
Setelah makan malam bersama, Papa membuka topik pembicaraan, "Aera sayang, papa meminta Kiai Abdullah untuk datang berkunjung hari ini."
"Hmmm, apa papa mau kolaborasi bisnis dengan Pak Kiai?" tanya Aera lugu.
"Kamu ini ada-ada saja si Ra! Mana ada bisnis kolaborasi, kamu pikir ini BTS ft Halsey!" ledek Valero.
"Ihh, aku kan hanya bertanya, kak," jelas Aera.
"Husshhh, sudah! Papa minta Pak Kiai datang karena ada yang ingin papa bicarakan, Ra. Ini juga menyangkut tentang kamu," jelas Papa.
"Hah? Kok aku?" tanya Aera kebingungan.
"Papa berencana menjodohkan kamu dengan Gus Faizar, Ra," jelas Papa.
"HAH? A-apa maksudnya? Gimana? Coba-coba papa jelaskan maksudnya, Pah. Ini terlalu tiba-tiba," tanya Aera terkejut.
"Papa ingin kamu menikah dengan Gus Faizar, Nak," jelas Papa.
"Papa apa-apannya sih, ini semua terlalu cepat. Kenapa tiba-tiba banget?" ucap Aera yang bingung dengan situasi yang sedang dialaminya.
"Nak, maksud Papa baik sayang. Semakin kamu tumbuh dewasa, semakin banyak orang yang ingin tahu identitas kamu," jelas Mama Thiva yang berusaha memberi pengertian pada Aera.
"I know that, Mah, tapi ini terlalu cepat untuk Aera. Gus Faizar juga tidak terlalu dekat denganku, kan? Kita sama sekali tidak kenal satu sama lain secara pribadi, Mah," jelas Aera.
__ADS_1
"Karena itu, Papa ingin Kamu ber-ta'aruf dengan Gus Faizar karena papa percaya Gus Faizar bisa membimbing dan melindungi kamu, Ra," ujar Mama Thiva.
"Tapi, Mah, aku..." Aera tidak dapat menyelesaikan kata-katanya karena Papa memintanya untuk kembali ke kamarnya.
Tanpa menjawab Papa, Aera pergi ke kamarnya dengan langkah tegas seperti orang yang marah.
Tok tok tok...
"Ra, papa boleh masuk?" ujar Papa dari luar pintu.
"Iya," jawab Aera singkat.
"Sini, duduk di samping papa," ujar Papa yang dituruti Aera untuk duduk disampingnya.
"Tapi, Pah. Aera sama sekali belum memikirkan tentang hal yang serius ini," keluh Aera.
"Iya, papa tahu. Papa akan menunda pernikahan sampai kamu lulus S1, tapi sebelum itu, kalian bertunangan dulu," jelas Papa.
"Pah, aku benar-benar tidak mengerti apa maksud dari rencana papa hingga melibatkan aku dalam keadaan seperti ini. Kenapa harus aku duluan? Kak Val juga sudah seharusnya menikah, kenapa tidak dia duluan?" tanya Aera.
"Aera, papa hanya ingin ada yang melindungi kamu lebih intens, Nak," kata Papa.
"Tidak seperti ini, Pah! Apa alasannya? Aku juga tidak memilih untuk menjadi anak yang disembunyikan orang tua seperti ini," tutur Aera, menahan air matanya.
__ADS_1
"Aera, jangan bicara seperti itu!" tegur Papa.
"Aku tidak tahu kenapa papa dan Mama sampai sebegitu menyembunyikan kelahiran dan pertumbuhanku dari orang-orang. Bahkan semua orang tidak tahu siapa aku. Sekarang aku harus bertunangan dengan laki-laki pilihan papa? Apa lagi yang akan papa lakukan padaku, Pah?" tutur Aera yang mulai menitikkan air mata di pipinya.
"Mungkin ini sudah saatnya papa memberikan penjelasan padamu, Nak," ucap Papa. Aera hanya diam, tidak menjawab.
"Saat usia kamu menginjak dua tahun, kamu diculik oleh orang suruhan Surya Atmojo, saingan bisnis Papa. Kamu adalah anak satu-satunya Papa dan Mama. Kami sangat bahagia menyambut kelahiranmu hingga saat perkembanganmu. Kami tidak pernah berpikir bahwa kamu akan diculik. Penjagaan di rumah kami pun belum ketat. Mama depresi karena kehilangan putri satu-satunya. Papa berusaha mencari kamu dan membebaskanmu agar Mama mau makan sekali saja dari tanganku. Tapi, tidak. Selama kamu pergi, Mama sama sekali tidak makan apapun. Papa mencari ke mana pun jejak Atmojo pergi, dan setelah tiga bulan pencarian, papa hampir menyerah. Papa menceritakan semuanya pada Kiai Abdullah, dan beliau menyarankan papa untuk minta petunjuk pada Allah. Papa pun mengikuti sarannya. Dia pun membantu mencari kamu. Malam itu, papa bangun malam untuk shalat tahajud dan benar-benar memohon untuk segera dipertemukan dengan kamu. Tidak lama dari situ, Kiai Abdullah memberi kabar bahwa anak muridnya yang ia minta untuk membantu mencari kamu telah menemukan tempat kamu berada dan di situlah kami menemukanmu," jelas Papa Aera, menceritakan kejadian yang membuat Mama Aera masuk rumah sakit karena kehilangan Aera.
"Kenapa papa baru cerita sekarang?" tanya Aera.
"Karena Papa takut kamu masih merasakan trauma, Ra," jelas Papa.
"Tapi, Pah, ini sangatlah mendadak untuk Aera. Papa tidak meminta pendapat Aera, papa tidak menanyakannya, apakah Aera memiliki teman dekat atau seseorang yang disukai Aera?" ucap Aera.
"Maafkan papa, Nak. Sekarang papa bertanya kepadamu, apakah kamu memiliki seseorang yang kamu sukai?" tanya Papa.
"Jika Aera menjawab iya, apakah Papa akan menerimanya?" tanya Aera lagi.
"Raa, Papa sangat berhutang budi dengan Kiai Abdullah, kamu ada di sini karena bantuan beliau juga, Ra," jelas Papa.
"I know it's Dad, but I really need time. Aku mohon beri aku waktu sebentar," ucap Aera yang lelah dengan perdebatan itu. Aera sedih, bukan karena harus menerima perjodohan, tapi dia sedih karena baru mengetahui fakta dan alasan dia disembunyikan.
Setelah mendengar permintaan Aera, Papa Joaan keluar dari kamarnya untuk memberi waktu agar Aera bisa lebih memikirkan keputusan Papa. Memang sulit baginya, tapi ini demi kebaikannya. Dalam bisnis, banyak saingan yang selalu merasa iri dengan keberhasilan keluarganya yang terkenal dermawan dan jujur. Keluarga mereka selalu menempatkan kejujuran sebagai nomor satu. Keputusan yang diambil dengan melibatkan Allah pasti menjadi keputusan terbaik. Namun, saat ini yang dipikirkan Aera adalah perasaan Kenzo jika dia tahu kabar pertunangan Aera. Benar, Kenzo dan Aera hanya sebatas teman dekat, tetapi mereka saling mencintai dan selalu memperhatikan satu sama lain.
__ADS_1
Karena terdapat perbedaan antara Aera dan Kenzo, yang dibatasi oleh tembok yang cukup tinggi dan sulit untuk dirobohkan, keduanya hanya saling menjaga tanpa ada hubungan yang serius. Aera juga tahu bahwa ayahnya tidak akan menyetujui jika ia harus menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki keyakinan yang berbeda darinya.