APAKAH AKU BISA BAHAGIA?

APAKAH AKU BISA BAHAGIA?
DIA?


__ADS_3

"Laila adalah sahabat kecil Rafa,dari kecil mereka selalu bersama entah apa yang terjadi pasti mereka bersama,sampai suatu saat mereka berpisah saat mereka masih smp,dan mereka baru bertemu beberapa bulan ini,dan Laila juga.."ucap Darma terdiam sesaat ragu untuk melanjutkan ceritanya.


"Juga?, juga apa Kak jangan membuat Alsya penasaran"ucap Alsya menggoyang - goyangkan tangan Darma.


"Cinta pertama Rafa"ucap Dika menatap lurus kedepan.


"O"ucap Alsya.


Para sahabat Alsya dan sahabat Rafa menatap Alsya terkejut,mereka tak percaya jika Alsya hanya mengucapkan satu huruf dengan singkat dan tampa ekpresi sedikitpun.


"Hanya gitu?"ucap Sherly.


"Ha?"ucap Alsya bingung mengangkat sebelah alisnya.


"Kalian kenapa sih?,kenapa menatapku seperti itu?"ucap Alsya sebal.


"Kau tidak teriak dan nangis karna tidak terima?"ucap Rayhan terkejut.


"Untuk apa menangis dan berteriak?, dia masa lalunya sedangkan aku?, masa depannya"ucap Alsya menepuk dadanya bangga.


"Dihh"ucap mereka bersamaan.


Alsya tertawa terbahak - bahak,tetapi di dalam hatinya paling dalam ia takut,ia ingin menangis tapi ia tahan di depan teman - temannya.


"Oh ya kalian apakah memiliki hubungan dengan satu sama lain?"tanya Alsya.


Keheningan pun terjadi,jika diteliti dengan jelas,wajah mereka masing - masing berkeringat dan gugup.


"Hei kenapa diam saja, baiklah aku anggap diam kalian sebagai jawaban"ucap Alsya menatap tajam mereka.


"Jika memang kalian memiliki hubungan,aku meminta percayalah satu sama lain,jangan karna ada batu kecil atau lubang kecil di pertengahan jalan dalam hubungan kalian,bisa membuat hubungan kalian berantakan"ucap Alsya.


"Apaan sih Sya,kami gak memiliki hubungan apapun,gak usah sotoy deh"ucap Sherly menonyor kening Alsya.


"Udahlah aku tau apa yang ada di pikiran kalian,nanti juga bakal ketahuan bukan?, sekarang aku mau ke kamar mandi dulu, kalian lanjutkan saja, aku tidak mau mengganggu kalian"ucap Alsya berjalan menjauh dari meja yang ditempati sahabat Alsya dan sahabat Rafa.


Alsya berjalan melewati lorong - lorong kelas dengan wajah datar,ia sedang melamun memikirkan tentang Rafa dan Laila,ia benar - benar mencintai Rafa, entah apa yang ia sukai dari Rafa sampai ia sulit untuk melupakannya, ia juga memikirkan apakah ia terus berjuang dengan cinta bertepuk sebelah tangan ini atau melanjutkannya dengan lapang dada?.

__ADS_1


Karna asik dengan pikirannya sendiri Alsya tampa tersadar menabrak seseorang,seseorang itu pun kaget dan memegang tangan Alsya agar tidak jatuh.


Alsya mendongak siapa orang yang membantunya,saat melihat wajah seseorang itu,mata Alsya membulat sempurna dan air matanya pun meluncur.


Alsya dengan cepat memeluk seseorang yang ia rindukan,seseorang itu bukan lain adalah Rio.


Alsya memeluk erat Rio,sebaliknya Rio juga memeluk erat Alsya dan mencium pucuk kepala Alsya,ia benar - benar merindukan gadis kecil di dekapannya ini yang sudah ia anggap adik sendiri.


Karena interaksi antar mereka berdua membuat para siswa lain berhenti dan melihat mereka penasaran.


Rio yang sadar pun menarik tangan Alsya dengan pelan ke tempat yang lebih sepi.


Alsya hanya mengikuti dan mengusap air matanya yang masih berada di pipinya.


Mereka berjalan menuju belakang sekolah di mana ada pohon yang rindang,Rio berhenti di bawah pohon dan menatap Alsya tersenyum.


"Bagaimana Bang Rio bisa masuk ke sekolah dengan bebas?"tanya Alsya bingung.


"Rahasia, kenapa kau malah membahas hal yang tidak penting?, apa kau tidak rindu dengan ku hmm?"tanya Rio merentangkan tangannya.


Alsya tersenyum dan kembali memeluk Rio dengan erat.


"Bagaimana di sekolah ini apa kau suka?"tanya Rio.


"Kenapa Bang Rio bertanya begitu?,tentu saja aku suka"ucap Alsya.


Rio mengangguk - anggukan kepalanya,ia menatap ke atas langit dan kembali menatap Alsya.


"Apakah kau tertarik dengan salah satu pria di sekolah ini?"tanya Rio.


"Kepo, kenapa Bang Rio tanya begitu sih?"tanya Alsya kesal bercampur gugup.


"Gak apa - apa, hanya ingin tau aja"ucap Rio.


"Aku dengar kau terluka lagi karna mereka, apa itu benar?"tanya Rio memejamkan matanya.


"Emm itu salahku karna pulang terlambat, tapi aku tidak apa - apa,aku hanya sedikit terluka saja"ucap Alsya memperlihatkan bahwa ia baik - baik saja.

__ADS_1


"Hah Sya,jika kau kenapa - napa lagi aku akan memenjarakan mereka karna kekerasan terhadap anak mereka sendiri"ucap Rio.


Alsya terlonjak kaget dan menatap Rio memohon.


"Jangan Bang,Alsya gak sanggup melihat mereka di penjara"ucap Alsya memohon.


"Kali ini dan seterusnya aku tidak peduli, kau selalu melindungi mereka,aku kan sudah pernah bilang,jika mereka melukaimu lagi aku akan membawa mereka ke jalur hukum"ucap Rio tegas tampa menerima penolakan sedikitpun.


Alsya hanya menunduk,ia tidak bisa berbuat banyak hal untuk kedua orang tuanya. Rio yang tidak tega pun mendekati Alsya dan berucap.


"Sya sudah jangan pikirkan mereka,sini duduk disebalah Bang Rio"ucap Rio mengelus lembut kepala Alsya.


Alsya pun mendekat dan bersender di dada bidang Rio, mereka menghabiskan waktu dengan keheningan.


Dari atas gedung sekolah terlihat seseorang memperhatikan mereka dengan marah,ia sudah dari tadi berada disana untuk menenangkan dirinya,saat asik menenangkan diri ia malah melihat Alsya dan Rio,karna penasara seseorang itu selalu memperhatikan mereka dengan tatapan tajam dan amarah yang menggebu - gebu entah karna apa penyebabnya.


"Sya"panggil Rio memecahkan keheningan.


"Ya?"ucap Alsya.


"Aku mau nanya, aku sudah lama ingin bertanya ini padamu,tapi aku selalu sibuk dan tak sempat untuk menanyakan ini, mungkin ini waktu yang tepat untukku mencari jawaban atas pertanyaan yang ada di kepalaku beberapa bulan yang lalu"ucap Rio.


Alsya hanya diam siap mendengarkan dan siap menjawab sebisanya,apa yang ingin Rio tanyakan.


"Siapa yang kau maksud 'Dia'?"ucap Rio.


Alsya membeku sesaat sebelum menjawab Alsya menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Dia?,dia siapa sih Bang"ucap Alsya mengulur - ulur waktu,sebenarnya ia tau apa yang dimaksud Rio, tapi ia sedikit gugup untuk menjelaskannya,ia takut jika Rio akan membencinya seperti kedua orang tuanya.


"Jangan bercanda,kau pasti tau maksudku,tolong jelaskan,jangan takut aku selalu disampingmu apapun yang terjadi"ucap Rio mengusap kepala Alsya dengan lembut.


Alsya kembali menarik nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan,ia benar - benar gugup.


"Janji Bang Rio tidak akan marah dan membenci Alsya seperti mereka?"tanya Alsya yang masih ragu untuk menjelaskan.


"Janji, kapan sih Bang Rio pernah marah pada Alsya? "ucap Ruo tersenyum manis.

__ADS_1


Dengan wajah gugup Alsya mencoba menjelaskan dengan perlahan.


"Dia adalah...


__ADS_2