Anomali Rasa

Anomali Rasa
Part 11 bazar


__ADS_3

"Punya siapa nih?" tanya Angga begitu sampai di meja kantor.


"Punya elu! Tuh di kasih Ocha," jawab Nova yang juga masih meneguk kopi yang tadi kami beli bersama.


Angga menarik kursi dengan senyum. "Anak soleh mah banyak dimudahkan, tapi nggak soleh-soleh amat sih." Ia melirik ke arah mejaku. Beruntung telinga sedang ku sumpal dengan headphone. Walau sebenarnya aku masih bisa mendengar percakapan semua orang di ruangan ini.


Pura-pura nggak denger adalah pilihan terbaik. Nanti dia ke-geer-an lagi. Atau pasti nanti julid dan bisa jadi banget, sok kecakepan. Sebel.


Sambil memeriksa beberapa pekerjaan yang sebentar lagi akan aku presentasikan di rapat hari ini, aku memang memutar lagu-lagu pop 90-an.


"Cha! Woi!" panggil Angga yang sengaja kubiarkan. Kepalaku terangguk-angguk mengikuti alunan musik, sedangkan bibirku bergumam lirih sesuai lirik lagu.


Tiba-tiba headphone ditarik paksa. Aku spontan berteriak. Dan ternyata di sampingku sudah ada Angga.


"Apa, sih?! Ganggu aja!" jeritku berusaha ber-acting sebal sebaik mungkin.


"Dipanggilin juga dari tadi. Kuping pakai disumpel segala! Kalau mau disumpel kapas sama hidungnya sekalian," katanya sambil berkacak pinggang.


"Hih meninggal dong ... Apa?!"


"Jutek bener! Heran!"


"B aja kok."


"B? Kamu pikir lagi ulangan?"


"Hiih! Iya, Angga, kenapa?" tanyaku lebih melunak. Berusaha menahan tawa ternyata juga menguras energi.


"Itu. Dari kamu?" tanyanya sambil menunjuk roti dan kopi di meja. Meraihnya kemudian meneguk beberapa tegukan sambil berdecak.


"Oh. Iya."


"Gratis dong kan ya, agresif bener nih deketin guenya," cecar Angga sambil menaikkan alisnya. Genit.


"Nyesel gue udah ngasih kopi dan rotinya."


"Hehe makasih, ya. Kalau nggak ridho ... ini mau dimuntahin lagi?"


"Ih! Dasar! Udah sana, ah!" Aku mendorong Angga agar segera pergi dari meja ku.


Begitulah keseharian kami. Selalu beradu mulut bahkan untuk masalah sepele. Teman-teman yang lain juga seolah paham, namun tak banyak berkomentar. Lagi pula kami juga selalu bisa menempatkan situasi dan kondisi. Semua balance sesuai porsinya. Hanya saja selalu ada keusilan Angga tiap saat.


_____


Hari sudah beranjak sore. Senja mulai terlihat di ufuk barat. Beberapa teman kantor sudah mulai berkemas akan pulang.


"Eh nanti ke balai kota, yuk. Ada wisata kuliner gitu," ajak Uci sembari memakai jaket denim kesukaannya.


"Wah, seru tuh. Kebetulan, gue lapar," celetuk Nova, mengelus perutnya.


"Ya udah ramai-ramai aja," seruku sambil menggandeng lengan Angga.


"Nggak ikut ah!"


Semua orang meliriknya sebal. Begitu juga denganku.


"Pegangin, Cha! Bawa ni anak! Enak aja nggak ikut!" suruh Nova sinis. Mendapat mandat seperti itu, aku makin mengeratkan ikatan tangan padanya. Angga mendengus, pasrah ikut kami pergi.


_____


Sampai di Balai kota, semua masuk bersama-sama. Aku, Angga, Nova, Uci, Rahma, Doni, Tari, Hadi, Bagus, dan Karen.


Semenjak masalah perkelahianku dengan Doni dan Tari, kami sudah jarang berkomunikasi. Tak ayal saat bertemu salah satu dari mereka di kantor atau di mana pun, tatapan sinis sangat jelas terlihat. Terlebih saat bertatap muka dengan Tari. Sepertinya dia masih menaruh dendam padaku. Sementara itu, hubungan Doni dan Rahma juga kandas. Dan Doni berakhir dengan Tari. Yang membuktikan kalau mereka memang mengkhianati Rahma.


Banyak stand penjual makanan dan minuman di sini. Dari sabang sampai merauke. Makanan berat hingga makanan ringan atau pencuci mulut tersedia.


Walau kami datang bersama-sama tapi terkadang berpencar juga. Karena kesukaan terhadap makanan tidak ada yang sama diantara kami.

__ADS_1


Saat mengunjungi stand es durian, aku sengaja memesan minuman ini karena rasa haus yang sejak tadi merongrong tenggorokan. Nova dan Uci memilih es pisang hijau. Sementara Bagus dan Karen membeli es kelapa muda. Hadi dan Angga masih bingung memilih apa yang ingin mereka makan.


"Terima kasih," ucapku sambil menyodorkan selembar ruang dua puluh ribuan.


Saat aku hendak menyuap es durian ke dalam mulut, tiba-tiba ada seseorang yang mendorongku dari belakang. Alhasil bajuku basah kena tumpahan es durian tadi.


"Sorry ...," kata Tari dengan senyum licik. Samar, namun dapat kulihat dengan jelas.


Gelas es durian yang masih kugenggam lantas ku banting ke tanah. Untung hanya sebuah gelas plastik.


"Maksud lo apa sih?!" tanyaku nyalang pada Tari. Doni terlihat terkekeh dengan menutup mulutnya. Rupanya mereka sengaja membuatku kesal. Dan ini bukan pertama kalinya mereka mencari masalah denganku sejak seharian ini.


"Sorry, nggak sengaja, Cha," kata Tari berlagak memasang ekspresi tidak enak. Padahal sorot matanya sudah menjelaskan apa yang ada dipikirannya. Ditambah senyum sinis di sudut bibirnya.


"Apa? Nggak sengaja? Lo sengaja, kan? Numpahin ke baju gue?!" tuduhku, menunjuk Tari dengan emosi yang menggebu-gebu. Aku mendekat dan lantas mendorongnya hingga menabrak salah satu stand es krim.


Doni yang melihat kekasihnya tersudut, lantas ikut mendekat. Ia berdiri diantara aku dan Tari.


"Hey! Cha! Kan Tari nggak sengaja? Kok elo nyolot sih!" Ia juga mendorongku agar menjauh dari kekasihnya itu.


Beberapa pasang mata menatap kami. Bagai tontonan gratis. Bahkan sempat kulihat ada yang mengeluarkan ponsel dan mengabadikan momen ini. Sialan!


"Wuih ... rame! Iya. Terus ... Terus. Pukul! Eh liat ada hiburan nonton tinju," celetuk suara di belakangku. Dan aku sudah sangat hapal siapa dia. Angga!


Keadaan makin ramai. Dan kami berhasil menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar.


Namun, tiba-tiba Doni menarik tangan Tari pergi. Walau mereka masih menatapku benci. Teman-teman lain mendekat. Mereka berusaha menenangkan ku. Nova mengambil tissue dan membantu membersihkan pakaianku yang terkena es durian tadi.


"Kenapa sih? Berantem mulu? Nggak di kantor, nggak di luar?" tanya Hadi sambil menatapku heran. Aku yang masih sibuk membersihkan diri hanya diam.


"Udah sih. Jangan gitu, kasian Ocha nih! Sabar, ya, Cha." Karen mengelus punggungku, menatap mataku.


"Emang itu orang berdua bener-bener kebangetan! Amit-amit!" umpat Hadi.


"Iya, perasaan emang dari tadi, kan? Mereka usil ke Ocha. Ya wajar juga sih elu marah."


Alhasil mereka kembali berpencar. "Cha! Ke sono yuk!" ajak Nova diikuti Uci.


"Heem. Duluan deh, Nov."


Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Mencari stand penjual pakaian. Karena rasanya sangat risih dengan kondisi pakaian basah seperti ini. Belum lagi dalaman ku sedikit terlihat.


"Cha?!"


Angga muncul dari samping dengan dua buah es krim. Aku mengernyitkan kkening, menaikkan sebelah alis.


"Apa?"


"Jutek ih. Nih," kata Angga, menyodorkan es krim rasa greentea.


Tanpa basa basi lagi, kami menikmati es krim berdua. Menatap teman-teman lain dari kejauhan.


"Kamu nih, jahat deh. Malah ngomporin kita tadi," tukasku melirik Angga sebal.


"Bukan maksud gitu, Cha. Jadi gini ... Pertama, Si Doni juga nggak akan mukul kamu, Cha. Makanya gue ramein biar lebih nggak berani lagi. Setidaknya nggak terjadi kontak fisik sama kamu. Malahan malu, kan, kalau jadi pusat perhatian."


Ia melahap es krim miliknya perlahan tapi pasti. Bahkan kini hanya menyisakan es krim di dasar gelas.


"Kamu cewek, dia cowok kecuali sama Tari, ya. Bisa jadi jambak-jambakan sampai botak. Dan lagi, ini gue udah beliin kamu es krim. Kalau misahin, takut jatuh es nya. Mubazir dong."


Aku tidak begitu memperdulikan lagi keadaan sekitar. Walau masih ada tatapan orang-orang yang melihatku aneh sambil berbisik dengan kawan mereka. Es krim Angga sudah habis tak bersisa. Ia membuang gelas ke tong sampah tak jauh dari kami. Aku masih menikmati es krim ini dengan nikmat.


"Kenapa sih, Cha? Emosian banget?"


"Habisnya mereka keterlaluan. Nggak cuma tadi aja loh. Dari pagi. Di kantor. Tau nggak apa yang dilakuin Tari sama Doni? Aku dikonci di kamar mandi. Jelas banget suara Tari ketawa dan aku yakin banget itu dia. Terus tadi waktu aku bawa banyak barang, bisa-bisanya Si Doni nyepak kaki aku. Jatuh lah!"


"Ya kan bisa dibawa santai, jangan langsung nge-gas."

__ADS_1


"Ya nggak bisa juga, Angga. Coba kamu diposisiku."


"Pernah kok, waktu itu lagi musim film AADC. Orang-orang pada nyebut nama gue gini, Angga ... apa yang kamu lakukan itu jahat. Terus banyak meme, gue-nya biasa aja nggak emosian," ujar Angga dengan ekspresi santai. Tanpa berdosa.


"Itu Rangga!" jeritku, menatapnya sinis. Aku memincingkan mata dan langsung melompat ke punggung Angga.


Kni aku sudah berada di punggung Angga. Menikmati es krim sambil melihat pemandangan yang terlewat tadi. Yah, walau hanya berjejeran berbagai makanan di sini, namun sebenarnya cukup menggugah selera. Dan menjadi hiburan tersendiri.


"Lega?" tanya Angga masih tetap menggendongku, dan terus memperhatikan depan.


"Hah?! Lega kenapa?"


"Ini emosimu. Udah reda, kan?"


Benar juga! Kenapa emosiku mendadak hilang? Ajaib.


"Hehe ... Iya. Kok bisa, ya? Hm ... tapi makasih, ya."


"Eh itu, es krimnya minta dong, suapin." Angga menengok ke belakang sedikit.


"Ih udah dikasih ke aku kok diminta lagi? Namany palik lintah."


"Pabalik letah kali? Kalau denger tuh, jangan separuh-separuh."


"Licik! Sendirinya juga suka gitu, diplesetin kata-katanya." Kujewer telinga Angga, sebal. Tubuhnya sedikit goyah, ia juga mengerang kesakitan dengan nada dibuat-buat.


"Cha, coba deh tahan emosi, jangan langsung dikeluarkan. Kamu bisa kok ngalihin sama hal lain."


"Susah. Ya gimana, ya. Udah terbiasa gini dari dulu."


"Hm, ya iya sih. Tapi jangan semuanya langsung diluapin, tergantung masalah juga dan liat kondisi sih. Gue juga kalo bulu kakiku dicabut pasti marah saat itu juga sih," ujarnya santai, berhenti, membetulkan gendongan agar aku tidak terjatuh," Ya maksudnya, bisa lah pakai cara lain, Cha, Emosinya. Kalau pakai cara fisik takut kamu kalap nggak bisa kontrol diri sendiri."


"Contohnya gimana, Ngga?"


"Cobain deh budidaya tanaman kaktus."


Kriik...kriiik.


Telinga Angga kembali memerah karena jeweranku.


"Aduh, aduh. Hehe. Ya pokoknya cobain deh. Tahan emosi atau menertawakan nya. Habis itu pasti lega. Meski susah nahan diri sendiri." Langkah Angga terus mantap berjalan, sesekali menyingkir jika ada orang yang berpapasan dengan kami. "Kita nggak akan tau, Cha. Kalau emosi itu dilimpahin ke orang lain, akibat ke depannya nanti mati, terus gue males deh harus jenguk kamu ke penjara." Kucubit pinggangnya mendengar kekonyolan Angga entah untuk keberapa kalinya. "Atau nggak apa-apa deh, coba limpahin ke gue."


Hatiku berdesir. Hingga merasakan hangat di sekujur tubuh. Detak jantungku berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Kalimat yang sederhana namun langsung masuk ke sanubari.


"Eum ... ngomong-ngomong, makasih es krimnya." Wajahku menghangat terlebih saat Angga juga menengok ke belakang. Ia terlihat menarik sudut bibirnya.


"Yee ... itu balas budi tadi pagi kamu ngasih roti sama kopi." Tawanya kembali terdengar, membuatku kembali memincingkan mata, sebal.


"Ngomong-ngomong juga, Cha, berat ya dari tadi jalan gendong kamu. Pulang, yuk. Terus ini ganti baju kamu, basah loh ke pundak gue."


Aku yang baru menyadari hal ini kemudian memundurkan tubuh, punggung baju Angga memang ikut basah.


"Eh iya, maaf basah, ya."


"Nggak apa-apa kok. Empuk."


Plaak!


Kupukul punggungnya. Kembali melingkarkan tangan di lehernya.


"Dasar mesum! Tapi gendong terus sampai parkiran, ya. Hih! hukuman buat orang nyebelin."


Angga memang tidak seperti pria kebanyakan yang pernah kukenal. Dia unik. Tidak bisa ditebak. Walau sering keterlaluan, menyebalkan, tapi dia selalu bisa mengubah keadaan dan suasana hatiku menjadi lebih baik lagi.


"Astaga, Angga! Nova ditinggalin! Masih di sana!"


"wahaha ... Oh iya, baru inget, kita sih sibuk berduaan aja serasa dunia milik berdua."

__ADS_1


"PREETT"


__ADS_2