
Jeslin sudah mulai masuk kantor lagi seperti biasanya. Mereka, yang kemarin pergi bersamanya ke Riga, hanya mendapatkan libur satu hari saja, dan langsung kembali bekerja seperti semula. Banyak pekerjaan yang menumpuk dan harus diselesaikan segera. Suasana kantor sudah mulai ramai. Orang orang lalu lalang ke sana dan kemari, dan menjadi satu kebiasaan yang sudah berakar di kantor tersebut.
Kesibukan di kantor memang sudah menjadi hal yang lumrah. Apalagi kantor mereka memiliki jadwal yang padat untuk beberapa novel yang sedang naik daun belakangan. Jeslin menegangkan otot ototnya, dia berniat membuat secangkir kopi untuk menyegarkan kembali matanya. Pantry memang menyediakan air panas, serta peralatan makan dan minum. Bahkan ada kopi, teh dan gula yang bisa digunakan oleh karyawan dengan bebas. Tapi sayangnya Jeslin lebih suka membawa kopi dari rumahnya sendiri. Kini dia ingin menyeduh kopi tersebut, lalu kembali membawanya ke meja kerja.
"Katanya sih itu salah satu penulis. Tapi mukanya nggak jelas banget. Kira kira siapa, ya? Penulis kita bukan?" Sebuah diskusi terdengar saat Jeslin masuk ke pantry. Di tempat itu ternyata ada beberapa karyawan dari divisi lain sedang membuat teh.
"Ramai loh, videonya. Trending di twitter! Tapi katanya dia salah satu penulis di kantor kita!"
"Video apa sih? Gue belum lihat!"
"Video porno. Masa lo belum lihat, cek deh. Judulnya aja jelas banget kalau pemain nya salah satu penulis di sini."
"Masa sih! Tapi yang mana? Gue udah nonton tapi mukanya nggak begitu jelas."
"Iyalah, buram. Kan kameranya jauh. Kualitas nya juga jelek. Lagian penulis di sini banyak, kan! Apalagi kemarin banyak penulis baru tuh."
"Tapi gila juga sih, kalau sampai bener bener dia orang sini. Cowoknya gimana?"
"Nggak kelihatan, soalnya kamera memunggungi si cowok."
Jeslin yang baru saja masuk, mulai pucat. Dia berjalan perlahan menuju kompor, menyalakan benda itu untuk merebus air. Jeslin memang lebih suka memakai air mendidih untuk kopinya.
Perasaannya mulai tidak enak setelah mendengar obrolan mereka tadi. Jeslin lantas mematikan kompor dan tidak lagi ingin melanjutkan lagi membuat kopi. Buru buru dia pergi dan kembali lagi ke mejanya. Satu hal yang ingin dia lakukan, adalah memeriksa ponsel di mana berita tadi ia dengar.
Sampai di mejanya, Jeslin segera membuka gawainya dan mencari video yang dimaksud. Rupanya benar, kalau ada sebuah video yang menjadi trending di salah satu media sosial. Yang menampilkan adegan tidak senonoh pasangan pria dan wanita di atas ranjang. Jeslin menutup mulutnya sambil terus menyaksikan video yang berlangsung 30 detik itu. Dia dapat mengenali siapa pelakunya. Yakni dia sendiri dan Ian. Tempat di video itu diyakini memang kamar Ian. Pria yang sedang berada di atas tubuhnya, memang Ian.
Air mata Jeslin menetes. Buru buru dia mematikan ponselnya dan memperhatikan sekitar. Teman teman kerjanya tampak sibuk dengan pekerjaan masing masing. Itu artinya kemungkinan besar mereka belum melihat video tersebut. Tapi lama kelamaan semuanya pasti akan terbongkar. Karena walau dilihat dari jauh, semua orang pasti dapat mengenali siapa wanita pemeran video porno tersebut. Apalagi jika mereka kenal dekat dengan pemainnya, maka semua dapat menilai kalau wanita itu adalah Jeslin. Postur tubuhnya, bentuk wajahnya sangat khas Jeslin.
Gadis itu panik. Dia tidak mengerti kenapa video tersebut bisa ada di dunia maya. Apalagi judul nya jelas jelas merujuk ke perusahaannya. "Video panas penulis Karya Kata Publishing."
Tubuh Jeslin mulai panas dingin. Dia sudah tidak mampu lagi bekerja. Jeslin beranjak hendak pergi ke toilet, tapi dia menabrak seseorang di belakangnya.
"Kenapa, Jes? Kamu sakit?" tanya Richard yang merupakan pemilik perusahaan. Yang artinya adalah bos nya.
"Eum, saya ... Agak pusing, Pak. "
"Kamu kecapekan barang kali. Ya sudah kamu mau pulang aja? Gimana? Nggak apa apa kok. Istirahat dulu di rumah." Richard menatap Jeslin lekat lekat. Khawatir dengan kondisi salah satu karyawannya. Bagaimana pun dia juga salah satu anak emas Richard karena banyaknya karya yang telah berhasil mengharumkan nama perusahaan. Jeslin berbakat, dan tentu itu sebuah prestasi yang membanggakan.
"Boleh, Pak?"
"Boleh, Jes. Mau Pak Doddi antar kamu? Kamu bawa mobil sendiri?"
"Enggak usah, Pak. Saya naik taksi aja."
"Nggak diantar Pak Doddi aja?"
"Nggak usah. Kalau gitu, saya permisi dulu, Pak. Terima kasih."
"Oke kalau gitu. Yang penting kamu hati hati, Jes."
Jeslin tidak banyak berkomentar, dia hanya mengemasi barang barangnya dengan tergesa gesa karena ingin segera pergi dari kantor. Tentu sebelum teman temannya yang lain mengetahui berita yang sedang menyeret dirinya.
Kini dia berjalan sempoyongan keluar dari gedung bertingkat tersebut. Beberapa kali ada yang menawarkan bantuan, tapi Jeslin tidak memedulikannya. Dia terus berjalan. Padahal hari ini dia sedang tidak membawa kendaraan. Mobilnya masih berada di tangan Ben, karena kemarin pun Ben juga yang menjemputnya di Bandara. Pagi tadi pun, Ben mengantar Jeslin ke kantor.
Jeslin tidak tau lagi harus berbuat apa. Astrid sedang tidak ada di rumah karena ada acara bersama teman teman kampusnya dulu. Jeslin berhenti di trotoar jalan, dia membuka ponselnya dengan tangan gemetar. Setiap ponsel ia buka, bayangan adegan itu kembali muncul dalam ingatannya. Jeslin lantas mematikan ponsel, dan membuang asal ke dalam tas.
Dia tengak tengok sekitar, jalanan masih tampak ramai. Apalagi ini sudah masuk jam makan siang. Jeslin berjalan pergi tanpa tujuan. Beberapa kali dia menabrak orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Tubuh Jeslin sempoyongan. Lalu hujan pun mulai turun. Dia menengadahkan kepala ke langit. Air matanya ikut turun, dan menyatu bersama hujan yang semakin deras. Tidak ada yang tau kalau gadis itu sedang menangis sekarang.
_____
Ben baru selesai meeting. Saat keluar kantor, langit sudah mendung dengan suara gemuruh guntur yang cukup keras. Tidak hanya itu, angin berembus agak kencang siang itu. Ia menatap jam di pergelangan tangan. "Wah, telat aku. Jeslin udah makan belum, ya? Makan di mana dia? Mobil masih sama aku padahal."
Ben meraih ponsel dan segera menghubungi nomor gadis tersebut. Hanya saja nomor Jeslin tidak aktif dan membuat Ben heran. "Tumben. Biasanya dia selalu aktif. Lagi tidur aja hape on terus. Apa lowbat ya, terus lupa bawa charger."
Ben akhirnya pergi untuk menemui Jeslin. Dia juga sudah berjanji akan menjemput Jeslin makan siang hari ini, tapi dia terlambat keluar makan siang karena pekerjaannya baru saja selesai.
Rintik hujan sudah mulai membasahi kaca mobil depan. Perasaan Ben mulai tidak karuan. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan ingin segera menemui Jeslin saat ini juga.
Jalanan Ibukota mulai macet. Ben beberapa kali terjebak macet di lampu merah. Hingga tanpa ia sadari, ada seseorang yang berjalan di bawah hujan dengan tanpa tujuan.
__ADS_1
"Jeslin? Loh bener dia! Ngapain itu anak!" pekik Ben yang baru saja melihat Jeslin berjalan melewatinya.
Ben segera keluar dari mobil. Derasnya hujan tidak menjadi masalah bagi pemuda itu. Yang ia inginkan hanyalah agar bisa secepatnya menyusul Jeslin. Awalnya dia berpikir kalau hanya salah melihat. Tapi saat dia mulai menyusul gadis dengan blazer cokelat yang tadi melewati nya, dia sangat yakin kalau itu adalah Jeslin.
Ben berlari agar bisa menyusulnya. Kini tangan Ben meraih bahu Jeslin, dan membuatnya menoleh pada pemuda itu. Kedua nya saling tatap. Jeslin yang terkejut lalu segera menangis histeris di depan Ben. Sementara Ben yang kebingungan hanya bisa menatap Jeslin yang kini justru berhamburan memeluknya. Ben segera memeluknya sambil terus mengelus punggungnya.
"Kenapa, Jes? Ada apa?" tanya Ben masih memeluk Jeslin dengan suara tangis gadis itu yang terdengar. Tubuh Jeslin menggigil karena sudah terlalu lama kehujanan. Ben dengan sigap melepas jas yang masih ia kenakan, dan memakaikan nya pada Jeslin. Walau basah setidaknya mampu bagian tubuh Jeslin yang terekspose jelas karena kemeja dalaman nya tipis. "Kita masuk mobil dulu, ya. Yuk," ajak Ben lalu menuntun Jeslin menuju mobil.
Bunyi klakson bersahutan karena mobil Jeslin yang dibawa Ben tadi menghalangi jalan. Ben menyapa sebentar pengguna jalan di sekitar sambil meminta maaf. Ia segera membukakan pintu mobil untuk Jeslin dan segera ikut masuk ke dalam. Mereka pun pergi.
Selama di jalan, Jeslin tidak berhenti menangis. Tapi dia menatap ke jendela di samping. Hujan makin deras di luar sana, sama seperti perasaan dan pikiran Jeslin yang berkecamuk saat ini. Ben tidak berani bertanya lagi, karena sejak masuk ke dalam mobil sikap Jeslin justru tertutup, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu beberapa bulan lalu. Sepertinya akan sulit untuk bisa mencari jawaban akan rasa penasarannya pada apa yang terjadi pada Jeslin. Ben akhirnya memilih untuk diam sambil menunggu Jeslin siap.
"Kamu ... Udah pulang kerja, Jes? Tumben bawa tas?" tanya Ben saat melihat tas yang biasa dibawa Jeslin saat berangkat dan pulang kerja. Karena biasanya jika hanya makan siang, Jeslin jarang sekali membawa tas seperti sekarang. Dia hanya membawa tas kecil untuk tempat ponsel dan dompetnya saja.
"Iya. Antar aku ke apartemen," sahut Jeslin dingin.
"Oke."
Ben memutuskan untuk kembali diam, hingga mereka akhirnya sampai di apartemen Jeslin.
"Udah sampai." Ben mematikan mesin mobil, namun Jeslin justru diam di tempatnya duduk sambil menatap jendela samping yang masih basah akibat hujan tadi.
Untungnya hujan sudah reda, yang kini meninggalkan bekas basah serta genangan air di sepanjang jalan.
"Jes? Kamu baik baik aja? Ada masalah apa? Kamu bisa cerita ke aku."
Jeslin menoleh, dia diam sejak tadi bukan berarti tidak mendengar suara Ben, tapi bibirnya kelu, seakan tidak mampu bersuara sedikit pun. Mata Jeslin berkaca kaca, Ben juga terus menatap Jeslin sambil menunggunya untuk berbicara. Ben yakin kalau Jeslin pasti mau bercerita, hanya menunggu waktu yang tepat saja.
"Aku harus gimana, Ben? Aku harus gimana?" Jeslin kembali menangis, kali ini, sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.
"Hei, kenapa? Ada apa memangnya? Cerita sama aku!" pinta Ben sambil meraih kedua tangan Jeslin. Dia terus menatap gadis di hadapan, sambil berusaha menangkan Jeslin.
"Ian ...," kata Jeslin pelan.
"Ian? Ngapain lagi orang itu?" Ben mulai emosi begitu nama Ian disebut. Jika Ian yang menjadi pemicu tangis Jeslin, berarti ini memang masalah besar. Ben juga merasa bertanggung jawab. Padahal sebelumnya, dia bisa menjanjikan kalau Ian tidak akan mengganggu hidupnya lagi.
"Twitter! Kamu lihat twitter sekarang."
"Lihat dulu, Ben!"
"Oke oke." Ben mencari ponsel yang sejak tadi ia letakkan di saku celana. Mencari media sosial yang dimaksud oleh Jeslin, dan kini Ben paham apa yang terjadi. Dia melotot sambil melihat potongan video berdurasi 30 detik itu. Belum selesai dia menonton, Ben justru membaca semua komentar di video itu.
"Astaga! Kenapa jadi begini! Kurang ajar! Dia benar benar keterlaluan. Memang seharusnya aku bunuh orang itu!" gumam Ben kesal. Dia lantas kembali menyalakan mobil. Jeslin yang menangis, berhenti karena terkejut.
"Ke mana? Kita mau ke mana?" tanya Jeslin kebingungan.
"Kita cari si brengsek itu!" kata Ben serius.
Jeslin tidak menolak, tapi juga tidak menyetujui. Dia terus menatap Ben yang tampak sangat marah. Bahkan cara dia mengemudikan mobil benar benar ugal ugalan.
Dalam perjalanan, Ben kembali menghubungi seseorang. "Nji! Lo di mana?"
"Biasa. Di warnet. Kenapa?"
"Cari tau, ada di mana si brengsek itu sekarang!"
"Si brengsek yang mana?"
"Ian! Siapa lagi!"
"Hah? Lah kenapa lagi sih, Ben? Bukannya lo udah gebukin itu orang kemarin? Mau ditambah lagi? Jangan ih!"
"Iya, kalau perlu gue bunuh dia!"
"Heh! Mulut lo! Jangan sembarangan! Ada apa sih?"
"Gila! Coba lo lihat twitter sekarang! Ini pasti kerjaan si anjing itu! Buruan, cari tau dia di mana! Gue mau samperin!"
"Twitter? Lah kenapa emangnya." Panji yang memang berada di depan layar komputer kebesarannya, langsung mencari apa yang diminta Ben. "Video mesum penulis? Ben ... Ini maksudnya penulis ...."
__ADS_1
"Jeslin. Memang brengsek Ian! Buruan, Nji! Gue lagi di jalan. Cepat cari dia di mana!"
"Hah! Oh iya iya. Wait."
Panji mengambil telepon di mejanya, menghubungi seseorang dan menanyakan keberadaan Ian sekarang.
"Oke. Thanks."
Panji kembali beralih ke ponselnya di mana panggilan dengan Ben masih terhubung. "Ada di karaoke, yang kemaren!"
"Oke."
"Lo ke sana, Ben? Eh jangan sembarangan ... Mukul orang." Belum selesai Panji berbicara, telepon dimatikan secara sepihak. "Mampus nih, bakal perang dunia ke 10!" Panji beranjak lalu memakai jaket yang disampirkan di belakang kursi. "Vik, gue pergi bentar! Lo jaga warnet dulu!"
______
"Ben ... Kita mau ke mana?" tanya Jeslin yang akhirnya memberanikan diri setelah beberapa lama.
"Aku tau di mana Ian sekarang. Biar aku kasih dia pelajaran lagi, Jes."
"Tapi, Ben ...."
"Kemarin aku sudah kasih dia peringatan untuk nggak ganggu kamu lagi. Tapi lihat sekarang? Dia justru memunculkan masalah baru yang lebih besar. Itu artinya dia nantangin! Aku yakin dia sengaja melakukan itu."
Ponsel Jeslin berdering. Rupanya ada beberapa pesan dari teman temannya. Kebanyakan menanyakan video yang sedang viral tersebut. Tangannya makin gemetaran. Dia bahkan tidak berani lagi membuka ponselnya sendiri.
"Kenapa! Siapa yang kirim pesan?"
"Semua orang udah tau, Ben. Aku ... Aku harus gimana? Hidupku hancur sekarang."
"Hei, Jes. Jangan takut! Kita bakal perbaiki keadaan ini. Jangan cemas, aku bakal bantuin. Oke?" Ben menggenggam tangan Jeslin berusaha untuk menguatkan gadis tersebut.
Jeslin menggeleng, matanya sudah bengkak, hidungnya merah, kepalanya juga pusing. "Aku nggak bisa. Aku nggak bisa," kata Jeslin dengan tubuh yang makin lemah.
Kali ini ponsel Jeslin berdering nyaring. Ternyata Daniel menghubungi Jeslin berkali kali. "Ini Daniel! Dia pasti udah tau juga."
Ben melirik ke ponsel Jeslin yang tak kunjung berhenti berdering. Ben juga bingung, dia menarik nafas panjang dan tidak tau harus berbuat apa. "Coba sini kasih aku hapenya," pinta Ben.
Nama Daniel terus terpampang di layar. Ben berhenti di lampu merah. Dia pun menjawab panggilan telepon Daniel. Karena bagaimana pun juga, Daniel bukanlah orang asing. Tidak mungkin masalah ini disembunyikan terus, apalagi melihat kondisi saat ini yang terjadi.
"Halo?"
"Loh, kok lo yang jawab, Ben! Jeslin mana?"
"Ada. Tapi ... Dia lagi nggak bisa jawab telepon lo."
"Dia baik baik aja, kan? Kalian di mana? Gue baru lihat beritanya. Kasih hape ya ke dia. Gue mau ngomong!"
"Hm, kayaknya jangan dulu, Nil. Kakak lo belum siap," jelas Ben sambil menoleh ke arah Jeslin yang terus menatap ke jendela sebelah kirinya.
"Jadi ... Itu bener? Video itu bener Jeslin? Bukan sama lo, kan?"
"Jangan sembarangan lo, Nil. Dengerin gue, masalah ini nggak seperti apa yang lo pikir. Nanti gue jelasin, atau mungkin saat Jeslin siap."
"Maksud lo? Lo udah tau masalah ini? Memangnya siapa cowok itu, Ben?"
"Huft. Nanti gue jelasin. Jangan sekarang. Gue lagi nyetir."
"Lo mau ke mana?"
"Karaoke summercamp."
"Loh ngapain?"
"Gue mau bunuh orang yang udah ngerusak nama baik Jeslin!"
"Hah? Astaga! Oke, Jeslin sama lo kan?"
"Iya."
__ADS_1
"gue ke sana. Tunggu gue,"
_______