
WARNING! MENGANDUNG ADEGAN 21++
Kami naik motor, pergi dari apartemen dengan sejuta emosi dariku dan Angga. Wajahku terus bersembunyi di balik punggung pemuda di depanku ini. Menahan isak tangis yang sebenarnya masih terus mengalirkan air mata. Bahkan jaket yang dikenakan Angga sudah sedikit basah. Beberapa potong pakaian milikku juga sudah aku bawa serta.
Sampai di lampu merah, kami berhenti di deretan motor paling depan. Aku masih diam, tak banyak bicara. Walau sejak tadi Angga selalu bercerita tentang hal - hal lucu guna menghibur ku. Seperti yang biasa dia lakukan.
"Gitu, kan, Ay?" tanya Angga sambil mendorong tubuhnya ke belakang, dan membuatku sedikit terkejut, dan ber-oh ria setelahnya.
"Eh, kenapa?" tanyaku meminta dia mengulangi kalimat dia sebelumnya. Dia lalu menoleh sedikit ke belakang. Tidak menjawab pertanyaan ku, malah menarik kedua tanganku ke depan. Alhasil aku makin mempererat pegangan yang lebih ke arah memeluknya.
Nyaman.
Perlahan rasa sedih dan tidak nyaman yang tadi aku rasakan, perlahan memudar. Aku bahkan tidak tau hendak di bawa ke mana oleh Angga.
Sampai akhirnya kami berhenti di sebuah bangunan bertingkat dengan banyak kamar. Tertulis papan nama Mami Kost.
"Kita ngapain ke sini, Ay?" tanyaku bingung.
"Ay, mendingan mulai sekarang nyari kostan aja. Nggak usah tinggal bareng Nova lagi."
"Kost?"
"Iya, temenku ada yang kost di sini, katanya tempatnya enak kok. Harga sewanya juga murah."
"Tapi, Ay... Aku nggak mau kost."
Angga lantas duduk menyamping, sambil memperhatikanku yang masih duduk di jok belakang motornya. "Kenapa?" tanyanya, mengelus pipiku lembut.
"Aku nggak suka kehidupan anak kost. Maksudnya dari segi tempatnya, privasinya, terus ini ... Jauh sama kantor."
"Jadi maunya Ay gimana?"
"Kita cari apartemen lagi aja, yang dekat kantor. Yang sewanya murah juga. Gimana?"
__ADS_1
"Oke. Kalau itu maunya, Ay. Aku nurut aja. Yuk, jalan lagi."
Pakaian kerja kami bahkan belum diganti. Kini kami harus mencari tempat tinggal untukku setidaknya untuk malam ini. Aku juga terus mencari di aplikasi daring yang khusus mencari kost atau apartemen di kota ini, bahkan secara spesifik lokasi daerahnya juga.
"Ay, ke sini aja. Ini murah sewanya," kataku dengan menunjukkan layar ponsel ke hadapannya.
"Oke," sahutnya lalu mempercepat laju kendaraan.
_______
"Akhirnya! Ketemu kasur juga!" rajukku yang langsung merebahkan tubuh lelahku di atas busa persegi panjang, yang terasa empuk. Apartemen ini lebih sederhana dari yang kemarin aku tinggali. Harga sewanya setengah lebih murah dari sewa apartemen sebelumnya.
Saat pintu dibuka, langsung ada dapur mini yang lengkap dengan perabotannya. Setelah dapur, langsung kamar dan lemari pakaian, di sisi kanan adalah kamar mandi. Tv layar datar menempel di tembok yang menghadap ke kasur. Meja makan juga tersedia di antara dapur dan kamar. Sederhana, hanya muat dua orang saja.
Tas pakaian kuletakkan begitu saja di lantai. Menatap langit - langit kamar yang sebagian besar tembok nya di cat warna orange. Segar dan cukup nyaman. Yang paling penting, benar - benar terjaga dari pihak luar. Aku sendirian di sini, rasanya memang itu lebih baik.
"Capek, ya," kata Angga ikut terlentang di samping ku. "Gimana? Cocok nggak tempatnya?"
"Cocok banget, Ay. Aku suka. Simple tapi ... Privat banget. Nggak perlu berbagi sama yang lain," kataku sambil memperhatikan sekitar.
"Iya, cuma sama kamu aja."
"Wah, bisa berduaan nih kita!" cetusnya dengan mata berbinar.
Aku segera melepaskan pelukanku. "Mandi ah!" kataku lalu meninggalkannya begitu saja di kasur.
"Ay, ikut!" jeritnya dengan merongrong seperti anak kecil.
"Nggak mau! Aku pengen mandi sendiri. Tapi ay jangan ke mana - mana! Awas aja kalau pergi!" ancam ku yang muncul dari balik pintu.
Tidak lagi aku dengar ocehannya, suara Angga telah tersamarkan oleh guyuran air dari shower.
Aku merasa lelah dan kotor hari ini. Perlakuan Yudi benar - benar mengerikan sekaligus menjijikkan. Kenapa hal ini terulang lagi. Aku kembali menangis saat merasakan perasaan sedih dan sakit itu.
__ADS_1
_____
POV ANGGA
Aku gagal pulang dan terdampar di tempat ini. Awalnya karena mengetahui kalau ada Yudi di apartemen Ocha sore itu. Aku bertemu Nova yang hendak kembali ke apartemen. Perasaan ku tidak enak, apalagi setelah mendengar penjelasan Ocha atas sikap kurang ajar Yudi padanya.
Kini Ocha sudah punya tempat tinggal baru. Tidak lagi bersama Nova. Sebenarnya aku lebih suka seperti ini. Karena sebenarnya aku pun tidak suka pada Yudi, hanya saja aku berusaha menahan semua rasa tidak nyaman itu agar suasana tidak memanas. Terlebih karena sikap Ocha yang terkadang meledak - ledak jika tidak menyukai sesuatu atau seseorang.
Pemandangan di depanku tampak menggiurkan. Wanita yang baru selesai mandi di sana, tengah memilih pakaian dari tas yang belum sempat ia bongkar tadi. Ocha mengambil tas tersebut dan meletakkan di atas kasur. Tubuh yang hanya berbalut handuk sebatas lutut, menampilkan kaki jenjang yang putih dan mulus. Rambutnya yang masih basah, terlihat menyegarkan.
Aku mendekat, menangkap tubuh ramping itu dengan cepat. Aroma sabun yang khas, mulai merasuk ke pangkal hidung. Membuatku terhipnotis akan sensasi aroma matcha dingin. Bahu telanjang nya mulai aku kecup pelan. Meninggalkan kecupan basah dan gigitan pelan di sana. Kiss mark kubuat tipis dan samar.
Dia berdiri mematung, melupakan pakaian yang sebenarnya sudah dia pilih tadi. Tubuhnya menegang, terlihat buli halus di tengkuknya mulai meremang. Aku makin gencar dengan perlakuanku.
"Masih dapet?" tanyaku berbisik. Dia menggeleng pelan. Aku kembali mengecup punggungnya. Dia menggelinjang saat bibir ini menyentuh cuping telinganya.
Ocha mulai mendesah, "Ay." Matanya terpejam, berusaha menikmati perlakuanku sejak tadi.
Aku mempererat pelukan, menciuminya dengan rakus, menghirup semua aroma yang menguar dari tubuhnya. Aroma khas tubuh Ocha terasa memabukkan. Kedua tangan ini mulai meremas bokongnya. Membuat desahannya makin intens kudengar.
Aku membalik tubuhnya, dan kini dia justru pasrah terhempas di kasur belakang. Tatapannya seolah menginginkan lebih. Aku mulai naik ke atas tubuhnya, mengecup lembut bibir ranumnya. Pelan dan makin lama makin rakus, apalagi dengan respon Ocha yang juga liar.
Mengulum, menjilat, menggigit. Tangannya menekan tengkukku hingga pagutan ini makin dalam. Aku mulai turun, menikmati inchi demi Ichi bagian tubuhnya yang sudah setengah telanjang. Tubuh kami yang sudah menempel, mulai bergulung dengan posisi dibalik. Kini Ocha sudah berada di atasku. Dia melakukan hal yang sama sepertiku. Pembalasan yang nikmat. Satu demi satu kancing bajuku dia buka. Kasar dan seolah tidak sabaran. Dia kadang liar dan binal.
Dia mendesah dan menggigit bibir bawahnya saat tubuh kami mulai bersatu. Aku biarkan dia melakukannya seorang diri, mengikuti ritme yang dia buat sendiri.
"Arrgh, ay!" gerakan liatnya membuatku tidak tahan lagi. Aku remas bokongnya dan membantunya mempercepat gerakan. Peluh membasahi tubuh kami, lenguhan terdengar dari kedua mulut kami.
Aku bangun, merengkuh tubuhnya dengan cepat. Membalik posisi kami yang masih menempel dan membiarkan dia di bawah sana. Bibir kami saling *******, nafas kami memburu seirama dengan gairah yang berpacu.
Pinggul ini bergerak perlahan. Menekan dan mendorongnya makin dalam. Mata satunya justru mengharapkan lebih. Menuntut dan menghipnotis ku untuk mempercepat gerakan itu. Ocha makin mengerang. Ia tak malu lagi berteriak dengan desahan yang nikmat. Tubuhnya menggelinjang, meliuk indah dan senyum terbit di bibirnya.
Semakin cepat.
__ADS_1
Aku berusaha memberikan apa yang dia mau. Semakin cepat. Tangan ini memeluknya erat, saat rasa ini tak lagi bisa terbendung. Mengalir deras, mencapai titik kepuasan.