APAKAH AKU BISA BAHAGIA?

APAKAH AKU BISA BAHAGIA?
SIKSAAN LAGI DAN LAGI


__ADS_3

Alsya memasuki rumahnya dengan perasaan campur aduk.


Alsya mengintip dari sela pintu yang baru ia buka sedikit,suasanaa rumah terasa tenang tetapi tenang bukan berarti aman bagi Alsya,bahkan ia bertambah takut karna rumahnya tidak biasanya setenang ini,biasanya memang tenang tapi tidak setenang yang Alsya rasakan saat ini.


Alsya masuk dengan perlahan di dalam sangat sepi seperti biasa.


'Sepertinya mereka tidak di rumah'ucap Alsya dalam hati.


Alsya berjalan menaiki anak tangga dengan takut, matanya tidak henti - henti menatap kesana kesini melihat sekitar khawatir.


Alsya berjalan perlahan ke arah kamarnya,saat di depan pintu ia melihat sekali lagi belakang dan sekitarnya,saat merasa aman Alsya berjalan dengan berjalan mundur memasuki kamarnya,ia terus mundur perlahan - lahan dan menutup pintu kamarnya.


"Huh aman"ucap Alsya menghela nafas lega.


Alsya membalikan badannya tenang karna ia merasa aman saat melihat tidak ada siapa - siapa selain dirinya.


Saat berbalik badan tiba - tiba badannya membeku saat melihat orang yang ada di depannya dengan wajah mengerikan.


Mulutnya tertutup rapat seperti di jahit,matanya melotot ketakutan dan terkejut.


"Apanya yang aman hmm sayang?"ucap seseorang di depannya bersendekap dada.


"Kenapa kau diam saja sayang?"ucap orang satunya lagi dengan menekan kata sayang.


Alsya diam membisu badannya pun bergetar karna ketakutan.


"Ma.. ma... pa... pa"ucap Alsya gugup.


Mama Alsya berjalan mendekat ke arah Alsya saat di hadapan Alsya sedangkan Alsya memejamkan matanya erat - erat, Mama Alsya membelai pipi Alsya,Alsya masih memejamkan matanya.


Mama Alsya mengelus pipi Alsya lembut semakin lama elusan itu menjadi ilusan yang kasar dan mama Alsya mengangkat tangannya untuk menampar Alsya.


'Plak'


Alsya tersungkur dengan rambut menutupi wajahnya.


Mama Alsya berjongkok di hadapan Alsya dan mencengkam kuat pipi Alsya.

__ADS_1


"Kau dari mana saja sayang?"ucap mama Alsya dengan menekan kata sayang.


Alsya tak membalas ucapan mamanya,ia diam saja karna kesakitan karna cengkraman mamanya yang menusuk pipinya, bahkan darah keluar karna tusukan dari kuku mama Alsya.


"Kau sekarang bisu?, ku tanya sekali lagi dari mana saja kau sayang?"tanya mama Alsya menaikan nada suaranya.


Tetapi Alsya masih diam bahkan ia sudah sesenggukan tak karuan,padahal ia sudah berjanji akan mencoba tidak takut,tapi ia tidak bisa.


'Plak'


Suara tamparan menggema diruangan Alsya sekali lagi.


Alsya diam memegangi pipinya yang terkena tamparan dari mamanya sekali lagi.


"Jika kau tadi menjawab pertanyaan ku,mungkin kau tidak akan mendapatkan tamparan ini sayang"ucap Mama Alsya.


"Baiklah aku tanya sekali lagi, kau dari mana saja hmm?"tanya mama Alsya.


Alsya terdiam sesaat menenangkan dirinya mencoba melawan rasa takutnya.


"A.. Aku ma..main ma menginap dirumah temen"ucap Alsya menunduk.


Suara pecahan gelas menggema di ruangan Alsya.


Alsya hanya diam menunduk,papa Alsya melempar gelas yang berada di sebelahnya ke arah samping Alsya.


Darah bercucuran dari tangan Alsya,sedangkan Alsya hanya diam walau rasa perih yang berada di tangannya karna terkena pecahan gelas.


"Apakah menurutmu kami percaya?"tanya papa Alsya dengan wajah dingin.


"Tapi aku beneran menginap di rumah temen Alsya pah"ucap Alsya mulai sedikit berani.


Papa Alsya mengambil cambuk yang sudah ia siapkan saat Alsya pulang.


Dengan kuat papa Alsya mencambuk Alsya dengan sekali cambuk darah bercucuran dari badan Alsya.


'Cetar'

__ADS_1


Alsya menahan rasa sakitnya dengan menggigit bibirnya sampai bibirnya berdarah.


"Ini apa?!!"teriak papa Alsya marah melemparkan sebuah foto menunjukan seseorang yang berwajah seperti Alsya yang berada di kamar dengan seseorang pria.


Alsya terkejut dengan foto yang terlihat dia sedang berduaan dengan seorang pria.


"Siapa yang mengirim ini?"tanya Alsya terkejut padahal ia tidak pernah berduaan dengan pria yang ada di foto itu, bahkan pria itu tidak memakai baju.


"Masih berani bertanya!!,siapun itu yang mengirim foto ini kau tak berhak tau,sekarang kau tidk bisa membela lagi bukan?"ucap mama Alsya tersenyum licik.


"Tapi ma itu bukan aku, ini semua fitnah ma pa, Alsya tidak pernah melakukan hal kotor itu"teriak Alsya teriak tampa ia sadari.


"Berani sekali kau teriak ha?!!"teriak papa Alsya marah dengan menatap Alsya jijik.


Sekali lagi papa Alsya mencambuk Alsya tampa perasan,bahkan baju yang tadinya bersih tidak ada satupun noda sekarang terkena noda darah.


Alsya hanya diam menunduk tidak ada gunanya ia membela bahkan apapun yang dilakukannya walaupun benar maka di mata kedua orang tuanya ia selalu salah,sekarang ia memikirkan siapa orang yang sudah mengusik kehidupannya.


Alsya terkulai lemas karna cambukan dari papa dan mamanya, tapi Alsya hanya diam tidak ada setetes air mata lagi yang membasahi pipinya,ia hanya diam dengan wajah datar tampa rasa sakit.


"Ternyata aku sudah membesarkan ****** di rumah ini"teriak papa Alsya kembali mencambuk Alsya.


Alsya hanya diam menikmati rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Mama Alsya mengambil besi panas yang sudah dari tadi ia siapkan untuk menyambut Alsya,saat besi panas sudah berada di tangannya mama Alsya memukulkan besi itu kearah badan yang sulit untuk dilihat,agar mereka tidak tau jika Alsya memiliki lula yang ia ciptakan.


Alsya tetap diam dengan menggit bibir bawahnya menahan rasa panas besi yang menyentuh tubuhnya.


"Saat ini aku ingin sekali membuangmu, tapi....aku masih ingin membuatmu tersiksa sampai kau mati"ucap papa Alsya menyeringai.


Mereka terus menerus menyiksa Alsya walau Alsya sudah lemas tidak berdaya, darah Alsya dimana - mana, bahkan kamar Alsya yang tadinya rapi dan bersih sekarang berantakan dan penuh darah, bau amis darah menyengat hidung.


Alsya terkulai lemas di lantai dengan darah bercucuran dari badannya,mama dan papa Alsya yang melihat itu tertawa puas saat melihat Alsya terkulai lemas,saat sudah puas tertawa papa Alsya menyeret Alsya ke kamar mandi dan menyiram Alsya dengan air yang sudah tercampur dengan garam dan jeruk nipis.


Alsya menahan perih berkali - kali lipat,tapi ia tidak mengeluarkan suara apapun,karna kesal melihat Alsya yang tidak mengeluarkan suara kesakitan mama dan papa Alsya menarik Alsya ke arah lemari kecil yang berada di kamar Alsya dan memasukan Alsya kedalamnya berniat mengurung Alsya,sebelum mereka mengunci lemari mereka menjedotkan kepala Alsya berkali - kali hingga Alsya pingsan,saat melihat Alsya pingsan baru mereka mengunci pintu lemari dengan rapat dan meninggalkan kamar begitu saja dimana Alsya di dalam lemari dengan ke adaan mengawatirkan.


Di luar kmar Alsya tak lupa mereka mengunci juga kamar Alsya agar Alsya tidak bisa kabur,sebenarnya jika di pikirkan memang Alsya tidak akan bisa kabur dengan kondisi begitu.

__ADS_1


"Pa jika dia mati bagaimana?"tanya mama Alsya sedikit takut jika Alsya mati dan mereka akan menjadi tersangka.


"Tenang jika dia mati biak aku yang mengurusnya"jawab papa Alsya dengan senyuman mengerikan


__ADS_2