
Jeslin mulai sibuk dengan segala persiapan untuk ke Latvia. Novel miliknya dilirik oleh salah satu rumah produksi dan akan di angkat ke layar kaca. Itu adalah prestasi terbaik yang pernah ia raih selama ini. Bagi Jeslin, menulis novel adalah salah satu bentuk melarikan diri dari dunia. Meraih apa yang tidak bisa di raih, dan membentuk sebuah kehidupan yang bisa ia atur semaunya. Jeslin adalah Tuhan di dalam novelnya sendiri. Entah nantinya akan berakhir bahagia atau berakhir menderita, hanya Jeslin yang mengetahuinya. Walau pada akhirnya ada setiap luka dan air mata pada semua novel yang ia tulis. Terutama perihal perpisahan. Entah dipisahkan oleh kematian atau dipisahkan oleh keadaan.
Seumur hidup, Jeslin belum pernah berpacaran. Jeslin terlalu tertutup dalam urusan cinta. Walau tidak jarang, banyak teman sebaya yang menaruh hati padanya. Bagi Jeslin, jatuh cinta bukan hal mudah yang bisa ia atur begitu saja. Nyatanya dia belum pernah merasakan cinta itu sendiri. Tapi justru dia sangat mahir bermain perasaan di dalam novelnya.
"Paket!" jerit suara pria yang memasuki ruang bagian produksi. Di ruangan itu ada banyak karyawan yang bekerja. Mereka hanya diberi pembatas di antara meja satu ke meja lainnya. Sekat tersebut pastilah hanya sebuah formalitas. Sekat yang tingginya hanya se-dada orang dewasa membuat setiap karyawan dapat dengan mudah melihat ke penjuru ruangan.
Berkali-kali petugas pengantaran barang datang. Pengiriman naskah, dan beberapa barang memang membutuhkan kurir pengantaran, dan hal itu sudah biasa terjadi di sini. Tidak hanya itu juga, setiap karyawan yang hendak memesan makanan tentu akan lebih mudah memesan via online, dan mereka tidak perlu keluar dari kantor, karena kurir yang akan mengantarkan.
Jeslin sedang sibuk dengan tumpukan naskah. Bukan miliknya, melainkan milik penulis lain yang harus dia teliti. Proses mencetak novel digital menjadi sebuah novel konvesional, memang memerlukan proses panjang. Dari pemilihan naskah yang layak. Tata bahasa dari segi PUEBI, alur cerita, semua membutuhkan ketelitian dari editor untuk merevisi bagian mana dari bab novel tersebut yang masih kurang baik dan tepat. Nantinya penulis akan disuruh untuk memperbaikinya lagi, lalu dikirim ke penerbit. Proses revisi tentu membutuhkan waktu yang lebih banyak.
Jeslin harus menyelesaikan pekerjaan itu sebelum dia pergi ke Latvia. Tanggung jawab sebagai seorang editor tidak bisa di tinggalkan begitu saja. Kini dia harus lembur untuk pekerjaan tersebut.
"Paket, Non." Suara seorang pria tidak membuat perhatian Jeslin teralih dari layar datar di hadapannya.
"Taruh di meja aja, Pak," sahut Jeslin sedikitpun tidak melirik sosok tersebut.
"Nona Jeslin, kan?"
"Iya."
"Silakan diterima paketnya. Tolong tanda tangannya juga, ya."
"Paketnya mana?"
Sebuah buket bunga tiba tiba muncul di hadapannya. Bunga mawar putih dengan aroma khas yang membuatnya segera menatap benda tersebut dan meraihnya.
"Dari siapa?" tanya Jeslin lalu melihat ke kurir tersebut. Dia lantas melotot begitu tau kalau pria yang sejak tadi berlagak menjadi kurir ternyata Ben. "Loh kamu ngapain di sini?" tanya Jeslin bingung.
"Antar paket. Tolong tanda terimanya, Nona," pinta Ben memberikan pena lalu menyodorkan telapak tangannya ke Jeslin.
Jeslin tentu bingung. Akhirnya Ben meraih tangan kanan Jeslin, agar memegang pena nya. "Tanta tangan."
"Hm?"
"Buruan, tanda tangan sebagai bukti diterima."
"Diterima apanya?"
"Ya bunganya lah."
Jeslin menatap Ben beberapa saat lalu geleng geleng kepala. Tapi dia pun menuruti permintaan pemuda itu dengan membubuhkan tanda tangannya di telapak tangan kiri Ben.
Selesai Jeslin menorehkan tanda tangan, Ben menatap telapak tangannya lekat lekat. Dia tersenyum. Tapo dahinya berkerut. "Ada yang lupa," kata Ben, kembali menyodorkan tangannya.
"Apa?" Jeslin tentu bingung.
"Emojinya mana?"
"Emoji apa?"
"Tanda hati."
"Hah? Tanda hati? Maksud kamu?"
"Ih nggak ngerti juga! Yang gini nih," kata Ben lalu menyodorkan jari telunjuk dan jempol yang di kaitan membentuk hati. "Nah, taruh di sini," pinta Ben menunjuk ruang kosong di samping tanda tangan Jeslin tersebut.
Jeslin tampak ragu untuk menuruti Ben." Malas ah! Udah sana. Aku masih kerja. Jangan ganggu!" omel Jeslin.
"Kerja apanya? Jam berapa memangnya sekarang?" tanya Ben.
Jeslin lantas menatap jam di pergelangan tangannya, dan ternyata jam sudah menunjukkan waktu makan siang. "Ben, aku mau tanya deh."
"Tanya apa?"
"Kamu itu nggak kerja, ya? Kenapa sih kamu sering banget muncul gini? Bukannya kamu punya perusahaan? Memangnya siapa yang urus?"
"Kata siapa aku punya perusahaan?"
"Daniel."
"Itu perusahaan orang tuaku. Aku cuma punya sanggar taekwondo aja. Kecil kecilan. Kalau di perusahaan, itu cuma bantuin Papa aja. Jadi nggak harus stay di sana."
Terus kenapa kamu selalu ke sini? Nggak ada kegiatan lain?" tanya Jeslin.
"Enggak. Lagian kamu lupa lagi nih pasti. Kan aku udah janji, bakal ajak kamu makan siang terus. Sekarang aku tepati janji itu."
"Nggak sah repot ah. Aku bisa kok makan siang sendiri. Temen kerjaku sering ajak makan siang. Kayak kemarin."
"Aku nggak repot kok. Ya udah yuk, kita makan siang. Oh iya, bunganya mau ditaruh mana?" tanya Ben sambil tengak tengok, sementara itu Jeslin hanya menarik nafas panjang menghadapi sikap Ben yang tidak perduli dengan segala bentuk penolakannya.
Sesuai dengan janji Ben beberapa waktu lalu, dia benar benar selalu datang ke Jeslin dan mengajaknya makan siang. Tapi kali ini mereka hanya berdua saja. Tempat makan yang mereka pilih pun hanya di kantin dekat kantor. Itu pun adalah pilihan Jeslin karena malas pergi terlalu jauh. Pekerjaannya masih menumpuk, dan dia tidak mungkin bisa menggunakan semua waktu istirahatnya untuk makan siang.
Tapi bagi Ben itu bukan masalah. Karena bukan tempat yang membuatnya merasa senang, tapi dengan siapa dia berada di sana. Ben memang benar benar menyukai Jeslin, sekalipun gadis itu bukan cinta pertama Ben. Tapi Jeslin adalah satu satunya wanita yang membuat semua organ tubuh Ben bergejolak. Ben baru pernah merasakan hal itu. Bahkan pada mantan mantannya yang pernah hadir dalam hidupnya, belum pernah sekalipun Ben merasakan hal yang serupa. Itu lah alasan Ben terus mendekati Jeslin. Curahan hati Ben pada Panji kemarin memang hal sebenarnya. Ben memang selalu ingin melihat Jeslin setiap hari. Dia tidak bisa, jika sehari saja tidak melihat Jeslin. Padahal Jeslin sendiri tidak demikian. Bahkan Jeslin tidak merasakan hal spesial apa pun saat bersama Ben. Kecuali rasa aman. Terbukti saat Ian hendak mendekatinya lagi dan Ben lah yang telah membuat Ian mundur. Setidaknya Jeslin aman dari Ian jika Ben berada di sisinya.
__ADS_1
Mereka menikmati hidangan makan siang ditemani cuaca terik di laut sekaligus alunan musik romantis di dalam kantin. Beberapa karyawan di tempat Jeslin bekerja juga makan di tempat ini. Biasanya para karyawan akan makan di kantin saat tanggal mendekati tua. Harga makanan di kantin memang terbilang murah daripada cafe atau restoran lainnya.
"Memangnya kamu kapan berangkat?"
"Ke mana?"
"Latvia."
"Akhir bulan ini. Makanya aku harus selesaikan pekerjaanku dulu di sini sebelum pergi."
"Berapa lama?"
"Eum, kemungkinan satu tahun."
"Harus di sana? Kenapa nggak syuting di sini aja sih?"
"Karena aku mengambil setting latar tempat nya di sana. Bukan di sini."
Ben mendengus sebal. Dia sedikit kecewa karena tau Jeslin akan segera pergi jauh dan cukup lama meninggalkan Indonesia.
"Kenapa?" tanya Jeslin.
"Aku pasti kangen. Kalau aku kangen gimana?"
"Mana aku tau."
"Eh, minta nomor hape kamu," pinta Ben segera mengambil telepon genggamnya dan menatap Jeslin penuh harap.
Jeslin hanya menatap Ben, yang terus menatapnya.
"Sini," pinta Jeslin pada Ben. Ia meraih ponsel Ben dan mengetik nomor miliknya. Setelah itu ponsel kembali diserahkan pada Ben. Pemuda itu tentu sangat senang, tapi tak lama ponsel milik Jeslin berdering. "Nah itu nomorku," kata Ben.
Jeslin hanya menarik satu sudut bibirnya dan mengabaikan hal itu, malah melanjutkan makan siangnya.
______
"Aku capek banget!" ungkap Jeslin begitu sampai di apartemen. Dia langsung merebahkan tubuh di sofa.
Dapurnya terdengar ramai. Sejak ia masuk, Astrid terlihat sedang mondar mandir di dapur membuat sesuatu. Aroma masakan tercium di pangkal hidung Jeslin. Tapi kedua matanya justru sangat berat untuk terbuka lagi. Tanpa melepas pakaian kerja, dia meraih bantal yang ada di sofa lalu memeluknya erat. Ia lapar, tapi ia juga mengantuk, dan yang Jeslin pilih adalah tidur.
Tangan dingin seseorang menempel pada pipi kanan Jeslin. Membuat gadis itu mengerjap tapi kembali menutup mata itu lebih erat. "Makan dulu, Nona Penulis. Aku yakin kamu belum makan malam. Jangan sampai nggak makan, ya. Lambungmu pasti kambuh lagi nanti," kata Astrid yang kini lebih mirip Ibunya ketimbang seorang sahabat.
"Makan? Kamu masak apa, Trid?" Kali inu Jeslin tertarik pada aroma makanan yang disebutkan Astrid. Ia lantas duduk, sambil membetulkan rambutnya dan mengikat ke atas.
Meja makan sudah tampak oenuh dengan beberapa piring dan mangkuk. Astrid masih sibuk menata meja tersebut dengan berbagai makanan yang berwarna warni. Tak lama pintu apartemen Jeslin diketuk. Jeslin langsung tau siapa tamu yang datang. Karena termasuk manusia yang anti mainstream. Biasanya jika ada tamu yang berkunjung ke apartemennya, maka bel pintu yang akan berdering. Tapi tidak bagi Daniel. Daniel lebih suka mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Jika tidak ada sahutan dari dalam, dia akan mengetuk lagi tiga kali. Begitu seterusnya.
"Astaga, kakak pasti belum mandi? Baru pulang?" tanya Daniel langsung masuk tanpa disuruh.
"Hey, kenapa harus ketuk pintu? Kamu kan tau kode pintu apartemenku apa?"
"Tau. Tapi aku pengem dibukain pintu. Hehehe." Daniel segera mendekat ke meja makan.
"Hai, Dan!" seru Astrid. Mereka berdua pun saling berpelukan karena lama tidak bertemu. Daniel dan Astrid juga cukup dekat. Karena Astrid memang sudah bukan lagi sahabat Jeslin, tapi sudah dianggap keluarga. Daniel pun sudah dianggap adik nya sendiri.
"Wah, enak nih," kata Daniel menatap satu persatu menu makan malam mereka yang masih hangat dan panas.
"Kamu yang suruh dia datang?" tanya Jeslin ke Astrid.
"Iya. Kan aku juga kangen Daniel, bukan cuma kamu aja!"
"Hm. Yayaya. Ya udah aku mandi dulu," kata Jeslin hendak pergi ke kamarnya.
"Eh, nanti aja mandinya. Mending makan dulu!" suruh Astrid.
"Iya, Kak. Mending makan dulu. Makan bareng bareng kan lebih enak," kata Daniel lagi. Akhirnya mereka bertiga segera makan malam dengan menu spesial buatan Astrid.
Berbagai obrolan seru dan menyenangkan tersaji di atas meja. Daniel, Astrid, dan Jeslin terlibat pembicaraan tentang kehidupan masing masing. Hingga sampai ke rencana Jeslin pergi ke Latvia. Daniel sangat senang dengan berita baik itu, begitu pun Astrid.
"Eh, Dan ... Temen kamu itu kenapa sih, deketin aku terus?" tanya Jeslin yang langsung teringat seseorang begitu membahas Latvia.
"Temen aku? Siapa? Yang mana?" tanya Daniel bingung.
"Ben."
"Ben? Memangnya Ben ngapain, Kak?" Daniel malah kebingungan saat kakak membahas sahabatnya. Karena Daniel memang tidak tahu menahu perihal perasaan Ben pada Kakaknya. Walau ia bisa menebak, tapi Daniel tidak mengerti arah pembicaraan Jeslin saat ini.
"Dia selalu datang ke kantor kakak, hampir setiap hari."
"Astaga! Dia ngapain?" tanya Daniel terkejut dengan penuturan kakaknya.
"Ngajak makan siang."
"Hah?" Daniel menatap Astrid yang sedang menyimak obrolan ini sambil makan. "Serius, Kak? Kok aku nggak tau. Ben juga nggak bilang apa apa sih. Udah berapa lama? Terus kakak mau pergi sama dia?"
__ADS_1
"Baru dua kali sih. Oh tiga, tiga kali ketemu Ben di kantor. Ben itu gila, ya?"
"Ben gila? Maksudnya?"
"Masa dia bilang suka sama kakak?"
"Hah? Pfffttt ...." Daniel lantas tertawa terbahak bahak mendengar hal itu. "Serius, Kak? Ben bilang ke kakak gimana?"
"Ya bilang gitu aja sih. Dia bilang suka sama kakak. Cuma ... Gimana ya. Dia aneh. Ngejar mulu. Muncul terus. Tadi aja dia kasih buket bunga."
"Lah mana bunganya?" tanya Astrid sambil tengak tengok.
"Aku tinggal di meja kantor. Malas mah dibawa. Susah."
"Wah, gila emang ini anak. Memang sih, Ben pernah bilang ke aku, kalau dia suka sama Kakak. Oh bukan! Bukan dia bilang ke aku, tapi aku tanya ke dia."
"Kamu tanya apa?"
"Aku kan kenal dia udah lama banget. Jadi paham lah ya, tentang gerak gerik Ben selama ini. Nah, pas kakak ke kantorku, kan Ben juga ada di sana. Aku udah bisa tebak kalau Ben suka sama kakak. Cuma nggak sangka aja bakal se- agresif itu. "
"Terus tadi, dia nanya ke aku tentang Latvia. Masa kata Ben gini, 'nanti kalau aku kangen kamu, gimana?' Kakak bingung dong."
"Kamu jawab apa, Lin?" tanya Astrid penasaran.
"Aku bilang, terserah."
Daniel dan Astrid tertawa lepas. Daniel membayangkan wajah Ben saat kakaknya mengatakan hal itu. Sementara Astrid justru merasa cerita ini adalah hal paling manis yang diceritakan Jeslin padanya. Karena Astrid belum pernah mendengar ada pria yang berhasil mendekati Jeslin dalam kurun waktu yang cukup lama. Biasanya, kebanyakan lelaki akan mundur dari hari pertama mendekati Jeslin. Jadi Ben adalah laki laki pertama yang berhasil membuat Jeslin terganggu. Justru itu adalah hal baik. Karena sikap dingin Jeslin yang membuatnya terlihat mengerikan dan membuat orang orang yang berniat mendekatinya langsung balik kanan.
Gawai Jeslin berdering. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ia mengabaikan hal itu, karena berpikir kalau itu adalah pesan iseng dari orang yang tidak dia kenal. Pesan lain masuk dan hanya dilirik oleh gadis itu. Hingga akhirnya beberapa pesan lain mulai memenuhi notifikasi hapenya. Tapi ada satu kalimat yang membuatnya sangat tertarik.
[Ian sudah nggak akan ganggu kamu lagi. Jadi kamu jangan khawatir.]
Jeslin mengerutkan kening, ia lantas meraih benda pipih itu dan membuka oesna tersebut. Ada sekitar 20 pesan yang belum ia baca dan semua pengirimnya adalah nomor yang sama. Jeslin membuka satu persatu pesan itu untuk mengetahui siapa pengirimnya dan apa yang ia maksudkan dengan Ian.
Akhirnya Jeslin tau siapa pengirimnya. Dia tentu adalah Ben. Orang gila yang sedang jatuh cinta pada Jeslin. Daniel dan Astrid tampak asyik mengobrol. Jeslin akhirnya lebih tertarik pada pengirim pesan tersebut. Ia pun membalas.
[Maksud kamu apa? Ini siapa?]
[Ha? Kamu nggak tau siapa aku? Jadi nomorku nggak kamu simpan? Kejamnya. 🥲]
Akhirnya Jeslin mengerti dan langsung mengenali siapa pengirim pesan misterius diponselnya. Ia beranjak, dan tak lama ada panggilan telepon dari Ben.
Jeslin berjalan menuju balkon, begitu sampai di sana ia kembali melihat ke dalam, di mana Adik dan sahabatnya masih asyik ngobrol.
Layar dia geser ke atas. Benda pipih itu ia letakkan di telinga kanan.
"Ya?"
"Hai , Jes. Kamu sudah sampai rumah, kan?"
"Udah. Tadi maksud kamu apa, Ben?"
"Tentang Ian?"
"Iya."
"Aku cuma mau bilang, kamu nggak perlu takut lagi sama Ian. Aku janji dia nggak akan ganggu kamu lagi."
"Kamu serius?"
"Iya. Kalau dia muncul lagi, kamu hubungin aku aja langsung."
"Kamu habis ketemu Ian?"
"Iya, Jes. Aku ... Aku udah tau semuanya."
"Maksud kamu?"
"Tentang Ian."
Jeslin diam sesaat. Pikirannya kacau. Yang menjadi pertanyaan Jeslin saat ini, adalah bagaimana Ben bisa mengetahui tentang dirinya dengan Ian. Lantas apa yang Ben pikirkan setelah tau hal ini. Jeslin penasaran.
"Bagaimana kamu tau?"
"Aku ketemu dia di tempat karaoke biasa dia nongkrong. Aku tau semua. Mungkin untuk sementara dia nggak akan muncul lagi, tapi kalau lain kali dia datang ganggu kamu lagi, kamu kasih tau aku, ya."
"Sementara dia nggak akan muncul lagi? Memangnya kenapa?"
"Nggak apa apa kok. Ya sudah, kamu istirahat ya. Pasti capek, baru pulang kerja. Sudah makan, kan?"
"Udah."
"Oke. Selamat malam, Jeslin."
__ADS_1
Jeslin tidak menjawab, dan panggilan pun di akhiri. Jeslin masih tidak mengerti pada perkataan Ben barusan. Tapi satu hal yang Jeslin yakini, kalau setelah ini pasti Ben akan mulai menjaga jarak dengannya. Itu pasti. Ben sudah tau yang terjadi di antara dirinya dan Ian. Iti artinya masalah ini bisa saja sampai ke telinga Daniel.
Jeslin menoleh ke meja makan. Di mana sang adik tampak bahagia. Jeslin tidak ingin merusak hal itu dengan masalah yang telah terjadi karena Ian.