Anomali Rasa

Anomali Rasa
Part 12 Angga ke mana?


__ADS_3

Aku berjalan lunglai, menyeret kaki dengan malas-malasan dan rasanya ingin langsung merebahkan tubuh di kasur yang empuk. Pekerjaan hari ini cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Nova tidak ikut aku pulang, karena dia masih lembur dikejar deadline hari ini juga. Untungnya semua pekerjaanku sudah selesai. Badanku juga mulai terasa tidak enak. Jika tidak segera minum vitamin dan tidur cepat, pasti besok aku akan jatuh sakit.


'Nggak boleh sakit, Ocha. Dosa!'


Kumasukan kunci ke lubang kunci, pintu berderit saat kudorong pelan. Keadaan rumah masih gelap. Tak berminat menyalakan lampu ruang tamu, aku terus berjalan ke arah kamar. Namun, diujung ekor mata, aku melihat sesosok bayangan tengah duduk di sofa.


Badanku langsung terasa panas, jantungku berdetak lebih kencang, pikiranku sudah menerawang ke mana-mana.


'Ya ampun ... jangan-jangan setan,' batinku, berhenti berjalan, ragu untuk bergerak. Hanya dua arah yang kini ada di pikiranku. Pintu kamar atau pintu luar. Tapi keduanya sama-sama jauh untuk ku jangkau.


"Baru pulang, sayang?"


Dahiku berkerut. Rasanya suara ini sangat familiar. Sontak aku menoleh ke arah bayangan itu. Dan sepertinya dugaanku salah jika menganggap dia setan. Karena ternyata ... Idham! Aku mundur dan mencari sakelar listrik. Saat lampu menyala, Idham ada di ruang tamu sedang duduk, menatapku dengan lembut.


"Ngapain lo di sini?!" tanyaku dengan nada meninggi.


"Nungguin kamu pulang dong," sahut Idham santai, menegakkan tubuhnya, beranjak.


Sementara aku? Mundur perlahan. Aku takut. Selintas bayangan masa lalu kembali terulang. Dengan situasi yang hampir sama, dan ketakutan yang sama.


Aku segera berbalik, berlari, pergi menuju ke kamar. Idham mengejarku dan saat aku berhasil masuk, ia menahan pintu agar aku tidak bisa menutupnya dari dalam.


"Cha ... kita bicara baik-baik, oke?"


"Enggak! Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi! Pergi kamu, Dham! Jangan ganggu aku lagi!" teriak ku dengan terus mendorong pintu agar dapat menutup sempurna. Namun nyatanya, kekuatan ku tidak seberapa, timbang pria dibalik pintu ini. Aku terus berteriak bahkan rasa ini memaksaku untuk kembali mengeluarkan bulir-bulir bening dari kelopak mata.


"Cha! Aku suka sama kamu sejak pertama kita ketemu! Tapi kamu selalu cuek. Aku udah berusaha deketin kamu, kan? Dan ... maaf saat itu aku khilaf. Yang ada di pikiranku cuma bisa dapetin kamu, apa pun caranya. Aku bakal tanggung jawab kok! Please, kasih aku kesempatan!" bujuk Idham dengan agak memaksa.


Aku terus berteriak," pergi kamu!" Tidak peduli apa yang ia katakan. Buatku itu semua tidak ada gunanya, dan aku tidak peduli lagi semua penjelasannya. Bagiku, apa yang terjadi dulu tidak akan bisa kumaafkan.


Suara ketukan pintu di depan terdengar. Baik aku atau Idham terdiam, menajamkan pendengaran untuk mengetahui siapa yang datang.


"Cha! Ocha?!" teriak seseorang samar dari luar.


Angga?!


"Angga! Angga! Tolong!" teriakku makin menjadi, menengok ke arah jendela kamar yang memang terhubung langsung dengan halaman depan rumah. Sementara tubuhku masih mencoba berusaha menahan pintu agar Idham tidak bisa masuk.


Teriakkan Angga memanggil namaku makin jelas terdengar. Kulihat ia ada di depan jendela, mendekatkan kepalanya dengan menutup daerah sekitar mata, agar dapat melihat keadaan di dalam dengan jelas.


"Angga! Masuk aja. Pintu nggak aku konci!"


Ia bergegas kembali ke pintu. Fokus Idham terganggu, terlihat raut cemas di wajahnya. Beberapa kali ia menoleh ke arah pintu walau masih berusaha mendorong pintu kamarku agar bisa masuk dan menerobosnya.


Langkah mantap terdengar menggema di seluruh ruang. Angga sudah berdiri di dekat Idham. Menatap kami berdua bergantian. Pegangan ku pada pintu melemah. Begitu juga Idham. Ia lantas melepas pegangannya dan berdiri tepat di depan Angga.

__ADS_1


"Ngapain lo? Nggak usah ikut campur! Ini masalah gue sama Ocha!" tegas Idham, mendorong bahu Angga hingga ia mundur selangkah.


"Nggak bisa emangnya dibicarain baik-baik?" tanya Angga berusaha tenang.


"Gue ini lagi mau bahas sama Ocha! Dan elo ...," tunjuk Idham ke wajah Angga," gara-gara elo gue gagal lagi!"


"Nggak usah pakai emosi, kan bisa, Dham?"


"Heh! Denger, ya! Elo nggak pantes dapetin Ocha! Punya apa loe? Nggak usah sok jadi pahlawan! Punya kaca, kan? Di rumah? Ngaca! Lihat tuh muka loe!" Idham mencengkeram kerah kemeja Angga. Mendorongnya hingga tersudut di lemari belakangnya. "Jangan deketin Ocha lagi! Awas aja, ya!"


Sebuah pukulan melayang mengenai perut Angga.


"Cowok lemah! Mau berusaha lindungin ocha!" Sinis Idham.


"Idham! Udah!" teriakku lalu menarik tangan Idham agar menjauh dari Angga.


"Pecundang, cowok kok dilindungin cewek? Cih."


Idham tersenyum sinis lalu pergi begitu saja. Angga berdiri, mengelus perutnya, meringis kesakitan.


"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanyaku meneliti tiap detil wajahnya.


"Nggak apa-apa kok."


Kutuntun Angga agar duduk di sofa. Kemudian berlari kecil menuju dapur untuk mengambil segelas air. Angga masih diam tak bersuara.


Ia tersenyum dan meneguk air hingga setengah gelas.


"Sakit, ya?" tanyaku pelan, menunjukan kecemasan.


"Pasti sakit dong, gue bukan aktor laga dan jagoan di cerita-cerita hehe." Tawanya mampu menutupi rasa yang hanya ia saja yang tau. Namun dapat kulihat jelas ia merasa terluka. Bukan raga. Tapi batinnya.


"Maaf, ya, gara-gara aku kamu jadi terlibat masalah terus dan berakibat gini."


"Nggak apa-apa kok, hidupku yang awalnya datar aja, jadi lebih berwarna dengan masalah-masalah ini." Angga menarik napas, kembali menghabiskan air minum hingga tandas.


"Ini beda, Angga. Bukan seperti pertengkaran Tari dan Doni kemarin. Ini Idham! Orang macam Idham, bisa melakukan segala cara, apa aja yang dia inginkan. Buktinya dia bisa masuk ke rumah ini!"


"Hm ... secara realistis gue akui, gue kalah fisik, gue kalah dalam hal materi. Tapi gue ada satu cara, yang gue pikirin dari tadi."


"Udah, jangan, Angga. Dengan cara minta perlindungan polisi dan hukum nggak akan berhasil. Dia punya materi banyak dan bekingan kuat. Lagian aku nggak mau kamu kenapa-kenapa dan katain oleh org lain kaya tadi. A ... aku juga ngerasain sakit."


"Jadi apa pun yang orang bilang tentang gue, kemungkinan benar. Dan gue nggak akan melawan. Justru yang jadi masalah itu dia! Dia berpikir dan merasa jadi orang sempurna. Ketika ada orang lain yang bilang jelek dan mendapatkan penolakan, dia kecewa. Dia siapa?"


Aku tertegun mendengar penuturan Angga. Lagi dan lagi. Sekali pun ia sering melontarkan kalimat menyebalkan dan sering membuatku kesal sekaligus tertawa dalam waktu bersamaan, namun, ia juga punya pemikiran yang dewasa. Tenang. Dan mampu membuatku takjub.

__ADS_1


'Ini Angga?'


"Terus gimana, Ngga?"


"Gue mau ngelakuin satu hal semoga berhasil. Minta nomor dia atau teman dia atau nomor orang yang menyangkut sama dia."


"Buat apa, Angga. Jangan aneh-aneh deh."


"Udah. Percaya aja, ya. Masih inget nggak kata-kata gue yang ... 'gue nggak selalu ada tapi disetiap kamu butuh gue pastikan, gue selalu ada.'"


"Iya pasti inget lah."


Kubuka gawai dan mencari nomor yang Angga inginkan. Memang banyak nomor teman-teman yang masih aku simpan. Dan teman-teman Idham juga dulu adalah teman-temanku juga.


"Oke beres. Gue berangkat, ya. Kamu hati-hati. Kunci semua pintu, jangan dibukain kalau ada dia."


"Tapi ... Angga," kutahan tangannya berharap ia tidak melalukan rencananya yang aku sendiri tidak tau apa. Wajahku memelas, agar Angga mengurungkan niatnya.


"Gue bakal baik-baik aja kok." Ia tersenyum tipis, tangan kanannya mengacak-acak rambut ku.


Detik berganti menit. Bahkan malam semakin larut. Namun Angga belum juga memberikan kabar. Aku gelisah. Hingga tak dapat tertidur bahkan hingga tengah malam. Rasa cemas, takut, dan khawatir akan keadaan Angga benar-benar bagai kafein yang luar biasa dahsyat. Kantuk dan lelah sirna dalam sekejap. Entah sudah berapa kali aku mondar-mandir di kamar, menatap jendela, beralih ke ponsel yang selalu kugenggam. Nihil. Hingga saat hujan datang, aku mulai masuk ke dalam selimut. Karena suara petir yang mengerikan, membuatku harus mencari tempat persembunyian.


Selimut kutarik sampai sebatas leher. Tidur miring, memeluk guling. Ponsel kuletakan di samping kepala. Hingga perlahan, mataku terpejam.


Ponsel bergetar. Tanganku meraba ke samping, tempat biasa ku letakkan benda pipih tersebut setiap malam. Mata yang masih ingin tertutup terpaksa kubuka paksa, walau hanya sebelah mata saja yang sanggup melawan rasa kantuk yang masih bergelayut.


Siapa, ya?


Kugeser layar ke kanan, meletakkan gawai di telinga kananku.


"Assalamualaikum ... apa benar ini Ocha?"


"Waalaikumsalam ... iya benar."


"Nak Ocha, ini Ibunya Angga, bisa minta tolong?"


Jantungku bagai terhenti mendengarnya. 'Ada apa, ya?'


Rasa penasaran membuatku langsung duduk dan bebrsiap mendengar suara di seberang sana.


"Oh iya, Bu. Perlu bantuaan apa, Bu?"


"Nak Ocha bisa ke sini, nggak? Ini soal Angga."


'Soal Angga?'

__ADS_1


Dalam keadaan setengah sadar, aku kembali mengingat kejadian kemarin malam.


'Ah, iya. Kan aku nunggu kabar Angga semaleman? Jadi ... Angga kenapa, sih?!'


__ADS_2