Apa Aku Murahan

Apa Aku Murahan
BAB 42.


__ADS_3

Nadia duduk disamping suaminya hendak memijat kepalanya yang katanya pusing.


"Kamu lagi gak enak badan ya.. badan kamu anget gini" tanya Nadia sedikit khawatir.


"Gak tau yang jelas tubuh aku rasanya gak enak banget" lirih Alvin mengeluh.


"Gak usah keluar kota ya, kita ke dokter aja.. sepertinya Kakak sakit ini" serius Nadia melihat Alvin memejamkan mata dengan wajah pucat nya.


"Mana ponsel Kakak, biar aku hubungi Kak Alan aja" ucap Nadia meraih ponsel Alvin.


Setelah menghubungi Alan Nadia berniat untuk memanggil kan dokter saja karena sepertinya tubuh Alvin sangat lemas, tidak mungkin jika dia dibawa ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya dok? " tanya Nadia seusai dokter memeriksa Alvin.


"Sepertinya dia kecapekan an, aku sudah memberinya obat tadi, demam nya masih tinggi aku sarankan kamu mengompresnya biar cepat normal suhu badannya" jelas dokter sebelum pergi.


"Terima kasih dok.. " ucap Nadia saat mengantar dokter keluar rumah.


"Sama-sama Nona, saya permisi dulu" pamit dokter itu.


Setelah kepergian dokter Nadia mengambil air untuk mengompres suaminya, seharian ia menjaga Alvin yang sedang sakit hingga tertidur.


"Ya ampun jam berapa ini, kok aku bisa ketiduran" lirih Nadia memeriksa keadaan suaminya.

__ADS_1


"Syukurlah demam nya sudah turun, biar kusiapkan makan untuknya kemudian minum obat" lirih Nadia hendak beranjak tapi sebuah tangan menahannya.


"Kakak udah bangun, gimana perasaan nya, apa yang Kakak rasakan sekarang? " tanya Nadia terduduk di samping suaminya yang berusaha bangkit dan bersandar di ranjangnya.


"Kepalaku masih pusing.. Terima kasih ya sudah merawatku dan maaf sudah banyak merepotkan mu" lirih Alvin.


"Kakak jangan ngomong gitu, itu sudah kewajiban aku untuk menjaga Kakak" jawab Nadia singkat.


"Apa kamu melakukan ini hanya sebagai kewajiban? " sendu Alvin menatap Nadia.


"Iya.. " jawab Nadia meyakinkan kemudian beranjak menyiapkan makan untuk Alvin.


"Kenapa kamu harus menanyakan itu Kak, aku melakukan bukan hanya karena kewajiban tapi karena aku juga peduli padamu" lirih Nadia dengan mata berembun.


Nadia membuatkan bubur untuk suaminya sambil melamun, hingga ia tidak menyadari kedatangan Mama mertuanya.


"Sayang kamu sedang apa? " tanya Mama.


"Astaghfirullah.. maaf Ma Nadia tidak tau Mama datang" panik Nadia yang tiba-tiba menjadi mertuanya datang.


"Gak apa-apa sayang, apa yang kamu pikirkan.. bagaimana keadaan Alvin" tanya Mama.


"Demamnya sudah turun Ma, tapi dia kelihatan masih lemas" jawab Nadia sambil menyiapkan bubur untuk suaminya.

__ADS_1


"Ya udah Mama mau melihatnya dulu ya" pamit Mama.


"Iya Ma.. " jawab Nadia masih sibuk di dapur.


"Al.. bagaimana keadaanmu Nak? " tanya Mama saat memasuki kamar anaknya.


"Mama, kok bisa disini? " heran Alvin mendapati Mama nya tiba-tiba datang.


"Mau jengukin kamu dong sayang, gimana ceritanya seorang Alvin bisa tumbang begini" ledek Mama.


"Apaan sih Mama, Alvin juga manusia Ma" jawab Alvin kesal.


"Untung ada ngerawat kamu sehari an ini, seneng kan punya istri" canda Mama.


"Terserah apa kata Mama aja, Nadia mana Ma? " tanya Alvin kemudian.


"Aku disini Kak, ini buburnya.. Kakak makan dulu kemudian minum obat ya" ucap Nadia memberikan buburnya.


"Dia kalau lagi sakit gini biasanya manja lo Nad, minta disuapin" ucap Mama membuat Alvin mmbelalakkan matanya karena malu.


"Begitu ya Ma, baiklah biar aku suapin kalau begitu" ucap Nadia santai sambil menyuapkan buburnya.


"Ayo Kak, aaa.. buka mulutnya" perintah Nadia membuat Alvin menatap Mamanya malu.

__ADS_1


__ADS_2