
"Ada yang ketinggalan"ucap Rio.
Alsya hanya mengangguk,tampa ada rasa curiga.
Rio kembali masuk rumah Alsya dengan wajah datar dan pandangan dingin.
Rio mengambil sesuatu di sakunya,yaitu sebuah kamera kecil,Rio membawa beberapa kamera,sudah dari dulu ia berniat untuk memasang kamera - kamera yang ia bawa,untuk menjadikannya bukti kejahatan orang tua Alsya.
Rio melihat sekeliling ruangan di rumah Alsya untuk meneliti dimana tempat yang aman,untuk menyembunyikan kameranya.
Rio meletakan di ruang tamu,ruang keluarga dan ruang makan,Rio berjalan ke arah gudang dimana Alsya disiksa,disana ia melihat darah dimana - mana,ada balok kayu dan ikat pinggang yg memiliki noda darah.
"Bangsat... jika bukan Alsya yang memohon dan menangis aku tak akan memaafkan kalian dasar tua bangka"ucap Rio marah.
Rio juga meletakan satu kamera lagi di gudang,di tempat yang aman.
Alsya menunggu Rio dengan tatapan kosong,entah apa yang ia pikirkan.
"Apakah mereka bisa berubah?,seperti ucapan orang itu?"gumam Alsya.
"Alsya mikirin apa kamu?"ucap Rio masuk ke mobil.
Alsya terlonjak kaget mendengar suara Rio.
"Bang Rio,sudah ambil barangnya?"ucap Alsya melihat Rio.
"Sudah, kamu mikirin apa hmmmm?"ucap Rio dengan menjalankan mobil secara perlahan.
"Alsya gak mikirin apa - apa,hanya saja Alsya bingung"ucap Alsya memandang jalanan.
"Bingung kenapa?,siapa tau bang Rio bisa bantu"ucap Rio fokus menyetir sesekali melirik Alsya.
"Gak apa - apa Bang,Bang Rio fokus aja"ucap Alsya.
Rio tidak menjawab lagi,dia hanya fokus menyetir mobil.
Di dalam mobil hanya keheningan,Alsya sibuk dengan pikirannya sedangkan Rio fokus mengendarai mobilnya dan tiba - tiba Alsya memegangi kepalanya.
"Bang Alsya tidur dulu ya kepala Alsya pusing,Alsya ingin tidur siapa tau baikan, nanti kalau sudah sampai bangunkan ya"ucap Alsya yang memegangi kepalaya kuat - kuat karna kepalanya sangat sakit.
Rio menatap Alsya khawatir,Rio menambah kecepatan.
Beberapa menit mereka berdua dirumah sakit yang sangat besar,Rio keluar dahulu dan membangunkan Alsya.
"Sya bangun sudah sampai"ucap Rio walau di lubuk hatinya tidak tega membangunkan Alsya.
Tetapi Alsya tak kunjung bangun, Rio pun menjadi panik,dengan hati - hati Rio mengangkat tubuh Alsya.
Disaat bersamaan Rio berpapasan dengan sahabatnya,sahabatnya adalah salah satu dokter muda di rumah sakit ini.
__ADS_1
Arkana Dhefin Adibrata biasa dipanggil Arka.Arka adalah sahabat terbaik Rio, tetapi Rio belum pernah memberitahu tentang Alsya kepada Arka, Arka memiliki mata yang indah,Alis yang tebal,rahang tegas dan berparas tampan,Arka terkenal sebagai seorang dokter termuda di rumah sakit tempat kerjanya,ia cukup populer di rumah sakit manapun,Arka bukan terkenal ketampanannya saja tetapi juga kehebatannya menangani pasien,tidak ada kata gagal dalam buku Arka.
Adhitama Rio Nugraha,adalah anak tunggal di keluarga Nugraha,Rio ingin memiliki saudara sedari kecil,tetapi ternyata Mamanya tidak bisa mengandung lagi,Rio merasa kesepian,tetapi saat ia sudah menginjak usia dewasa,Rio betemu dengan Alsya dimana disaat itu Alsya melamar perkerjaan di cafenya,pertama kali ia melihat Alsya ia merasa seperti sudah terikat,tetapi dia tidak tau apa itu,sampai suatu saat dimana Alsya tidak berkerja beberapa hari dan itu membuat ia khawatir,perasaan ini bukan seperti perasaan cinta,tetapi perasaan seperti keluarga,dari situlah Rio menarik Alsya semakin dekat agar Alsya mau menjadi adiknya,saat itu ia tidak merasa kesepian lagi.
"Arka!!!"panggil Rio.
Seseorang yang dipanggil pun berjalan mendekat dengan wajah bingung.
"Kau nga.."ucap Arka.
"Gak usah bacot,cepat kau selamatkan Adik gw"potong Rio.
Arka tidak banyak tanya lagi,tetapi di pikirannya ia memiliki banyak pertanyaan,dengan cepat Arka berlari masuk rumah sakit,padahal ia akan pulang,tetapi melihat sahabatnya khawatir dengan perempuan di gendongannya pun tidak tega.
"Suster tolong siapkan ruang UGD"teriak Arka.
Rio meletakan Alsya ke brankar,Alsya masih tertidur pulas,entah ia tertidur atau terjadi hal yang lain.
Mereka sudah sampai di depan ruang UGD.
"Kau tunggu disini,tenang Adikmu pasti baik - baik saja"ucap Arka mencegah Rio yang ingin ikut masuk ke dalam ruang UGD.
Rio mengangguk mengiyakan,dan berjalan ke bangku.
"Hah...... Semoga kau baik - baik saja Sya"ucap Rio.
Beberapa menit berlalu tetapi pintu UGD belum juga dibuka dari dalam.
Rio menatap sebentar handphone Alsya.
"Alsya kapan kau akan kembali sekolah lagi?,kami kangen"ucap Nabila.
"Mungkin Alsya masih lama sekolahnya"ucap Rio.
Beberapa menit tidak ada suara dari sebrang telfon.
"Eh kak Rio,sekarang kami percaya,kemarin kata Alsya ia berada di tempat yang aman dengan Kak Rio,dan orang tuanya tidak akan menyiksanya lagi"ucap Vian.
Rio hanya diam,pikirannya berkecambuk.
'Sya kenapa kau selalu berkata baik - baik saja,dengan keadaanmu seperti sekarang?'ucap Rio di dalam hati.
"Hah ya dia baik - baik saja,tapi dia butuh waktu untuk masuk kembali"ucap Rio berbohong.
"Ya kalau ada Kak Rio pasti Alsya akan aman, sekarang Alsya dimana Kak?"ucap Sherly.
Rio bingung harus jawab apa,matanya melirik kesana - kesini mencari jawaban.
"Alsya dia lagi istirahat,kasihan tadi ia sangat kelelahan"ucap Rio.
__ADS_1
"Ohhh kalau begitu kami pamit ya Kak,nanti kalau Alsya udah bangun tolong suruh hubungi kami balik yaa,bye Kak Rio tampann"ucap Nabila.
Rio meletakan kembali handphone Alsya.
Beberapa menit kemudian Arka keluar dengan senyum khasnya.
Dengan cepat Rio berlari ke arah Arka siap untuk bertanya.
"Stop, aku tau apa yang akan kau tanyakan.
Jadi wanita yang kau bawa atau tadi kau sebut sebagai adikmu itu baik - baik saja,walau keadaannya sangat memperhatikan"terang Arka.
Rio menghela nafas lega,ia tau keadaan Alsya sangat memperhatikan,tetapi ia sekarang sedikit lebih lega,melihat Adiknya baik - baik saja dari sebelumnya .
"Sekarang Adikmu akan dipindahkan keruangan rawat inap dan kau harus menurus administrasi"ucap Arka.
Rio hanya membalas deheman saja dan pergi untuk mengurus administrasi,Arka mendengus kesal melihat Rio tak menucapkan sepatah kata pun,padahal ia ingin menanyakan banyak pertanyaan.
Disisi lain di sebuah rooftop yang sepi terlihat sedeorang bersandar dinding dengan memejamkan mata menikmati semilir angin menerbangkan anak rambutnya ,bahkan ia tidak sadar dengan keberadaan sahabatnya yang baru datang.
"Bro ngapain sendirian?"ucap Rayhan menepuk bahu Rafa.
Rafa melihat ketiga sahabatnya yang menatapnya heran.
"Gk"ucap Rafa
"lo kesepian kan tidak ada Alsya"ucap Rayhan.
Rafa menatap tajam Rayhan,Rayhan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Eh tadi gw dengar waktu di kantin,Nabila nelfon Alsya,tapi yang suaranya beda"ucap Rayhan.
"Mungkin orang tuanya"ucap Damar.
"Enggak mungkin,suaranya masih muda dan seperti seorang laki - laki"ucap Rayhan.
"Terus?"ucap Damar.
"Mereka bertiga terdiam,dan mereka memanggil nama pria itu kalau gak salah namanya Rio,dan mereka bicara kalau Alsya akan aman berada bersama Rio"ucap Rayhan sesekali melirik Rafa untuk melihat interaksinya.
"Kok lo tau?"ucap Dika.
"Tau lah,karna tempatku lumayan dekat saat itu,dan sekarang aku tau kala Alsya berada di tempat pria itu yang bernama Rio"ucap Rayhan.
Rafa sedikit kesal pergi menjauh dari sahabatnya.
Dika mengikuti Rafa yang berdiri di pinggir Rooftop yang sedang memandang langit.
"Bro jangan pernah menyepelekan kepedulian seseorang,nanti jika dia udah berhenti peduli,kau akan merasa kehilangan"ucap Dika menatap langit.
__ADS_1
"semua org akan berubah seperti jati diri mereka sendiri, apa bila sudah tidak di hargai,dan semoga kau tidak terlambat untuk menyadari semua yang ku ucapkan"ucap Dika menepuk bahu Rada dan kembali ke saatnya yang lain.