
Embusan napas terasa hangat menerobos wajahku. Semilir angin dari arah lubang angin membuatku makin merapatkan tubuh ke dekapannya. Nyaman dan hangat. Sadar akan sesuatu yang aneh, sontak mataku membulat sempurna.
Siapa, ya, ini?
Saat aku mendongak, wajah seorang pria dengan tahi lalat di dagu membuatku kembali tersadar akan kejadian sebelumnya.
"Oh iya ... Angga, ya?!" Aku bertanya pada diriku sendiri. Mengingat alasan kenapa dia kini ada di depanku. Memeluk dengan santai. Tanpa terlihat penolakan dari diriku sendiri. "Bener. Kan semalem aku tidur di hotel sama Angga, ya?"
Dia masih terlelap. Dengan posisi tangan kanan yang tertindih kepalanya sambil memelukku. Aku yang masih berada dipelukannya hanya bisa terdiam sambil terus memandanginya. Melihat wajah Angga dari jarak sedekat ini, dan saat dia diam adalah suatu keanehan. Jarang sekali dia bisa diam. Sebentar saja biasanya dia langsung mengeluarkan jurus ejekan padaku. Setelah itu pasti akan kupukul dia bertubi-tubi.
Kubelai lembut wajahnya. Penuh mesra. Inchi demi inchi tak luput dari usapanku. Dahinya, matanya, pipinya, hidung, bibir, hingga dagu. Wajahnya terlihat lucu. Bahkan aku sampai menggigit bibir menahan tawa. Jangan sampai dia terbangun. Bisa kacau.
"Gue tau elu terpesona banget sama wajah ganteng gue, Cha. Sok atuh... nikmatin aja."
Kalimat barusan mampu membuatku segera menarik tangan. Lantas menghempaskan tangannya yang tadi masih ada dipinggangku, beranjak menuju kamar mandi. Meninggalkannya dengan teriakan gila yang biasa keluar dari mulutnya.
"Hey! Udah? Nggak mau gue peluk, lagi? Cha!" jerit Angga yang masih bergelung dengan selimut.
Dasar sinting!
Senyum tersungging dibibirku manakala pintu kamar mandi kututup. Membayangkan nya saja selalu membuatku tertawa. Sikap Angga sering membuatku tertawa. Baginya itu hal yang basi dan tidak layak untuk ditertawakan, tapi tidak denganku. Mungkin karena aku jarang tertawa?
Walau aku berusaha mati-matian mengelaknya, tapi perasaan ini begitu kuat menyiksa. Menyiksa logika yang sejak awal kubangun. Menggelitik hati hingga aku tergelak. Sejak awal, aku tidak mau lagi jatuh cinta. Apalagi dengan Angga. Terlebih karena peringatannya dulu.
Tapi, kini aku kalah. Aku kembali kalah dengan cinta. Rasa yang memang aku ingin'kan bisa kurasakan kembali, namun juga rasa yang paling aku takuti.
Berkali-kali aku selalu gagal dalam suatu hubungan. Disakiti, dikhianati, dan ditinggalkan. Entah dosa apa yang sudah kulakukan dulu. Mungkin tuhan memang sedang menggodaku. Atau memang aku terlahir sebagai seorang pesakitan? Sakit oleh hati.
_____
"Ngapain aja? Lama banget!" gerutu Angga saat aku baru saja membuka pintu kamar mandi dengan rambut basah.
"Mandilah!"
__ADS_1
"Tuh! Sarapan dulu. Baru berangkat ngantor," kata Angga, menunjuk meja yang sudah berisi dua piring nasi goreng dan dua cangkir teh hangat. Ia pun segera masuk ke kamar mandi.
Dia memang menyebalkan. Sangat. Entah sudah berapa kali aku dibuat kesal olehnya. Tapi, dibalik sikapnya yang seenaknya, dia juga peduli padaku. Dia baik. Tentu dengan gaya khasnya sendiri.
Dan, kali ini aku benar-benar kalah oleh keadaan. Lagi. Aku jatuh cinta. Aku mencintainya. Angga Deriana. Yah, Dia bagai senja. Hanya muncul sekali dalam sehari. Namun sinarnya mampu menghangatkan dan menenangkan. Membuatku betah berlama-lama menikmatinya. Saat melihat senja, semua pelik dan lelah selama seharian, luruh begitu saja. Berganti senyum dan tawa. Sama seperti saat aku bertemu Angga.
Dia bagai senjaku.
Senja jingga dilangit biru.
Yang memberi warna baru dalam hidupku.
Aku berharap bisa menatap senjaku setiap saat.
Bersamanya. Selalu.
Hanya saja ... apakah aku bisa memilikinya?
Sementara senja hanya datang semaunya.
Senja pasti akan menghilang.
____
"Ngga ...."
"Apa?
Ia masih fokus menyuap nasi goreng ke dalam mulut. Menanggapi dengan sekedarnya. Rasanya Angga harus tau apa yang kurasakan. Dengan begitu aku lega. Sekali pun jika reaksinya tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Aku harus siap.
"Aku ...," ucapku memelankan suara, ragu.
"Hm?"
__ADS_1
"Boleh nggak kalau aku sayang sama kamu?" tanyaku tanpa basa basi.
"Uhuuk ... Uhuuk!" Ia benar-benar tersedak hingga akhirnya meneguk teh hangat di samping.
"Maksud kamu apa, Cha? Gue nggak salah denger?" tanyanya serius.
"Beneran. Aku suka sama kamu. Maaf. Ini bener-bener nggak bisa aku atur semauku."
"Tapi kan gue pernah bilang sama kamu, jangan baper. Kamu bilang, iya."
"Iya. Aku tau. Tapi gimana lagi dong. Udah terlanjur gini. Dan lagi, aku cuma bilang aja ke kamu. Bukan berarti aku nembak kamu, kan, Ngga," terangku gelisah.
Sebelum kami bertemu, kedekatan kami memang sudah amat dekat. Dan Angga pernah memperingatkan, jika aku tidak boleh terbawa perasaan saat bersamanya. Dia bilang hatinya sudah beku oleh masa lalunya. Entah seperti apa pelik kisah cintanya, karena dia tidak pernah mau membicarakannya padaku. Dan dia bilang, dia belum mau menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Itu yang dia bilang dulu.
Tapi nyatanya, aku sudah terjebak dalam pusaran perasaan ini. Anomali yang seharusnya bisa kuhindari. Anomali rasa ini. Yah, keanehan rasa ini tidak bisa kuhentikan. Semua mengalir begitu saja. Tumbuh subur seiring berjalannya waktu. Meninggalkan tanya dan harapan semu.
"Oke. Biar kita bahas masalah ini sekarang," kata Angga serius. Mengeser piring yang belum sepenuhnya habis,"Sejak kapan?"
"Aku nggak tau."
"Alasannya apa?"
"Aku nyaman. Kamu pikir dengan semua yang udah terjadi, aku nggak bisa punya rasa kaya gini?! Kamu udah bikin aku nyaman dengan semua sikap kamu! Dan sekarang, aku bener-bener udah terjebak. Lagian aku udah bilang, aku bukan nembak kamu. Aku cuma mau kamu tau."
Angga menarik napas panjang. Reaksiku yang sedikit menggebu mampu membuat air mukanya berubah. Mungkin ia sadar kalau aku benar-benar serius. Dan kini aku ingin melihat reaksinya. Jantungku berdegup tak beraturan. Layaknya sedang menaiki roller coaster di wahana bermain. Begitu perasaanku.
"Gini, Cha. Gue akui, gue juga seneng ada kamu. Gue seneng kamu masuk ke hidup gue. Walau kamu sering liat mantan nganter makan atau apa lah. Tapi nggak ada nih gue ada chat sama dia," jelas Angga menunjukan pesan pribadinya padaku. Hanya ada namaku diurutan teratas. Sisanya grup-grup yang ia miliki. Lalu keluarga. "Gue akui, gue juga nyaman sama kamu. Tapi ... maaf. Untuk perasaan ... belum ada."
"Iya, aku tau. Nggak masalah. Yang penting kamu tetep ada di sisiku. Nggak peduli kamu ada perasaan sama aku atau enggak. Aku butuh kamu sekarang," rengekku layaknya anak kecil yang sedang meminta diperhatikan.
"Iya. Pasti. Gue selalu ada buat kamu. Walau nggak setiap saat gue ada di samping kamu, tapi gue pastiin, saat kamu butuh gue, gue pasti ada."
Angga beranjak lalu menarik tanganku. Mendekapku erat. "Sorry... gue harap kamu nggak berubah setelah ini."
__ADS_1
____
Berpura-puralah kamu mencintaiku, sampai kamu lupa bahwa kamu sedang berpura-pura.