Anomali Rasa

Anomali Rasa
Part 20 Kekasih Baru Nova


__ADS_3

Ponselku bergetar. Tanganku menjulur dan membuka mata saat layar tersebut menampilkan wajahku sendiri. Ini panggilan video, dan nama di layar itu yang membuatku langsung tersenyum.


"Pagi," sapa ku sambil menyapu wajah dan merapikan rambut yang acak-acakan.


Wajah Angga terlihat sumringah, senyum khasnya membuat aku malah salah tingkah jika terus ditatap begitu.


"Baru bangun ye. Masih bau," katanya terus gencar meledekku.


"Bau wangi, kan. Kamu aja nggak tau walau aku tidur tetep wangi." Aku lantas menyalakan lampu agar wajahku dapat dilihat jelas olehnya.


"Ye ... waktu itu kita tidur bareng malah olahraga dulu, kan, sebelum tidur."


"Ih ... dasar masih inget aja. Semalam pulang jam berapa? Ditungguin juga, nggak balas chat aku." Aku mulai memasang wajah teraniaya dan sedih.


"Yang enak mah inget terus. Iya, maaf. Selesai malam banget. Lagian udah di balas itu, kan?"


"Masa sih?" Aku lantas memeriksa ponsel dengan panggilan yang masih terjeda. Lalu tersenyum saat membaca balasan pesan darinya. Rupanya saat dia pulang sudah hampir tengah malam.


Layar kembali kuarahkan ke panggilan video. "Hehe. Oke deh. Ay udah mandi? Nanti jemput," rengekku dengan logat mirip anak kecil.


"Siaap tapi bawain bekel ya."


Setelah telepon dimatikan, aku melempar asal gawai ke atas kasur. Menggeliat sambil menguap, sepertinya aku butuh kopi sebelum berangkat. Lalu segera beranjak, mandi.


_________


"Pagi ...," sapa Nova yang sudah duduk di meja makan dengan seorang pria. Mereka sedang menikmati sarapan.

__ADS_1


"Pagi. Apa nih?" tanyaku menatap meja makan. Padahal aku tau kalau itu nasi uduk. Pertanyaan itu sebenarnya aku tujukan ke pria di samping Nova sekarang. Tapi aku merasa risih jika harus menatapnya. Entahlah, sepertinya aku memang memiliki syndrome anti bertemu orang baru.


"Sarapan dulu, Cha. Nih Yudi bawain nasi uduk." Nova terlihat sumringah pagi ini. Oh, jadi dia yang membuat Nova sering melihat ponselnya dan senyam senyum sendiri.


Aku menarik kursi yang ada di depan Nova. Meja makan menjadi penghalang kami. Tidak langsung menyantap sarapan di depan seperti mereka, aku malah hanya memperhatikan dua sejoli itu yang tengah di mabuk asmara. Memuakkan. Karena melihat adegan 17+ di depan, aku segera membuat kopi.


Dua sendok kopi kutuang ke cangkir, sambil menunggu air panas, aku terus merutuki Nova dan Yudi yang sedang bermesraan di meja makan.


"Orang pacaran segitunya apa? Perasaan aku biasa aja. Apa belum sampai tahap itu, ya? Ckckck." Aku terus menggerutu pelan. Aroma kopi mulai tercium. Terpaksa aku kembali ke meja makan.


"Makan dulu 'kan, Cha?" tanya Nova sambil memeluk Yudi yang duduk di sampingnya.


"Enggak laper," sahutku sinis.


"Eh, Cha, pemandangan di luar tadi pagi bagus banget tau. Uh, kapan-kapan mesti lihat kamu."


"Kan elu yang punya jendela di kamar!" Aku mulai menaikkan nada bicara karena sebal melihat tangan jahil Yudi di sekitar tubuh Nova.


"Kalian kenal di mana?" tanyaku datar.


"Oh iya, kalian belum kenalan resmi, kan? Sayang, ini Ocha, temen yang aku ceritain itu loh. Cha, ini Yudi, pacar baru gue."


"Nggak usah pakai perkenalan resmi, basi tau, Nov." Yudi yang hendak mengulurkan tangan padaku lantas terlihat kikuk saat aku langsung menolak hal itu.


"Ye, elu jutek banget. Lagi berantem sama Angga." Kembali panggilan 'elu gue' kami sisipkan. Kadang jika suasana hatiku buruk, kata itu sangat enak untuk diucapkan memang.


"Dih, kenapa bawa-bawa Angga?!"

__ADS_1


"Gue tau, elu uring-uringan, kan, dia semaleman nggak ada kabar. "


"Sok tau lu!" Aku melirik jam di pergelangan tangan. "Udah, ah. Gue mau berangkat."


"Eh, bareng nggak? Yudi bawa mobil nih."


Aku beranjak setelah menghabiskan kopi milikku. "Nggak usah. Gue dijemput Angga!"


"Eh, Cha! Ocha! Tungguin ih. Bareng turunnya!" Nova terus memanggil namaku, tapi aku terus berjalan ke pintu sambil meraih sepatu. Saat pintu dibuka, aku terkejut melihat Angga sudah ada di depan.


"Loh, kok ay tau aku di kamar ini?" tanyaku bingung.


"Si Once. Kan semalem udah kasih tau kamarnya yang mana."


Nova lantas menyusul ku bersama Yudi. Dia masih menggerutu karena sikap tidak bersahabat yang kulayangkan pada kekasihnya.


"Eh, Angga, kenalin nih. Cowok gue, namanya Yudi. Sayang ... Ini Angga pacarnya Ocha." Kedua pria itu lantas saling berjabat tangan. Aku hanya diam lalu menggandeng Angga pergi. Nova dan Yudi juga mengekor pada kami menuju lift.


"Nyebelin banget Nova ay, sama cowoknya tuh," bisikku.


"Ngapa lagi sih ni anak banyak banget yang disebelin," cetusnya seolah berbicara sendiri.


"Pacaran di depan aku tadi. Ih bener-bener nggak tau malu."


"Lah ya nggak apa-apa, 'kan dunia juga luas, ay."


"Ih tapi 'kan, Ay. Nggak gitu juga. Masa di depan orang cium ciuman gitu. Kita aja nggak pernah."

__ADS_1


"Ay, sirik kali. Iri gitu nanti tak cium kamu depan mereka!"


"Ih, Ay! Malah ikutan mereka! Pokoknya aku nggak suka. Feeling aku, mereka bakal sering tuh di sini berduaan. Astaga, bayangin aku harus ada di antara mereka." Aku terus menyerocos sepanjang koridor, sementara Angga hanya mendengarkan sambil sesekali menyahut.


__ADS_2