
Jeslin keluar kantor sebelum jam makan siang. Ia sudah mulai mengurus paspor untuk keberangkatannya. Jalanan Ibukota tampak padat, walau tidak macet seperti pagi hari saat dia berangkat kerja. Sebentar lagi, dia akan pergi ke negara lain. Sebuah negara yang ia sukai dan alasan itulah dia memilih negara tersebut untuk novelnya.
Mobil Jeslin berhenti di lampu merah. Dia menoleh ke sekitar, namun netranya melihat ke sebuah bangunan bertingkat yang tidak asing baginya.
"AsiaGroup Inc?" gumam Jeslin. Dia merasa pernah mendengar nama itu. Akhirnya setelah beberapa detik, ia teringat satu nama. Ben. Yah, itu adalah perusahaan tempat Ben bekerja. Di mana dia akan menjadi satu satunya pewaris tunggal, jika saja dia tidak membelot dan menjadi penurut pada Sang Ayah.
Jeslin diam sesaat, memikirkan apa yang dibicarakan Ben semalam. Ben membicarakan perihal Ian. Dari apa yang Ben katakan, Jeslin merasa yakin kalau Ben melakukan sesuatu yang tidak dia ketahui pada Ian. Jeslin sangat penasaran. Dia pun akhirnya memutar mobil dan menyeberang ke tempat tersebut.
Jeslin masuk ke lobi perusahaan bertepatan dengan jam makan siang. Tentu beberapa orang mulai turun dan pergi mencari makan. Ia tengak tengok ke sekitar, mencari keberadaan Ben yang belum jga terlihat olehnya. Sampai akhirnya dia putus asa dan berniat menanyakan hal itu pada seorang wanita yang duduk di sebuah meja satu satunya di ruangan ini.
"Permisi, Pak. Ada tamu, mau ditemui dulu atau suruh tunggu saja sampai selesai makan siang?" tanya Wina, sekertaris Ben yang berdiri di depan pintu ruangan bosnya.
"Tamu? Siapa? Bukannya jadwal meeting hari ini cuma Pak Indrawan aja tadi pagi sama sore nanti, Pak Fendi?" tanya Ben sambil memeriksa jurnal harian yang memang sudah disiapkan oleh Wina setiap pagi.
"Betul, Pak. Tamunya perempuan."
"Perempuan? Siapa? Mama?"
"Bukan. Kalau tidak salah namanya ... Jeslin, Pak."
Ben yang sedang merapikan mejanya, terkejut saat nama gadis itu disebutkan oleh Wina. "Siapa? Coba ulangi," pinta Ben.
"Jeslin, Pak "
Ben segera beranjak dari duduk. Dia bergegas keluar dan mencari sosok gadis itu di lorong lantai lima gedung tersebut. "Mana?" tanya Ben tidak sabaran.
"Masih di lobi, Pak. Apa mau saya suruh ...." Belum sempat Wina menyelesaikan kalimatnya, Ben segera berlari ke arah lift dan turun ke lantai satu.
Begitu Ben keluar dari lift, dia segera menyapu pandangan ke sekitar mencari sosok yang dimaksudkan. Hingga akhirnya tatapan pemuda itu langsung menemukan Jeslin yang sedang duduk di kursi tunggu lobi. Ben terkekeh. Dia tidak tau apa yang lucu sehingga dia bisa tertawa saat ini.
Dengan santai Ben berjalan mendekat pada Jeslin. Gadis itu tidak memperhatikan sekitar, karena sedang menatap ke layar ponselnya. Ada beberapa pesan yang harus ia balas segera. Sampai sampai dia tidak menyadari kalau orang yang sedang dia tunggu kini sudah berdiri tepat di hadapannya. Jeslin mendongak, saat Ben berdiri dengan tangan yang terulur padanya.
"Yuk," ajak Ben. Cukup lama Jeslin membiarkan tangan Ben menunggu uluran tangan balik. Akhirnya Jeslin juga membalas uluran tangan tersebut dan berdiri di hadapan Ben.
"Ke mana?" tanya Jeslin.
"Makan."
"Tunggu," cegah Jeslin saat Ben hendak membawanya pergi. Ben menoleh dan menaikkan kedua alisnya.
"Kenapa?" tanya Ben.
"Aku udah makan."
"Tapi aku belum. Temenin aku makan, ya. Sambil ngobrol," pinta Ben setengah memaksa.
"Tapi, Ben, aku harus cepat balik ke ...." Tangan Jeslin kembali di tarik Ben, membuat kalimatnya terpotong. "Kantor."
Jeslin terpaksa naik mobil Ben, yang membawanya ke sebuah restoran langganan Ben. Dalam perjalanan keduanya berdebat, lebih tepatnya Jeslin yang terus mengajukan protes pada Ben karena telah membawanya dengan paksaan. Tapi Ben tidak terlalu ambil pusing dan terus mendengarkan omelan Jeslin sepanjang jalan.
Dua puluh menit berlalu, mereka akhirnya sampai di tempat tersebut. Sebuah restoran Jepang menjadi incaran Ben siang ini. Ia sedang ingin makan Gyudon. Jeslin yang berdalih sudah makan siang akhirnya tetap memesan makanan karena dia belum kenyang.
Sepotong pizza tentu bukan sebuah makanan yang akan membuat perut Jeslin kenyang. Akhirnya dia memesan Omurice.
Omurice sendiri merupakan singkatan dari Omelette dan Rice. Makanan Jepang ini sebenarnya nasi goreng yang dibungkus dengan omelette. Yang membuatnya berbeda, omurice biasanya disajikan dengan saus berwarna cokelat yang terbuat dari kaldu daging. Rasanya manis, gurih dan creamy.
Sementara Ben memesan Gyudon atau yang dikenal dengan beef bowl. Ini merupakan makanan khas Jepang yang simpel dan bergizi. Gyudon merupakan nasi dan daging yang disajikan di dalam mangkung. Biasanya daging pada Gyudon dimasak dengan soy sauce dan bawang bombay. Kemudian ditambah dengan telur yang dibuat setengah matang. Nikmat disantap bersama keluarga.
"Aku tambah lagi boleh?" tanya Jeslin padahal baru saja menghabiskan Omurice miliknya.
Ben sempat melongo tapi tak lama mengangguk dan segera memanggil pelayan resto untuk memenuhi pesanan Jeslin. Rupanya kegiatan yang Jeslin lakukan sejak pagi tadi, membuat energinya terkuras. Sehingga dia memang cukup banyak membutuhkan asupan energi.
Okonomiyaki menjadi pilihan kedua Jeslin. Makanan ini merupakan camilan khas Jepang yang terbuat dari kembang kol, adonan tepung, telur dan biasanya ditambah dengan daging salmon. Bagi yang tidak suka sayuran, kita juga bisa mengganti kembang kol dengan mie. Okonomiyaki disajikan dengan saus okonomiyaki, mayonnaise dan saus sambal.
Mugicha menjadi pilihan Jeslin untuk minuman segar siang ini. Selain teh hijau atau matcha, masyarakat Jepang juga mengenal minuman jenis teh lain, salah satunya adalah mugicha.
Banyak orang yang mempercayai mugicha dapat menurunkan berat badan serta menjaga kesehatan tubuh.
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, sebagian besar yang mengkonsumsi mugicha adalah kaum hawa. Hal ini tidak terlepas dengan manfaat mugicha yang dapat menurunkan berat badan.
__ADS_1
Namun di sisi lain, kebanyakan masyarat pendatang atau orang asing tidak menyukai mugicha, terutama orang-orang yang datang dari Eropa. Maka dari itu Jeslin memilih teh jenis ini. Karena dia sudah memakan dua porsi makanan siang ini. Bagaimana pun juga, Jeslin harus menjaga berat badannya dengan baik, walau dia memiliki hobi makan.
Ben tidak begitu menyukai Mugicha, dia justru memilih soda melon.
Soda melon adalah minuman Jepang dengan warna hijau cerah, dan memiliki rasa tidak seperti melon.
Minuman satu ini lebih mirip dengan minuman bersoda dengan rasa yang sangat manis.
Meskipun demikian, tidak sedikit orang Jepang yang menganggap soda melon sebagai salah satu minuman terbaik di Jepang.
Saat ini, soda melon lebih populer dan disukai oleh anak-anak ketimbang orang dewasa, entah apa yang menyebabkan hal ini terjadi.
Biasanya soda melon disajikan dalam beberapa variasi, seperti dicampur dengan es krim dan sejenisnya.
Dua minuman itu tidak mengandung alkohol, jadi aman dikonsumsi, apalagi mereka masih harus kembali bekerja.
"Maksud perkataan kamu semalam, apa?" tanya Jeslin setelah menunggu beberapa waktu.
"Yang mana?" tanya Ben sambil menikmati okonomiyaki.
"Soal ... Ian," sahut Jeslin, yang tampak ragu ragu menanyakan hal ini, namun dia penasaran.
Ben menatap Jeslin lekat lekat, masih sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya. "Oh itu," ucap Ben, di akhiri mengecup kedua ujung jadinya. Padahal dia makan pakai sumpit.
"Aku tau semua, Jes. Apa yang terjadi di antara kamu dan Ian."
"...." Jeslin terdiam, tidak tau harus menjawab atau merespon apa terhadap pernyataan Ben. Mendengar nama Ian saja sudah membuatnya ketakutan dan frustrasi. Apa yang sudah dilakukan Ian bukan kesalahan kecil atau sepele yang bisa dimaafkan begitu saja. Sayangnya belum pernah ada satu pun korban pemerkosaan yang bisa sembuh dari rasa trauma. Apalagi Jeslin yang juga tertutup pada sekitarnya. Dia terlalu takut untuk menceritakan hal itu pada orang lain. Hanya pada Astrid saja dia bisa terbuka. Karena ia hanya percaya sahabatnya itu. Hanya Astrid, yang sejak dulu bisa dia percaya, dan paling mengerti dirinya. Bahkan sampai sikap diam Jeslin pun, Astrid bisa paham apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Jes, kenapa kamu nggak laporkan perbuatan Ian ke polisi? Atau setidaknya Daniel. Daniel itu adikmu. Aku yakin dia nggak akan tinggal diam, kalau tau apa yang terjadi sama kakaknya."
"Justru itu. Aku nggak mau membebani Daniel. Kalau berita ini tersebar, gimana perusahaan? Gimana tanggapan klien Daniel. Apalagi pekerjaannya sekarang berkembang sangat bagus. Aku nggak mau merusak semuanya, Ben. Kamu ... Nggak bilang ke Daniel, kan?"
Ben menarik nafas panjang. Tidak percaya pada alasan yang dibuat Jeslin. Dia bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri, malah memikirkan Daniel. Nama baik adiknya, yang belum tentu akan rusak karena masalah ini. Tapi hidup Jeslin sudah jelas hancur untuk sekarang. Sekalipun tidak tampak dari luar, tapi di dalamnya, jiwanya, batinnya, pasti mengalami sebuah goncangan besar yang tidak akan bisa disembuhkan walau waktu terus berjalan.
"Jadi ... Kamu hamil?" tanya Ben.
Ben langsung menggenggam tangan gadis di depannya. Dia tersenyum tipis, berusaha menenangkan Jeslin. Ben tau, hal ini tidak mudah. Maka dari itu, dia hendak mendekati Jeslin dengan perlahan. Bukan lagi untuk mengambil hati gadis itu, tapi untuk bisa menemaninya melewati masa masa buruk ini.
"Oke. Kalau kamu nggak mau melaporkan ini ke polisi, dan nggak mau ada satu orang pun yang tau, cuma satu jalan keluarnya, Jes."
"Maksud kamu?"
"Kamu cuma bisa mengandalkan ku. Aku bakal terus ada untuk kamu. Terutama kalau sampai Ian datangi kamu lagi seperti sebelumnya. Kamu harus hubungi aku. Oke?" pinta Ben.
Memang dalam kasus ini, Jeslin lah yang paling membutuhkan bantuan. Tapi justru Ben yang terus berusaha mendekati gadis itu untuk memberikan pertolongan. Jeslin terlalu lemah untuk bisa menghadapi Ian sendirian. Ben tidak rela jika sampai Jeslin terluka lagi nantinya.
"Jeslin?" genggaman tangan Ben makin erat. Menyadarkan lamunan Jeslin. Gadis itu menatap Ben dengan tatapan dalam. Ia tidak mengerti, kenapa Ben justru masih mendekatinya setelah kebenaran yang ia ketahui sendiri.
"Kenaapa?" tanya Jeslin dengan mata berkaca kaca.
"Maksudmu?"
"Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu malah terus dekati aku, setelah tau tentang aku. Kenapa? Kenapa, Ben?" Air mata Jeslin mulai turun. Hidungnya mulai merah dengan mata yang sudah sembab.
"Aku cuma nggak mau kamu terluka lagi. Aku pasti akan melindungi kamu dari laki laki bajingan itu. Kamu jangan khawatir, ya." Ben kini menyapu air mata dari kedua pipi Jeslin.
Gadis itu justru menangis sesenggukan. Membuat Ben tidak tega melihatnya terlalu lama. Ben beranjak, lalu memeluk Jeslin dengan erat. Ia membelai punggung Jeslin, sambil mendesis.
"Aku janji, Ian akan mendapatkan hukuman dari perbuatannya."
Jeslin melepaskan pelukan Ben.
Dia lantas menggeleng. "Jangan! Biarkan aja. Daniel ... Daniel."
"Aku janji, nggak akan ada orang yang tau. Oke?"
"Apa yang mau kamu lakukan?"
"Kita lihat saja nanti. Kalau dia berani menampakkan batang hidungnya lagi di depan kamu, aku pasti bakal kasih dia pelajaran lebih dari sebelumnya."
__ADS_1
Ben kembali menarik tubuh Jeslin ke dalam pelukannya. Jeslin pun pasrah diperlakukan demikian. Entah mengapa dada bidang ini justru terasa hangat, dan menenangkan. Membuat Jeslin ingin terus berlama lama berada di dalam pelukan Ben.
________
Astrid baru saja berbelanja ke supermarket dekat apartemen. Dia mulai gemar memasak berbekal menu dari internet yang sedang marak di dunia maya. Segala jenis makanan menjadi bahan percobaan Astrid, dan tentu saja Jeslin adalah korban dari percobaan masakan Astrid karena dia masih tinggal di apartemen itu untuk jangka waktu yang lama.
Kini Jeslin sudah duduk manis di meja makan, menunggu masakan Astrid matang. Kali ini mereka hanya makan malam berdua. Karena Daniel sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Aroma sedap tercium. Membuat cacing di dalam perut Jeslin menggeliat. Dia sengaja tidak makan setelah pulang dari kantor, karena Astrid sudah mewanti wanti Jeslin untuk makan di rumah saja. "Sepertinya akan ada makan besar," gumamnya dalam hati setelah membaca pesan Astrid sebelumnya.
Sebuah hidangan tersaji. Kali ini Astrid memasak masakan dari Perancis.
"Ini apa namanya?" tanya Jeslin menunjuk sebuah makanan yang penyajiannya mirip dengan yang biasa ia makan di restoran.
"Foie Grass."
Makanan khas Perancis ini merupakan hidangan yang telah digemari sejak abad pertengahan dan bisa dikatakan sebagai salah satu kuliner paling tua di daratan Eropa.
Terbuat dari bahan utama hati angsa atau bebek, Foie Grass dimasak dengan cara digoreng, dipanggang atau dibakar bersama bumbu dan saus khas dan terkenal akan rasanya yang sangat gurih. Kali ini, Astrid memilih memanggang angsa itu, sehingga warna makanannya tampak cantik. Jeslin segera menyantap makana tersebut, dan berdecak kagum merasakan enaknya masakan Astrid yang satu ini. Sebelum Astrid menghilang dulu, masakannya tidak terlalu baik, tapi sekarang sangat berkembang pesat.
"Kamu bisa buka restoran, Trid. Aku bakal jadi pelanggan tetap di sana!" kata Jeslin dengan memuji sahabatnya sangat tinggi. Tapi masakan Astrid memang enak. Jeslin mengakui itu.
"Tunggu, ada lagi!" kata Astrid lalu bergegas ke dapur dan kembali dengan sebuah piring yang tertutup.
"Wah, ini apa?"
"Escargot."
"Pasti enak," timpal Jeslin dengan wajah berseri menunggu makanan kedua masuk ke dalam perutnya.
Namun begitu penutup dibuka, wajah Jeslin kembali redup. Piring yang dibawa Astrid tampak aneh. Jeslin tidak tau kalau Escargot itu adalah siput.
Liur yang hampir menetes, kembali masuk ke dalam tenggorokan. Kini Jeslin justru ingin muntahkan apa yang ada di dalam perutnya. "Aku ke kamar mandi dulu!" pamitnya sambil menutup mulut.
"Loh, kenapa, Lin? Jeslin?!" panggil Astrid sambil berteriak.
Begitu Jeslin kembali ke meja makan, dia tampak lemas dan wajahnya juga pucat. "Besok jangan masak yang aneh aneh kenapa sih, Trid!" rengek Jeslin sambil terus meneguk air mineral.
"Aneh? Apanya? Siput? Apanya yang aneh, kan aku masak dulu. Bersih, enak lagi!" ujar Astrid yang tidak dipercaya oleh Jeslin. "Eh, itu ... Ada tamu," bisik Astrid sambil menajamkan pendengaran nya. Benar saja, bel pintu terdengar. Membuat Astrid segera beranjak karena sang empunya rumah hanya tergeletak begitu saja di meja makan. Makanan yang belum selesai Jeslin cerna, terpaksa harus ia keluarkan lagi, karena hidangan penutup dari Astrid yang sangat ia benci. Sayangnya, Astrid lupa akan hal itu.
"Lin ... Ada yang cariin nih," jerit Astrid sambil membiarkan pintu apartemen dibuka. Jeslin yang bingung, lantas berjalan mendekat dengan perlahan. Dia takut jika tamu yang datang ternyata adalah Ian. Tapi begitu dia sampai di depan, justru Ben yang muncul dengan sebuket bunga mawar putih yang cukup besar. Jeslin terkejut. Tapi Ben tampak seperti biasanya. Tersenyum dan terus menatap Jeslin.
"Siapa, Lin?" tanya Astrid sambil berbisik. "Ian?"
"Bukan. Dia Ben," sahut Jeslin dengan suara pelan.
"Ehem ... Kok bagian ini belum kamu bahas sama aku," bisik Astrid lalu tersenyum pada Ben dan pamit masuk ke dalam.
Suasana hening sejenak. Sampai akhirnya Ben memberikan bunga tersebut ke Jeslin. "Ngapain repot sih?"
"Siapa yang repot? Enggak kok."
"Perasaan bunga kemarin juga masih seger. Kenapa beliin bunga lagi?" tanya Jeslin sambil memperhatikan bunga mawar putih di depannya. Aroma wangi yang khas, membuat Jeslin ingin terus berlama lama mendekapnya.
"Itu kan, kemarin. Ini beda lagi. Ini untuk hari ini," jelas Ben.
"Makasih." Wajah Jeslin tampak tidak begitu nyaman. Dan itu terbaca oleh Ben.
"Aku nggak boleh masuk?" tanya Ben sambil melongok ke dalam.
"Eum, maaf ya, Ben. Aku capek banget. Mau tidur. Besok lagi aja, ya."
"Hm. Ya udah, nggak apa apa. Kalau gitu aku pulang dulu."
"Iya." Pintu ditutup, bahkan tanpa ucapan perpisahan. Senyum Ben redup, dia melepaskan kancing kemeja paling atas, lalu berjalan meninggalkan apartemen Jeslin. Setelan tuxedo berwarna abu abu yang sudah ia kenakan, tampak indah, hanya saja wajah Ben justru murung. Niatan nya mengajak Jeslin makan malam, pupus sudah. Bahkan sebelum dia mengajak, Jeslin sudah mengusirnya dengan cara sopan.
Di sisi lain, di dalam apartemen Jeslin. Astrid mengomel panjang lebar dan terus menyalahkan Jeslin atas sikapnya yang semena mena terhadap Ben. Tapi Jeslin justru tampak biasa saja. Seolah olah dia tidak merasa bersalah sama sekali. Bahkan buket bunga yang tadi Ben berikan, dibiarkan tergeletak di meja begitu saja.
Jeslin masuk ke dalam kamar. Meraih earphone dan mendengarkan musik sambil membuka laptop. Omelan Astrid tentu tidak lagi didengar. Karena kini Jeslin sudah tenggelam dalam dunianya.
__ADS_1