
Kuhempaskan tubuh lelahku di kursi. Derit suara mendecit tercipta saat aku menggerak-gerakannya dengan berputar kecil. Mencari posisi nyaman dengan menengadah ke langit-langit, menutup kedua mata, jengah. Tidak berniat tidur, hanya mencoba menetralkan napas yang tak beraturan. Sekaligus menata hati yang berantakan.
Suasana kantor masih sepi. Hanya ada Pak Kardi yang sedang menyapu lantai dengan kain lap yang tersampir di bahu kirinya.
"Kok sendirian, Neng? Sudah makan?" tanya pria yang kutaksir sudah berumur 60 tahunan, dengan uban di hampir semua helai rambutnya.
"Sudah, Pak. Nova lagi ke HRD ada urusan katanya. Bapak sudah makan?" tanyaku balik, masih dengan posisi sama, hanya menolehkan wajah 90°. Mencoba menghargai lawan bicaraku saat ini.
"Alhamdulillah. Sudah. Dapat jatah makan dari Pak Eko."
"Alhamdulillah." Kunyalakan komputer sambil membereskan beberapa barang yang ada di meja, diiringi senyum tipis di bibir, mengklamufasekan rasa gundah yang makin gencar mengusik hati.
Jarum jam sudah bergeser 5 menit lebih banyak dari jatah istirahat siang ini. Tak lama derap langkah beberapa orang terdengar menggema di koridor. Pintu terbuka. "Nih, Cha. Buat elu," kata Rahma, meletakan segelas kopi di mejaku.
Aku meliriknya, menaikkan sebelah alis. "Kan nggak pesen kopi tadi?"
"Iya. Sengaja. Abisnya tu muka asem bener dari pagi," kata Rahma santai. Kembali ke mejanya dengan segelas kopi yang sama denganku.
"Emangnya sayur!" cetusku dan menyeruputnya beberapa teguk.
Ah, tau aja dia.
Ruangan sudah mulai ramai. Semua sudah masuk kembali ke kantor dan akan memulai aktifitas seperti biasa. Pekerjaan masih menumpuk dan menuntut untuk segera diselesaikan.
Angga dan Tari baru saja masuk. Tari menatapku sinis. Sementara Angga menatapku cuek. Entah kenapa, tubuhku bergetar. Degup jantungku mulai berpacu tak teratur. Panas dingin, hingga bulir keringat mulai muncul di dahi, kuraih tissue di meja. Dan menyapunya kilat.
"Gerah?" tanya Nova, melirik ke Ac yang tepat ada di atas kami. "Nyala padahal, suhunya paling rendah lagi, Cha. Lu masih gerah?"
"Toilet ah," sahutku, tak menanggapi ucapan Nova. Sementara Nova hanya berdecak sebal.
Air dingin mulai membasahi wajahku. Segar namun tak membuat perasaanku tenang. Kaca di depan menjadi saksi wajah masam yang sejak pagi kuperlihatkan. Berkali-kali aku mengutuk mereka berdua dalam hati. Memang benar. Rasa cemburu sungguh tidak mengenakan. Membuatku uring-uringan dan tidak bisa fokus melakukan hal lain. Termasuk pekerjaan.
Aku kembali dengan langkah gontai. Semoga kopi dari Rahma tadi, mampu membuat moodku lebih baik. Yah, semoga saja. Walau sebenarnya aku tidak butuh kopi. Aku hanya butuh ... dia. Sapaannya. Senyumnya. Atau hanya tatapan matanya.
"Arrgh! Bego!" Kupukul kepalaku beberapa kali. Sejak keluar toilet hingga koridor, masuk ke ruangan.
"Hape lu getar mulu, Cha," kata Nova menunjuk gawai yang kuletakan di meja.
Dengan malas-malasan kuraih benda pipih itu dan menaikkan sebelah alis.
Idham?!
5 panggilan tak terjawab dari Idham mampu membuat pikiranku teralih. Kuketik pesan padanya. Untuk menanyakan hal sederhana. "Apa?"
Namun setelah menunggu beberapa menit lamanya, pesanku belum juga terbaca bahkan hanya menampilkan centang abu 1. Dan hal itu justru menggelitik rasa penasaranku.
"Apa aku perlu nyamperin si kunyuk, ya?" batinku, menggenggam erat benda pipih silver ini dekat dengan dadaku.
"Bener juga. Nggak ada salahnya."
______
__ADS_1
"Lu mau ke mana sih, Cha?" tanya Nova saat melihatku terburu-buru membereskan meja.
"Lu pulang sama Uci aja, ya. Gue ada urusan."
"Sok sibuk banget lu. Perasaan Angga anteng aja," sindir Nova melirik Angga yang masih memainkan gawai ditangan.
"Ck! Apa, sih!" dengusku, menatapnya jengah.
"Ya habis, biasanya kan gitu. Elu kalau ada perlu perginya sama dia," tukas Nova meneliti mimik wajahku yang selalu kesembunyikan darinya.
"Ya udah, ya. Bye!" Tanpa peduli lagi tanggapan Nova, kuputar handle pintu. Lalu saat menutupnya, aku melirik sekilas pada Angga. Berharap ia menoleh padaku walau sebentar, tapi ternyata Tari kini sudah ada di sampingnya.
Braaak!
"Brengsek!" umpatku kesal, berjalan dengan cepat menuju lift. Dengan emosi yang benar-benar membuncah.
Sebelum keluar dari kantor, aku memesan gocar dari aplikasi daring. Dan hanya dalam hitungan menit, sebuah mobil sedan sudah berhenti tepat di depanku. Mungkin pengemudinya sudah hafal gerak gerik pelanggannya. Hanya dengan melihatku sedang berdiri di pinggir jalan, memegang gawai, ia sudah tau kalau aku yang memesan jasanya.
"Sesuai aplikasi, ya, Teh."
"Iya, Bang."
Aku mengirim pesan ke beberapa temanku yang juga mengenal Idham dengan baik. Mencari tau di mana lokasi yang tepat untuk menemukan laki-laki yang sebenarnya tidak ingin kulihat lagi di dunia ini.
Setelah 40 menit perjalanan, aku sampai di sebuah cafe yang menurut informasi yang kuterima adalah cafe milik Idham.
Setelah masuk, seorang waitres menghampiriku. Dan melakukan custumer service yang sepertinya berlaku di cafe ini. Ia mengikutiku terus sampai aku mendapat meja yang kuinginkan.
"Mau pesan apa, Kak?" tanya wanita itu, menyodorkan sebuah buku lebar dan tipis.
"Capucino aja,"kataku sembari memberikan lagi benda tersebut setelah dirasa tidak ada lagi yang ingin kusantap. Sepertinya cacing diperutku sedang berpuasa hari ini.
"Kopinya mau arabika atau robusta, Kak?"
"Robusta."
Ia pamit. Aku sengaja memilih meja yang letaknya dekat jendela. Entah mengapa aku sangat menyukai posisi seperti ini. Menatap jendela dengan pemandangan taman cafe yang di design sedemikian rupa. Selera seni Idham memang cukup bagus. Walau aku tidak lama mengenalnya dulu, tapi Idham termasuk tipe perfectionis dalam hal pekerjaan.
Tak lama kopi tersaji di depanku. Sebelum waitres pergi, aku menahannya untuk mengorek sedikit informasi.
"Pak Idham sudah 3 hari tidak datang, Kak. Apa ada pesan? Nanti saya sampaikan."
"Oh gitu. Ya udah nggak usah. Terima kasih, ya."
Kecewa. Yah, entah sudah berapa kali aku kecewa hari ini. Oleh sikap Angga dan kini ... Idham. Sebenarnya aku hanya ingin melampiaskan amarahku saja. Rasanya akan lepas jika berhadapan dengan Idham. Emosi yang memang kubendung bertahun-tahun lalu, dan juga emosi karena sikap Angga hari ini.
"Ke mana sih si Idham. Kalau nggak dicari nongol terus, giliran mau aku temuin eh malah ilang. Kan sialan!" umpatku berbicara sendiri, meraih kopiku dan menghirupnya pelan. Menyesapnya hingga merasakan rasa yang memang kusuka. Setidaknya hanya ini yang mampu membuatku tersenyum, walau hanya sebentar.
"Tapi kalau memang dia tadi ada, aku mau apa? Apa nggak bahaya kalau tadi dia beneran ada di sini? Dia kan agresif dan sedikit punya kelainan jiwa. Psiko!"
"Ah, tapi cafe ini juga ramai. Jadi pasti dia nggak akan berani macam-macam. Eh, mungkin sih."
__ADS_1
"Awas aja kamu Idham! Aku sumpahin kamu nggak bisa merem! Biar mirip zombie. Jelek dan pelan-pelan mati! Jadi nggak perlu lagi gangguin aku dan ada korban lain!"
Sempat berpikir aku sedikit sinting. Berdialog dengan diri sendiri. Hanya saja, begini lah aku. Itulah kenapa, aku betah menyendiri seperti ini. Terlebih jika suasana hatiku sedang tidak nyaman.
Hujan baru saja mengguyur kota Bandung. Kopi yang tersaji sangat pas dinikmati disaat seperti ini. Tubuhku menempel pada meja. Mengaitkan kedua tangan di depan wajah. Menutupi separuh wajahku dengan bertumpu di atas meja berwarna putih tulang khas cafe ini.
Perhatianku sepenuhnya ada di balik kaca jendela yang mengembun karena air hujan. Menatap hujan yang jatuh ke bumi, sama artinya mengenang masa-masa indah yang pernah kualami. Aku seolah ditarik mundur jauh ke belakang. Mengingat kejadian saat pertama kali datang ke kota ini. Pertama kali aku bertemu Angga secara langsung. Pertama kali kami berdebat mengenai hal-hal sepele, dan pertama kali aku tidur dipelukannya. Rasa nyaman yang awalnya hanya ada dalam halusinasiku saja, kini benar-benar terwujud. Tapi ... tiba-tiba bayangan Tari muncul. Dan merusak segalanya!
"Ah, sial! Sial! Sial! Kenapa harus dia sih! Jahat eh si Angga! Nyebelin!"
Teguk demi teguk kopi kusesap. Tanpa memperdulikan sekantung gula di meja. Buatku rasa pahit kopi ini lebih lezat dibanding sikap Angga.
Kutarik napas dalam-dalam. Menghirup bau tanah basah yang sudah lama kurindukan. Sama seperti aroma tubuh Angga yang sama-sama kuinginkan.
"Ah! Sebel! Kenapa dia terus sih yang muncul! Argh!" umpatku berbicara sendiri, menjambak rambut, frustasi. Sepertinya aku sudah benar-benar menjadi budak cintanya.
Kopi sudah tandas sejak beberapa menit lalu. Namun tubuhku enggan beranjak dari kursi ini. Bagai magnet yang berbeda kutub, membuatku terus menempel, tak bisa terlepas begitu saja.
Hingga dering gawai terus mengusik lamunanku. Sudah 25 panggilan tak terjawab dan 154 pesan dikirimkan dari orang yang sama. Hanya saja bukan dia yang kuinginkan. Maka dari itu, sejak panggilan pertama, aku hanya melirik benda pipih itu sekilas dan kembali menatap keluar jendela. Beberapa kali kutempelkan telapak tanganku pada dinginnya kaca. Berharap bisa menembusnya dan dengan mudah menggapai hujan di luar sana. Sementara hujan terus saja turun dengan deras. Seperti mengerti suasana hatiku yang sedang kandas.
Cafe yang makin ramai, akhirnya benar-benar membuatku tidak nyaman. Terlebih beberapa kali pria dan wanita yang berpakaian sama, terus menatapku sinis. Ah, aku mengerti. Mereka tidak suka melihatku terus di sini. Hanya memesan secangkir kopi. Tanpa mau beranjak dari tempat ini padahal kopiku sudah tak bersisa lagi.
Kutegakkan tubuh. Memasukan gawai ke dalam tas. Dan melenggang keluar cafe dengan santainya. Tak peduli lagi tatapan sinis mereka di dalam. Toh mereka hanya pegawai. Jika sampai pemiliknya juga melakukan hal yang sama, kupastikan cangkir kopi milikku akan mendarat mulus di wajahnya.
____
Sampai di luar, angin menerpa wajah dan tubuhku kasar. Hujan berganti badai. Beruntung kilat maupun petir absen malam hari ini. Maka dari itu, aku keluar cafe dengan ringan, tanpa beban. Menerobos guyuran hujan yang kini sudah terasa hingga kulit tubuhku. Beberapa pengemudi taksi maupun pria berjaket hijau di pinggir jalan meneriaki ku. Menawarkan jasa mereka. Entah iba atau karena target mereka hari ini belum tercapai. Namun hanya kutanggapi dengan senyum sinis.
Aku bergeming. Saat sampai di sebuah zebracross. Memikirkan tindakan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Kembali berjalan di bawah dinginnya langit dan selimut hujan, atau memilih jasa salah satu dari mereka untuk mengantarku pulang?
Kulirik jam dipergelangan tangan. 21.30. Belum terlalu malam dan sepertinya letak rumah tidak begitu jauh dari tempatku berdiri sekarang. Lampu merah berganti hijau. Pertanda pejalan kaki sudah boleh menyebrang jalan. Tidak hanya aku yang ada di jalan ini, melainkan ada beberapa orang lainnya. Namun dengan keadaan yang berbeda. Mereka menggenggam tongkat panjang yang lebar di atasnya. Melindungi setengah tubuh mereka dari basahnya air hujan yang sepertinya tak berniat mengurangi intensitasnya. Walau sepatu hingga celana mereka tak dapat terhindar dari cipratan hujan di bawah yang memantul tinggi ke atas. Sementara aku, dengan santainya berjalan tanpa takut basah atau dingin. Aku penyuka hujan. Dan ini bukan hal aneh. Karena aku pun sering melakukan hal ini sesekali.
Langkah demi langkah ku telusuri trotoar. Menunduk, menatap kakiku sendiri yang sudah kotor terkena tanah basah yang sedikit menjijikan. Hidungku mulai gatal. Sesekali aku menggosoknya dan timbul reaksi bersin beberapa kali. Semoga aku tidak sakit. Tapi sepertinya jika aku sakit, itu lebih baik.
"Angga khawatir nggak, ya? Kalau aku sakit?" Pikiran picik terlintas diotakku. Smirk kemenangan timbul setelahnya. Namun seketika senyum itu luruh bersama bayangan Angga dan Tari siang tadi.
"Ah, mana mungkin dia khawatir. Emangnya gue siapa? Penting banget apa buat dia? Buktinya ... dia bisa sedeket itu sama Tari. Udah tau kalau aku benci banget sama itu mak lampir! Kenapa malah deket sama dia sih!"
Kuhentak-hentakan kaki hingga menimbulkan cipratan di sekitar. Beruntung hanya ada aku seorang. Jika tidak aku pasti akan dianggap sinting oleh orang.
"Aaarrgh!" Aku berteriak cukup kencang. "Sebeeeel!"
_____
Sampai di halaman rumah. Nova sedang mondar-mandir di teras, menggenggam gawai ditangannya. Aku yakin dia sedang menungguku pulang. Seketika ia melotot melihatku datang.
"Heh! Gila! Kenapa baru pulang? Hujan-hujanan pula. Nggak takut sakit?!" Omel Nova lalu menarikku segera duduk di kursi teras.
"Tunggu bentar! Gue ambilin handuk! Enak aja lu masuk ke rumah basah-basah gitu! Gue nanti yang ngepel. Ogah!"
Kuperas ujung baju yang masih kukenakan. Mataku mulai berkunang-kunang. Hidungku makin gatal. Hingga saat Nova muncul, ia segera menutup tubuhku dengan handuk dan piyama mandi.
__ADS_1
_____
Jangan deket sama yang lain. Aku nggak suka!