yang menarik wisatawan dalam dan luar negeri.
Sebelumnya Jeslin membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Teman teman yang lain juga sudah membuat sarapan sesuai keinginan mereka. Tidak ada acara memasak untuk semua, karena mereka tidak sedang kkn di negara tersebut. Jika malas memasak, maka pilihan kedua hanyalah pergi ke tempat makan terdekat untuk memesan makanan siap saji. Jeslin juga kerap melakukan hal itu beberapa hari lalu. Entah untuk sarapan, makan siang bahkan makan malam. Tapi kali ini, dia ingin sarapan dengan membuat roti bakar sendiri. Ditambah salad buah serta susu rendah lemak.
Sambil menunggu teman teman yang lain siap, Jeslin makan makanan buatannya sambil memeriksa email di laptop miliknya. Hanya saja notifikasi pesan dari Ben membuat perhatiannya menjadi terbagi.
Saat ini Ben sudah berada di kantor dan baru saja selesai meeting. Dia menjadi makin rajin bekerja setelah makin dekat dengan Jeslin. Hal itu membawa perubahan besar dengan perusahaannya. Bahkan ini kali pertama Papa Ben memuji putra semata wayangnya itu. Ben juga telah melakukan banyak perubahan dalam perusahaan dan dia pun makin layak disebut sebagai ahli waris dari Gunawan, Papanya.
Jeslin membalas pesan Ben sambil tersenyum tipis di balik piring. Bahkan dia tidak menyadari kalau sejak tadi Balqis yang duduk di kursi depannya, terus menatap Jeslin intes.
"Heh! Ketawa sendiri! Lagi Wa sama siapa hayo," sindir Balqis dan membuat Jeslin sadar. Kalau dia ternyata tidak sendiri, dan teman teman nya sudah siap pergi, hanya tinggal menunggu Aqila saja.
"Apa sih? Enggak! Makan? Udah?" tanya Jeslin mengalihkan pembicaraan.
"Nanti aja ah. Belum lapar. Kita pergi jam berapa sih ini?"
"Tunggu Javier datang. Katanya dia yang mau jadi pemandu wisata kita." Aira masih mengeringkan rambut. Sementara teman yang lain, Bisma dan Brian sudah duduk di teras ditemani secangkir kopi.
Rupanya orang yang sedang mereka tunggu akhirnya datang juga. Javier muncul saat turun dari sebuah minibus yang akan membawa mereka semua jalan jalan selama seharian mengelilingi Riga.
"Asyik, Javier udah datang! Buruan!" pekik Balqis semangat. Dia segera mengambil tas yang hendak dibawa dan pergi keluar rumah menemui pemuda eropa tersebut.
"Eh, tunggu!" jerit Aira yang belum selesai berdandan.
Museum Terbuka Etnografi Latvia atau dalam bahasa inggris berarti Latvian Ethnographic Open Air Museum ini cocok bagi pengunjung yang menyukai suasana pedesaan yang tenang dan masih alami. Karena berada di tepi hutan lebat danau Jugla.
Ide untuk membuka museum yang baru terinspirasi oleh museum terbuka di Skandinavia, khususnya Skasen di Stockholm. Saat ini, museum menyelenggarakan banyak acara budaya, seperti konser rakyat dan festival tradisional dan kerajinan. Museum ini mempromosikan tradisional budaya Latvia dan gaya hidup dengan acara budaya tersebut. Pameran kerajinan tradisional tahunan telah diselenggarakan oleh museum sejak tahun 1971. Pameran kerajinan tahunan menjadi acara tahunan museum yang paling terkenal, dihadiri oleh puluhan ribu orang setiap tahun.
Museum saat ini menempati 87 hektar dan menampilkan 118 bangunan, serta lebih dari 3.000 item. Sebagian besar kelompok etnis bersejarah Latvia terwakili di museum. Koleksi museum menyimpan sekitar 150.000 artefak.
Museum luar ruangan ini juga memungkinkan pengunjung untuk mengenal tradisi Latvia dan kehidupan sehari-hari petani dan penduduk desa Latvia. Terdapat rumah-rumah desa, kincir angin, danau buatan, hingga gereja di dalam museum yang cukup luas ini. Mereka banyak belajar di tempat ini, bagai sebuah tur pelajar dan sangat mengagumkan.
Tempat kedua
Teater Nasional Latvia merupakan paling besar dan megah di negara ini. Teater ini dibangun antara tahun 1899-1902. Banyak acara budaya paling penting yang berlangsung di sini yang tentu menjadikan salah satu gedung teater paling penting di Latvia.
Arsitektur bangunan yang dimiliki juga begitu menakjubkan. Pada malam hari, lampu-lampu yang menyala di gedung teater ini menambah kesan yang begitu indah dan menakjubkan.
Tidak banyak yang mereka lakukan di sana karena sedang tidak ada pertunjukan yang bisa dinikmati saat ini. Lantas mereka pindah ke tempat selanjutnya.
Katedral Kelahiran Yesus atau dalam bahasa Inggris berarti Nativity Cathedral merupakan gereja yang mulanya Ortodoks kemudian diubah menjadi Lutheran selama Perang Dunia I tetapi setelah perang, kembali menjadi Ortodoks.
Gereja megah ini tampak begitu menakjubkan dari luar dan dari dalam juga tak kalah menawan. Di tempat ini mereka dapat melihat keindahan gereja kuno salah satu di dunia.
Selama era Soviet, salah satu ruang altar sisi gereja berubah menjadi sebuah kafe, yang pada orang-orang menjadi dikenal sebagai "telinga Tuhan."
Sadar kalau masih ada tempat yang harus dikunjungi, mereka bergegas menuju tempat selanjutnya. Yaitu Kota tua Riga.
Kota Tua Riga merupakan bagian dari daftar situs Warisan Dunia UNESCO. Tempat ini juga menjadi salah satu bagian terindah di Riga. Ketika berkunjung, wisatawan akan mempelajari segala sesuatu tentang budaya Latvia, melihat arsitektur unik, dan menghargai sejarah Latvia.
Bangunan-bangunan tua memiliki warna beragam yang tentu sangat menarik untuk ditelusuri. Terdapat pula berbagai monumen peninggalan sejarah yang juga akan membuat pengunjung makin mencintai Riga.
Riga Tua, atau, seperti yang dikatakan orang Latvia, Vecriga adalah kawasan bersejarah ibu kota Latvia dengan jalan-jalan sempit berbatu, bangunan abad pertengahan yang indah, halaman tua yang khas, dan sejumlah besar museum yang menarik. Di sini mereka dapat sepenuhnya merasakan pesona kota tua dengan mengunjungi pemandangan Riga seperti Dome Cathedral, St. Peter's Church, House of the Blackheads, Riga Castle, Big and Small Guilds. Setelah jalan-jalan yang menyenangkan, mereka pun dapat bersenang-senang di salah satu kafe atau restoran yang nyaman.
"Akhirnya makan juga!"
Latvia adalah salah satu negara yang tak hanya terkenal akan destinasi wisatanya yang populer, namun juga wisata kulinernya yang beraneka ragam. Makanan asal negara ini terkenal sukses menggoyang lidah para penikmatnya.
Salah satu hidangan yang menjadi buruan wisatawan adalah sup khas Latvia. Negara ini memiliki beragam sup yang bisa dipilih dan sebagian besar dari sup tersebut dapat menyehatkan tubuh.
__ADS_1
Mereka duduk di kursi masing masing. Sambil melepas penat, mereka menatap ponsel masing masing dengan beberapa hasil foto yang telah diabadikan sebelumnya.
Terletak di sebuah bangunan abad pertengahan di Kota Tua, Muusu telah mencoba membawa pedesaan Latvia ke restoran. Restoran ini dilengkapi dengan halaman belakang dan taman teras yang dipenuhi dengan tanaman-tanaman indah dan tanaman merambat yang berbelit-belit dengan atap. Suasana restoran sangat santai dan ramah karena stafnya sangat sopan dan penuh perhatian. Muusu adalah salah satu restoran makanan Latvia terkenal yang menyajikan hidangan yang menggugah selera dengan sentuhan Nordic. Mussu menjadi salah satu restoran paling dihargai di ibukota, pemesanan sangat direkomendasikan di sini. Restoran ini memiliki menu terbatas yang berubah setiap beberapa hari.
"Kalian pesan apa?"
"Aku ini aja." Jeslin menunjuk beberapa menu dengan tampilan gambar yang langsung ia suka, padahal dia belum pernah memakan nya sebelum ini.
Untuk makanan pembuka, dia memilih Rasol.
Rasol, salad kentang berlapis Latvia tradisional. Rachel Erdos
Salad kentang yang kaya ini terdiri dari beberapa lapisan daging dan / atau ikan (biasanya herring), telur rebus dan sayuran, semua disatukan dengan mayones dan krim asam. Ini sangat mirip dengan salad tradisional Rusia Olivier (dibuat pada pertengahan 1800-an oleh koki di restoran terkenal Hermitage di Moskow) tetapi akan ditemukan variasi berbeda yang disajikan di seluruh kota. Bahkan mungkin ada bahan-bahan seperti apel cincang, ubi bit, daun bawang, dan dill membuat penampilan juga.
Setelah Rasol habis, dia melanjutkan menyantap pangsit palmeni. Meskipun mereka mungkin tidak berasal di Latvia, pelmeni dimakan di seluruh Riga dan pasti pantas untuk dicoba. Sebuah persilangan antara pierogi Polandia dan tortellini Italia, pangsit kecil ini dibuat dengan adonan tak beragi dan diisi dengan daging cincang, sayuran atau keju. Mereka dapat disajikan dalam kaldu atau digoreng dan selalu datang dengan sesendok krim asam. Pergilah ke Pelmenu Sturitis, sebuah kios kecil yang dikelola keluarga di Pasar Sentral untuk semangkuk kue yang dibuat-buat-pesanan untuk sekitar 3 euro. Rantai restoran Pelmeni XL melayani pelmeni hingga pukul 4 pagi setiap hari Jumat dan Sabtu untuk kudapan larut malam. Jeslin dengan lahap memakan pangsit hingga habis.
Lalu hidangan terakhir adalah sip
Rupjmaizes zupa merupakan sup asli yang harus pengunjung cicipi ketika berada di Latvia. Makanan ini bisa menjadi makanan penutup yang sehat.
Sup ini dibuat dengan memanggang potongan roti gandum hitam terlebih dahulu, kemudian merebus potongan tersebut dalam air.
Saat sup dihidangkan, dapat dihias dengan berbagai buah dan beri kering, seperti apel, kismis, dan plum.
Aukstā zupa merupakan sup dingin ringan yang menyegarkan dan juga bisa disajikan sedikit lebih pedas. Sup ini memerlukan bahan yang terdiri dari kefir atau susu asam, bit rebus, lobak cincang, mentimun segar, dan telur rebus.
Sup ini diberi taburan beragam sayuran sebelum dihidangkan. Rahasia rasa yang unik dan menyegarkan terdapat pada rasa asam, manis, dan asin yang seimbang.
Sebelum penyajiannya, sup ini harus disimpan di lemari es selama kurang lebih dua jam. Hal ini perlu dilakukan agar dapat membantu meningkatkan rasanya.
Mereka semua sudah mulai lelah, tapi Kota tua Riga tidak membuat mereka menyerah untuk menjelajahinya. Mereka berpencar, selain untuk jalan jalan dan menghabiskan hari di kota tua, mereka pun juga berbelanja untuk oleh oleh keluarga dan kerabat di tanah air.
Jeslin mulai berbelanja banyak barang. Mulai dari makanan ringan sampai barang barang untuk orang orang terdekatnya. Ia membeli cokelat yang merupakan cokelat khas di Riga. Lalu
Mozartkugeln—sejenis truffle berlapis cokelat dengan isian nougat dan marzipan yang bercita rasa pistachio. Penganan ini juga kerap disebut dengan nama Mozart Balls karena bentuk truffle-nya yang cenderung bundar seperti bola.
Karena memiliki nilai sejarah, Licitar Heart diangkat oleh UNESCO pada tahun 2010 sebagai Representative List of The Intangible Cultural Heritage dari kebudayaan Kroasia. Selain Licitar Heart, beberapa jenis penganan khas Eropa Barat yang bisa Anda jadikan oleh-oleh.
Saat melihat Mass , Jeslin langsung teringat adik tersayangnya, Daniel. Mass adalah sejenis muk berukuran satu liter yang biasa digunakan masyarakat lokal untuk meminum bir.
Lalu begitu melihat jam tangan, dia teringat Ben. Tidak ada salahnya dia membelikan Ben jam tangan dengan merk asli negara tersebut.
Tidak hanya jam tangan, tapi juga sebuah sweater . Jeslin memilih sebuah merk ternama.
Knite wool sweater Dale of Norway. Selain membuat produk sweter rajut untuk dijual, beberapa jenis produk Dale sudah diakui kualitasnya dengan dijadikan sebagai pakaian tim ski nasional Norwegia sejak tahun 1950. Sweater itu bukan hanya untuk Ben saja, tapi Astrid dan Daniel juga dia belikan dengan motif dan warna berbeda.
Akhirnya semua sudah dibeli. Hari juga sudah sore, bahkan hampir gelap. Mereka pun pulang dengan bawaan yang begitu banyak. Ternyata mereka baru tau, kalau kepulangan mereka harus dimajukan, esok hari. Jadi besok pagi mereka akan pulang ke tanah air.
______
"Gimana jalan jalannya tadi?" tanya Ben. Kali ini mereka melakukan panggilan dengan skype lewat laptop, sehingga Ben dapat dengan leluasa menatap Jeslin yang sibuk mondar mandir mengemas barang bawaannya.
"Seneng! Tapi capek banget."
"Kamu beli apa aja? Banyak banget? Buat aku mana?"
"Ye, rahasia!"
"Is, ngapain pakai rahasia segala, toh aku udah lihat barang barang nya. Tapi kok banyak banget."
Jeslin duduk di ranjang dia menatap sekitar dan ternyata baru ia sadari kalau kamarnya cukup berantakan malam ini. Banyak tas dan kantung dengan berbagai jenis. "Mana ya, oleh oleh buat kamu ... bentar. Oh itu!" pekik Jeslin menunjuk ke sudut kamarnya. Ia segera mengambil benda itu dan menunjukkan pada Ben. "Semoga kamu suka. Aku cuma beli ini aja buat kamu, sama makanan juga sih."
"Coba lihat sweaternya?" pinta Ben.
Jeslin menunjukkan benda di tangannya dan menunjukkan ke Ben. "Gimana? Suka nggak?"
__ADS_1
"Wah, aku suka banget warnanya!" kata Ben sambil tersenyum. Padahal dia sangat benci warna merah. Tapi Jeslin justru membelikannya warna itu.
"Serius? Kamu suka? Syukur lah. Aku takut kamu nggak suka. Pas aku lihat warna ini, entah kenapa aku langsung ingat kamu."
"Terus apa lagi?"
"Eum, itu! Jam tangan!" Jeslin mengambil benda tersebut dan menunjukkan pada Ben. Ben yang sedang memakai jam tangan dengan merk dan seri yang sama, perlahan melepaskan benda tersebut dengan sembunyi sembunyi. Dia tidak ingin Jeslin mengetahui hal itu, karena tidak ingin mematahkan hati gadis tersebut.
"Jadinya kamu pulang pagi, kan, Jes?"
"Iya, Ben. Aku juga udah kasih kabar Daniel sama Astrid. Katanya Daniel lagi pergi, ya?"
"Iya, lagi ke daerah dia. Ada proyek di sana. Sebenarnya itu proyek sama aku juga, cuma Daniel duluan ke sana, aku nanti nyusul belakangan. Kerjaan ku masih banyak banget di kantor," kata Ben sambil mengusap wajahnya yang tampak kelelahan.
"Kamu capek, ya?"
"Sedikit kok. Nggak apa apa."
"Ya udah, udahan aja, ya. Aku juga mau tidur nih. Biar besok bangun pagi dan cepat pulang."
"Oh iya, bener. Kamu juga istirahat, ya.. Biar besok bisa bangun pagi. Lagian ... Kamu juga Pasti capek."
"Iya, ya udah, bye Ben." Jeslin melambaikan tangan pada pemuda di layar.
"Bye. Besok aku jemput ke bandara."
_____
"Yan, lo gila? Anjir, gimana perasaan Lidya kalau lihat ini?!" tanya Tessa sambil menunjukkan sebuah video di telepon genggamnya.
"Kenapa? Ya biar aja. Lagian gue udah bosan sama dia. Sebentar sebentar, Yang ... Ke sini, Yang ... Aku ini, Yang ... Aku itu. Hih, bawel banget nih cewek."
"Halah, paling lo udah dapat yang baru. Makanya yang lama ditinggalin. Iya, kan?"
"Sok tau lo!"
"Cewek mana lagi sih, Yan?"
"Mana ada baru. Justru yang lama."
"Yang lama? Siapa? Tumben lo mau balikan sama mantan?"
"Bukan mantan. Tapi ... Jeslin."
"Jeslin? Yang ... Mana, ya?"
"Bego! Itu ... Cewek yang waktu itu."
"Waktu itu kapan? Perasaan cewek lo banyak. Yang mana, kambing!"
"Ya ampun. Yang sepupunya Susan."
"Susan? Ooh ya! Inget! Hah? Lo mau balikan sama dia?"
"Bukan. Gue mau dia jadi milik gue."
"Maksud lo?"
"Lo inget kan, cowok yang udah bikin gue masuk rumah sakit waktu itu? Nah, gue mau balas dia, lewat Jeslin."
"Kok bisa? Apa hubungannya?"
"Gue yakin dia suka sama Jeslin. Jadi kalau hidup Jeslin hancur, maka dia pasti juga hancur, kan? Jadi nggak perlu pakai adegan pukul pukulan lagi. Udah nggak jamannya. Sekarang yang paling bener, adalah pakai otak sebelum bertindak!"
"Emangnya apa yang mau lo lakuin!"
__ADS_1
"Kita lihat aja nanti. Gue mau hancurin mereka semua. Dalam waktu bersamaan. Gue nggak terima atas perlakuan mereka kemarin. Mereka nggak tau aja kalau berhadapan sama siapa. Berani beraninya remehin gue!"
Ian menatap ponsel di genggamannya, dan sebuah video lama sedang ia putar sambil tersenyum sinis. "Kalau gue sebar ini, apa kalian bakal baik baik aja?" tanya Ian pada wajah seorang wanita yang pernah ia lecehkan beberapa waktu lalu. Yah, Jeslin. Video itu berisi adegan pemerkosaan yang telah dilakukan Ian. Tapi dalam video itu, justru tidak terlihat adanya pemaksaan seperti yang sebenarnya terjadi, karena Jeslin sangat lemah saat itu, dan suara yang ada dalam video disenyapkan.