
Ben sudah sampai di warnet milik Panji. Sesuai dengan papan nama di depan, ia makin yakin kalau ini memang milik teman SMA nya dulu. Ia berdecak kagum melihat betapa suksesnya Panji sekarang. Walau Panji tidak seperti Ben atau Daniel, yang merupakan pemilik perusahaan besar atau ahli waris dari keluarga mereka, tapi apa yang Panji punya, juga tak kalah hebat dari mereka berdua.
Pintu kaca bertuliskan OPEN didorong oleh Ben hingga sebuah lonceng yang terletak di atas pintu bergemerincing. Dinginnya AC langsung menerpa wajah serta tubuh Ben begitu mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam. Bunyi musik, permainan game serta suara orang saling bersahutan. Beginilah suasana warnet. Walau pengunjung tidak begitu banyak, tapi setiap komputer hampir semua terisi.
Ben langsung menatap ke sebuah meja besar di dekatnya. Di mana ada sosok yang dikenal oleh Ben yang memang menjadi tujuannya datang ke tempat tersebut.
"Nji!" panggil Ben, lalu mendekat. Panji yang sedang melayani pembayaran pengunjung, langsung menoleh dan melambaikan tangan menyapa teman lamanya.
"Terima kasih," kata Panji setelah memberikan uang kembalian pada seorang pemuda dengan kemeja kotak kotak.
"Wuih, hebat banget sekarang lo, Nji," puji Ben sambil menyapu pandang ke sekitar.
"Halah! Tetep aja gue kalah saing sama ahli waris perusahaan besar," sindir Panji lalu berjalan ke deretan kursi besi panjang di dekat jendela.
Bagian depan tempat itu seluruhnya terbuat dari kaca tebal dan berwarna gelap. Dari dalam, semua orang bisa melihat keluar, tapi yang di luar tidak bisa melihat ke dalam kecuali mendekatkan wajah di kaca hitam tersebut.
Mereka berdua lantas duduk berdampingan di kursi tersebut. Memperhatikan orang orang yang lalu lalang di depan.
"Wah, karyawan udah banyak aja, Nji? Hebat deh pokoknya. Gue denger lo buka cabang juga?" tanya Ben basa basi.
"Iya. Ada lima cabang, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta pusat, Jakarta Selatan, sama Jakarta Timur." Panji mengeluarkan rokok elektrik yang segera ia hisap begitu menekan tombol di bawahnya. Asap tebal muncul. Walau ini adalah ruangan ber-AC, pemakaian rokok elektrik ini dibolehkan. Karena asapnya berbau harum, tidak berbahan dasar tembakau, walau nikotin tetap ada di dalamnya. Apalagi Panji adalah pemilik tempat itu, tentu tidak akan ada yang akan protes saat dia menghisap vape di dalam.
Aroma kopi tercium di pangkal hidung Ben. Dia yang sejak lulus kuliah tidak lagi merokok sedikit tergoda untuk mencicipinya.
"Lo beneran udah berhenti merokok?" tanya Panji yang sadar sejak tadi vape miliknya ditatap oleh Ben.
"Iya. Nge-Vape aja."
"Ya sama aja dong. Tetep aja rokok judulnya."
"Masih pengen jadi tentara lo?" Panji membuat ruangan itu menjadi berasap. Beberapa kali ia menghembuskan asap dari vape miliknya ke udara.
"Entahlah." Kali ini Ben tampak putus asa. Dia mengangkat salah satu kaki, bertumpu pada kaki lainnya. Kunci mobil yang masih ia genggam menjadi sasaran permainan nya.
"Kenapa? Tetep nggak dibolehin sama Papa lo?"
"Ya lo tau sendiri, gue anak tunggal. Impian Papa gue ya gue bisa menggantikan posisinya di perusahaan."
"Tapi, kan, itu bukan impian lo, Ben?"
"Nggak penting lah impian gue apaan. Eh, sampai lupa! Gue mau minta tolong lo!"
"Apaan?"
Akhirnya pembicaraan itu beralih ke topik lain yang jauh lebih penting. Alasan kedatangan Ben ke tempat Panji.
"Lo bisa cari tau siapa orang ini?" tanya Ben sambil memberikan telepon genggamnya, di mana menampilkan foto Ian yang sudah babak belur. Rupanya saat Ian hendak meninggalkan cafe, Ben diam diam mengambil gambar wajahnya. Sekalipun wajah Ian tampak kacau, tapi setidaknya tidak seburuk itu.
Panji mengambil ponsel Ben, mengernyitkan kening sambil tetap menikmati hisapan vape rasa kopi milik ya. Dia lantas terkekeh tak berapa lama setelah mengamati pria malang tersebut.
"Lo apain ini orang. Sampai mukanya hancur begini?" tanyanya masih tetap tertawa kecil.
"Cuma gue pukul dua kali," sahut Ben enteng.
"Astaga! Jangan samain pukul lo sama pukulan gue, Ben! Semua temen temen sekolah juga tau, pukulan lo itu mematikan. Terus masih hidup apa udah mati ini manusia?"
"Masih hiduplah. Lo pikir gue pembunuh? Udah cepet, cari tau dia siapa. Gue cuma tau namanya aja."
"Siapa namanya?"
"Ian."
"Anak mana?"
"Setan! Kalau gue tau, ngapain gue tanya lo, dodol!" kata Ben sewot.
Panji makin tertawa kencang melihat ekspresi Ben yang mulai kesal dibuatnya. "Oke, oke. Tapi kasih gue waktu. Nggak gampang cari orang berbekal nama depan doang."
"Iya. Tapi jangan lama lama kalau bisa."
"Lo mau tau tentang apa aja?"
"Semua, Nji. Nama, siapa orang tuanya, sekolah di mana dulu, masa lalunya, pokoknya semuanya!"
"Tapi kalau dilihat dari wajahnya sih, gue rasa, dia ini lebih muda dari kita deh."
"Ya mungkin."
"Tapi belum tentu juga sih. Banyak juga orang yang tampang nya muda tapi ternyata umurnya udah tua."
Ben hanya memutar bola mata terhadap penyataan Panji yang berubah - ubah.
"Berapa lama?"
"Nanti gue kabarin deh. Nggak janji berapa lamanya. Dibayar nggak nih?" tanya Panji.
__ADS_1
"Astaga! Sama temen perhitungan banget lo!"
"Heh, pewaris perusahaan pelit bener, heran!"
"Pewaris perusahaan apanya! Itu perusahaan baru bisa jadi milik gue, kalau bokap gue udah mati! Lo doain bokap gue mati cepet apa gimana?" omel Ben.
Lagi lagi Panji tertawa melihat Ben yang sangat mudah tersulut emosi. Bagi Panji pemuda di sampingnya tidak banyak berubah. Hanya saja sekarang Ben jauh lebih terawat. Kulitnya lebih bersih, dan otot tubuhnya mulai tampak. Itu adalah hasil dari latihannya di gym setiap dua hari sekali.
"Bercanda kali, Ben. Ya udah, tunggu aja kabar dari gue. Lo mau minum apa?" tanya Panji sambil menunjuk lemari pendingin yang tampak macam macam minuman segar di dalamnya.
"Bayar apa gratis nih?"
"Bayarlah!"
"Setan!"
.
.
.
Jeslin sudah pulang ke apartemennya beberapa menit lalu. Hari sudah malam, walau belum terbilang larut malam. Tapi gadis itu baru saja selesai berendam air hangat dan kini sedang menikmati secangkir minuman cokelat yang ia pesan langsung dari Kanada.
Jeslin ketagihan hidangan cokelat dari negara tersebut. Ia pernah menikmati
Salted Dark Hot Chocolate asal Kanada saat berlibur dengan Daniel beberapa tahun lalu. Minuman ini juga menjadi salah satu minuman coklat panas terenak di dunia. Minuman ini terbuat dari cokelat bubuk yang diberi susu kemudian ditambahkan whipped cream dan sangat menggugah selera.
Agar terasa lebih nikmat, minuman ini biasanya diberi tambahan Oreo yang ada di sekeliling gelasnya. Minuman ini sangat cocok untuk dinikmati saat cuaca dingin di Kanada. Jeslin membeli dalam bentuk bubuk dan menyeduhnya sendiri. Tentu tidak ada toping seperti oreo atau whipped cream juga. Walau dia bisa saja menambahkan dua elemen itu ke dalam minumannya, tetapi Jeslin terlalu malas untuk menjadikan minuman cokelat itu sempurna.
Ia masih memakai piyama mandi berwarna abu - abu, dengan kepala yang masih basah terbalut handuk. Duduk di balkon apartemennya, menikmati pemandangan di depan, di mana lampu lampu berkelipan terhampar luas di seantero Jakarta.
Jeslin diam. Tiba tiba ia teringat akan kejadian hari ini. Kemunculan Ian di depan dirinya dan kawan kawan, membuat trauma di masa lalunya kembali muncul. Untungnya ada Ben yang ada di dekatnya. Jika tidak Jeslin sendiri tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi tadi.
Sayangnya, ingatan kejadian beberapa waktu lalu pun ikut muncul dalam memorinya. Bagaimana Ian menyentuhnya jengkal demi jengkal.
"Argh!" Jeslin menjerit frustrasi. Dia langsung menepis cangkir yang berisi cokelat hangat, yang bahkan belum sempat ia cicipi.
Ingatan pemerkosaan itu, masih terekam jelas di memori otaknya. Apalagi setiap dia melihat, mendengar, dan bertemu Ian, akan dengan mudah memicu trauma itu. Jeslin terlalu takut untuk menceritakan masalah ini pada Daniel atau bahkan orang lain.
Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
[Jes, ini aku Astrid. Besok aku balik ke Jakarta. Kamu bisa jemput aku di Bandara?]
Begitulah kekuatan dari persahabatan mereka. Yang memang sudah terbangun sejak lama. Astrid dan Jeslin bagai saudara kembar. Insting mereka selalu terhubung. Tidak ada satu hal pun yang dirahasiakan Jeslin dari Astrid. Begitu juga dengan Astrid. Semua kebusukan keduanya, bukan lagi rahasia.
Dan Jeslin ingin sekali bertemu Astrid untuk bisa menceritakan apa yang sudah ia alami kemarin. Astrid harus tau, apa yang sudah Ian perbuat. Jeslin ingin mengadu pada wanita itu semuanya. Ia pun tidak sabar untuk bisa bertemu Astrid besok. Jeslin membalas pesan tersebut dan kedua sahabat yang lama tidak berkomunikasi itu mulai saling bicara melalui pesan singkat.
.
.
.
"Halo, Ben? Gue udah tau tentang Ian. Lo ke sini tapi, ya. Nggak bisa gue jelasin di telepon. Soalnya gue lagi di tempat karaoke, berisik banget. Gue yakin suara lo nggak kedengeran sekarang!" jerit Panji lalu segera mematikan sambungan teleponnya.
"Nji, emangnya lo di ... Mana?" Bunyi nada sambung yang cepat menandakan telepon terputus secara sepihak. Ben mengernyitkan dahi, lalu menatap layar ponselnya. "Emang Kambing! Nyuruh ke sini ke sini doang tapi nggak kasih tau di mana!" gerutu Ben.
Tak habis akal, Ben langsung mengirim pesan pada Panji diberondongi dengan emoticon kesal.
[Ke sini mana, KAMBING! Yang jelas kenapa sih, kalau kasih info.]
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Tidak kunjung ada balasan.
[HEH! SETAN! DI MANA WOI!π€―π₯΄π€¬πππΆπππ£π«πππππππ€§π€ππ΅π‘π ππΏπΊπΉπβ οΈπ»π½π©πΎππ§ββοΈ]
[Wahaha! Sorry sorry. Gue lagi digodain cewek cakep banget dah!]
[Tai!]
Akhirnya Panji pun mengirimkan lokasinya pada Ben. Walau harus ditambah omelan yang cukup panjang dari Ben sendiri karena kesal akan ulah Panji.Β
Ben sampai di tempat yang diberitahukan oleh Panji. Sebuah tempat karaoke yang memang cukup terkenal di wilayah tersebut. Di tempat itu adalah salah satu tempat di mana prostitusi di halal kan, minuman keras di mana mana, serta peredaran narkoba. Namun tidak sekalipun ada operasi tangkap tangan untuk semua transaksi gelap itu. Pemilik karaoke memang memiliki orang dalam di kepolisian. Karena uang bisa membeli segalanya. Bahkan kebebasan dan hidup seseorang.
Di depan pintu ada dua penjaga yang meminta tanda pengenal pengunjung. Hanya untuk memastikan kalau pengunjung yang datang memang target yang cocok untuk datang ke tempat itu. Bukan anak di bawah umur atau bahkan polisi yang menyamar.
Ben dibolehkan masuk. Baru melangkah beberapa meter, dia mulai masuk ke sebuah lorong dengan penerangan yang minim. Netranya terus mencari keberadaan Panji sambil tangannya terus menekan tombol untuk menghubungi kawannya itu.
Suara riuh terdengar, dan ternyata tempat karaoke itu memiliki sebuah bar yang kini ramai pengunjung. Ada penari setengah telanjang yang berlenggak lenggok di tiang atas panggung. Sementara para lelaki hidung belang berada di bawah mereka sambil memberikan lembaran uang. Siapa yang memberikan uang paling banyak, maka dia akan berhak menikmati tubuh para gadis itu secara cuma cuma. Tetapi hanya di atas panggung saja.
__ADS_1
Tiba tiba bahu Ben ditepuk. Ia segera menoleh dan mendapati Panji berada di sebelahnya. Lampu Led mini yang berputar sejalan dengan musik menjadi pengiring suasana.
"Ke mana aja sih?!" omel Ben. Panji lantas menyuruh Ben diam.
"Lihat itu? Itu, kan, cowok yang lo maksud?" tanya Panji menunjuk sekelompok pria yang sedang bersama gadis gadis yang memakai bikini.
Ben diam beberapa saat. Ia menyipitkan mata untuk mencari sosok yang memang ia maksud dengan Panji. Akhirnya matanya membulat sempurna saat melihat sosok Ian di antara pria pria itu.
"Bener! Itu, yang pakai kemeja merah di sana!" tunjuk Ben dengan sangat bersemangat.
"Nah oke. Jadi dia memang namanya Ian. Lo percaya nggak, kalau dia itu ternyata adik kelas kita?"
"Hah? Masa sih?"
"Parahnya lagi, dia itu ... Sepupunya si Agus."
"Agus? Agus yang mana nih?"
"Astaga. Masa lupa. Agus anak Elite."
"Serius lo?"
"Iya, serius. Nah, dia ini memang bad bous banget deh, Ben. Tiap malan keluyuran ke klab, karaoke, pokoknya tempat tempat hiburan gitu. Dia juga terkenal play boy. Entah udah berapa cewek yang dia tidurin selama ini. Herannya kok mereka mau. Padahal Ian ini benalu banget. Kagak modal. Dia pinter, dengan mendekati cewek cewek yang punya duit banyak. Incaran dia pasti anak orang kaya dan semua nya pasti berakhir di ranjang."
"...." Ben diam sesaat. Dia sedang mengamati Ian dari kejauhan. Apa yang diceritakan oleh Panji memang terbukti, dan sedang ia saksikan sekarang.
"Beberapa minggu lalu, Ian berantem sama cewek di sini. Namanya Susan. Usut punya usut, Susan ini bini orang yang rela ninggalin suaminya demi bisa sama Ian. Terus Susan dibuang atau gimana gitulah, intinya Ian udah bosen sama ini cewek. Tunggu, gue ada videonya. Ekslusif nih, gue dapat dari saksi mata kejadian. Lo bawa earphone?"
"Enggak "
Panji memberikan ponselnya ke Ben, sekaligus earphone miliknya. Layar pun terlihat gelap, tapi setidaknya gambar yang sedang diputar cukup jelas untuk dilihat oleh Ben. Di mana terlihat perkelahian antara Ian dan seorang wanita. Wanita itu tampak tidak asing bagi Ben. Hanya saja dia lupa pernah melihatnya di mana.
"Lo emang brengsek, Ian! Tega teganya sih lo giniin gue? Kurang apa gue dimata lo? Gue tinggalin segalanya demi lo, tapi ini balasannya?!"
"Udahlah, San. Kita udah selesai. Jadi lo nggak usah cari gue lagi." Ian pergi meninggalkan Susan yang masih tampak kacau, dengan semua mata yang melihat mereka.
"Cewek mana lagi?" tanya Susan. Dia menahan tangan Ian hingga pemuda itu akhirnya kembali menatapnya.
"Apa sih?!" Ian mulai kesal.
"Cewek mana lagi yang sedang kamu dekati sekarang?"
"Nggak ada!"
"Bohong! Aku tau, apa yang sedang kamu lakukan."
"Apa?" tantang Ian yang mulai mendekati Susan dan membuatnya lemah.
"Kenapa kamu melakukan hal itu, Ian?! Kenapa harus dia! Apa aku nggak cukup buat kamu?"
"Dia? Dia siapa?" tanya Ian yang terlihat pura pura tidak paham perkataan Susan.
"Jeslin!"
Deh! Jantung Ben seakan berhenti berdetak. Saat dia dengan jelas mendengar nama itu keluar dari mulut Susan.
"Oh, dia. Memangnya kenapa kalau sepupumu juga mau tidur denganku? Salah?"
"Apa? Kamu jangan bohong! Jeslin bukan wanita seperti itu! Dia wanita baik-baik, dan kamu! Kamu itu yang brengsek. Kamu sudah memperkosa Jeslin kan? Ngaku kamu!"
"Hahaha. Tau dari mana kamu?"
"Aku lihat sendiri. Kamu biadab, Ian! Benar benar Biadab!"
"Kenapa kamu malah baru protes sekarang? Bukan saat kejadian itu? Kamu aneh. Hahaha."
Susan hanya diam. Seakan akan dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan Ian.
Video berakhir. Wajah Ben mulai merah padam. Tangannya mengepal dan kini melihat Ian dengan tatapan membunuh.
"Brengsek! Gue bunuh itu orang!" kata Ben sambil melepas earphone di telinganya secara kasar dan memberikan ponsel Panji asal asalan.
"Loh, heh! Ben! Ngapain lo?" Panji panik karena Ben tiba tiba bergerak mendekat ke tempat Ian. Ben tidak peduli pada teriakan Panji, dan Panji pun sadar akan hal itu. Melihat emosi kawannya itu, Panji tau, kalau tidak ada yang bisa menghentikan Ben saat marah. Walau Panji tidak tau alasan apa yang membuat Ben bisa semarah ini pada pria yang tidak mereka kenal.
Ben sudah mulai mendekati meja Ian. Kerumunan teman teman Ian masih tidak mengetahui kedatangan pria yang sedang ingin membunuh mendekati mereka. Dengan gerakan cepat, Ben menendang meja tersebut. Membuat Ian terkena ujung meja yang cukup menyakitkan. Suasana langsung berubah ramai. Beberapa orang berlari keluar.
"Mampus gue! Kenapa lo nggak bilang bakal ada skenario pemukulan gini sih, Ben? Astaga." Panji hanya melihat kejadian itu di jarak yang tidak terlalu jauh. Ia paham betul bagaimana watak temannya yang satu ini.
Ian yang terkejut lantas melotot saat melihat Ben muncul di depannya. Apalagi dengan tampang sangat murka.
Ben naik meja, dan mencengkeram kerah kemeja Ian lalu memukulinya bertubi tubi. Beberapa kawan Ian yang melihat hal ini berusaha menarik Ben dari Ian. Sayangnya Ben seperti punya magnet yang tidak bisa melepaskanΒ cengkeraman nya pada Ian.
Ben di serang dari belakang. Tapi dia tetap terus memukul Ian yang sudah banjir darah di seluruh wajahnya. Bahkan sebuah botol minuman mendarat tepat ke kepala Ben. Dia seolah tidak merasakan sakit sama sekali, malah hanya melirik pemukul tadi dengan seringai mengerikan. "Habis ini, giliran lo gue hajat kayak dia!" ancam Ben serius.
Pria itu membuang botol tersebut dan mulai mundur teratur. Tentu saja dia takut. Sampai akhirnya beberapa petugas keamanan datang dan menarik tubuh Ben yang masih ingin terus memukuli Ian yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1