
Saat ini Alsya duduk dengan santai diruangan biasanya mereka berlima dengan ditatap menyelidik oleh para sahabat laki - laki nya.
"Kenapa?"tanya Alsya santai dengan mengusap darah di bibirnya.
"Lo... "ucapan Nic terhenti ketika mendengar dengusan kesal Alsya.
"Mata kalian buta,gue lagi sakit gini gak langsung di obati kek di apain kek malah ngasih pertanyaan, kalian gak peduli sama gue?"ucap Alsya kesal.
"Pertanyaan nya kan bisa nanti - nanti,gue bunuh juga lo semua"lanjut Alsya dengan wajah merah padam.
Nic langsung mengambil kotak p3k,sedangkan Ali mengambil baju ganti untuk Alsya,Satria mengambilkan air untuk Alsya,saat Liam ingin ikut berdiri Alsya menatapnya tajam.
"Ngapain?"ucap Alsya dingin.
"Emm anu.. mau membantu.. "ucap Liam sedikit gugup.
Alsya mendengus mendengar ucapan Liam.
"Kaki lo gimana?,masih sakit bukan?,jadi lo diam aja dari pada kaki lo gak sembuh - sembuh,biar mereka saja"ucap Alsya.
Nic kembali dengan tangan menenteng kotak p3k dan di ikuti Satria yang membawa segelas air.
"Ini minum dulu biar enakan,ati - ati airnya lumanyan panas"ucap Satria menyodorkan gelas yang ia pegang kepada Alsya.
Alsya dengan senang hati menerimanya dan meneguknya sampai habis.
"Thanks"ucap Alsya menyerahkan gelas yang udah kosong kepada Satria.
"Ayo gue bantu ngobati luka lo"ucap Nic.
"Bentar gue mau ganti baju dulu dan ingin mengobati luka yang berada di perut"ucap Alsya berdiri dibantu Ali yang masih memegangi tas yang berisi baju Alsya.
Alsya dituntun keluar ruangan dengan membawa kotak p3k yang tadi dibawa Nic,saat di depan kamar mandi Alsya menyuruh Ali kembali dahulu tetapi Ali menolak,dengan sebuah ancaman dari Alsya akhirnya Ali kembali ke ruangan mereka dengan wajah masam.
Alsya mandi karna ia juga harus memberersihkan darah yang menempel di badannya walau terasa perih.
Beberapa menit kemudian diruangan mereka berempat sedang melamun entah memikirkan apa bahkan Alsya masuk mereka tak menyadarinya,Alsya hanya acuh ia mengambil sisir di atas meja,Alsya menyisir rambutnya yang panjang.
Karna Alsya menyisir di sebelah mereka berempat membuat mereka terkena cipratan air dari rambut Alsya dan membuat mereka tersadar dari lamunan nya.
mereka berempat menatap wanita di yang tidak jauh dari mereka dengan wajah terkejut karna tidak ada yang berani masuk selain anggota mereka.
"Siapa lo?"ucap Nic dengan wajah terkejut.
Alsya pun membalikan badannya dan melihat wajah terkejutnya mereka berempat.
"Buta?"ucap Alsya singkat kembali merapikan rambutnya dan kembali menaruh sisir di atas meja.
Dengan santai Alsya duduk di sofa dekat mereka yang masih menatap Alsya terkejut.
"Ada apa sih?,Nic katanya lo mau ngobatin gue "ucap Alsya.
"As?"ucap mereka bersamaan masih belum percaya dihadapan mereka adalah As yang ternyata seorang wanita.
"Napa sih"ucap Alsya mulai jengkel menggebrak meja.
__ADS_1
"Ya.. dia benar - benar As"ucap Nic mulai mendekat dan mengobati Alsya.
"Kau..seorang wanita?"pertanyaan konyol lolos begitu saja dari mulut Satria.
Karna Alsya masih kesal dan dibuat kesal lagi karna pertanyaan konyol dari Satria ia dengan bergerak cepat menonjok perut Satria yang memang di sebelahnya.
'Buk'
"Aduh.. sakit anj.."ucap Satria terpotong saat Alsya menatapnya tajam.
" Apa?!!,jika kalian bertanya lagi gue bunuh kalian sekarang juga"ucap Alsya marah.
Mereka pun terdiam karna takut dengan ancaman Alsya karna biasanya jika Alsya mengancam maka memang akan ia lakukan,mereka menatap Alsya dengan teliti dari tingkah,amarah dan wajahnya sekarang mereka percaya jika wanita di hadapan mereka adalah As.
Beberapa menit kemudian Nic sudah selesai mengobati Alsya,tak lupa Alsya mengucapkan terimakasih.
Alsya mengembuskan nafas perlahan untuk mengurangi rasa kesal dan marah,karna sekarang ia lagi datang bulan jadi moodnya tidak setabil.
"Sory sory gue lagi datang bulan jadi apa ada pertanyaan?"ucap Alsya.
Mereka berempat saling pandang,banyak sekali pertanyaan di kepala mereka masing - masing tapi mereka enggan untuk bertanya.
"Ayolah bertanya saat wanita datang bulan maka emosi mereka tidak stabil terkadang mereka akan marah,sedih,manja,bahagia,atau apapun itu jadi karna saat ini aku lagi tidak mau marah kalian bisa bertanya sesuka hati kalian sebelum emosinya datang"ucap Alsya tersenyum.
Sesaat mereka terpana karna senyuman manis dari Alsya.
Alsya yang merasa di tatap seperti itu merasa aneh karna biasanya mereka tidak pernah menatapnya seperti itu.
"Halo apa ada yang aneh?"ucap Alsya dengan melambaikan tangannya di depan wajah mereka masing - masing.
Satria berdehem untuk memecahkan keheningan yang mematikan buat mereka.
"Emm kenapa kau membohongi kami?"ucap Satria dengan wajah sedikit takut.
"Tentang?"tanya Alsya tidak paham mengangkat satu alisnya.
"Jika kau adalah wanita"ucap Satria.
"Kapan aku pernah mengucapkan jika aku seorang pria?"ucap Alsya santai mereka berempat terdiam membisu.
"Tidak pernah kan?"ucap Alsya di jawab gelengan oleh mereka.
"Jadi selama ini kami memeluk seorang wanita"teriak Satria lebay karna selama ini ia tidak pernah memeluk wanita.
"Gue merasa kalian mencari kesempatan dalam kesempitan,asal peluk aja gue seperti tidak punya harga diri di peluk empat pria sekaligus"ucap Alsya dengan tiba - tiba menangis membuat mereka panik.
"Aduh - aduh jangan nangis dong As kami kan gk tau,jadi jangan salahkan kami"ucap Ali panik.
"Jadi maksud kalian ini semua salah gue?"ucap Alsya yang tadinya nangis berubah menjadi marah.
"Bukan gitu tapi..."ucap Ali terpotong dengan tangisan Alsya lagi yang berhasil membuat mereka mengacak rambut mereka masing - masing karna frustasi.
'Aduh.... Apa begini rasanya jika menghadapi cewek lagi datang bulan?' pikir mereka bersamaan.
"Emm As apa lo lupa jika kita ingin menonton pertandingan,ini sudah waktunya"ucap Liam mengalihkan perhatian Alsya.
__ADS_1
Alsya yang tadinya menangis menjadi ceria,lo benar gue hampir lupa kalau begitu gue akan bersiap sebentar.
Mereka melongo melihat perubahan mood Alsya secara drastis.
Bebeberapa menit kemudian Alsya keluar dengan penampilan As,ia menekuk rambutnya dengan topi dan memasang masker.
"Ayo"ucap Alsya kembali dingin.
Lamunan mereka buyar ketika mendengar suara dingin Alsya kembali.
"Ada apa?,apa kalian masih penasaran tentang gue?, kapan - kapan akan gue ceritakan, sekarang mari kita nonton pertandingan dan setelah itu aku akan kembali ke rumah"ucap Alsya.
Saat menucapkan 'akan kembali kerumah' tampa sadar Alsya memunculkan ekspresi ketakutan tapi hanya sekilas.
Walau Alsya menggunakan masker tapi mereka berempat bisa mrlihat ketakutan dari mata Alsya yang berhasil membuat mereka penasaran sekaligus khawatir.
"Emm kenapa kau tidak lebih lama disini?"ucap Ali yang tak rela Alsya hanya menginap satu hari.
"Gue ingin tapi gue gak bisa"ucap Alsya menunduk.
'Aku takut mereka akan menghukumku lebih kejam' gumam Alsya tetapi masih bisa terdengar dari mereka dan membuat mereka khawatir.
Saat ingin bertanya tetapi terlambat Alsya berjalan keluar mendahului mereka sedangkan mereka saling menatap satu sama lain dengan wajah khawatir dan mengikuti Alsya dari belakang.
Saat berjalan menuju keluar gedung banyak orang - orang menyapa Alsya dan memberi salam penghormatan mungkin karna menang karna melawan kakek Shi,tapi hanya dibalas anggukan dari Alsya.
Beberapa menit mereka sampai di depan gedung kompetisi yang cukup besar,di gedung tersebut biasanya digunakan ajang kompetisi Panca silat, karate atau apapun itu yang berhubungan dengan bela diri.
Disaat masuk mereka sudah melihat begitu banyak orang - orang yang duduk di bangku penonton.
Alsya di ikuti lainnya berjalan mencari tempat duduk yang masih kosong,saat menemukan bangku Alsya dan lainnya menuju ke bangku itu dan duduk dengan santai.
"Siapa nama yang menggantikan gue?"tanya Alsya santai.
Belum sempat mereka menjawab tiba - tiba suara terdengar dari seseorang pembawa acara atau mc datang di tengah - tengah gedung.
"Hadiri sekalian selamat datang di acara pertandingan siapa yang kuat maka ia yang bertahan"ucap mc tersebut.
Mc tersebut berbicara panjang kali lebar layaknya mc lainnya,Alsya yang merasa bosan hanya mendengus kesal.
"Baiklah tampa berlama - lama mari kita sambut sang juara bertahan siapa lagi kalau bukan......Rafa!!!!"ucap mc tersebut dengan nada tinggi.
Alsya yang mendengar nama Rafa disebut pun melonjak kaget.
"Rafa!?"ucap Alsya kaget.
Karna suara Alsya cukup keras membuat beberapa orang di dekatnya menatap Alsya heran tapi Alsya hanya acuh tak acuh ketika ditatap orang - orang.
"Apa lo mengenalnya As?"tanya Nic.
"Ehem mungkin namanya saja yang sama"ucap Alsya.
Alsya melihat seorang pria yamg gagah berjalan menuju tengah - tengah dengan tampang dinginnya yang berhasil membuat Alsya terkejut.
"Kak Rafa?"
__ADS_1