Anomali Rasa

Anomali Rasa
Part 13 sakit


__ADS_3

Aku berlari menuju kamar mandi dengan menarik handuk yang tersampir di stand hanger. Pikiran ku sudah menerawang yang tidak-tidak. Bahkan aku tidak fokus pada apa yang sedang ku kerjakan. Semua terkesan terburu-buru. Lantai kamar mandi yang sebenarnya dingin pun, tak terasa saat pijakan pertama ku langkah kan. Guyuran air dingin mampu menyadarkan memori otak yang sebenarnya masih ingin bermalas-malasan di atas kasur. Hanya saja jika teringat sebuah nama yang sejak semalam mengganggu pikiranku, rasanya tidur bukan lah prioritasku sekarang.


____


Rumah bercat hijau muda kini sudah di hadapanku. Pintu tertutup rapat mengharuskan ku, segera mendekat dan mengetuknya untuk memanggil sang empunya rumah.


"Assalamualaikum," sapaku, mengetuk daun pintu dengan ragu.


"Wa alaikum salam." Suara seorang wanita yang sudah pasti Ibunya Angga terdengar samar. Tak lama pintu dibuka. Senyum khas wanita paruh baya itu bagai magnet untukku juga.


"Eh, Ocha. Maaf, ya, ibu ganggu. Masuk dulu," ajak Ibunya Angga, menggaandeng tanganku masuk.


Netraku liar mencari sosok yang sejak tadi ada dipikiran. Hingga tak lama Papa Angga keluar dari dalam rumah dengan pakaian rapi. Saat ku sadari, ternyata Ibunya Angga juga sudah rapi.


"Angga kenapa, Bu?" tanyaku meletakan tas di lantai. Mencoba bersikap santai, walau hati berkecamuk.


"Yuk. lihat sendiri aja. Biar Angga yang bilang. Malu dia."


Ibu Angga mengulum bibir, menahan tawa. Sedangkan aku makin bingung dibuatnya.


Ada apa sebenarnya ini?


Pintu bercat cokelat di ujung kemudian dibuka oleh Ibu, sambil menggandeng tanganku, ibu menuntun ku masuk dan terlihat Angga tengah terbaring di kasur.


"Loh?! Kok Ocha bisa di sini? Ibu yang ngajak?"tanya Angga terkejut. Ibu tersenyum.


"Iya. Jadi selama ibu pergi, ade dijagain sama Ocha, ya. Ade kalau lagi sakit rewel."


Sakit? Angga sakit? Sakit apa?


"Nggak usah, Bu, ih. Bisa sendiri juga," rengek Angga, terlihat benar-benar tidak nyaman.


Aku menarik sudut bibir tipis. Akhirnya lega juga, melihat kondisi Angga yang baik-baik saja. Masih cerewet seperti biasanya. Bayangan buruk yang sejak semalam menggelayut dipikiranku ternyata hanya pikiran buruk ku saja. Buktinya Angga tidak kenapa-kenapa. Wajahnya masih sama. Tidak ada luka lebam semacamnya. Walau dia hanya berbaring saja di kasur. Dan ... sakit?


"Memangnya anak ibu yang cerewet ini sakit apa?" tanyaku yang sedari tadi memendam penasaran.


Angga hanya meringis menahan sakit. Tapi ekspresinya terlihat lucu.


Ibu menoleh padaku.


"Ini ... anak ibu jorok, jarang cebok, Cha. Makanya bisulan. Sok kuat lagi, bisa sendiri katanya. Ck ck ck."


"Ye ... ibu malah dikasih tau. Malu kali, Bu. Aib ini, Bu. Aib!"


Dan ... tawa ku akhirnya lepas. Tidak lagi ingin menahan atau ditahan. Karena pemandangan di depanku terlihat lucu. Sangat.


"Udah, ya. Keburu macet di jalan. Ibu pergi dulu ya, Ocha. Titip Angga. Anggap aja rumah sendiri. Kalau Angga nakal, nanti lapor sama ibu."


Ibu lalu menoleh ke anak bungsunya yang masih terlihat menderita. Entah karena bisul atau karena ada aku di sini. Tapi, aku puas menertawakannya. Hahaha.


"Oh iya, De. Jangan nyuruh yang macem-macem ke Ocha. Terus, pintunya dibuka. Nggak baik berduaan di kamar."


"Siap, Bu. Nggak apa-apa kok, Bu. Kalau si Ocha disuruh-suruh. Ibu hati-hati, ya, di jalan sama Papah." Selesai berkata hal itu, Angga kembali meringis kesakitan. Entah mengapa tiap dia kesakitan, keinginanku untuk tertawa selalu muncul.


Aku ikut mengantar ibu sampai depan rumah. Lalu menutup sekaligus mengunci pintu. Karena takut ada orang masuk dan kami tidak mengetahuinya. Jaman sekarang, banyak kasus pencurian bahkan saat pemilik rumah ada di dalam rumah sekali pun. Miris, bukan?


"Cih ... nggak elit banget sakitnya. Bisulan. Hahaha," ejekku saat kembali ke kamar Angga.


"Ye ... mana tau bakal kena."


Aku menyapu pandang sekeliling kamar. Begitu berantakan kamar Angga. Sampah rokok di mana-mana. Bahkan ada yang sudah dimasukan ke dalam kantung kresek besar. Entah sejak kapan dia mengumpulkannya.


"Gimana nggak kena bisul coba? Ini kamar berantakan banget. Jorok. Gue beresin deh, ya. Heran deh! Bisa betah gini!" Omelku sambil terus membereskan kamar. Angga hanya diam sambil terus memperhatikan.


"Hehe. Namanya juga laki-laki. Yang bersih, ya, Mbok."


Aku menyipitkan mata dan menatapnya nyalang.


"Mau gue tabok pantatnya? Hm?" Menaikkan sebelah alis dengan tatapan mengintimidasi.


"Ya ampun galak amat, Cha. Mau ngebunuh gue, ya?"


"Ini banyak bungkus rokok gini buat koleksi? Atau mau buat kesenian apa gitu? Banyak banget," tukasku memasukan bungkus rokok ke dalam kantung plastik lain.


"Yaelah ... cuma males buang aja ke tempat sampah. Jadi numpuk. Ah, nggak semua barang harus ada filosofi dan tujuan kali, Cha. Ribet amat."

__ADS_1


"Dasar jorok!"


"Sshh ... Duh, Cha. Sakit. Oh iya, soal Idham ... nanti, ya. Kamu terima beres aja. Lagian belum bisa ke mana-mana. Kondisi gini."


Aku menghentikan gerakan. Lalu kembali memungut sampah pelan. Sedikit terenyuh  mendengar kalimat tadi. Rupanya Angga masih mengupayakan hal itu di saat dia sedang kesakitan seperti ini.


"Ya udah. Nggak apa-apa. Yang penting kamu sembuh dulu. Itu bisul sakit banget, ya? Sampai meringis-meringis gitu. Posisinya di pantat?"


"Sshh ... makasih, ya. Sakit banget, Cha. Kalau menurut gue lebih sakit gigi dari pada sakit bisul. Dan ini ... di pantat, duh, sshh."


"Makanya ... cebok. Haha."


"Duh ... sshh ... sakit banget." Angga makin mengerang kesakitan. Dahinya bertautan dengan mata yang terpejam. Posisinya sudah tengkurap sejak aku kembali ke kamar. Rupanya dalam posisi terlentang pun ia tersiksa.


"Eh ... eh ... gimana ini? Gue harus gimana?!" tanyaku agak panik.


"Striptise, Cha. Kumohon," cetus Angga dengan senyum jahil.


Wajah yang awalnya iba melihat dia kesakitan berubah sinis.


"Oke ... tapi kamu terlentang, ya. Nanti gue dipangku."


"Yee ... atuh kalau terlentang mah kena bisul dipantat, makanya ini gue tengkurep. Bukannya melepas birahi malah melepas nyawa."


"Ya atuh kamu ih! Lagi sakit masih sempet-sempetnya mesum!"


Selesai membereskan kamar Angga. Aku menyapu peluh di dahi. Walau sepele namun cukup menguras tenaga. Kamar yang awalnya mirip gudang akhirnya bisa terlihat rapi.


"Udah? Yuk makan yuk, Cha. Kita liat ke dapur ada apa aja."


"Loh? Kuat gitu ke dapur? Udah aku ambilin aja, sama suapin ya, ya,"bujukku.


"Kuat kok. Gue sakit bisul di pantat, bukan patah tulang, jadi masih bisa sendiri. sshh."


"Ih sok kuat. Masih meringis-meringis gitu padahal."


Akhirnya walau diiringi dengan penuh drama, kami bisa makan juga. Ibu sudah memasak. Dan masakannya sangat lezat. Cukup rindu dengan masakan rumahan seperti ini.


"Cha, minta tolong dong. Beliin obat sama  salep. Ini tinggal dikit," kata Angga menunjukan kotak obat.


"Sshh ... duh si once. Kan ada namanya aplikasi ojol. Beli tu barang, jadi kamu tinggal nunggu aja."


"Oh iya, ya."


Kuraih gawai di meja dan mulai mencari aplikasi yang dimaksud. Memesan obat yang Angga minta dan akhirnya selesai.


Karena sakit yang diderita Angga mengharuskannya untuk tidak banyak bergerak, maka kami kembali ke kamar. Agar dia bisa merebahkan badan dengan posisi paling nyaman.


"Cha ... sini tidur, tapi di bawah, ya. Kamu ngantuk, kan?" tanya Angga sambil menunjuk lantai samping kasurnya.


"Ih tega! Nggak disuruh di kasur," sahutku dengan memasang wajah memelas.


"Ye ... nanti kena pantat gue, gue tewas."


"Haha. Ya udah, nggak apa-apa. Eh, Angga ... menurut kamu kejadian gue sama Idham itu termasuk kriminal atau apa?" tanyaku spontan. Entah mengapa pertanyaan tadi terlintas begitu saja di kepalaku.


"Wuih ... tumben bahas itu. Udah berdamai nih, ceritanya?"


"Ya gimana, ya, mau diskusi aja sama kamu soal itu." Kurebahkan tubuh di lantai yang beralaskan karpet. Cukup nyaman. Terlebih ada bantal yang memang sudah teronggok begitu saja. Sepertinya biasa Angga pakai jika sedang duduk santai di lantai.


Masalah Idham memang sedikit sensitif buatku. Sebelumnya aku sangat antipati terhadap pembahasan ini. Bahkan jika mendengar nama Idham saja, rasanya aku sudah muak. Tapi, Angga lain. Dia adalah teman diskusi yang baik. Tidak pernah sekali pun, saat aku membicarakan suatu hal dengannya, kami berdebat yang berujung ia menggurui ku, seperti kebanyakan orang selama ini kutemui. Karena bagiku, debat dan diskusi adalah dua hal yang berbeda. Debat itu biasanya mempertahankan pendapat masing-masing dan biasanya lebih merasa dirinya sendiri yang paling benar. Sedangkan diskusi, mencari beberapa sudut pandang dari opini orang lain untuk dipahami dan mencari yang terbaik.


"Kalau menurutku sih masuk ke pelecehan seksual dan bisa termasuk tindak kriminal."


"Tapi dengan waktu yang udah lama ini, kalau kita laporkan nggak ada buktinya. Visum pun udah jauh, ya? Dia orang yang bisa kebal hukum, kan?" tukasku, menerawang langit-langit kamar sambil membayangkan kejadian beberapa tahun silam.


"Hm ... ya kalau pas kejadian kamu speak up, lingkungan bakal membantu kok tanpa harus lewat hukum."


"Maksudnya lingkungan?"


"Ya bakal bantu gebukin. Hukum rimba, Cha. Contoh aja kamu teriakin maling, orang-orang pada semangat, kan, mukulin di lingkungan kita ini," jelas Angga.


"Iya, ya. Sayangnya saat itu aku terlalu takut. Kepikiran aib lah, hamil, dan serasa hina. Apalagi kalau sampai orang tua ku tau. Gimana hancurnya perasaan mereka saat itu. Aku ngerasa gagal." Suaraku serak. Mataku mulai mengembun dan mengeluarkan titik-titik air di sudut mata.


"Sstt ... Duh jangan nangis, Cha. Tissuenya di luar kamar. Gue nya sakit ini, nggak bisa banyak gerak," kata Angga menoleh padaku.

__ADS_1


"Ih nggak romantis banget deh. Diambilin kek." Kusapu air mata yang sudah terlanjur basah mengenai pelipis dengan ujung baju. Walau hanya sedikit, tapi mampu membuat ujung bajuku basah dan hidung ku memerah.


"Udah ih, Cha," bujuk Angga sambil mengusap pucuk kepalaku dari atas kasur. "Menurutmu nih, ya, pelecehan sama playboy hampir mirip nggak?"


"Beda lah," tukasku memiringkan tubuh, menghadap ke arahnya.


"Mirip tau. Ujung-ujungnya mengincar tubuh meski berbeda cara. Yang satu paksaan, yang satu lagi dengan cara halus. Tapi sama-sama brengsek."


"Tapi bedanya yang satu maksa, yang satu mau sama mau, kan?"


"Iya. Misal Idham si pemerkosa, gue playboy nih, sama-sama incar tubuhmu, kan, sama ... brengsek."


"Iya. Tapi kan ada istilahnya, 'tubuhku otoritasku' jadi kalau sama playboy ya, karena aku emang mau aja ngelakuin sama playboy."


"Oh iya, ya. Ya udah, yuk. Atuh sama si playboy nya kan gue, ngelakuin sekarang yuk, mumpung sepi nih rumah."


Aku menepis tangan Angga yang masih bermain-main pada anak rambutku. "Playboy apaan?! Muka kaya orang ngeden, baunya udah kaya kaos kaki basah ih. Nggak mauu!" jeritku menjauhkan tubuh dari kasur.


"Ayolah, Cha," bujuk Angga sambil menaikan alis ke atas dan ke bawah.


"Bilangin ibu nanti, ya. Biar dihapus dari kartu keluarga!" Ancam ku.


"Tukang ngadu ih!" Sindir Angga, bangun dari kasur dan berdiri." Permisi nyonya Ocha."


"Mau ke mana ih?! Nggak bisa diem banget deh!"


"Ke WC. Mau boker. Kalau nggak ke WC, kamu mau bersihin 'itu' gue di kasur?"


"Ya udah. Sana sana. Awas! Hati-hati. Pelan, Angga."


"Nggak mau ikut? Kamu ditugaskan ibu menemani dan membantu gue. Tidak terkecuali ke WC. Bisa bantu cebok, kan?"


Kata Angga sambil membetulkan posisi rambutnya yang acak-acakan.


"Hih! Bisa aja, ya. Nyari kesempatannya. Nggak mau! Kamu sendiri aja kan kuat. Duh, aku ngantuk!"


"Pelit ih. Eh, Cha, tolong dong itu ambilin rokok."


Kuraih sebungkus rokok berwarna merah dan kuberikan padanya. "Silakan tuan."


____


Semilir angin dari jendela kamar benar-benar membuat rasa kantuk ku makin menjadi. Perlahan tapi pasti, mataku berat. Dan akhirnya aku tertidur.


Embusan nafas tengah kurasakan menerpa anak rambatku. Detak jantung yang bukan milikku, membuat netraku terbuka sempurna.


"Loh?!" Seruku, mengucek mata, saat menyadari bahwa aku sudah ada di atas kasur dan Angga yang sedang ada dipelukanku.


"Wuih ... enak, ya. Nyonya tidurnya," tukas Angga menatapku santai.


"Ih kok bisa di kasur. Siapa yang angkat? Terus aku nggak di apa-apain, kan? Eh kok kamu udah nggak kesakitan? Senyum-senyum lagi," hardikku.


"Nggak sekalian ujian CPNS aja? Soalnya banyak banget?! Gue yang angkat dan mindahin. Gue sih nggak ngapa-ngapain tapi kamu nih tidur meluk-meluk gue," sindir Angga melirikku dengan segaris mata, "hah sakit? Mimpi kali kamu tadi, mana ada gue kesakitan. Salto juga bisa ini." Angga mulai bersikap sombong dan menyebalkan.


Kudorong tubuhnya dan posisinya miring membelakangi ku. Dan terakhir kupukul pantatnya, sebal.


"Aaww! Sakit once! nggak usah ditepok juga bisulnya! Baru pecah, lukanya masih kebuka iih, ya sakit!"


"Hehe. Katanya nggak sakit. Hwu! Tapi bagus lah, udah pecah. Ibarat jerawat kalau udah pecah kan lega."


Angga kembali membalikkan badan menghadapku. Tiba-tiba ia langsung menarik kepalaku, membenamkan ke dadanya. Sontak aku melotot namun tidak bisa berkutik. Sikap Angga yang sering tiba-tiba seperti ini lah yang membuatku makin menyukainya.


"Cha, makasih, ya. Udah ngerawat dan nemenin gue. Jadi rasa sakitnya teralihkan, terus dengan ngobrol, kamu juga ... yah, bisa dibilang kita berbagi rasa sakit dengan cara kita. Iya, kan?"


Senyum tersungging dibibirku. Masih berada didekapan Angga, tanganku yang awalnya masih kaku, kini dengan santai melingkar di pinggangnya. Mengeratkan pelukanku dan membuat kami makin dekat.


"Kembali kasih, Angga. Seneng juga bisa berguna atau berarti buat kamu."


"Sebenernya gengsi sih mengakui gini, hehe ... tapi, ya rasa ini mengalahkan gengsi dan egoku," ujar Angga, membelai kepalaku dengan mulutnya yang sudah menempel di pucuk kepalaku. Kurasakan ia mengecup pelan dan berakhir dengan senyum yang tak ada habisnya dari bibirku. Mungkin ia tidak melihatnya, tapi aku yakin dia tau kalau aku sangat menyukai perlakuannya saat ini.


"Hehe. Nggak apa-apa kok. Kamu nggak bilang juga rasamu udah tersampaikan. Jadi diri sendiri aja," kataku, yang makin nyaman mendengar detak jantung Angga dari jarak sedekat ini. Embusan napasnya kurasakan makin menghangatkan hatiku. Rasanya momen seperti ini tidak ingin kulewatkan dan cepat berlalu.


"Cha ... ini udah bisa terlentang loh?!"  Seru Angga dengan ekspresi mesum.


"Hih! Nggak mau! Ibuu!" jeritku, melepas pelukan, beranjak dari kasur.

__ADS_1


"Heh! Heh! Nanti kedengeran sama orang, gue yang digebukin!"


__ADS_2