
"Cie ... Romantis amat sih, bawain sarapan buat Aa," tukas Nova yang menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Diem lu. Bawel."
"Cha, kalian berdua cocok kok. Napa nggak jadian aja?"
"Apa sih, lu, Nov! Buruan makannya, kesiangan nanti kita!"
"Eh serius gue. Ya ampun."
"Tuh! Grab dateng. Gue tinggal nih!"
"Tungguin hey!"
Kami bukan anak SMA yang sedang dimabuk cinta. Tak perlu ada ungkapan aku mencintaimu, kita pacaran, yuk. Bagi kami memberi perhatian dan cinta satu sama lain juga salah satu bentuk dari cinta. Satu yang pasti, ungkapan cinta dari Angga tempo hari sudah lebih dari cukup, membuktikan bahwa perasaanku terbalaskan.
Aku meraih totebag maroon favorit, tak lupa tas bekal di tangan kiri. Sedangkan Nova sedikit berlari kecil menyusul. Inilah alasanku membawa sarapan ke kantor. Karena waktu sudah siang, dan soal Angga ... entahlah. Aku pikir tidak ada salahnya membawa dua kotak makan ke kantor. Membayangkan bisa sarapan berdua bersama Angga di rooftop membuat semangatku bergelora. Alhasil kekehan kecil namun samar tercetak di wajahku. Untung saja Nova tidak melihatnya. Bisa jadi bulan-bulanan Nova nanti.
_____
Sampai di lobi kantor, sekilas Angga baru saja memasuki lift. Suasana kantor sudah cukup sibuk. Banyak orang mondar-mandir di sepanjang lobi. Masuk dan keluar dari dalam lift yang berjejer 3, atau pun hanya duduk di sofa lobi dengan tangan dan mata yang terus fokus pada benda pipih ditangan. Semua orang sibuk. Dengan dunia mereka sendiri. Pekerjaan maupun kehidupan pribadi mereka di dunia maya juga salah satu penyebab kesibukan semua manusia sekarang.
Langkah yang santai diawal, mendadak kupercepat agar bisa menyusul Angga. Alhasil Nova ikut tergopoh-gopong mengikuti langkahku. "Buset si Ocha mah!" omelnya sepanjang jalan. Namun tak kuhiraukan ocehannya. Bagiku ini hal biasa. Dan bahkan dia adalah salah satu melodi playlist hidupku. Suara Nova cukup enak di dengar walau sedang marah-marah.
Namun saat sampai di depan lift, rupanya hanya ada dua orang saja di dalam. Angga dan ... Tari. Mendadak suasana hatiku langsung down. Melihat wanita di samping Angga itu adalah hal terburuk sepanjang pagi ini. Mood yang sudah ku bangun sejak tadi runtuh seketika. Menyadari kehadiran kami, mereka terlihat akrab dan asyik mengobrol. Netra kami bertemu pada akhirnya.
"Eh, Cha, Nov. Tumben telat?" tanya Angga dengan ekspresi biasa saja. Yah, dia adalah manusia cuek di jagat raya ini.
Aku dan Nova masuk. Menekan tombol, tak menghiraukan pertanyaan tadi. "Yaelah, somse banget!" runtuk Angga, yang tak mendapat respon dari kami berdua. Nova melirik ke arahku, lalu beralih ke dua orang di belakang kami. "Eh Angga sama Tari, tumben berduaan aja," sindirnya.
"Iya tadi kebetulan berangkat bareng," sahut Tari.
Apa?! Berangkat bareng?!
Tak ingin membayangkan yang tidak-tidak, aku berharap segera sampai di lantai atas. Mendengar kekehan Tari karena candaan Angga, membuat telingaku panas. Ku katupkan rahang yang mulai mengeras. Jemari ku meremas kuat kain pembungkus kotak makan. Kepalaku tertunduk, menatap kaki yang terbungkus flatshoes mocha andalanku.
Sampai di ruangan, sudah banyak yang datang ke kantor. Bahkan Pak Karso kini sedang membawa nampan berisi kopi dan teh. "Neng Ocha mau teh atau kopi?" tanya beliau, begitu aku menghempaskan tubuh di kursi mejaku. "Kopi aja, Pak."
Komputer kunyalakan. Cangkir kopi di letakan di meja. "Terima kasih, Pak," kataku. Pak Karso yang baru saja pamit, kupanggil kembali. "Ini buat bapak saja," kataku sambil menyodorkan kotak bekal yang sudah susah payah kubawa tadi. Pak Karso ragu menerimanya. Dari sudut mataku, aku melihat wajah kebingungan pada pria paruh baya itu. Walau akhirnya beliau meraihnya dengan ragu.
"Cha?!" panggil Nova sedikit manaikkan nada bicaranya.
"Apa?"
"Lah itu kan tadi buat sarapan elu sama ...." Saat mata Nova menyapu pandang mencari seseorang, disaat yang bersamaan kusumpal mulutnya dengan permen lolipop yang kuambil dari laci. "Gue udah kenyang, Nov."
"Tapi, kan ...."
Nova memegang stik lolipop dengan tatapan iba padaku. Lalu melirik ke meja Angga yang tepat ada di samping kirinya. Dan baru saja sang pemilik menempatkan diri di kursi kebangsaannya. "Dasar cowok, nggak peka!" umpatnya lirih, namun aku masih dapat mendengarnya.
"Ngapa lu, Nov?!" tanya Angga yang sadar mendapat tatapan sinis dari Nova.
__ADS_1
"Bodo!"
"Lah! Napa sih?"
"Diem lu!"
Mereka beradu mulut seperti biasa. Angga yang tidak paham dengam situasi dan Nova yang kesal melihat sikap cuek Angga. Sementara itu, aku yang malas mendengar suara di sekitarku, lalu menyumpal telinga dengan headset, dan mulai berkutat dengan pekerjaanku sendiri. Menyetel musik keras dengan volume yang cukup tinggi adalah salah satu kebiasaan ku untuk mendapat konsentrasi saat hatiku kacau. Setidaknya, musik keras mampu menyalurkan emosi yang ku pendam selama ini.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tumpukan kertas sudah cukup tinggi di mejaku. Pertanda pekerjaanku hampir setengahnya selesai dengan baik. Perut mulai berbunyi, dengan rasa sakit yang perlahan mulai terasa. Rupanya tiba waktu istirahat. Pantas saja cacing di perut sudah menuntut diisi. Dan lagi pagi tadi bukan sarapan yang kuberikan, melainkan kopi hitam yang sebenarnya tidak baik untuk lambungku.
Beberapa orang sudah mulai meninggalkan meja, dan pergi mencari makan siang. "Cha! Makan yuk," ajak Nova sambil merentangkan tangannya ke atas.
Memang cukup menyita tenaga, walau kami hanya duduk saja selama beberapa jam tadi. Ternyata lelah nya otak mampu membuat tubuh ikut terkontaminasi penat dan butuh penyegaran segera.
"Duluan aja," sahutku masih terpaku pada monitor dengan jemari yang masih bermain di atas keyboard.
"Elu belum sarapan loh, Cha."
"Iya, bentar lagi."
Sementara itu, Tari terlihat beranjak dari duduknya dan menghampiri Angga yang baru saja mematikan komputer miliknya. "Yuk, Ga!" ajak Tari, Angga langsung mengangguk dan beranjak. Ia sempat menoleh ke arahku dan Nova.
"Kalian nggak makan? Puasa?" tanya Angga, memakai jaketnya.
Kumatikan layar di depanku, meraih Blazer maroon yang tersampir di punggung kursi. Melirik Tari sinis. Terlihat smrik di wajahnya. membuatku makin muak. "Iya, puasa. Yuk Nov, " ajakku, menggandeng tangan Nova.
"Lu nggak apa-apa, Cha?" tanya Nova saat kami mulai meninggalkan ruangan. Dengan langkah yang serempak, tangan Nova melingkar di lengan ku.
"Nggak apa-apa."
"Menurut lo gue harus bagaimana? Ngamuk? Marah-marah? Siapa gue sih, Nov?"
"Ya seenggaknya lu tanya kek ke Angga. Kok bisa mereka deket begitu?"
"Hak dialah mau deket sama siapa." Kutarik napas dalam-dalam, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Menahan rasa cemburu yang membuncah.
Kenapa harus Tari?!
Nova memesan nasi goreng seafood. Sementara aku hanya memesan roti bakar keju dengan matchalatte, kesukaanku.
Kami memilih cafe yang cukup jauh dari kantor. Rasanya malas jika melihat Angga bersama Tari seperti tadi. Biasanya mereka akan makan di cafe depan kantor seperti biasanya. Nova pun mengerti perasaanku. Maka dari itu, kami memilih cafe ini. Selain nuansa cafenya yang tenang, pemandangannya juga cukup indah.
Semilir angin yang berasal dari luar, yang memang didominasi pohon dan bunga-bunga taman, membuat hawa di dalam cafe sejuk. Sekali pun tidak memakai AC. Hingga pemandangan di depan, benar-benar mengusik perhatianku.
"Kampret!" umpatku lalu menoleh ke arah lain.
"Apa sih?" tanya Nova ikut menoleh ke pintu masuk. "Lah si kunyuk malah ke sini! Bego ... Bego!" Ia menepuk keningnya sendiri.
Melihat kami ada di cafe ini juga, Tari berbisik ke Angga, dan mereka menatap kami, melambaikan tangan dengan menarik sudut bibir lebar-lebar. "Eh kalian! Ketemu lagi," kata Angga, menuju ke meja kami. "Katanya puasa ...."
Angga menarik kursi di depanku, sementara Tari menempatkan dirinya di samping Angga. Tidak ada perasaan bersalah atau semacamnya di wajah Angga. Ah, memangnya aku ini siapa, ya?
__ADS_1
Jika keadaan sudah seperti ini, maka komitmen menjadi penting rasanya. Tapi ... ah sudahlah.
"Eh, Tar! Doni mana sih? Tumben nggak nempel elu?" tanya Nova sebal.
"Kan nggak masuk, Nov. Lagi sakit," sahutnya santai sambil menatap daftar menu.
"Oh jadi kelakuan lo gini, ya? Kalau laki lu nggak ada? Cowok mana aja elu embat?" Kembali Nova berkata sinis, melirik ke arah Angga, yang mulai salah tingkah. Angga lalu menatapku yang masih asyik menyantap roti bakar dengan mata terus menatap layar gawai. Mencoba menyibukkan diri ditengah gundah hati.
"Eh, Cha? Kamu makan itu aja? Lah kenyang?" tanya Angga basa basi. Mengalihkan pembicaraan yang kami sama-sama tau akan menjadi pertikaian jika dilanjutkan.
"Kenyang."
"Ga ... kamu pesen apa? Aku mau ini aja deh," tunjuk Tari ke sebuah gambar di buku menu.
"Gue gado-gado aja deh. Pesenin gih," suruh Angga.
"Kok aku, kamu lah ke sana." Tari menatap sebuah loket bertuliskan order here.
"Mager gue, Ri. Elu aja sana. Bukannya elu yang minta makan di sini? Gue mah maunya di cafe biasanya aja. Nggak usah jauh-jauh. Panas banget lagi di jalan," gerutu Angga.
Dengan terpaksa, Tari beranjak, melirik padaku sinis. Tapi justru hal ini membuat sudut bibir kananku naik. Setidaknya ada hal yang membuatku lega. Angga sudah tidak pernah memanggilku dengan sebutan 'elu' padaku. Tapi saat berbicara dengan Tari, kudengar tidak pernah ia memanggil Tari dengan sebutan 'kamu'.
Selesai makan, aku pamit ke toilet. Nova yang masih berdebat dengan Tari hanya mengangguk menanggapiku. Yah, Nova memang cukup sebal dengan Tari, mereka masih membahas masalah Rahma, yang kupikir sudah tidak penting lagi untuk dibahas. Sekali pun Rahma masih sering terlihat sedih, namun dia tidak menyesal berpisah dengan Doni.
Toilet di cafe ini cukup luas, di sebelah kanan, toilet khusus wanita, sementara di sebelah kiri, toilet khusus pria. Tapi di bagian tengah ada sebuah kaca besar penghubung keduanya dengan beberapa wastafel di depannya. Aku membetulkan riasan di wajah, memasang kembali softlens yang sengaja ku lepas saat akan makan tadi. Karena mataku akan iritasi jika terlalu lama memakainya. Jarak pandang ku memang terbatas, dan butuh bantuan untuk melihat jelas. Hanya saja kaca mata buatku bukan solusi. Karena aku kurang suka memakainya.
Disaat yang bersamaan, Angga juga muncul di kaca. Aku hanya menatap sekilas, lalu memasang softlens di mata kiri. Angga mendekat, menyalakan kran di sampingku.
"Kenapa nggak pakai kacamata , Cha? Kan ribet pakai gituan?" tanya Angga sambil mencuci tangan.
"Biasa aja kok," sahutku sinis.
"Cha, kamu kenapa sih?"
Kini mataku sudah lebih jelas melihat, terakhir kumasukan kotak softlens ke saku celana, lalu pergi. Tapi, tiba-tiba tanganku ditahan oleh Angga. Hingga aku kembali menoleh padanya.
"Kamu kenapa sih?"
"Kenapa apanya? Aku nggak apa-apa!"
"You lie! Jutek banget sama aku dari tadi ih. Aku salah apa?"
"What? Kamu nggak sadar?!"
"Enggak," kata Angga dengan reaksi kebingungan.
"Atuh si jelek, hih! Sebel! Tau ah!" kuhempaskan tangan Angga yang masih mencengkeram lenganku. Tapi dengan sigap ia kembali meraih tanganku kembali.
"Si jenong mah kalau ditanya begitu. Nggak usah pakai kode-kodean deh. Kalau aku punya salah, bilang atuh, Cha. Jangan gini."
"Kamu nggak ada salah apa-apa. Sudah? Aku mau balik kantor, banyak kerjaan."
__ADS_1
Kutinggalkan Angga seorang diri di toilet. Mengajak Nova kembali ke kantor dan juga meninggalkan Tari yang masih menatapku dengan penuh kemenangan. Sepertinya dia memang sengaja membuatku kesal.
Cemburu adalah salah satu bentuk cinta. Aku yang sering cemburu padamu, dan kamu yang hampir tidak pernah cemburu padaku. Bukan berarti hanya aku yang mencintaimu bukan?