APAKAH AKU BISA BAHAGIA?

APAKAH AKU BISA BAHAGIA?
PERTENGKARAN


__ADS_3

Di kantin terlihat Alsya dan sahabatnya sedang menobrol entah membahasa apa,Alsya tidak fokus mendengarkan sahabatnya, ia malah melamun entah apa yang ia lamunkan dan membuat para sahabat Alsya bingung.


"Ada apa?"tanya Nabila memegang tangan Alsya.


Alsya terkejut dan menatap mereka.


"Kau mengejutkanku saja"ucap Alsya mengelus dadanya.


"Kau kenapa?,ada masalah?,ceritakan saja"ucap Vian.


"Tidak ada hanya masih kepikiran Kak Rafa saja"ucap Alsya.


"Kau ini Rafa terus capek tau gak kupingku sakit mendengar nama Rafa yang keluar dari mulutmu"ucap Sherly kejam menutup telinganya seolah - olah tidak mau mendengar lagi.


"Ahhh jahat sekali Anda"ucap Alsya diiringi tawa kecil dari Alsya dan sahabatnya.


Mereka berempat pun bercanda dan mengobrol sampai dimana mereka berhenti dan menatap heran sekelompok orang didepan mereka.


"Bolehkah kami gabung dengan kalian?"ucap Damar dengan senyuman manis.


Alsya dan Sahabatnya saling pandang bingung,Alsya melihat mencati bangku kantin yg biasanya mereka gunakan,tapi tidak ada.


'Aneh'


"Emm bangku kalian dimana?"ucap Alsya menatap mereka.


Mereka terdiri dari Rafa, Dika,Rayhan,dan Damar. Dan tak lupa ada seorang gadis disebelah mereka merangkul tangan Rafa siapa lagi kalau bukan Laila dan berhasil membuat Alsya cemburu.


"Boleh gak?"ucap Dika dingin.


"Boleh bangat kok Kak sini duduk di depan ku"ucap Vian menatap polos Dika.


Dika pun nurut dan diikuti yang lain,dimana Rayhan duduk di depan Sherly, Damar duduk di depan Nabila, Rafa duduk di depan Alsya dan Laila duduk di samping Alsya.


Alsya tidak fokus pria didepannya yang sedang menatapnya,ia malah fokus pada para sahabatnya yang bertingkah aneh apalagi saat ini pipi mereka sedikit merah lebih menejutkannya ialah seorang Sherly yang memiliki watak begitu cuek dan lidah tajam sekarang memerah entah karna marah, malu, atau sedang sakit.


Para sahabat Alsya yang seperti ditatap seseorang pun melihat ke arah seseorang yang ternyata Alsya menatap mereka dengan senyuman menyeringai dengan tangan memutar - mutarkan sumpit. .


'Glek'

__ADS_1


"Kenapa kau menatap kami?,apa ada yang salah? "ucap Sherly sedikit gugup.


"Sekarang kalian memiliki hutang penjelasan"ucap Alsya menatap mereka dengan senyuman manis.


Alsya kembali melihat sahabatnya dan para pria di depannya yang sama - sama gugup.


Alsya hanya membuang nafas jengah,Alsya baru sadar tidak hanya ada mereka saja,Alsya pun menatap Rafa yang duduk di depannya dan Laila duduk disampingnya bergantian.


"Ada apa?"ucap Laila lembut.


"Ahh gak apa - apa,aku hanya merasa seperti obat nyamuk disini,apa aku perlu pergi?"ucap Alsya sedikit tidak nyaman.


'Memang seharusnya kau tidak disini'ucap batin seseorang.


"Jangan lah begitu, makanlah dengan tenang"ucap Damar dengan senyuman manis.


Alsya hanya tersenyum tipis.


Tampa Alsya sadari Rafa selalu melirik ke arah Alsya yang tenang memakan makanannya,sedangkan Laila cemburu dan memiliki ide.


"Kak Rafa,kenapa makannya sedikit - sedikit?,sini aku suapin"ucap Laila centil mendekat ke arah Rafa.


Tapi dengan keras kepala Laila tetap menyuapi Rafa,sedangkan Alsya hanya mencoba tenang dan fokus pada makanannya.


Sherly, Nabila, dan Vian yang tidak suka dengan tingakah Laila pun ingin mendekati dan menjambak rambutnya tapi Alsya mencegah dan menyuruh diam saja.


Sherly yang tidak tahan pun mengeluarkan kata - kata yang menyakitkan hati.


"Apa matamu rusak?,kau tidak tau ini tempat apa?,Rafa juga bisa makan ia tidak cacat bukan?, jika ingin bermesraan jangan di depanku,muak aku melihat kalian,jika kau mau menggoda bukan disini tempatnya"ucap Sherly.


"Sherly!!,kumohon jangan bertingkah seperti ini, Ah maaf ya dia memang begitu,tapi hatinya sangat lembut bak kain sutra pilihan"ucap Alsya mendekati Sherly dan mengelus pundaknya agar tenang.


Laila pun duduk kembali di tempatnya dengan wajah muram tetapi ia masih memiliki banyak ide yang belum ia lakukan.


"Gak apa - apa aku suka dengan sifat wanita seperti itu,Tegas"ucap Rayhan menatap dan tersenyum misterius.


Alsya yang paham pun pergi dan kembali ke tempat duduknya sedangkan Sherly sekarang mempunyai pipi yang sangat merah.


Setelah duduk Alsya kembali menikmati makanannya,belum beberapa menit Alsya duduk,orang disebelahnya membuat kekacauan yang memperlibatkan Alsya.

__ADS_1


"Auu"teriak kesakitan Laila.


"Laila!!"teriak panik Rafa dan berjalan mendekat ke arah Laila.


Sedangkan Alsya menatap gadis disampingnya bingung.


"Kau gak apa - apa?,apa ada yang terluka?"ucap Alsya ikut khawatir ketika menyadari jika kuah panas tumpah di kaki Laila ia mendekat untuk memeriksa luka Laila tapi di dorong Laila dengan kuat dan membuat Alsya terjatuh.


"Jangan sentuh aku!!,apa kau sengaja melakukan ini karna aku dekat dengan Kak Rafa dan kau cemburu ha!!?"ucap Laila mulai berekting walau ia mengorbankan kakinya yang cantik.


"Aku gak ngerti maksudmu"ucap Alsya bingung.


"Kau masih pura - pura sok polos,kau sengaja menumpahkan kuah panas dikakiku,kau tahu ini sangat sakit,apa pernah aku melukaimu? apa pernah aku menyusahkanmu?,hanya karna aku dekat dengan orang yang selama ini kau dekati kau melakukan semua ini?,kau begitu kejam"ucap Lila merintihkan air mata.


Alsya ingin menjawab tapi di potong dengn ucapan Rafa.


"Aku kecewa denganmu Sya,padahal aku ingin berubah padamu tapi melihat sikapmu hanya karna Laila dekat denganku kau melakukan ini"ucap Rafa dingin menatap Alsya tajam.


"Tapi aku tidak melakukan apapun,bahkan aku hanya diam dan dengan tenang memakan makananku"ucap Alsya.


"Apa kau ingin membantah,aku melihat dengan mata kepalaku sendiri,tangan mu di bawah meja,apa kau mau mengelak lagi?"ucap dingin Rafa.


Alsya hanya bisa diam dan pasrah ia hanya bisa menahan tangis.


"Mulai sekarang jauhilah aku, jangan kau sekali - kali mendekati dirikulagi,aku sudah muak melihat wajah sok polosmu"ucap Rafa dn berjalan mendekat menggendong Laila yang menangis dan pergi menjauh dari kantin.


"Apa salahku?,aku tidak melakukan apapun"ucap Alsya merintihkan air mata.


Sherly,Nabila,dan Vian mendekat membantu Alsya berdiri yang masih duduk di lantai dan memeluk Alsya.


"Aku tau itu bukan salahmu,tapi nenek lampir itu sendiri yang pintar berekting,kau tidak usah khawatir,laki - laki di dunia bukan hanya dia saja"bisik mereka.


Setelah merasa tenang mereka melepaskan pelukan dan duduk kembali.


"Tenang saja dia lagi emosi,memang ia seseorang yang kalau emosi tidak bisa berpikir jernih,tunggulah beberapa saat"ucap Dika tenang.


"Kalau boleh tau Laila siapanya Kak Rafa,kenapa mereka begitu dekat?"ucap Alsya menunduk.


"Laila....

__ADS_1


__ADS_2