Anomali Rasa

Anomali Rasa
Part 23 Pelecehan seksual


__ADS_3

Hari ini aku sangat lelah. Pekerjaan seharian tadi membuat tenaga dan pikiran seolah terkuras habis. Angga baru saja pergi, dan hanya menurunkan ku di halaman parkir apartemen. Sebelum pulang, kami memang memutuskan makan dulu tadi. Sehingga sudah makin sore untuk pulang sekarang.


Dalam perjalanan naik ke lantai tiga, aku berpapasan dengan Pak Satpam. "Sore, Pak," sapa ku berusaha ramah.


"Sore, mba. Baru pulang?" Alhasil aku pun berhenti sejenak untuk berbasa basi dengannya.


"Iya, Pak. Banyak kerjaan tadi. Oh oya, teman saya udah pulang?" tanyaku sambil menatap ke lift.


"Oh, Mba Nova? Tadi sudah pulang tapi pergi lagi, Mba. Belum lama malah."


Pergi lagi? Baguslah.


Ada sedikit kelegaan saat mendengar informasi tersebut. Akhirnya aku berpamitan dan segera naik ke lantai tiga. Pintu lift dibuka, sampai di lantai tiga, aku berpapasan dengan tetangga samping kamar. Hanya saling menarik kedua sudut bibir. Sampai di pintu kamar, aku segera membukanya karena rasanya sudah sangat ingin mandi dan berbaring. Aku sangat lelah.


"Welcome home," gumam ku lalu segera menutup pintu. Langsung membuka kulkas dan mengambil air minum di sana. Suasana sangat hening, bahkan aku dapat mendengar tegukan air minum yang masuk ke tenggorokan ku sendiri.

__ADS_1


Gelas aku letakkan di meja makan, lalu berjalan gontai menuju kamar. Saat handle pintu akan kubuka, sekilas aku melirik ke pintu kamar Nova. Samar-samar aku melihat gagang pintu itu bergerak. Dahi ku mengkerut, berharap salah lihat.


Karena penasaran aku mendekat, membuka pintu kamar tersebut perlahan. Kedua mataku membulat sempurna, tatkala melihat seseorang berdiri di sana, bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer setinggi lutut. Dia lantas menyeringai dengan seringai mengerikan. Jantungku serasa berhenti berdetak. Sadar akan ancaman di hadapanku, segera saja aku menutup pintu kamar Nova dan berniat kembali ke kamarku sendiri. Tapi pintu kamar Nova ditahan oleh Yudi. Aku lantas melepaskannya dan berlari ke kamarku sendiri. Yudi mengejar ku bahkan kini berusaha mendorong pintu kamarku yang sedang berusaha ku tutup.


"Mau apa kamu, Yud! Pergi sana! Atau aku teriak sekarang juga!" ancam ku masih berusaha menahan pintu itu. Wajah Yudi ada di antara celah pintu, dia terus melebarkan bibirnya dengan ekspresi mengerikan.


"Ayolah, Cha. Kita bisa bersenang-senang sebentar. Mumpung Nova nggak ada. Kamu juga pasti bosan sama Angga, kan? Kamu harus cobain permainan denganku. Pasti kamu suka!" jelas Yudi.


"Kamu gila, ya! Pergi sana! Tolong! Tolong!" Berulang kali aku menjerit berharap ada orang yang mendengar, tapi kekuatanku perlahan seakan habis. Pintu yang awalnya hampir tertutup sempurna, mendadak kembali terdorong ke dalam. Membuat posisi Yudi hampir menguasai keadaan. Aku terus menjerit ketakutan, terus meneriakkan kata tolong yang entah sudah berapa kali aku ucapkan. Bahkan air mataku mulai menetes dari kedua bola mata. Aku ketakutan. Apalagi kami hanya berdua saja di sini, dan sepertinya seluruh ruangan dilengkapi kedap suara, sehingga apa pun yang aku lakukan rasanya akan percuma.


Tiba-tiba aku terdorong dengan begitu keras dan membuat aku terjatuh ke lantai dengan pintu terbuka lebar. Yudi tertawa di ujung pintu, melangkah masuk ke dalam kamarku, dan aku menyeret tubuhku mundur menjauhinya.


Yudi jongkok dekat sekali denganku. Dia mengelus pipiku, dengan tatapan menjijikkan. "Lu tau, Cha? Kalau gue selalu membayangkan bisa menikmati tubuh lo ini," kata Yudi.


"Lu gila, ya?! Lu sakit, Yud! Udah ada Nova loh. Dia pasti bisa puasin elu, kan!" hardikku berusaha menghindari tatapan matanya.

__ADS_1


"Justru gue bayangin bisa menikmati tubuh kalian berdua bersamaan, Cha. Sepertinya menyenangkan!" bisik Yudi dekat sekali di telingaku.


Aku terus menghindari semua perlakuannya. Wajah Yudi mulai dekat dengan wajahku. Aku lantas menamparnya keras-keras. Membuat Yudi malah tersenyum mengerikan. Perlakuanku justru membuatnya makin menjadi. Kini dia mulai menarik kasar blazer yang kupakai. Hanya menampilkan kemeja putih yang tipis transparan. Aku yakin bra yang kupakai kini tercetak jelas di sana. Karena Yudi mulai memperhatikan bagian dadaku.


Sadar akan tatapan mesum darinya, aku segera menendang di antara ************ nya. Lalu berlari keluar, Yudi menjerit kesakitan, tapi langsung dengan mudah menggapai kakiku. Aku jatuh kembali dan menghantam lantai dingin di bawahku.


Aku terus meronta dan menendang Yudi yang ada di bawahku. Tanganku berusaha menggapai apa pun agar bisa membuat aku terlepas darinya.


Yudi malah berhasil mulai merangkak naik ke tubuhku. Aku yang tidak sanggup melawannya kini hanya bisa menangis pasrah. Yudi sudah berada di atas tubuhku. Memegangi kedua tanganku ke samping. Dia mulai mengeksplore leher dan membuatku jijik akan perlakuan itu. Tubuhku makin lemas, tidak ada daya untuk melawan lagi. Aku hanya pasrah.


Sampai akhirnya Yudi ditarik oleh seseorang. Wajah Angga terlihat tepat di atasku. Dia terlihat sangat marah, lalu memukul Yudi dengan brutal. Tak hanya ada Angga, tetapi Nova juga muncul, dia langsung memeluk dan menangis. "Kamu nggak apa-apa, kan, Cha?" tanyanya menatapku iba. Aku tidak menjawab pertanyaan itu, justru hanya menangis di pelukannya.


"Ngga! Udah, Angga!" jerit Nova. Dia lantas berusaha melerai perkelahian dua pria itu. Aku beringsut mundur dan terjebak di sudut kamar. Berusaha menutupi tubuhku sendiri. Nova dan Angga berdebat, sementara Yudi sudah babak belur duduk di lantai. Memegangi wajahnya yang lebam dan berdarah.


"Ayok! Pergi dari sini!" ajak Angga lalu menarik tanganku. Dia menatap Yudi dan Nova berganti dengan tatapan benci. Blazer yang tergeletak di lantai, Angga ambil kembali, dan memakaikan padaku.

__ADS_1


__ADS_2