Apa Aku Murahan

Apa Aku Murahan
BAB 48


__ADS_3

Nadia menatap sendu suaminya penuh senyuman, malam ini ia bertekad untuk menyerahkan semua jiwa raganya dan siap menjadi istri seutuhnya setelah sebelumnya merasa ragu.


"Aku.. "


"Sttt.. aku menginginkanmu malam ini, apa kamu ikhlas menyerahkannya pada suamimu? " tanya Alvin memantapkan hati Nadia.


Nadia menatapnya dengan sorot mata tajam, bagaimana bisa, suaminya itu menanyakan hal sekrusial itu tanpa filter.


"Kenapa sih, kok lihatnya gitu banget.. aku ada salah ngomong? " tanya Alvin memicingkan matanya.


"Dan satu lagi, darimana kamu dapat baju kayak gini? " tanya Alvin dengan pandangan berbeda.


"Ini hadiah dari Mama" jawab Nadia masuk ke dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


Alvin melonggarkan pelukannya, kemudian menyatukan kening mereka, menatap dalam dan memberi kecupan lembut di kening istrinya. Alvin menatapnya dengan mata berkabut dan Nadia pun menganggukkan kepalanya sebagai aba-aba untuk memulai ibadah yang penuh pahala itu malam ini. Tanpa menunggu lama lagi Alvin dengan senyum simpul nya bergerak mengikis jarak menyatukan saliva mereka hingga terjadilah pertemuan dua indra yang telah lama di damba, beberapa bulan menikah tanpa dilandasi cinta seringkali dibumbui kesalahpahaman antar keduanya.


"Aku tidak akan bisa berhenti kalau sudah memulai" ucap Alvin dengan gairah yang tersirat nyata. Nadia hanya bisa menatap sendu dan kembali masuk ke dalam pelukan suaminya.


Alvin kembali memagut istrinya, kali ini pagutan tersebut begitu berani dan menuntut lebih, ia kemudian menggendong istrinya tanpa melepas pagutannya, Nadia yang sudah terlanjur memasrahkan dirinya malam itu tidak canggung lagi bahkan berani membalas dengan seduktif membuat suaminya semakin berhasrat. Alvin membaringkan istrinya di peraduan dengan lembut kemudian melepas bajunya terlebih dahulu baru kemudian baju istrinya.


"Sayang tolong katakan kalau kamu merasa tidak nyaman ya, aku ingin kita sama-sama menikmati kegiatan penuh pahala ini bersama-sama" ucap Alvin dengan tatapan yang sudah tak biasa.


Alvin kembali menjelajahi tubuh istrinya tanpa terlewat sejengkal pun, ia bermain begitu epick seperti sudah berpengalaman saja padahal sejujurnya ini baru pertama untuknya, cumbuan demi cumbuan ia berikan pada istrinya dan tidak lupa pula meninggalkan banyak bintang berkerlipan ditubuh mulusnya.


"Aku mulai ya Sayang.. tolong tahan sedikit ya, katanya ini akan sakit pada awalnya tapi setelahnya kamu bakalan merasa keenakan" ucap Alvin sedikit bercanda agar istrinya itu tidak tegang. Nadia yang merasakan benda asing memasuki tubuhnya langsung memejamkan mata dan mengeluarkan sedikit air disudut matanya, ia merintih tertahan sambil meremas seprei di sampingnya.


"Tahan ya Sayang.. sebentar lagi sampai, ini sangat sempit.. " keluh Alvin masih fokus dengan kegiatannya, ia harus menuntaskan hasrat yang sudah di ujung ini, kalau gak bakalan tidak bisa merem sepanjang malam.

__ADS_1


"aah.. " desah Nadia saat benda asing itu masuk sempurna di bagian tubuhnya, Alvin menghentikan pergerakannya agar istrinya lebih rileks terlebih dahulu dengan kembali memagut bibirnya sebelum memulainya kembali.


Alvin memulai kembali pergerakan nya saat melihat istrinya sudah mulai tenang dan menikmati. Alvin bermain dengan lembut hingga meraka sampai di puncak dengan mengerang bersama-sama. Alvin tumbang di ceruk leher istrinya saat kegiatan berpahala itu telah selesai mereka lakukan.


"Terima kasih Sayang.. " ucap Alvin mengecup bahu polos istrinya.


"Maafkan aku yang awalnya sempat mengira kalau kamu adalah.. " Alvin menjesa ucapannya sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Perempuan gak bener gitu.. " sahut Nadia gemas sendiri.


"Ya maaf.. pertemuan awal kita yang ditempat tidak semestinya membuat aku salah faham" sendu Alvin merasa bersalah.


"Terima kasih telah menjaganya untukku.. "

__ADS_1


__ADS_2