
"Kita mau ke mana?" tanyaku yang sedikit bingung saat melihat Angga membawa motor ke daerah rumahnya.
"Rumah."
"Rumah siapa?"
"Rumah gue, Cuyung!"
"Tumben? Ada apa?"
"Lah, harus ada alasan memangnya? Pengen pulang aja, sambil ajak kamu. Soalnya ditanyain sama Ibu."
"Emangnya ibu bilang apa?"
"Ih si Once emang! Gini kata ibu, De ... Temen kamu yang kemarin, kok tumben nggak pernah ke sini lagi? Gitu katanya."
"Terus kamu jawab apa?"
"Temen? Yang mana sih, Bu? Kataku, sambil belaga bego aja."
"Yang cewek, gelis pisan. Yang maneh kasih air putih terenak sedunia!"
Sontak aku tertawa mendengar nya. Aku jadi teringat pada kedatanganku di rumah Angga pertama kalinya. Kalimat itu memang benar, Angga mengatakan hal itu di depan ibunya. Bukan karena air minum di rumah mereka adalah yang paling enak, tapi karena Angga malas membuat kan ku sekedar teh manis atau es sirup.
"Oh jadi karena itu, kamu bawa aku pulang ke rumah lagi? Kirain mau dilamar gitu. Biar greget!" tukasku dan membuat Angga melirik padaku.
"Emang siap?"
"Siap apa?"
"Itu tadi, lamar?"
"Eh, yang namanya lamar orang itu siap nggak siap harus siap. Lagian mau diterima atau ditolak, kan resiko yang melamar! Gimana sih?"
"Duh, nggak enak dong. Kalau tiba tiba ditolak. Sia sia deh perjuangannya."
"Dih, kamu itu nyebelin banget. Manusia yang nggak pernah mau ribet, pusing, dan kalah!"
"Ye, siapa juga yang mau pusing, dan ditolak. Nih, gue kasih tau, ya, Yang. Hidup itu udah ditakdirkan sama Tuhan, kita tinggal jalani. Tapi kita juga bisa memilih jalan terbaik. Mana yang menurut kita baik, mana yang membawa mudorot. Jadi, kalau gue ngelamar tapi ujung ujungnya ditolak, ya buat apa. Buang waktu dan energi."
"Astaga. Iya sih, iya. Tapi ... Ih kamu nyebelin!"
Selama perjalanan kami banyak bercanda. Sebenarnya bukan bercanda yang membuat tertawa, tapi justru membuat ku sebal. Kebiasaan Angga memang tidak berubah. Dia sangat senang membuat ku kesal. walau ujung ujungnya aku akan tetap tertawa setelah marah atau melakukan aksi ngambek ku padanya. Kami bisa diibaratkan kucing dan tikus dalam film tom and jerry. Sering berkelahi, tapi selalu membutuhkan satu sama lain.
Tanpa terasa, kami sudah masuk ke komplek perumahan Angga. Setelah melakukan beberapa belokan, kami pun sampai di rumahnya. Suasana rumah Angga masih sama seperti saat aku datang sebelumnya. Sunyi, sepi, dan menenangkan.
"Ibu di rumah, kan?" tanyaku agak ragu saat melihat tempat itu agak kosong. Biasanya jendela rumah akan dibiarkan terbuka, dan ada suara dari dalam. Entah tv atau lantunan ayat suci, bahkan suara pompa air yang menyala. Ibu Angga memang termasuk seorang muslim yang taat. Bahkan beliau adalah guru ngaji di lingkungan mereka. Memang agak aneh, saat ternyata putranya justru sering melakukan dosa.
"Di rumah. Paling di belakang. Masak mungkin," jawab Angga lalu membuka pintu rumah sambil mengucapkan salam. Dia lantas mengajakku masuk ke dalam. Aku lantas menempatkan diri, duduk di kursi ruang tamu.
Seluruh perabotan bersih, tanpa sedikit pun debu menempel. Aneka hidangan kue kering tersedia di meja. Angga pamit masuk ke dalam karena ingin berganti pakaian sekaligus memanggil ibunya. Aku cukup gugup kali ini. Entah mengapa suasana di rumah ini terasa lain setelah hubungan ku dengan Angga lebih dari sekedar teman kerja. Apalagi setelah semua yang terjadi di antara kami selama ini.
Wanita yang kini memakai daster, serta kerudung instan keluar, lalu tersenyum saat kami beradu pandang.
"Lama sekali nggak ke sini," sapa Ibu Angga. Aku beranjak lalu menyalami beliau dan berusaha terlihat sopan.
__ADS_1
"Iya, Bu. Banyak kerjaan kemarin. Baru sempat ke sini sekarang. Ibu sehat?" tanyaku. Kami lantas duduk berhadapan, hanya terhalang meja di depan kami sekarang.
"Alhamdulillah. Sehat. Ocha gimana? Kok makin kurus? Pasti nggak makan teratur, ya?"
"Oh itu ... Hehe. Iya, Bu. Kadang kalau malam suka lupa makan, karena udah capek, dan ngantuk. Kecuali sebelum pulang kerja udah beli makan atau makan di luar, baru deh Ocha makan."
"Hm. Memang anak gadis begitu, ya. Suka lupa makan."
"Orang tua di mana sekarang? Masih kerja?" tanya Ibu Angga yang membuatku heran, karena tidak biasanya beliau membahas masalah keluargaku.
"Oh, orang tua saya sudah meninggal, Bu. Tinggal nenek sama kakek uyut. Itu pun mereka sekarang di Bali."
"Ya Allah. Saudara bagaimana?"
"Saudara? Kebetulan saya anak tunggal."
Wanita di hadapanku beristigfar. Informasi yang baru saja dia dengar membuat wajahnya berubah drastis. Dia menatapku iba. Entah apa yang dipikirkan nya. Mungkin dia kasihan padaku. Karena hidup sebatang kara di dunia ini. Hahahaha.
Tak lama Angga muncul dengan kaus lengan pendek dan celana jeans sepanjang lutut. Wajahnya pun sudah segar. Tapi tidak hanya itu saja, karena seorang pria ikut berjalan di belakangnya, Papa Angga juga kini ikut duduk bersama ku.
Aku dan Anggaa duduk berdampingan. Orang tua Angga di depan kami. Obrolan demi obrolan tercipta walau aku sedikit gugup berada di antara mereka semua. Sampai akhirnya ...
"Pa? Ma? Angga mau minta izin," katanya dengan wajah serius.
"Ke mana?" tanya pria paruh baya di hadapan nya.
"Angga mau nikahin Ocha."
Aku langsung menoleh ke arah Angga. Melotot sambil meminta penjelasannya. Karena tidak ada diskusi sebelumnya mengenai hal ini. Jadi aku benar benar kaget.
"Kenapa? Udah sih, emangnya kamu nggak mau nikah sama aku?" tanya Angga padaku.
"Yakan namanya ngelamar cewek, mana ada yang di rencana. Kan biar mirip cerita di film romantis." Kami berdua justru sibuk berdebat sendiri, membuat orang tua Anggap hanya senyum senyum sambil menikmati teh yang sudah tersaji di meja.
"Jadi gimana? Jadi ngelamarnya? Serius apa bercanda?" tanya Papa Angga.
Otomatis kami berdua menatap kedua orang di hadapan kami lalu tersenyum malu malu.
"Jadi dong, Pa. Masa nggak jadi. Eh tapi kalau diizinin sih."
"Terus kalau nggak, nggak jadi gitu?" tanyaku menyela pembicaraan mereka.
"Ya enggaklah. Durhaka nanti gue."
Sebuah pukulan aku layangkan ke lengan Angga dengan bibir yang mengerucut sebal. Angga hanya terkekeh sambil mengacak acak rambutku. Begitulah jika dia sedang gemas atas tingkahku yang katanya baperan.
"Bercanda ih!" kata Angga setelahnya.
"Jadi ... Gimana? Mau dibahas sekarang atau nanti?" tanya Ibu.
"Eh sekarang, Bu!" sahutku spontan. Ibu dan Ayah Angga lantas tertawa.
"Ya sudah. Gimana, Angga? Kamu sudah yakin sama keputusanmu? Menikah itu tidak mudah. Kamu harus benar benar siap dengan semuanya. Ingat, hidup sekali, menikah juga harus sekali."
"Iya, Pah. Angga udah yakin kok. Angga udah pikirin masak masak, dan udah salat istikharah. Lagian angga takut banyak dosa kalau nggak nikah nikah. Hehehe," jelas Angga sambil menyenggol ku dengan mata berkedip kedip.
__ADS_1
"Hm? Dosa apa?"
"Dosa itu, Bu. Kan nggak boleh pacaran. Janganlah kamu, mendekati zina, kalau kata hadits riwayat itu."
"Ckckck. Dasar."
"Terus rencananya mau gimana?" tanya Papa Angga.
"Iya, Nak Ocha. Kami harus datang ke mana? Katanya tadi ... Keluarga Nak Ocha di Bali."
"Oh, iya, Bu. Eum, nanti Ocha bilang sama Om. Ocha punya Om di Jakarta. Paling cuma dia wali Ocha yang paling dekat. Om ada dua yang tinggal di Jakarta. Om dari pihak Mama dan Papa."
"Kalau wali nikah, kan dari pihak Papa kamu, Cha. "
"Iya, ya? Kalau gitu besok aku ke rumah Om Derry kalau gitu. Sekalian ke rumah Om Daniel juga."
"Om Derry itu adik Papa kamu?"
"Iya."
"Yang kemarin itu?"
"Iya, yang kemarin ke kantor kita."
"Kok kelihatan muda banget, ya?"
"Katanya nenek, Om Derry lahir setelah Papa udah dewasa. Umur Om Derry cuma beda beberapa tahun dari aku."
"Oh pantesan."
Rencana pertunangan sudah aku dan keluarga Bara bahas dengan singkat. Tugasku selanjutnya adalah membahasnya dengan keluargaku. Rasanya ada nyeri di dada, saat aku membayangkan betapa aku sendirian di Dunia ini. Keluarga terdekat hanya dua Om saja yang kumiliki saat ini. Nenek dan kakek uyut berada jauh Di Bali. Aku bahkan tidak tahu, apakah mereka bisa datang ke pesta pernikahan ku atau tidak. Mengingat usia mereka yang sudah cukup tua, untuk bepergian jauh ke Jakarta.
Acara pernikahan ku memang akan diadakan di Jakarta. Di rumah mendiang orang tuaku, yang merupakan rumah turun temurun keluarga. Dulu, Om Daniel yang tinggal di sana. Tapi setelah dia menikah, maka dia beserta istrinya pindah ke sebuah apartemen mewah, karena mencari yang dekat dengan kantor tempat mereka bekerja. Jadi rumah besar itu sudah tidak lagi berpenghuni. Hanya ada asisten rumah tangga yang memang menjaga rumah itu selama ini.
[Oke. Kapan kamu pulang?] Balasan pesan dari Om Derry, membuatku segera membalasnya. Om Derry memiliki banyak rumah. Di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Dia memang seorang pengusaha sukses dengan banyaknya cabang perusahaan di kota kota besar tersebut.
Rencananya aku akan pulang ke Jakarta saat weekend nanti. Aku harus menemui keluargaku untuk rencana selanjutnya.
***
Hari ini, rumah yang biasanya sepi, sudah mulai tampak ramai. Beberapa orang tampak hilir mudik mengurus keperluan dekorasi. Aroma masakan yang sudah datang dari salah satu catering kenalan Mama, membuat aku mulai lapar. Karena sibuk nya kegiatan hari ini, aku sampai lupa makan sejak siang tadi. Tapi aku tidak mungkin tiba tiba makan di saat sedang menunggu keluarga Angga datang. Yah, ini sudah pukul 19.00. Rencananya Angga akan datang sekitar pukul 19.30. Jadi sebelum waktu itu tiba, kamu harus sudah menyiapkan segala sesuatunya.
Tak lama suara di luar memberitahukan kalau keluarga Angga sudah mulai memasuki halaman rumah. Aku mulai gugup, karena ini adalah pertama kalinya aku dilamar seseorang. Keluarga besar ku sudah berkumpul, bahkan kakek dan nenek buyutku yang berada di Bali juga bisa datang. Aku terharu. Karena awalnya aku berpikir akan mengurus semua sendiri. Hanya dengan keluarga Om Derry, dan Om Daniel. Tapi ternyata semua saudara lain, hadir. Keluarga dari adik dan kakak nenek buyutku. Semua berkumpul. Acara ini justru menyatukan semua keluarga yang sudah sangat lama sekali tidak saling bertemu dan bertegur sapa.
Angga masuk, sambil tersenyum saat menatapku. Dia sedikit melotot sambil tersenyum penuh arti. Lalu tak lama menunjukkan ibu jarinya, yang mengartikan sesuatu yang bagus. Mungkin dia akan mengatakan kalau penampilanku bagus. Karena aku memang jarang sekali berdandan dengan total seperti ini.
Akhirnya acara pun dimulai. Cincin yang tersemat pada jari manis ku dan Angga melambangkan ikatan kami yang sebentar lagi akan memasuki jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Rencananya pernikahan kami akan dilangsungkan dua bulan lagi. Kata orang tua dan wali kami berdua, lebih cepat lebih baik.
Menikah itu komitmen jangka panjang yang berlaku seumur hidup. Orang yang memutuskan untuk menikah adalah orang-orang yang berani berkomitmen sepanjang hayatnya untuk menghabiskan waktu dengan orang yang diyakini menjadi pasangan hidupnya. Menikah bukan sesuatu yang mudah. Menyatukan dua insan dengan banyak perbedaan tentu saja butuh banyak perjuangan.
Kami pun menikah. Dua bulan setelah tunangan digelar. Semua teman, kerabat, dan saudara datang ke acara resepsi pernikahan kami. Kami menyewa gedung untuk memudahkan segala urusan.
Aku dan Angga duduk di pelaminan. Senyum pria di samping ku tampak senang, apalagi saat kawan kawannya datang yang berjumlah puluhan orang. Angga memiliki geng yang sejak kuliah selalu bersama. Yang diberi nama Pasgabat. Artinya pasukan gagal tobat.
Hampir semua teman gang yang datang sudah memiliki pasangan bahkan anak. Hingga ucapan selamat membuatku yakin, kalau Angga memang sudah menunggu momen ini. Hari di mana dia melepaskan masa lajang.
__ADS_1
Aku juga bahagia. Sangat. Akhirnya aku menemukannya. Pria yang benar benar aku butuhkan. dengan segala kekurangan, sikap menyebalkan yang dia punya. Kami saling melengkapi. Dan aku mencintai Angga sampai maut memisahkan.
TAMAT