
Ian mendekat ke meja mereka. Melihat gampang Jeslin yang berubah drastis membuat Ben menyadari akan hal itu. Ia pun ikut menatap ke arah tersebut. Dahinya berkerut saat melihat seorang laki-laki dengan penampilan layaknya ABG, celana jeans belel yang robek di bagian lutut, ditambah jaket kulit khas anak motor, membuat Ben mengernyitkan kening. Apalagi pria tersebut mendekat sambil terus saling bertatapan dengan Jeslin.
"Jes? Wah, kebetulan ketemu di sini. Kamu apa kabar?" tanya Ian yang mendekat ke meja dengan kedua tangan menempel di meja kayu jati tersebut.
Wajah Jeslin langsung pucat. Tangannya yang gemetaran, disembunyikan di atas pangkuan. Ia pun menggigit bibir untuk menahan rasa takut yang kini mulai datang, terutama saat Ian menyeringai menatapnya. Hal ini diketahui oleh Ben yang sejak tadi melihatnya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Jeslin yang tidak mau menatap pemuda yang masih berdiri di depannya.
"Astaga, Jes. Kamu galak banget sih? Aku kangen sama kamu. Masa nggak boleh?" tanya Ian dengan tatapan menggoda.
Jeslin benar benar merasa tidak nyaman dengan pernyataan Ian barusan. Lebih lebih melihat reaksi teman temannya juga Ben yang tampak aneh menatapnya.
"Jangan macam macam, Ian! Lebih baik kamu pergi sekarang! Kita nggak ada urusan lagi!" kata Jeslin dengan menahan amarah. Namun bukan Ian rasanya jika dia menurut begitu saja apa kata Jeslin. Justru Ian sejak beberapa hari lalu memang ingin menemui Jeslin dan bahkan nekat mencari Jeslin di kantor.
"Ah, aku mau makan siang juga kok," tukas Ian lalu menarik kursi di meja samping dan menempatkan di meja mereka.
Tapi saat dia hendak duduk, Ben justru menarik kembali kerah kemeja Ian dan membuat pemuda itu kembali dalam posisi tegak. Hanya saja Ian justru tertawa saat diperlakukan seperti itu oleh Ben. Seakan akan dia seperti sedang meledek Ben dengan aksinya.
"Santai dong, Bos!" kata Ian sambil menempatkan kedua tangan di samping kepala.
"Lo nggak denger Jeslin bilang apa tadi? Dia mau lo pergi. Mending lo cabut sekarang deh." Ben masih berusaha tenang, walau dia bisa saja langsung menghajar Ian yang justru semakin meledeknya.
"Eh, lo siapa sih? Pacar Jeslin? Hah?" tanya Ian dengan nada bicara yang mulai naik.
Ben menarik nafas panjang, lalu menoleh ke arah lain sambil berusaha setenang mungkin menghadapi masalah ini. Balqis, Aira, dan Aqila mulai resah. Mereka tentu khawatir jika akan terjadi perkelahian di antara dua pria itu.
"Kalau iya kenapa?" tanya Ben yang mulai kesal dan menantang Ian.
"Oh ya? Omong - omong, gimana Jeslin? Mantap, kan?" tanya Ian berbisik.
Ben mengerutkan kening, dan menatap Ian dengan makin kesal. "Maksud lo?"
"Halah, gue udah icip kok. Wajar aja lo betah sama dia."
Walau Ian berbisik, tapi kalimat itu tentu terdengar jelas di telinga orang - orang di sekitar, terutama Jeslin. Gadis itu makin gugup, dia makin tidak bisa menutupi perasaan itu lebih lama lagi. Semua berkecamuk. Antara takut, malu, khawatir dengan pendapat mereka yang mungkin akan mencap Jeslin sebagai wanita murahan.
Tapi tiba - tiba Ben langsung melayangkan sebuah pukulan tepat di rahang Ian. Ian jatuh tersungkur dengan darah yang muncrat ke mana - mana. Kepalan tangan Ben memang sangat kuat, dan mampu merobohkan lawannya sejak pertama kali pukul. Hal ini sudah terjadi sejak lama, sejak dia masih duduk di bangku SMA.
Ian yang tidak terima segera bangkit. Menyapu mulutnya yang banjir darah. Beberapa giginya rontok, dan semoga saja rahangnya tidak bergeser. Dia berusaha menyerang balik Ben dengan kekuatan yang sudah berkurang. Sambil menahan sakit, Ian mulai menyerang Ben dengan membabi buta.
Tidak punya bekal bela diri, hanya insting berkelahi saja membuat Ian tentu bukan lawan yang sebanding dengan Ben. Pukulan Ian selalu meleset, sementara Ben hanya berusaha menghindar terus sejak tadi. Ia sadar kalau pukulan kedua yang akan ia lakukan bisa berdampak buruk pada Ian.
Dengan santai nya Ben mendorong tubuh Ian hingga dia kembali tersungkur menabrak meja di dekatnya. Ia benar benar marah, tapi tak ingin kalah, walau sebenarnya dia sadar kalau dia tidak akan bisa mengalahkan pria yang sudah mengaku sebagai kekasih Jeslin di depannya sekarang.
Tapi rasa malu dan gengsi melangkah logika. Ian masih berusaha menyerang Ben lagi dan lagi. Hingga akhirnya Ben mulai jengah, dan memutar tangan kiri Ian hingga terdengar bunyi tulang bergeser. Ben mendorong lagi tubuh Ian yang sudah lemah. Dan akhirnya Ian tidak lagi ingin menyerang. Dia hanya memegangi tangannya yang sakit, sambil menatap tajam Ben yang sedang melihatnya tanpa ekspresi.
"Jangan macam macam lagi ke Jeslin! Sekali lagi aku melihatmu muncul, aku patahkan tangan kananmu juga. Bahkan kedua kakimu!" ancam Ben serius.
Tak lama berselang, beberapa pria datang, hanya menatap Ben dan Ian bergantian lalu membawa Ian yang sudah tak berdaya. Mereka kawan kawan Ian yang tadi mengikuti dan hanya berani melihat dari kejauhan. Mereka lantas menarik tubuh Ian dan membawanya pergi dari tempat itu.
Keributan itu pun menjadi sebuah tontonan gratis di cafe tersebut. Ben membetulkan kursi yang jatuh dan kembali duduk bersama yang lain. Ia kembali melebarkan senyum, saat Jeslin menatapnya dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Ben segera menempatkan diri duduk di samping Jeslin. Gadis itu masih menatap Ben, menunggu reaksi pemuda itu.
"Tenang aja. Kalau ada aku, dia nggak bakal berani dekati kamu." Ben masih tersenyum. Walau Jeslin sama sekali tidak bisa tersenyum dalam situasi ini. Pikirannya masih kacau dan kalut.
Melihat tidak ada reaksi yang diharapkan oleh Ben, dia lantas mengalihkan keadaan kaku di antara mereka dengan makanan yang kini sudah datang sesuai pesanan mereka.
"Ayo, kita makan dulu. Aku lapar." Ben mulai mengambil pesanannya dan menggeser milik Jeslin ke hadapan gadis itu. Balqis, Aira, dan Aqila juga melakukan hal yang sama. Walau mereka bertiga tampak terkejut dengan kejadian tadi, tapi mereka berusaha terlihat tidak terjadi apa apa. Apalagi melihat kondisi Jeslin yang makin murung.
__ADS_1
Tidak ada yang tau apa sebenarnya yang terjadi di antara Jeslin dan Ian. Mereka tetap berusaha saling menjaga privasi masing masing. Apalagi jika Jeslin memang tidak ingin membahasnya dengan mereka sekarang. Namun dari kalimat Ian tadi, tentu mereka sudah bisa menangkap apa yang terjadi sebenarnya.
.
.
.
"Kurang ajar! Akan aku balas dia nanti!" Ian menjerit kesal saat perjalanan pulang dari cafe. Dia masih membersihkan noda darah yang masih ada di wajah, serta kemejanya. Ketiga kawannya hanya diam sambil menatapnya geleng geleng kepala. "Lagian kalian kenapa malah nggak bantuin gue sih! Udah tau, gue babak belur gini, malah kalian diem aja! Teman macam apa kalian?!" Kali ini Ian justru memaki kawan kawannya karena kesal.
"Heh! Justru karena lo udah babak belur gini, kita mana berani tolongin! Gila sih! Mau cari mati?!" ungkap Chandra yang duduk di samping Tessa yang masih sibuk mengemudi.
"Iya, Yan. Kita bahkan lihat sendiri gimana itu cowok pukul lo tadi. Gue tadinya mau tolongin, tapi begitu dia pukul lo sekali sampai berdarah gitu, kita mundur!" ucap Tessa yang justru mendapat pukulan singkat dari Ian. Tapi kalimat Tessa justru membuat Arif dan Ari tertawa. Ekspresi wajah Tessa justru tampak lucu saat mengatakan hal itu.
"Lagian lo ngapain sih, cari masalah sama dia? Heran gue," cibir Ari yang duduk di jok mobil belakang.
"Gue nggak ada urusan sama dia. Gue mau temui Jeslin! Malah cecunguk itu yang muncul! Sialan!"
"Jeslin bukannya saudara Susan? Lo kan udah putus sama dia? Ngapain lagi sih, Yan? Mau balikan sama Susan lewat Jeslin?"
"Cih, ngapain gue ngejar Susan? Udah tua, udah nggak enak. Mendingan Jeslin. Dia baru gue perawanin sekali. Beuh, gue yang buka segel!"
"Hah? Gila lo! Saudara mantan lo aja bisa diembat! Bener bener playboy kelas kakap lo, Yan," puji Arif.
"Kalian mau lihat videonya?"
"Hah? Lo rekam, Yan? Anjir! Psikopat banget temen kita perasaan," ungkap Chandra. "Mana mana?"
Tentu karakter lelaki hampir semua sama jika berhadapan dengan hal yang berbau mesum. Rupanya Ian benar benar merekam semua kejadian itu. Ia menempatkan kamera di sudut kamar nya. Dia cukup cerdik karena dengan demikian maka Jeslin akan mudah untuk dikendalikan sesuai dengan kemauannya. Ian masih belum puas menikmati tubuh Jeslin. Apalagi sosok seperti Ian yang hyper membuatnya harus setiap hari merasakan sensasi menyenangkan bersama wanita, dan wanita yang ia inginkan tentu bukan wanita sembarangan.
"Gila lo, Yan! Dia lo perkosa? Astaga, lo itu lagi kekurangan cewek apa gimana sih?" tanya Tessa yang hanya bisa melihat adegan video yang berdurasi 15 menit itu sekilas.
"Justru itu! Justru gue baru kali ini merasakan cewek macam Jeslin. Selama ini, nggak ada kan, cewek yang tolak gue. Bahkan Susan aja malah ketagihan tidur sama gue. Sampai sampai dia kabur dari suaminya yang letoy itu. Tapi ini ... Jeslin. Ah, kalian harus coba dia juga lain waktu."
Bagi mereka tidur bersama wanita bukan hal aneh dan pribadi lagi. Bahkan Icha, yang dulu pernah berpacaran dengan Ari, juga pernah digilir oleh mereka berlima. Mereka benar benar gila. Sungguh gila.
.
.
.
Mobil sudah memasuki lahan parkir kantor. Sampai akhirnya Ben menghentikan mobilnya tepat di depan pintu lobi. Tiga gadis yang duduk di belakang, segera keluar sambil berseru mengucapkan terima kasih pada Ben.
"Thanks, Ben! Besok kita kabarin lagi kalau ada cafe yang lagi launching."
"Beres. Aku rela jadi sopir kalian asal bisa makan enak dan murah. Diskonan ternyata enak juga, ya," kata Ben yang membuat Jeslin tersenyum tipis.
"Ya udah, kita duluan! Jes, ayo!" ajak Balqis sambil melambaikan tangan pada Jeslin yang masih duduk di kursi samping Ben.
"Eh, kalian duluan aja. Aku mau ngobrol sebentar sama Jeslin," pinta Ben dengan ekspresi penuh harap, bahkan sampai mengatupkan kedua tangan di depan dada agar mendapat persetujuan tiga dara itu.
"Baiklah, baiklah. Have fun," jerit Aqila. Aira pun dengan riang melambaikan tangan sambil menatap Ben dan Jeslin bergantian. Pintu mobil ditutup, dan Jeslin masih diam di tempatnya. Entah mengapa dia menjadi penurut. Padahal biasanya dia tidak mudah ditaklukan. Apalagi mengingat pertemuan mereka di kantor Daniel beberapa waktu lalu. Jeslin tampak dingin menanggapi Ben, namun kini semua berubah.
Keduanya diam beberapa saat. Hingga akhirnya Jeslin membuka suara karena hanya melihat Ben yang senyum senyum saja sejak tadi.
"Soal tadi ... Makasih, ya." Kalimat itu terucap begitu saja dari mulut Jeslin. Dia tentu bersungguh sungguh dengan kata katanya. Jeslin memang ingin berterima kasih pada Ben karena telah menyelamatkannya dari Ian tadi.
__ADS_1
"Oh, santai aja. Kalau dia datang lagi dan mulai membuat onar seperti tadi, kamu hubungi aku saja."
"Oke."
"Sebenarnya dia siapa? Kamu ada masalah apa sama dia? Daniel tau?"
"Enggak. Jangan kasih tau Daniel. Ian bukan siapa siapa kok. Daniel juga nggak kenal. Ian dan aku ... Sebenarnya ...." Kalimat itu terputus, Jeslin ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Ben. Walau di satu sisi, dia ingin bercerita pada Ben tentang apa yang sudah dilakukan Ian padanya.
"Hm? Kenapa, Jes?" Ben menatap Jeslin dalam, dan malah sedikit mendekatkan tubuhnya pada Jeslin yang duduk di sampingnya. Hal ini membuat Jelasin mundur hingga bersandar di pintu sampingnya.
"Enggak. Enggak apa apa. Aku ... Aku balik kantor dulu. Nanti telat," pamitnya lalu segera membuka pintu mobil.
Tangan Jeslin di tahan oleh Ben. Membuat gadis itu menoleh pada pemuda yang kini masih dalam posisi sama.
"Oke, kalau kamu belum mau cerita. Tapi kalau udah siap, jangan sungkan buat ceritain ke aku, ya. Siapa tau aku bisa bantu kamu," kata Ben dengan sungguh sungguh.
Tatapan mata Ben meneduhkan. Membuat Jeslin sempat terpana dalam beberapa detik, sampai akhirnya dia tersadar dan segera keluar dari mobil Ben.
Pemuda bermata cokelat itu hanya diam di dalam mobil miliknya, menatap kepergian Jeslin dengan penuh tanda tanya. Dia bersungguh sungguh dengan kata katanya barusan, dan dia hendak mencari tau sendiri siapa sebenarnya Ian itu. Apalagi melihat betapa ketakutannya Jeslin saat melihat Ian.
Ben kembali menjalankan mobilnya. Dia juga harus kembali ke kantor, jika tidak maka ayahnya pasti akan menghajarnya karena bolos kerja lagi. Gawai ia ambil dan kini satu nama yang ada dibenaknya sedang dia cari dalam kontak telepon genggam.
"Panji ... Panji esempe, Panjii fak. Teknik, Panji milenium, Panjinya aunty Mirna ... Nah, Panji SMA! Ketemu juga."
Ben mendekatkan benda pipih itu di telinga. Bunyi nada dering sambungan telepon yang sangat khas, seakan membuat waktu berputar sangat lama. Hingga akhirnya pada panggilan ketiga, suara di seberang yang cukup familiar membuatnya tersenyum.
"Ngapa lo, Ben?"
"Astaga, bukannya kasih salam, tanya kabar, langsung aja ngomongnya begitu dalam."
"Bullshit! Kayak gue nggak kenal lo aja. Dari jaman lulus SMA sampai udah kerja gini, lo baru kali ini hubungin gue, pasti ada maunya. Udah, ngomong! Nggak usah pakai lama."
Smirk Ben tidak terlihat oleh Panji yang sedang sibuk di depan komputernya. Dia membuka warnet yang cukup ramai sejak dia lulus kuliah. Gelar sarjana nya tidak pernah dia gunakan untuk mencari pekerjaan selama ini. Karena justru dia lah yang membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
"Uluh ... uluh. Temen gue yang satu ini memang top banget! Lo di mana, Nji? Nanti gue mampir ke rumah lo, ya?"
"Ngapain?"
"Kangen sama lo lah, Nji."
"Ngimpi apa gue semalem dikangenin lo. Lo ke warnet aja, gue di sini sampai malam."
"Warnet? Warnet mana? Deket sekolah kita dulu? Anjir, lo masih aja main di warnet?"
"Bego! Gue buka warnet, dodol! Makanya, kalau ngerasa punya temen itu kasih kabar, telepon kek, kirim WA kek!"
"Wow, keren! Lo buka warnet? Di mana? Astaga ternyata dari hobi dan kebiasaan dulu pas SMA berdampak baik di masa depan ya, Nji?"
"Bawel, lo! Ya udah, gue share lokasi."
"Oke, siap!"
Panji dan Ben dulu memang satu sekolah saat SMA. Mereka dekat, tapi tidak sedekat Ben dengan Daniel sekarang. Ben tipe orang yang tidak terlalu suka berbasa basi dengan orang lain, walau pun itu adalah sahabat lamanya. Sejak di sekolah dulu, hanya Daniel sahabat Ben yang terus ada di hidupmu sampai sekarang. Bukan berarti Panji bukan teman yang baik, tapi mereka memang mulai sibuk sejak masuk dunia perkuliahan, dan lagi jurusan yang mereka ambil tidak sama, membuat komunikasi mereka terputus. Padahal mereka satu kampus, tapi tetap saja seperti tidak pernah bertemu.
Ben, Daniel, Panji dan beberapa kawan mereka dulu, adalah teman satu komunitas. Mereka memiliki komunitas besar yang cukup terkenal di sekolah. Mereka menyebut diri mereka Pasgabat. Yang artinya pasukan gagal tobat. Kenakalan anak remaja saat di SMA juga mereka lakukan. Dari kabur dari sekolah, merokok di sekolah, tawuran, berkelahi dengan kakak kelas atau adik kelas, sudah menjadi hal wajar di antara mereka. Hanya 2 hal yang pantang mereka lakukan. Yaitu narkoba dan melecehkan wanita. Senakal apa pun mereka, walau hampir setiap hari berkelahi, mereka tidak pernah menyentuh barang haram itu sedikitpun. Walau peredaran narkoba dikalangan remaja saat itu sangat mudah, tapi tidak membuat pasukan gagal tobat menjadi pasukan anti tobat. Senakal apa pun mereka saat remaja, mereka masih memiliki logika. Karena dengan narkoba, hidup mereka akan hancur, tidak memiliki masa depan, seperti beberapa teman yang sudah terjerat benda haram itu sebelumnya.
Panji sejak SMA memang mahir dalam mengoperasikan komputer. Keinginannya untuk membuka warnet sendiri sudah pernah diutarakan jauh jauh hari. Akhirnya impiannya terwujud. Dengan warnet itu pula, dia berhasil membuka lapangan pekerjaan dan menjadikan beberapa teman sekolahnya sebagai karyawan. Meski demikian, Panji tetaplah Panji yang dulu. Menjadi pemilik warnet tidak serta merta menjadikan dirinya sosok yang sombong. Apalagi warnet miliknya sudah memiliki beberapa cabang. Tidak hanya warnet saja, tetapi toko komputer dan laptop yang cukup laris adalah milik Panji.
__ADS_1