
"Kak.. " pangggil Nadia tapi karena saking kesalnya Alvin sudah tidak mau mengerti lagi, ia merasa ini sudah cukup sebagian jawaban untuk kelangsungan rumah tangganya, akhirnya ia benar-benar menyerah dan akan mengikuti apa mau istrinya dari pada berjuang sendiri tapi ujung-ujungnya sakit.
"Kak, aku tidak seperti itu.. " sendu Nadia merosot di samping ranjang nya, saat ini ia memutuskan untuk membiarkan Alvin untuk sendiri dulu.
"Aku sudah berusaha untuk move on demi kamu, aku juga tidak tau ini cinta atau bukan.. tapi aku merasa ada yang kurang saat kamu gak ada seperti kayak gini" sendu Nadia menangis pilu.
Sementara itu Alvin yang sedang kalut mencoba mencari hiburan di luar bersama Sahabat-sahabatnya.
"Tumben lo ngajakin kita, lagi gabut Pak" ledek teman-temannya.
"Brengsek lo" kesal Alvin kemudian meneguk segelas minuman tanpa sisa.
"Santai bro, kalau ada masalah lo cerita ke kita.. gak biasanya lo kayak gini, jangan ngomong kalau ini gara-gara perempuan" cibir Kenan melirik sahabatnya yang lain tapi Alvin malah melamun.
"Ya udah kalau gak mau cerita, kita senang-denang malam ini Oke, kita lupain segala urusan yang ada" teriak teman yang lain dan mereka pun berpesta sampai pagi.
__ADS_1
Jam 3 sini hari Alvin baru menginjakkan kaki di rumahnya dengan keadaan tidak karu-karuan. Alvin masik begitu saja ke rumahnya dan langsung menhemoadkan tubuhnya di sofa begitu saja. Saat subuh berkumandang Nadia terbangun dan mencoba keluar dari kamar karena ranjang di sampingnya kosong.
"Jadi semalam dia gak pulang? " tanya Nadia dalam hati sambil berjalan keluar.
"Kok bisa berantakan gini sih" umpat Nadia mendapati suaminya yang tidur dalam posisi yang tidak karuan dan bau alkohol menyengat ke mana-mana.
"Jadi semalem kamu mabok-mabokan" lirih Nadia kemudian membenarkan posisi suaminya.
"Aku minta maaf kalau kamu kayak gini karena aku, tapi seharusnya kita bisa selesaikan ini baik-baik tanpa ada yang menyakiti atau terluka lagi" lirih Nadia sedih.
Nadia membiarkan suaminya tidur lebih lama mengingat ini adalah hari sabtu, jadi sepertinya Alvin libur bekerja tapi ia ada urusan di kampus siang ini.
" Kak, sarapan dan baju gantinya sudah aku siapkan.. kamu mandi dulu ya kemudian sarapan aku mau ngampus dulu " pamit Nadia duduk disamping Alvin membenahi selimutnya.
"Apa begitu cara berpamitan yang benar? " tanya Alvin menahan tangan Nadia masih dalam keadaan terpejam.
__ADS_1
"Kamu udah bangun..kenapa semalam mabuk-mabukan? " tanya Nadia geram tapi Alvin malah menatapnya tajam seolah-olah itu karenanya.
"Oke.. aku minta maaf untuk yang kemarin, tapi sungguh itu hanya atas dasar kemanusiaan saja" jujur Nadia mencoba mengalah.
"Tapi dia masih berharap sama kamu.. seharusnya kamu tidak memberinya peluang" Alvin mengutarakan luapan hatinya.
"Dia hilang ingatan Kak dan aku yakin dia gak bakalan ingat sama aku, nanti aku mau kesana lagi kamu mau ikut? " tanya Nadia menawarkan takut ada huru hara lagi.
"Gak, males.. " ketus Alvin.
"Kok gitu.. nanti aku kesana sendiri kamunya cemburu, gimana pun dia pernah deket dengan aku dan Mamanya sangat mengenalku.." sendu Nadia.
"Iya.. iya Oke aku ikut nanti sorean dikit sepulang kerja" jawab Alvin akhirnya mengalah.
"Kamu masuk, sekarang kan hari sabtu" ucap Nadia.
__ADS_1
"Aku mau ke luar kota, ada meeting disana" jawab Alvin kemudian duduk sambil memijat kepalanya.
"Nad pijitin dong.. kepalaku pusing" pinta Alvin.