Anomali Rasa

Anomali Rasa
15. bandara


__ADS_3

...Telah banyak Aksara yang aku gores di atas langit jingga.. ...


...Pilu yang menjadi pena, dan luka menjadi tinta.. ...


...........


"Jadi akhirnya kamu pergi ke Latvia? Bukannya kemarin katanya batal, ya?" tanya Ben terkejut. Obrolan demi obrolan akhirnya mengantarkan mereka pada diskusi mengenai keberangkatan Jeslin ke Latvia.


"Bukan batal, tapi ditunda. Lagipula aku cuma beberapa hari aja kok di sana. Untuk proses syuting, kayaknya nggak dilakukan dalam waktu dekat."


"Berapa lama?" Ben menatap Jeslin dengan mata membulat.


"Paling lama satu minggu. Tapi kan setelah dari bandara ada karantina dulu."


Ben terdiam. Karena itu artinya dia tidak akan bisa melihat Jeslin selama 2 minggu atau bahkan lebih. Kedekatan mereka sekarang adalah sebuah mukjizat bagi Ben. Dia tidak menyangka sebelumnya, jika Jeslin mau menemuinya dan bersikap lebih hangat dari sebelumnya.


Tawa menghiasi apartemen milik Ben. Semua nya berkat Jeslin yang telah memberikan warna baru dalam rumahnya. Walau Ben yang me dominasi obrolan lucu di antara mereka, tapi melihat Jeslin bisa tersenyum karena dirinya, merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.


Malak semakin larut, Jeslin menguap sambil menatap jam di pergelangan tangannya. Ben yang paham maksud dari sikap itu, segera menawarkan diri untuk mengantarkan gadis itu pulang.


"Kamu mau pulang?"


"Iya. Udah malam ternyata."


"Aku antar pulang, ya. Udah malam, nggak baik kamu pulang sendiri malam malam begini."


"Nggak usah. Aku bawa mobil sendiri kok. Lagian kamu kan, lagi sakit?" tanya Jeslin balik sambil memperhatikan wajah Ben yang justru tampak bugar dari sebelumnya.


"Aku udah mendingan kok. Aku antar aja. Jam segini rawan, Jes. Kemarin ada kasus begal di daerah sini. Apalagi kamu perempuan, sendirian lagi. Udah, mana kunci mobil kamu?" pinta Ben memaksa. Alasan kasus begal memang benar adanya. Bukan karangan Ben untuk mendekati Jeslin.


"Eum, tapi ... Kamu sakit, Ben."


"Aku nggak apa apa. Udah mendingan. Mana? Aku antar."


"Terus nanti kamu pulangnya gimana?"


"Gampang. Aku bisa naik taksi."


Karena pemaksaan itu, Jeslin pun tidak bisa lagi menolaknya. Dia sebenarnya juga takut pada rumor begal yang marak terjadi belakangan ini. Tapi jika dia mengiyakan perkataan Ben sejak awal, maka dia akan merasa sangat jahat. Tentu karena Ben sedang sakit, walau sekarang justru tampak baik baik saja.


Ben meraih jaket dan segera memakainya. Jeslin pun beranjak dan bersiap pulang di antar Ben. Mereka berjalan di koridor menuju lift tanpa ada banyak perbincangan lagi. Semua sibuk dengan pikiran masing masing.


"Kamu udah makan?" tanya Ben pada Jeslin. Dia tidak ingat, untuk menawarkan makan malam untuk gadis itu saat masih berada di apartemen. Walau dia tidak pernah memasak, tapi dia punya stok makanan di kulkas yang bisa dihangatkan dengan microwave.


"Udah kok. Lagian nanti paling juga makan lagi. Kalau ada Astrid di apartemen, aku nggak akan takut kelaparan."


"Oh gitu. Jadi itu temen kamu? Siapa namanya? Astrid?"


"Iya, Astrid. Dia temen dari jaman kami masih sekolah dulu. Kami satu sekolah dan terus berhubungan sampai sekarang."


"Mirip aku sama Daniel juga Panji, ya?"


"Hm, iya. Seperti itulah."


"Berarti kalian deket banget, ya?"


"Iya, semua hal yang aku alami, aku pasti cerita ke Astrid. Begitu pula sebaliknya."


"Eum, jadi tentang Ian ... Astrid juga tau?"


Jeslin diam sejenak, menarik nafas panjang lalu mengangguk dan tersenyum pada Ben. Ben pun ikut mengangguk lalu kembali fokus mengemudi.


"Justru aku tau kalau kamu pukulin Ian, karena Astrid."


"Oh ya? Kok bisa?"


"Dia ajak aku ke ulang tahun temannya, di tempat karaoke. Eum, apa ya namanya. Pokoknya yang ada diskotik nya deh."


"Oh, summercamp?"


"Nah, iya! Di situ. Eh, kok kamu tau? Kamu sering ke sana juga?"


"Nggak sering sih. Sekali doang, pas mukulin Ian kemarin."


"Oh ya? Pantas aja. Teman Astrid bilang kalau Ian dipukul di sana. Ternyata Ian pacaran sama salah satu temen Astrid, dan kemarin dia lagi nunggu Ian di rumah sakit katanya."


"Oh dia masih di rumah sakit? Baguslah kalau gitu," cetus Ben sinis.

__ADS_1


"Ben ...," panggil Jeslin lembut sambil meraih lengan jaket hitam Ben. Otomatis Ben menoleh dan langsung meleleh saat ditatap seperti itu oleh Jeslin.


"Hm? Kenapa, Jes?"


"Terima kasih banyak. Untuk semua yang kamu lakuin ke Ian, tapi aku harap, jangan kamu pukuli Ian lagi."


"Kenapa memangnya?" tanya Ben bingung bahkan dahinya sampai berkerut.


"Aku takut, nantinya kamu yang kenapa napa karena masalah ini. Aku tau, gimana watak Ian. Dia sulit untuk bisa menerima kekalahan. Aku takut, nanti dia justru nggak terima, dan membalas kamu."


"Aku nggak takut, Jes. Aku nggak salah. Oke, aku akui, kalau memukuli Ian adalah sebuah tindakan kekerasan dan itu salah. Tapi ... Apa yang dilakukan Ian ke kamu itu juga tindakan kriminal! Bahkan kalau aku laporkan ke polisi, dia pasti bisa di penjara!"


"Jangan, Ben. Aku mohon."


"Iya, aku tau. Makanya aku nggak lakukan itu, karena tau posisi kamu, Jes. Pokoknya, kalau sampai dia macam macam lagi, aku nggak akan segan segan hajar dia, bahkan aku bunuh dia kalau perlu!" Ben mulai emosi, dia sangat kesal jika teringat perlakuan Ian pada Jeslin. Hatinya ikut sakit. Setiap nama itu terdengar di telinganya, emosi Ben langsung naik.


"Iya, sudah. Semoga dia nggak akan gangguin aku lagi, ya." Jeslin membelai lengan kiri Ben untuk menenangkan pemuda itu, dan berhasil.


Emosi Ben mulai mereda, dia terus mengatur nafasnya sambil tersenyum pada gadis di sampingnya. Tatapan mata Jeslin yang meneduhkan membuat Ben langsung bisa hanyut dalam kedamaian. Ben masih tidak habis pikir, kenapa Ian justru melakukan hal itu pada gadis seperti Jeslin. Kebanyakan laki laki bejat, pasti akan mendekati wanita yang dia inginkan dengan cara baik baik, walau pada akhirnya niatan mereka hanya sekedar nafsu, tapi belum pernah Ben dengar, kalau teman temannya memperkosa gadis yang mereka incar. Semua teman teman Ben, terkenal playboy, tapi mereka masih menghargai wanita dan tetap memperlakukan para wanita dengan baik.


Mobil sampai di apartemen Jeslin. Mereka berdua pun turun. "Besok kamu berangkat jam berapa ke Bandara?"


"Eum, pagi sih. Sekitar jam 8 mungkin. Soalnya jam 9 pesawat berangkat. Kenapa?"


"Aku ... Boleh antar ke bandara?" tanya Ben ragu ragu sambil melirik pada Jeslin di sampingnya.


"Boleh. Kalau gitu, mobil ku kamu bawa pulang aja. Lagian udah malam, jangan naik taksi deh."


"Eum, nggak apa apa nih, aku bawa mobilnya?"


"Nggak apa apa, Ben. Kan besok kamu antar aku ke Bandara."


"Iya sih. Ya udah. Aku besok ke sini jam 8, ya."


"Eh tapi, Ben ... Kamu nggak ke kantor?"


"Ke kantor, setelah antar kamu."


"Nggak apa apa memangnya?"


"Nggak apa apa, Jeslin. Ya sudah, kamu masuk sana. Udah malam, istirahat."


____________


Jeslin sudah mulai mengemas barang apa saja yang hendak dibawa ke Latvia. Tidak begitu banyak, tapi tetap saja memakan tempat. Bahkan satu koper besar sudah siap untuk dibawa pergi naik pesawat nanti.


Pintu apartemen di ketuk. Jeslin yang sedang membuat omelet untuk sarapan, langsung menatap pintu. Dia segera berlari kecil ke arah pintu, dan ternyata dugaannya benar. Kalau Ben yang datang.


"Wah, pagi banget! Katanya jam 8 ke sini nya?" tanya Jeslin sambil menatap pergelangan tangan, yang menunjukkan masih pukul 07.30.


"Iya. Biar nggak kena macet," sahut Ben, bohong. Dia justru datang pagi pagi, karena ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Jeslin.


"Masuk dulu. Aku lagi sarapan. Kamu udah makan?" tanya Jeslin lalu mengajak Ben masuk ke dalam.


Ben mengekor pada Jeslin dan mengikutinya masuk ke dapur. Ia tengah tengok ke sekitar. "Temen kamu nggak ada?" tanya Ben.


"Iya, Astrid nginap di rumah temannya."


"Temannya bukan teman kamu?"


"Bukan, Ben. Lagian nggak semua teman Astrid juga teman aku, begitu pun sebaliknya."


"Oh."


Jeslin membuat dua porsi sarapan untuknya dan Ben. Kedekatan mereka mulai tampak biasa, layaknya teman yang sudah lama tidak bertemu. Tidak ada lagi rasa sungkan dan kaku saat berbincang berdua.


Sarapan selesai. Kini Ben membawakan koper Jeslin keluar. Mereka akan segera berangkat ke Bandara sesegera mungkin. Karena penerbangan pagi tidak akan menunggu Jeslin sampai di bandara. Apalagi jika terjebak macet. Mereka akan terlambat nanti.


"Jes ...."


"Ya?" Jeslin yang sibuk dengan gawai di tangan, tidak menoleh, hanya menyahut sambil tetap membalas pesan dari teman teman yang lain.


"Kalau udah sampai di sana, kabari aku, ya."


Jeslin langsung menoleh, dan menatap Ben yang masih fokus pada kemudinya. "Oke."


Senyum tipis terbit di wajah Ben. Entah mengapa sejak kedatangan Jeslin semalam, Ben selalu bahagia. Dia terus tersenyum, bahkan untuk hal sepele sekali pun.

__ADS_1


Mereka sampai di bandara, ternyata sudah ada Balqis, Aira, dan Aqila yang sedang menunggu Jeslin. Pesawat sebentar lagi akan terbang, Jeslin pun berpamitan pada Ben.


"Aku pergi dulu, ya. Mobilku ... Kamu bawa aja dulu, besok kalau aku pulang, baru aku ambil. Atau kalau merepotkan, Daniel suruh ambil aja, ya."


"Nggak usah. Biar dititipin di tempatku aja. Lagian Daniel sibuk, mana sempat dia ambil mobil kamu."


"Eum, oke. Makasih, Ben. Kamu hati hati pulangnya. Langsung ke kantor, kan?"


"Iya, Jes. Kamu juga hati hati ya. Jangan lupa kasih aku kabar kalau nanti sudah mendarat. "


"Iya, pasti."


Mereka pun berpisah. Jeslin pergi bersama teman temannya, sementara Ben masih berdiri di tempatnya bahkan sampai Jeslin masuk ke dalam pesawat. Tidak hanya itu saja, dia bahkan menunggu sampai pesawat yang dinaiki Jeslin terbang. Ada kekosongan di hatinya, saat melihat Jeslin pergi. Karena itu artinya dia tidak akan melihat Jeslin untuk sementara waktu. Dia berharap Jeslin benar benar memberi kabar padanya saat sampai.


______


"Meeting sama Pak Yunus, jam berapa, Sis?"


"Nanti siang, Pak. Pak Yunus nggak mau nunggu sampai sore, karena ada urusan di luar kota."


"Oke, saya otw kantor. Siapin semuanya. Kita ketemu Pak Yunus sekarang!"


"Ba-Baik, Pak."


Siska menutup telepon dari atasannya dengan wajah kebingungan. Sampai sekarang dia tidak pernah mengerti jalan pikiran Ben selaku bosnya di kantor. Terkadang Ben tampak tidak peduli dengan urusan pekerjaan, dan memilih Siska yang mengurus semua. Dia hanya terima beres saja, dan menunggu laporan atas hasil kerjanya, tapi tiba-tiba saja Ben menghendaki untuk mengurus pekerjaannya sendiri.


"Kesambet apa ini, Si Bos?"


Selama seharian ini, Ben terus mengurus pekerjaan dengan sangat baik. Bahkan Siska sering terpukau dengan hasil kerja keras Bosnya. Ternyata Ben cukup pinta dalam mengurus semua urusan perusahaan. Hanya saja, selama ini dia selalu berada di bawah tekanan Papanya. Berada di perusahaan itu memang bukanlah cita citanya, tapi dia harus menjalani semua tanggung jawab itu karena rasa baktinya pada orang tua.


______


Latvia.


Latvia merupakan salah satu negara di wilayah Eropa Utara yang belum terlalu terkenal namanya di kalangan warga Indonesia. Negara yang pernah dikuasai oleh Soviet dan Jerman ini memiliki luas wilayah kurang lebih 64 ribu kilometer persegi.


Latvia memiliki hutan yang cukup luas. Sekitar 54% wilayahnya adalah hutan, dan 10% merupakan wilayah berlumpur. Di hutan ini juga dihuni oleh bangau hitam, elang, berang-berang, lynx (sejenis kucing), serigala, rusa, babi hutan, elk, dan rubah merah.


Salah satu hutan yang dijadikan taman nasional adalah  Taman Nasional Gauja yang merupakan taman nasional paling luas dan paling tua d Latvia. Taman nasional ini memiliki ikon terkenal, yaitu Devonian Sandstone Cliff.


Ibukotanya, Riga, memiliki arsitektur kota yang menawan. Kota tua atau Verciga di Riga ini dibangun kembali dengan fondasi aslinya di tahun 1990-an, dengan desain yang sama dengan bangunan aslinya. Fondasi arsitektur aslinya telah banyak yang rusak akibat perang. Centrs adalah bagian kota Riga yang paling banyak dikunjungi wisatawan karena di sini terdapat 800 an bangunan Nouveau Art yang masih utuh. Jangan sampai anda melewatkan Open Air Museum Etnografi Latvia yang menyuguhkan sejarah dan budaya Latvia, rumah adat, hingga orang -orang yang berseliweran dengan pakain yang sangat otentik.


Selain Riga, sebagai latar tempat novelnya, Jeslin juga memilih kota lain yang sesuai dengan tema novel misterinya. Gauja National Park.  Merupakan perpaduan panorama gua-gua yang sangat terawat, tebing yang spektakuler, sungai yang mengalir jernih, serta rimbunan pepohonan hijau yang menyejukkan mata. Salah satu gua yang menarik dikunjungi adalah Gutmanala. Dinding-dinding gua ini dipenuhi oleh berbagai macam prasasti dan coretan-coretan peninggalan kehidupan kuno. Di dalam gua terdapat sumber air yang menurut legenda memiliki kekuatan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Keindahan Gauja National Park semakin lengkap dengan aliran sungai Gauja yang dikelilingi oleh tebing-tebing yang menakjubkan. Di Gauja National Park ini anda bisa menikmati beragam aktivitas menarik seperti sepeda gunung, hiking, dan kano.


Dia memilih pemandangan alam dengan banyak peninggalan kuno karena tokoh utama dalam novelnya adalah jelmaan werewolf. Tidak hanya di Gauja National Park saja.


Cesis menjadi tempat kedua karena memiliki sisa dari kejayaan zaman kerajaan Latvia di masa lalu. Di kota tua Cesis yang terletak di Central Vidzeme Upland menawarkan keindahan kastil kerajaan yang dikelilingi jalan-jalan berbatu yang menawan. Sementara yang menjadi pusat perhatian di Cesis adalah dua buah Kastil yang masih terawat dengan baik. Kastil pertama didirikan pada abad ke-13 saat ini sebagian bangunannya mengalami kerusakan, sementara kastil kedua baru dibangun abad ke 18. Kedua kastil ini dibangun berdampingan dan menawarkan keindahan arsitektur yang luar biasa. Saat ini kedua kastil ini difungsikan sebagai rumah seni dan sejarah Cesis.


Jeslin menginap di Jurmala. Jurmala merupakan kawasan resort tepi pantai yang terletak tidak jauh dari kota Riga, ibukota Latvia. Jurmala dikenal sebagai resort-resort dengan arsitektur kayu yang menawan. Bersama lima kawan kawan lainnya, mereka akhirnya bisa beristirahat setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang. 17 jam lebih mereka berada di dalam pesawat.


Sudah lewat tengah malam, saat mereka sampai. Jeslin hanya mencuci muka, lalu naik ke atas tempat tidur. Di kamar itu hanya ada dirinya, karena setiap orang memiliki kamar masing masing. Resor tersebut memang klasik, namun tetap terkesan mewah dengan perabotan yang berkualitas.


Jeslin sudah menarik selimut. Untungnya saat ini cuaca sedang panas di Latvia. Walau demikian tidak sepanas seperti di Indonesia. Musim panas yang dimiliki negara itu, musim panas yang sejuk dan basah. Jeslin berusaha memejamkan mata, hendak tidur karena besok jadwalnya akan sangat padat. Tapi tiba tiba dia teringat sesuatu.


"Ya ampun, hampir lupa." Jeslin meraih gawai yang ada di meja nakas samping. Ponselnya bahkan belum sempat dia hidupkan. Sambil menunggu ponselnya mental, Jeslin mengambil tas di mana ada beberapa camilan yang ia simpan di sana. Susu kemasan belum sempat dia minum sejak tadi.


"Ben udah tidur pasti. Aku kirim WA sekarang atau besok aja, ya?" gumamnya bertanya pada diri sendiri. "Tapi kan, aku janjinya kasih kabar setelah sampai. Kalau nunggu besok, pasti aku lupa. Ya sudah, sekarang aja deh."


Akhirnya Jeslin mengirim pesan pada Ben. Dalam beberapa detik, pesannya langsung centang biru dan status Ben sedang mengetik. "Wow, dia belum tidur?"


[Akhirnya. Syukurlah kamu sudah sampai. Gimana perjalanan tadi? Lancar, kan? Kamu sudah makan?] Ben membalas dengan pertanyaan beruntun. Padahal Jeslin hanya mengirim pesan. [Aku sudah sampai.]


[Lancar. Sudah makan dan siap buat tidur. Kamu kenapa belum tidur, Ben?]


[Iya, belum bisa tidur. Sebentar lagi. Ya sudah, kamu istirahat dulu, ya. Besok pasti sibuk.]


[Iya, aku capek banget. Besok lagi, ya. Kamu juga tidur. Besok ke kantor, kan?]


[Iya. Ya sudah, selamat malam, Jeslin. Semoga mimpi indah.]


[Malam juga, Ben.]


Baik Jeslin dan Ben langsung meletakkan ponsel masing masing. Keduanya juga tidak langsung tidur. Mereka tersenyum, saat teringat momen kebersamaan mereka kemarin. Jeslin segera merapatkan selimutnya, begitu pula Ben. Lampu dimatikan, mereka pun benar benar akan tidur sekarang.


"Selamat malam, Jes. Semoga mimpi indah, cepat pulang, aku pasti kangen."


"Malam, Ben." Jeslin belum terbiasa dengan sebuah hubungan dua arah, apalagi dengan seorang pemuda yang umurnya sama seperti adiknya. Parahnya lagi, pemuda itu memang benar benar teman adiknya. Dia memang tidak membuka hati untuk Ben, tetapi dia berusaha membuka diri mulai sekarang. Apalagi Ben adalah orang kedua yang telah membela harga dirinya mati matian. Yah, Daniel adalah orang yang akan selalu ada untuk dirinya. Apapun dan siapa pun yang mengganggu Jeslin, tidak akan pernah bisa lolos dari amukan Daniel. Hanya saja, Jeslin tidak mau merepotkan adiknya lagi, dan sekarang justru sahabat adiknya yang telah membelanya mati matian. Bahkan Ben, tidak segan segan menghajar orang yang mengganggu hidup Jeslin tanpa takut akan berurusan dengan polisi.

__ADS_1


Jeslin pikir, bersikap baik pada Ben bukan kesalahan yang akan membuat hidupnya hancur. Setidaknya dia punya teman selain Astrid, dan kawan kawan di kantornya. Karena teman teman di kantor pun, tidak masuk dalam katagori teman dekatnya.


______


__ADS_2