
Andre pun melaksanakan kewajibannya pada tuhan. Usai ia melakukan nya, ia pandangi sesaat foto yang bergantung didinding luas dikamar Aurora, foto yang jelas gambar dari pemiliknya.
"cantik" gumamnya.
"astagfirullah" ucapnya lalu segera keluar.
"udah Ndre" tanya Aurora yang masih sibuk berkelut dengan bahan bahan pembuatan bakso.
"alhamdulillah " ucap Andre.
" bik, bantuin aja aku nyerah" ucapnya lagi karna tak bisa berbuat banyak meski sudah dibantu oleh youtube. Ia membuka celemeknya dan duduk begitu saja di kursi yang tertata rapi dimeja makan.
Sementara Jesika masih melanjutkan sebisanya. Melihat itu Andre menghampirinya lalu memakai celemek juga, melanjutkan pekerjaan yang dianggurin oleh Aurora.
"Aurora mah tau makan Ndre" celetuk Jesika yang kini sedang menakar air untuk rebusan bakso.
"biar jadi mandor aja dia" kata Andre mengejek.
"Ndre, tolong ambilkan bumbu itu" kata Jesika menunjukkan deretan kaleng bumbu yang ada di lemari atas, meminta pertolongan karna ia tak dapat menggapainya.
Andre mendekatinya spontan sesaat sebelum Jesika berbalik badan hingga saat hal itu ia lakukan maka membuatnya menjadi sangat dekat dihadapan Andre.
Andre meraih salah satu kaleng bumbu sedangkan Jesika terpaku dihadapan nya. Bahkan Jesika diam terpaku sampai memejamkan kedua matanya karna posisi yang terlalu dekat dengan Andre.
"yang ini? Kata Andre yang telah berhasil meraih salah satu bumbu tersebut.
"i-iya" kata Jesika terbata bata.
Andre menatap wajah Jesika tajam membuat jesika memundurkan tubuhnya namun mentok pantatnya menyentuh meja dapur.
Maafkan aku, Ra.. Aku pengen liat reaksimu padaku, apakah kau benar benar mencintaiku. Gumam Andre yang masih saja berada diposisi yang membuat Jesika canggung.
Tak sempat ia melirik keberadaan Aurora, rupanya Aurora sudahlah ada dibelakangnya dan memegang bahunya untuk perintah memutar tubuh.
Andre memutar tubuhnya dan membelakangi Jesika. Hingga kini ia sudah berhadapan dengan Aurora.
"Ndre, aku akan menciummu" Aurora melayangkan sebuah pernyataan yang membuat Andre terpaku.
"diamlah sebentar, dan jangan menolak" bisiknya.
Lalu Aurora meraih tengkuk Andre dan langsung mendekatkan paksa pada wajahnya. Ia mencium lembut bibir lelaki itu meski pemiliknya enggan membuka mulut yang digunakan untuk melancarkan perlakuan Aurora itu.
Aurora melepas sebentar lalu menempelkan bibirnya lagi sambil mulai terpejam. Akhirnya, mau tak mau Andre mengikuti permainan nya. Dia membiarkan Aurora memainkan lidahnya.
__ADS_1
"apa yang aku lakukan, aku akan mengecewakan Jesika, dan kenapa aku tak menolaknya, ya alloh apa ini" pikir Andre.
Cukup lama mereka berciuman, Aurora pun mulai melepaskan diri. Melirik Jesika yang terpaku dibelakang sambil tersenyum tanpa dosa. Ia melangkah mundur untuk memberi ruang pada Andre agar bergerak berpindah.
Andre tak bergeming, memilih bergerak untuk pergi mendapatkan kamar kecil karna tak tau lagi harus berbuat apa.
"Awesome" kata Jesika sambil menepuk tangan tanda memeriahkan.
Aurora hanya mengangkat kedua ibu jarinya dan mengedipkan sebelah dari bola matanya.
"lo berhasil melakukannya dalam beberapa waktu saja, gue aja terlalu takut untuk mencoba" kata Jesika.
"gue akan membuatnya terbiasa, karna gue serius sama dia, jes" Ucap Aurora dengan seringai yang senang.
"ok, gue tinggal ya. Disini juga jadi obat nyamuk" ucap Jesika sambil melepas celemek yang melekat padanya..
"telfon saja Dias untuk kesini, double date bisa bikin kalian saling melupakan dengan cepat" ledek Aurora pada sepupunya yang imut itu.
"Dias luar biasa sibuk hari ini, gue ga bisa ganggu" Jesika pun berjalan dan meraih tas kecil yang ia letakkan tadi diatas meja.
"gue duluan, Ra.. Awas bablas ya" ledeknya lagi. Ia pun berlalu tanpa menunggu jawaban dari Aurora.
Dan didalam kamar mandi dimana Andre berada. Menatap cermin kemudian membasuh muka, Andre memegangi dada.
Karena lama tak keluar dari toilet, akhirnya Aurora mengetuk pintu karna pekerjaan nya sudah diambil alih oleh bik Sri.
"Ndre, kamu gak papa kan? Kata Aurora memastikan.
Aurora, kenapa ia membuat jantungku semakin berdetak kencang? Haruskah aku tampak biasa dengan perlakuan nya, ataukah harus marah?
"Ndre, kalo kamu gak papa aku buka pintunya ya" ucap Aurora yang memancing suara Andre untuk terdengar.
Klik, pintu toilet terbuka dan Andre berjalan keluar dengan muka yang meneteskan air.
"Aku gak papa" jelasnya sambil berlalu melewati Aurora yang terdiam disana.
"Bik, aku bantu ya" tawarnya pada bik Sri yang entah untuk menghilangkan canggung atau untuk memberi durasi agar ia tak segera pulang, karna itu akan membuat hubungan nya dengan Aurora pastinya tak baik. Ia mulai mengikuti arahan yang diberikan oleh bi Sri.
"ah, akhirnya" kata Aurora yang mencium aroma kuah yang sedang ia tuangkan.
"bik, siapkan di meja makan ya, aku mau naik sebentar" titah Aurora yang beranjak dari tempat duduknya untuk memastikan bakso yang sudah siap, karna sedari tadi ia hanya sebagai mandor yang bucin pada Andre.
"baik non"
__ADS_1
Andre melepas celemeknya untuk kesekian kali lalu menatap arlojinya. Sudah waktunya untuk shalat asyar.
"mau asyaran ya den? Tanya bik Sri yang mengerti akan situasi Andre karna dirinya juga beragama islam.
"iya bik" ucap nya
"pakai aja kamar bibik den, ada dibelakang, tapi kamar bibik sebegitu adanya, aden kan tau sendiri" tawar bi Sri pada Andre sambil menuntun langkah Andre menuju kamarnya.
"silakan den"
"makasih bik"
Andre pun melakukan ritual ketaatan dirinya pada sang maha pencipta.
"bik, Andre mana? Tanya Aurora yang sudah berada didapur dengan pakaian yang berbeda, sepertinya habis mandi karna datang dengan tampilan yang berbeda.
"itu non, lagi sholat di kamar bibik"
"oh ya? Aku kesana ya bik" kata Aurora segera berlalu dari hadapan bik Sri.
Klik... Pintu terbuka pelan.
Ia berdiri menyenderkan diri pada tiang pintu, menatap lekat punggung lelaki yang membuatnya terpesona dengan posisi sedang menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas.
"amin" ucap Andre setelah sekian lama berdoa membuat Aurora gelagap hendak kabur tapi terhenti karna Andre menoleh kebelakang.
"Ndre, maaf aku tak bermaksud mengganggumu"
Andre tersenyum, ia berdiri melipat sajadah dan meletakkannya di tempat tidur.
"ayo makan" tambah Aurora lagi untuk mengalihkan pembicaraan. Ia pun berlalu meninggalkan Andre.
Sepanjang makan bersama, Aurora terus menatap Andre.
"hei, kamu terpesona tampanku ya" ucap Andre yang bisa bisanya bercanda, sungguh lelaki horor yang tak bisa ditebak.
"maybe you know" jawab Aurora jujur membuat Andre tersenyum dan terus melahap makanannya.
Andre, kamu tau aku suka kamu, apa yang kamu lakukan pastinya membuatku terpesona. Tak pernah aku sebegini bucin terhadap laki laki. Aurora
---
Bersambung
__ADS_1