
Pagi pagi sekali Jeslin pergi. Bahkan sebelum Astrid bangun dari tidur, serta Daniel yang masih menguap di atas ranjang.
"Aku pergi dulu," jerit Jeslin sambil memakai sepatu Stiletto warna putih.
"Loh, Kak? Pagi banget?" tanya Daniel yang buru buru muncul di balik pintu kamar. Namun Jeslin justru sudah hilang di balik pintu dan pergi dari apartemennya.
Langkah Jeslin sengaja dipercepat. Memang aneh jika Jeslin berangkat sangat pagi seperti sekarang. Dia tentu memiliki alasan tertentu. Bukan karena pekerjaan kantor yang mengharuskan dia untuk pergi lebih awal, melainkan Ben.
Yah, rasa bersalah telah menggerogoti hati Jeslin semalaman. Apalagi Astrid serta Daniel yang masih sering mencibir karena sikap dingin nya pada Ben. Padahal karakter Jeslin yang seperti itu, bukan karena kesengajaan.
Dia kembali melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung bertingkat tersebut. Ini adalah kedua kalinya Jeslin masuk ke tempat itu. Ia segera masuk dan bertanya pada resepsionis kemarin yang ia temui saat ingin bertemu Ben. Yah, di datang ke kantor Ben.
"Pak Ben sudah datang?" tanya Jeslin.
"Pak Ben belum hadir, Bu. Sepertinya hari ini tidak masuk lagi, karena kemarin juga sudah izin tidak masuk kantor. Apakah ada pesan, nanti saya sampaikan ke sekretarisnya," ujar wanita dengan rambut pendek sebahu dengan nama Lita.
"Eum, nggak usah deh. Ya sudah, terima kasih," sahut Jeslin lalu pamit pergi.
Siska baru saja keluar dari lift, menuju meja Lita karena ada beberapa pesan yang harus disampaikan. Tapi Jeslin sudah pergi, walau dia berhenti dulu di depan lobi, karena ada pesan yang harus ia balas.
"Lit, nanti ada karangan bunga datang, suruh antar langsung ke ruangan meeting, ya."
"Oke. Eh, ada yang cari Pak Ben. Pak Ben masuk nggak hari ini?"
"Siapa?"
"Itu, perempuan yang itu," tunjuk Lita pada Jeslin yang kini sedang menerima panggilan telepon.
"Kok kayak pernah lihat, ya," gumam Siska.
"Eh, itu kan yang tempo hari ke sini juga! Yang pas keluar kantor, di gandeng sama Pak Ben. Pacarnya, ya, Sis?" tanya Lita penuh penasaran.
"Kayaknya bukan deh. Tapi entahlah. Pak Ben nggak bilang apa apa, bisa jadi dia pacarnya, tapi aneh, masa pacar sendiri nggak tau kalau Pak Ben nggak masuk kantor."
"Lagi berantem mungkin."
"Bisa jadi."
Jeslin kembali menuju mobilnya yang parkir tidak terlalu jauh dari lobi. Untungnya lahan parkir sedang tidak terlalu ramai, sehingga dia bebas meletakkan mobilnya di tempat yang dia inginkan.
"Iya, aku lagi di jalan nih," kata Jeslin lalu segera masuk ke dalam mobil. Akhirnya dia gagal bertemu Ben. Ia berniat segera kembali ke kantor, karena sebentar lagi akan ada meeting untuk kelanjutan keberangkatan tim Jeslin ke Latvia.
_____
Ben sudah lebih segar. Panji yang menginap di apartemen nya, masih terlelap tidur di sofa. Ben hanya melirik sekilas pada sahabatnya, yang sudah menemani sejak beberapa hari terakhir.
"Nji, gue mau ke kantor, ya. Lo kalau mau makan, minum ambil dan bikin sendiri."
"Hm? Serius lo mau ke kantor?" Panji ternyata sudah setengah sadar, dan langsung sadar begitu mendengar kalau Ben hendak masuk kerja hari ini.
"Iya. Bokap gue nyuruh masuk kantor hari ini, sehat nggak sehat. Ada meeting penting katanya," ucap Ben, ia mengambil susu yang ada di kulkas juga sereal dengan bentuk bintang berwarna kuning. Mangkuk terisi sereal dan ditambah susu.
"Lo itu anak kandung apa anak pungut sih, Ben?" tanya Panji, tapi tidak mendapatkan respon berarti dari Ben. Dia justru dengan santainya menikmati sarapan sederhana dan langsung menghabiskan dengan cepat. Ben tidak terlalu ambil pusing dengan perkataan Panji. Toh, karakter Papanya memang seperti itu pada semua orang. Tegas dan keras. Hal itu bukan tanpa alasan, justru semua itu adalah hasil dari pekerjaannya dulu sebagai militer.
Yah, Papa Ben mantan tentara. Dia pensiun dini karena hampir mati akibat menjadi relawan di Afganistan. Itulah sebabnya dia melarang sang anak untuk tidak meneruskan cita citanya untuk menjadi tentara.
"Gue berangkat dulu." Ben lantas meraih tailored jacket abu abu yang dia letakkan di punggung sofa.
Ben memang lebih menyukai busana tailored jacket ketimbang tuxedo. Baginya tailored jacket lebih pas ditubuhnya. Ia juga kerap memesan busana untuk kantornya pada penjahit langganan keluarga.
"Hati hati, Ben! Jangan mikirin Jeslin terus," ucap Panji dan justru membuat Ben kembali teringat sosok wanita tersebut.
Dalam perjalanan pun, Ben masih aja teringat Jeslin. Bagaimana sikap gadis itu saat ditemui di kediamannya. Hati Ben sakit. Mendapat penolakan halus dari Jeslin. Ia lantas kembali mengingat memori yang telah ia lalui bersama Jeslin. Dari pertemuan pertama mereka, hingga semua kenangan yang pernah mereka ukir berdua. Bukan terukir oleh mereka berdua, tapi Ben yang mengukurnya seorang diri selama ini. Ben baru menyadari, kalau Jeslin memang tidak tertarik padanya dari dulu hingga sekarang.
Akhirnya Ben mulai bisa menerima kenyataan. Kenyataan pahit, kalau Jeslin tidak tertarik padanya. Selama ini hanya Ben saja yang terus berusaha mengejar Jeslin. Hanya Ben yang terus mendekati Jeslin, bukan sebaliknya. Bahkan Jeslin terus menunjukkan sikap tidak suka saat berada di dekat Ben selama ini. Hal itu yang membuat Ben mulai mengubur perasaannya pada Jeslin.
Mobil Ben sampai pada pelataran parkir kantor. Beberapa kendaraan mewah lain sudah parkir di tempatnya. Ia memang lebih memilih basemen sebagai tempat parkir, karena mobilnya tidak akan terasa panas saat ia akan menaikinya siang nanti.
Dengan langkah percaya diri, Ben masuk ke lobi. Dia menyapa beberapa orang di tempat itu sambil menunjukkan raut wajah bahagia.
"Pagi, Pak."
"Pagi, Lit."
"Eh, Pak! Maaf, tadi ada tamu yang mencari Bapak," jelas Lita dan membuat langkah Ben terhenti.
"Siapa? Klien saya?"
"Eum, sepertinya bukan. Perempuan."
"Perempuan?" tanya Ben lagi. Ben penasaran siapa orang yang mendatanginya ke kantor pagi tadi. Apalagi dia adalah perempuan. Beberapa nama muncul di kepala Ben, mengenai siapa wanita yang tadi telah mencarinya. Tapi dia tidak menemukan satu pun nama yang masuk akal untuk muncul dalam kehidupannya sekarang. Karena selama ini, terutama sejak dia bekerja di perusahaan itu, belum pernah sekalipun Ben bertemu teman lamanya lagi, apalagi yang berjenis kelamin perempuan.
"Iya, Pak. Dia datang pagi sekali. Pas saya tanya ada pesan atau tidak, dia bilang nggak ada pesan terus langsung pergi. Oh iya, sepertinya Siska paham siapa orangnya, Pak," jelas Lita.
"Oke. Thanks."
__ADS_1
Ben langsung masuk ke dalam lift. Ia pun naik ke lantai atas, di mana ruangannya berada. Sebenarnya dia tidak terlalu ambil pusing dengan tamu perempuan yang dibicarakan Lita, karena Ben merasa tidak sedang menunggu seseorang atau ada orang yang ingin menemuinya.
"Sis? Hari ini jadwal saya apa aja?" tanya Ben yang langsung menghampiri meja Siska yang berada di depan ruangannya.
Siska yang sedang berdandan langsung terkejut dan gelagapan. Tapi untungnya Ben tidak terlalu memedulikan hal itu.
"Loh Bapak sudah masuk? Saya pikir masih sakit?" tanya Siska sambil membaca jurnal pribadinya.
"Iya, masih sakit, tapi harus kerja. Kalau nggak nanti saya makan apa?" Pertanyaan Ben terdengar menggelikan karena terlontar dari mulut anak pemilik perusahaan. Bagi Siska, harta keluarga Gunawan tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Hal ini membuat Siska terkekeh pelan, sambil memeriksa jurnal miliknya.
"Oh hari ini Pak Ben hanya ada meeting dengan PT Karya Cipta mengenai pembelian tanah."
"Cuma itu?"
"Iya, Pak. Yang lain sudah saya cancel dan diundur minggu depan."
"Jam berapa meeting nya?"
"Nanti sore, Pak."
"Oh ya sudah. Saya masuk dulu. Kamu tolong buatkan saya kopi," pinta Ben pada Siska.
"Baik, Pak."
Ben segera masuk ke ruangannya, dan duduk di singgasana. Telpon di meja nya berdering. Dengan malas malasan ia mengangkat gagang telepon itu, dan menekan salah satu tombol. "Ya?"
"Kamu masuk hari ini?"
"Masuk, Pa. Kalau nggak mana mungkin bisa angkat telepon Papa."
"Ya sudah. Kerja yang bener. Jangan lembek jadi anak laki laki. Cuma sakit flu aja nggak masuk kerja. Ini kerja, Ben, bukan sekolah!" omel sang Papa.
Ben hanya menatap jengah ke langit langit dan berusaha bersikap sopan pada atasannya tersebut. Memang Pak Gunawan adalah ayah kandung Ben, tapi di kantor, dia tetap atasan Ben. Sikap Pak Gunawan pun, layaknya atasan pada bawahan. Di kantor Ben tidak punya kuasa besar, jika ada sang ayah.
"Iya, Pa"
"Ya sudah. Lanjutkan pekerjaan kamu." Telepon di akhiri sepihak, dan mood Ben langsung jatuh seketika. Dia mulai tidak berniat bekerja hari ini karena sikap Papa nya. Hanya saja, dia tidak bisa kabur seperti saat di sekolah dulu.
Pintu ruangan diketuk, Ben langsung menyuruh tamunya untuk masuk, karena dia tau kalau yang datang adalah Siska. Benar saja, aroma kopi langsung menguar di dalam ruangannya. Siska pun mendekat ke meja Ben untuk meletakkan kopi pesanan bos nya itu.
"Ada lagi, Pak?"
"Enggak." Ben mulai memeriksa beberapa map yang ada di atas meja. Dia tau kalau Siska pasti akan meletakkan pekerjaan yang belum diselesaikan oleh atasannya di atas meja, setiap paginya.
"Oh iya, Pak. Tadi ada tamu yang mencari Bapak," kata Siska yang tiba tiba teringat kejadian pagi tadi.
"Itu, Pak. Yang kemarin pernah ke sini."
"Yang mana?" tanya Ben yang tiba tiba mulai tertarik pada obrolan itu. Dia merasa belum pernah menerima tamu wanita seperti yang disebutkan dua anak buahnya.
"Yang kemarin, Pak. Eum, siapa ya namanya ... Jes ... Jeslin? Oh iya, Jeslin, Pak!" seru Siska yang tampak berbinar karena telah mengingat nama tamu atasannya.
"Apa? Yang bener kamu!" Ben tampak terkejut mendengar nama tersebut muncul dari mulut Siska.
"Iya, betul. Saya yakin. Itu Mba Jeslin, yang tempo hari datang ke sini menemui Bapak!"
"Terus ... Dia bilang apa?" tanya Ben antusias.
"Kata Lita ... Nggak ada pesan apa apa, Pak."
"Oh begitu, ya?"
"Iya, Pak."
"Ya sudah. Kamu kembali kerja saja."
Siska pamit undur diri dan kembali bekerja. Sementara itu, Ben justru kembali melamun setelah Siska pergi. Ben bingung. Antara percaya dan tidak, saat tau Jeslin datang mencarinya.
"Ngapain Jeslin ke sini, ya?" gumamnya dengan melontarkan pertanyaan itu pada dirinya sendiri.
"Ah, tapi nggak mungkin. Dia mana mungkin berubah 180 derajat dalam waktu singkat. Mungkin mau membahas tentang Daniel. Kan anak itu semalam minum sama Panji di apartemen." Analisis Ben terdengar masuk akal. Karena dia memang melihat botol minuman keras di apartemennya, lebih tepatnya di lantai dapurnya. Siapa lagi kalau bukan Panji dan Daniel.
Ben segera larut kembali dalam pekerjaan. Dia tidak lagi mau memikirkan tentang Jeslin yang benar benar datang ke kantornya. Ben hanya tidak mau kembali sakit, saat berharap lebih pada gadis itu.
______
"Jes, ikut nggak?" tanya Aqila yang sudah menenteng tas hendak pulang.
"Enggak ah. Aku capek banget nih. Kalian aja, ya," sahut Jeslin, menolak ajakan teman temannya.
Mereka bertiga berencana akan mencoba cafe dengan nuansa Jepang yang berada di pinggir jalan. Tentu harganya tidak terlalu mahal dibandingkan dengan di restoran Jepang yang biasa mereka datangi.
"Yah, Jes ... Masa nggak mau ikut sih."
"Iya, Maaf, ya. Habisnya aku capek banget. Besok kan, harus bangun pagi. Kalian jangan lupa, kita ketemu di Bandara besok."
__ADS_1
"Iya, Jes. Kita pasti tepat waktu kok. Jadi nggak mau ikut nih?"
"Enggak dulu deh. Lain kali aja."
"Ya udah. Duluan ya," pamit mereka bertiga.
Jeslin hanya melambaikan tangan melepas kepergian teman temannya. Yah, besok mereka akan terbang ke Latvia. Hanya saja bukan untuk waktu yang lama, tapi hanya sekitar beberapa hari saja. Bagaimana pun, semua tim produksi harus bertemu secara langsung, guna membahas rencana mereka untuk proses pembuatan film tersebut. Walau proses produksinya tidak akan dilakukan dalam waktu dekat.
Jeslin sudah membereskan meja kerjanya. Beberapa map penting sudah selesai ia kerjakan, dan sisanya ia berikan pada Seina, untuk dilanjutkan pengerjaannya. Beberapa teman kantor sudah mulai meninggalkan ruangan. Jeslin pun mulai berjalan keluar menuju mobilnya berada.
Begitu mesin dinyalakan. Jeslin tiba tiba kembali teringat Ben, yang pagi tadi belum bisa ia temui. Ia lantas menjalankan mobil menuju kantor Ben, berharap pemuda itu belum meninggalkan kantornya.
Dalam waktu 20 menit, Jeslin pun sampai. Tapi dia sedikit kecewa karena ternyata Ben sudah meninggalkan kantor satu jam lalu. Menurut Lita, Ben pulang cepat karena tidak enak badan.
"Ada pesan, Bu? Besok saya sampaikan ke Pak Ben."
"Nggak usah, terima kasih."
_______
Kali ini Ben memang benar benar sakit. Tubuhnya menggigil tapi suhu tubuhnya panas sekali. Kepala Ben terasa pusing. Dia bahkan hanya tiduran di sofa, sambil menonton tv. Alasannya agar dia bisa dengan mudah menjangkau dapur untuk bisa mengganti air untuk mengompres keningnya nanti.
Ben sudah memakai sweater lengan panjang. Bahkan dia juga memakai kaus kaki untuk menghangatkan tubuh. Kini dia terus bersembunyi dibalik selimut tebal, dengan handuk kecil yang berasa di keningnya.
Acara tv di depan, hanya sebagai pengantar tidur. Ben memang tidak terlalu suka kesunyian. Tapi dia selalu sendirian. Sampai akhirnya bel pintu apartemen berbunyi. Awalnya dia membiarkan hal itu terjadi, tapi lama kelamaan itu sangat mengganggu tidurnya.
Dengan kesal, Ben beranjak untuk membuka pintu dan siap mengomel pada orang di balik pintu tersebut.
"Panji emang kambing! Suka banget ngerjain gue! Seneng banget bikin gue kesel. Nggak tau apa kalau gue lagi sakit!" omel Ben sepanjang dia berjalan ke pintu.
Panji memang kerap mengerjai Ben dengan terus membunyikan bel. Dia sengaja membuat Ben kesal karena ulahnya itu.
Sampai di depan pintu, Ben membuka pintu dan siap mengomel lagi pada Panji. "Lo itu udah tau gue sakit, bukannya bawain buah ...." Kalimat Ben terhenti begitu yang ada di depan nya bukanlah Panji, melainkan Jeslin sambil membawa parsel buah segar. "Kamu?" tanya Ben sambil menatap Jeslin heran.
"Iya. Aku tadi ke kantor dua kali, tapi nggak ketemu kamu. Jadi aku tanya sekertaris kamu, alamat sini."
"Dua kali?"
"Iya. Jadi yang tadi pagi Siska bilang itu kamu memang bener?"
"Hm, iya, kenapa?"
"Terus yang kedua?"
"Baru aja. Pulang kerja. Tapi katanya kamu udah pulang."
Ben diam sejenak. Dia benar benar seperti sedang bermimpi sekarang. Jeslin benar benar mencarinya di kantor, bahkan sampai dua kali datang. Kini gadis itu justru sudah berada di depan apartemennya. Dengan membawa buah tangan.
"Boleh aku masuk?"
"Eh, iya iya. Masuk, Jes," ajak Ben lalu melebarkan pintu agar gadis itu bisa masuk ke dalam kediamannya.
Ben salah tingkah, hanya berani berjalan di belakang Jeslin. Sementara Jeslin justru tampak santai melihat lihat isi apartemen Ben yang mewah.
"Katanya kamu sakit?" tanya Jeslin lalu meletakkan parsel buah di meja. "Aku bawakan buah. Semoga kamu suka."
"Suka kok. Suka. Terima kasih, ya. Eh duduk dulu, Jes. Aku buatkan minum. Mau minum apa?" tanya Ben gugup.
"Nggak usah repot. Bukannya kamu lagi sakit?" tanya Jeslin sambil memperhatikan sofa yang sudah mirip kamar inap di rumah sakit. Hal itu menandakan kalau Ben memang sedang tidak enak badan.
"Eum, iya. Tapi nggak apa apa kok." Ben bersikeras membuatkan teh untuk Jeslin. Sampai akhirnya Jeslin mengikuti Ben ke dapur dan membantunya.
"Udah, sana. Kamu duduk aja. Aku bikin sendiri." Jeslin mengambil alih cangkir dan melanjutkan pekerjaan Ben.
Ben akhirnya menyerah dan membiarkan Jeslin membuat teh untuk dirinya sendiri. Tapi dia tetap berada di dapur dan terus menatap gadis pujaannya itu.
"Kamu cari aku kenapa?" tanya Ben yang memang penasaran pada hal itu. Ia yakin benar kalau Jeslin tidak menyukainya, dan tiba tiba Jeslin justru mendatanginya beberapa kali. Tentu itu tampak aneh.
"Aku mau minta maaf," tukas Jeslin lalu membalikkan tubuh menghadap Ben.
"Untuk apa?" tanya Ben kebingungan.
"Tentang kemarin. Mungkin aku keterlaluan. Jadi aku mau minta maaf ke kamu. Aku ... Nggak bermaksud bersikap seperti itu, cuma ...."
"Udah. Nggak apa apa kok. Aku ngerti kenapa kamu begitu, Jes. Aku paham. Ya harusnya aku yang tau diri untuk nggak terus menerus mendekati kamu lagi. Aku janji bakal jaga jarak mulai sekarang."
Jeslin diam, dia menatap Ben yang wajahnya memang pucat. Tapi masih tersenyum saat mengatakan hal itu.
"Kita bisa berteman, kan?" tanya Jeslin.
"Hm. Iya. Tentu kita berteman."
"Ya sudah. Jadi kamu maafin aku?"
"Astaga, Jes. Aku nggak apa apa kok," tukas Ben, berbohong. Dia tau benar kalau dirinya tidak baik baik saja atas penolakan Jeslin tempo hari.
__ADS_1
"Kalau gitu, kita berteman mulai sekarang," tutur Jeslin sambil menyodorkan jari kelingkingnya pada Ben.
Pemuda itu terkekeh melihat tingkah Jeslin, yang mengingatkannya pada masa kecilnya dulu. Akhirnya jari kelingking keduanya bertautan, dan justru dari sinilah semua berawal.