
Pelukan ini membuat aku enggan untuk beranjak. Dengkuran suara pria di belakangku halus namun berat. Embusan napasnya sungguh membuatku tenang jika berada di pelukannya. Getar alarm yang biasa ku atur di jam yang sama setiap harinya, justru ku matikan lalu kembali kuletakan benda pipih itu di meja nakas samping ranjang.
"Yang ... bangun, udah pagi itu. Kamu berangkat kerja dari sini atau pulang dulu nanti?" tanyaku menoleh ke belakang dan hanya ditanggapi dengan gumaman Angga yang kembali menguasai tengkukku. Tangannya makin erat berada di pinggangku. Kalau saja ini hari libur, aku akan kembali tidur dan makin merapatkan selimut kami. Tapi kami harus pergi kerja, dan Angga harus segara aku bangunkan. Aku mengelus kepalanya dari posisi ini, tidak sulit, walau pada akhirnya dia hanya bergerak sedikit dan makin mengeratkan pelukannya padaku. "Yang ... Mandi ih! Bangun dulu."
Beberapa kali aku mengoncangkan tubuhnya, dan akhirnya perjuanganku membuahkan hasil. Dia mulai menggeliat dan mengerjapkan mata. "Jam berapa?" tanyanya sambil mengucek mata.
"Jam 6 sayang. Bangun dulu, aku mau mandi duluan, ya. Nanti gantian kamu." Aku lantas menyingkap selimut dan beranjak.
"Bareng saja kenapa sih? Menyingkat waktu, Ay." Dia menggaruk kepalanya sambil masih terlihat mengantuk.
"Dasar. Masih aja minta!" Tak lagi memperdulikan nya, aku segera masuk ke kamar mandi dan menyelesaikan ritual pagiku seperti biasa. Kali ini aku tidak terlalu lama mandi, karena Angga juga akan memakai kamar mandi ini, dan kami pergi ke kantor bersama.
Masih memakai piyama mandi, tanpa sungkan keluar menuju lemari pakaian. Dia yang sedang bermain ponsel segera beranjak mendekat. "Handuk aku, mana?" tanyanya sambil memelukku dari belakang, manja.
"Ini. Nggak pulang ke rumah lagi, kan?" tanyaku menegaskan.
__ADS_1
"Enggak, Ay. Lagian ribet, kejauhan. Langsung saja. Berangkat dari sini saja. Masih ada kan baju aku di sini?" Dia melongok ke dalam lemari mencari kemeja yang memang pernah dia tinggalkan di rumah kontrakan lama.
"Ada, itu. Ah, aku juga mau pakai batik yang sama juga," kataku sambil mengambil pakaian milikku. Batik ini kami membelinya dalam waktu yang berbeda, dan sebelum kami ada hubungan. Anehnya motif yang kami pilih itu sama, dan warnanya juga senada. Alhasil batik ini seperti sengaja menjadi seragam couple kami. Aku berbalik padanya. Tersenyum saat dia juga tersenyum menatapku. Kaca mata yang bertengger di hidungnya seolah memberikan rasa manis yang lain jika dia memakainya.
Angga mulai mendekatkan wajahnya padaku, tapi langsung aku tahan. "Nggak mau. Ay, mandi dulu," kataku. Dia lantas mendengus sebal. "Oke. Oke. Habis mandi pokoknya harus dikasih!" katanya sambil mencubit hidungku, gemas. Setelah meraih handuk, dia segera masuk ke kamar mandi. Rupanya pemilihan kamar sejak awal kemarin adalah pilihan tepat. Aku tidak terlalu butuh jendela untuk melihat suasana di luar, justru aku lebih membutuhkan kamar mandi dalam, agar makin mendapat privasi, apalagi dengan adanya Yudi di apartemen ini.
Selagi menunggu Angga mandi, aku membuatkan dua cangkir kopi. Pintu kamar, dibuka. Suasana agak sepi di ruang tengah sampai dapur, sambil mempertajam pendengaran, kamar Nova memang agak ramai sekarang. Berarti mereka berdua juga masih di kamar. Dengan langkan mantap, aku berjalan menuju dapur. Membuat kopi untuk aku dan Angga. Namun saat sedang meracik kopi dan gula, pintu kamar mandi dibuka. Saat aku menoleh, rupanya Yudi baru saja mandi, dan masih memakai handuk. Jantungku terasa terpacu kencang, bukan karena nafsu melihatnya, tapi aku justru takut dekat dengannya.
"Lagi apa, Cha?" tanyanya basa basi.
"Wah, baunya enak," kata Yudi berjalan mendekatiku, aku lantas menoleh dan tiba-tiba handuk yang menutupi bagian selangkangannya terjatuh ke lantai.
"Astaga!" pekikku, namun Yudi malah tersenyum dan tidak segera mengambilnya untuk menutupnya kembali. Dia justru memegang benda di antara selangkangannya itu, mengelusnya pelan, dan makin mendekat padaku. "Kenapa, Cha? Punya Angga seberapa besar? Besar punya siapa coba?" tanyanya dengan ekspresi menggoda.
"Heh! Gila lo! Gue bilangin Nova nanti!" jeritku.
__ADS_1
"Silakan, Nova nggak akan marah." Tantangnya dia makin mempercepat gerakan tangannya.
"Maju dikit lagi, gue sunat lagi punya lo!" kataku lalu meraih pisau yang ada di dekat kompor. Yudi tertawa, dia berhenti mendekat lalu memungut kembali handuk tadi. Ia lantas kembali ke kamar Nova. Aku langsung menekan dada, sangat terkejut dengan kejadian barusan. Bahkan air panas yang sudah mendidih sejak tadi hampir kulupakan.
Saat aku kembali ke kamar, Angga sudah selesai mandi dan sudah berdandan rapi. Aroma segar menguar di kamarku. Dua cangkir kopi sengaja aku bawa ke kamar, dan itu membuat dia terkejut.
"Ngapain dibawa sini, once? Nanti kena kasur kopinya kalau tumpah."
"Aku nggak mau ngopi di luar, sini saja." Aku memberikan cangkir tersebut ke Angga. Meneguk cangkir kopi milikku dan duduk di pinggir ranjang. Tanganku bergetar, aku takut. Angga mendekat, dan ikut duduk di ssampingku.
"Kunafa?" tanyanya dengan kalimat yang sengaja diplesetkan.
Aku menoleh, dan menceritakan hal yang baru saja terjadi padaku. "Tapi ay nggak diapa-apain, kan?" tanya Angga dan aku menggeleng pelan. Masih dengan wajah yang tidak nyaman.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Sini peluk dulu."
__ADS_1