
Alsya berjalan mendekati lemari,ia harus mandi membersihkan darah yg ada di badannya dan mengobati lukanya agar tidak membusuk atau bisa lebih parah dari ini.
Alsya merangkak dengan satu tangan,ia merasa lelah tetapi apa boleh buat ini yg harus ia lakukan,ia berusaha mencapai bajunya,untung lemarinya tidak ia kunci,jadi dia lebih mudah mengambil dengan menarik pintu lemari dari bawah.
Alsya mencoba menarik pakaiannya,ia masih belum bisa berdiri mungkin akan butuh waktu yang lama jika dia bisa berdiri lagi.
Alsya masih berusaha mengambil bahkan ia kadang terjatuh berkali - kali,karna memang tempat bajunya Alsya lumanyan tinggi jika dengan posisi merangkak.
"Ayo Alsya berusaha sedikit lagi"ucap Alsya menyemangati dirinya.
Dengan usaha terahir ia mencoba duduk,walau sangat sakit karna luka cambuk dari Papanya.
Alsya meraih baju yg lebih dekat darinya,dan akhirnya ia berhasil walau ia jatuh lagi.
"Au,sakit sekali,hahh..... gak apa - apa sekarang,kamu tinggal mandi terus obati dirimu,Alsya jangan manja ayo!!"ucap Alsya semangat.
Sekarang tujuan Alsya ke kamar mandi,ia merangkak kembali dengan satu tangannya,ia masih berusaha pelan - pelan,dan akhirnya Alsya sampai di kamar mandi.
Alsya pun mandi tampa menutup pintu,karna ia tak mau menyulitkan dirinya dan membuang waktu,karna dirumah ini dia juga sendirian tak akan ada yg melihatnya.
Alsya mandi hanya beberapa menit,saat mandi Alsya hanya meringis kesakitan karna perih dari lukanya,setelah itu ia mencoba keluar dari kamar mandi dengan cara berdiri,karna kalau ia merangkak nanti bajunya akan kotor lagi.
Alsya dengan badan gemetar karna kesakitan,ia berusaha berdiri berpegangan dinding dengan kuat,Alsya tersenyum saat berhasil berdiri walau kakinya sangat - sangat sakit,saat baru satu langkah ia hampir jatuh tapi dengan cepat ia menyangga badannya dengan kedua tangannya.
"AAAAAAAA"Teriak Alsya kesakitan,karna tangannya yg melepuh menyangga tubuhnya.
"Ayo jangan cengeng,jangan manja"ucap Alsya.
Alsya berusaha menahan rasa sakit itu,sekarang ia membalikan keadaan,dia harus menikmati rasa sakit itu,agar dia terbiasa dengan rasa sakit yg dialaminya.
Kurang satu langkah Alsya berjalan ia langsung terjatuh karna kakinya sudah tidak kuat berdiri.
'Bruk'
Untung saat Alsya terjatuh ia sudah berada di depan kamar mandi,dengan keadaan bersih,walau darahnya keluar lagi.
Alsya merangkak kembali dengan satu tangannya meraih obat - obatan untuk mengobati luka - lukanya sebisanya.
Untuk tempat obat - obatan berada di laci,sehingga ia mudah untuk menggapainya.
Alsya mengobati lukanya menggunakan kapas,Alsya hanya mengobati yg bisa ia jangkau.
Alsya hanya bisa meringis kesakitan,ketika kapas menyentuh kulitnya.
"Shhh sedikit lagi......Hahh akhirnya selesai"ucap Alsya tersenyum tipis.
__ADS_1
Alsya meletakan kembali obat - obatan,di laci meja ia mulai merangkak kembali mencoba menaiki kasur,setelah berapa menit ia berhasil tampa jatuh sekalipun.
Alsya mencoba merebahkan dirinya sebentar untuk merasakan kenyamanan kasurnya yg empuk yg entah kenapa merasa sangat lama,ia tidak tidur dikasurnya.
Alsya mengambil handphone di atas mejanya yg berada di sebelah kasurnya.
Tetapi ternyata batre handphonenya lowbed,dengan segera ia Nge-charge handphonenya,untung semua yg ia butuhkan berada di dekatnya.
Alsya menyalakan handphonenya dan melihat tanggal yg tertara di handphone miliknya,matanya melotot tak percaya.
"Apa aku pingsan satu minggu lebih!!!"ucap Alsya kaget.
"Padahal aku hanya berapa jam saja berjalan dari gudang sampai kamar,atau ini karna aku kejebak di suatu tempat yang gelap?"ucap Alsya.
"Tapi tak mungkin,aku hanya berada di kegelapan itu hanya berapa jam juga"lanjut Alsya bingung.
Lamunan Alsya terhenti,ketika mendengar handphonenya bergetar.
'Drrttttt'
Alsya melihat nama di layar handphonenya yang tertuliskan nama sahabatnya 'Sherly',bahkan sudah limaratus lebih telfon yg tidak ia angkat dari sahabatnya,Rio dan no yg tidak ia kenal.
"Ha Halo"ucap Alsya gugup.
"Alsya!!!!!"terdengar teriakan dari seberang sana.
"Kau tau kami sangat panik, kau tak menjawab telfon kami,sudah satu minggu kau menghilang tampa kabar, kami mencoba kerumahmu, tapi kata orang tuamu kau tak berada dirumah, aku tau mereka berbohong, karna jika kau akan pergi pasti memberi kami kabar, apa kau disiksa mereka dan mereka menguncimu di sebuah ruangan? ,sekarang bagaimana kabarmu?, apa kau tidak apa - apa?,kenapa kau diam saja?, cepat jawab pertanyaan kami jika kau baik - baik saja tampa ada luka sedikitpun"ucap Nabila dan Vian bergantian.
"Hah bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan kalian,kalian tidak memberikan ku kesempatan untuk menjawab"ucap Alsya jengkel.
Disebrang Nabila dan Vian terkekeh tampa merasa bersalah.
Alsya yg mendengar kekehan mereka hanya bisa tersenyum tipis,ya dia berpikir masih ada orang yg khawatir dengannya,masih ada orang yg sayang padanya,ia berterimakasih dengan semua ini,jika tidak ada seorang pun yg berada disisinya mungkin ia lebih baik mati dari pada hidup tapi tersiksa seperti ini.
"Alsya!!!,kenapa kau diam saja apa kau terluka?"ucap Sherly curiga.
Alsya tersadar dari lamunannya lagi dan lagi.
"Ah aku tak apa - apa,kalian jangan khawatir,aku baik - baik saja,jika kalian bertanya aku dimana,aku berada di tempat yg aman,aku mungkin tidak sekolah beberapa bulan kedepan"ucap Alsya.
Alsya tidak mau para sahabatnya tau apa yg sudah ia alami,pasti mereka akan marah besar dan khawatir.
"kenapa kau baru memberitahu kami?, kami sudah terlanjur panik,dan kemana kau selama ini tidak menjawab telfon kami? "ucap Nabila.
Alsya terdiam dia harus berpikir dengan keras mencari jawaban yg harus ia ucapkan agar para sahabatnya percaya.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki internet,saat ingin beli keluar,aku terlalu malas untuk berjalan"ucap Alsya.
"Ya kau masih memiliki sifat malas,kapan kau akan berubah menjadi Alsya yang rajin? "ucap Vian mengejek.
Alsya hanya terkekeh geli,mereka pun bercanda bersama mengobrol tentang saat Alsya menghilang secara tiba - tiba.
"Ahh kami dengan terpaksa harus menutup sambungan telfon, karna bel sudah berbunyi, oh ya kak Rafa mencarimu beberapa hari ini"ucap Vian.
Alsya tersenyum semangat.
"Benarkah?,Tolong titipkan salam,dan beritahunya kalau aku merindukannya"ucap Alsya mulai genit lagi.
"Dih..... sekarang aku baru yakin jika kau baik - baik saja sekarang"ucap Sherly.
Alsya tertawa terbahak - bahak,ia merasa sakit yang tadi ia rasakan menghilang sementara.
"Kalau begitu kita tutup dulu ya telfonnya bye"ucap mereka.
"Bye"balas Alsya.
Alsya tersenyum tipis,ia meletakan kembali handphonenya ke atas meja,ia ingin memperistirahatkan badannya,agar lebih baik dari pada saat ini.
"Aku ingin tidur seharian,semoga besok badanku menjadi lebih baik,agar aku bisa membersihkan darahku yang berceceran"ucap Alsya secara pelahan memejamkan matanya.
Keesokan harinya Alsya terbangun ia merasa sedikit lebih baik dari pada kemarin.
Alsya terbangun jam 9.
"Ternyata aku sangat lama saat tidur,tapi tak apa,badanku juga sedikit lebih baik"ucap Alsya.
Tapi saat ia akan bangun badannya kaku,tidak bisa dia gerakan kecuali satu tangannya,yang hanya merasa pegal.
"Badanku kenapa?"ucap Alsya panik,ia takut jika ia akan lumpuh,Alsya memikirkan tentang hal negatif yang mungkin terjadi padanya membuat ia menangis histeris.
Alsya menangis menerutuki nasib buruknya.
"Kenapa!!,kenapa harus aku?!!!"teriak Alsya.
"Kenapa tidak aku saja yang mati!!!,kenapa harus dia!!,kalau aku bisa memutar waktu,aku akan menggantikan dia,Aaaaaaa!!!!"teriak Alsya frustasi.
Jika seseorang melihat penampilan Alsya seperti ini mungkin mereka akan mengira,orang gila yg dikurung.
Alsya terus menangis dan menangis hingga handphonenya bergetar,dengan cepat Alsya menghapus air matanya dengan kasar.
'Drrrttt'
__ADS_1
Alsya menatap layar handphonenya disana tertara nama seseorang yg ia kenal.
".......